Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Kelas Khusus
Kriiinggg!!!
Bel masuk berbunyi.
Seorang guru wanita memasuki kelas dengan dagu terangkat tinggi, sorot matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan. Tanpa basa-basi, ia langsung mulai mengabsen satu per satu.
Suasana kelas hening.
Namun ketika nama Violet disebut, raut wajah guru wanita itu langsung berubah masam.
"Seharusnya orang sepertimu itu dikeluarkan dari sekolah ini. Hanya membuat malu dan mengotori nama baik sekolah saja," gumamnya sinis, tetapi cukup keras untuk didengar.
Murid-murid terkikik pelan.
Violet tetap diam. Wajahnya datar, seolah ucapan itu tidak berarti apa-apa.
Tok... Tok... Tok...
Pintu kelas diketuk.
"Masuk," ucap guru itu singkat.
Seorang siswa masuk setelah mendapat izin.
"Permisi, bu. Apakah ada Violetta Rosalyn di sini?"
Violet yang mendengar namanya disebut, langsung mengangkat tangannya.
"Kamu diminta kepala sekolah untuk menemuinya di ruangannya sekarang."
Tanpa berkata apa-apa, Violet pun langsung berdiri dan berjalan keluar meninggalkan kelas
Bisikan-bisikan kembali terdengar memenuhi telinganya.
Bahkan seluruh kelas yang melihat Violet pun berbisik-bisik, namun tetap terdengar oleh Violet.
"Wahhh... mau kemana dia?"
"Apa mau menemui sugar Daddy nya?"
"Berita bagus nih. Ayo rekam, ayo rekam," ucapnya sambil mengeluarkan ponselnya.
"Kok dia, kayak mau ke arah ruang kepala sekolah ya?"
" Jangan-jangan dia mau dikeluarkan dari sekolah?"
"Bagus banget kalau begitu."
"Daripada dia masih ada di sini dan mengotori nama sekolah."
Suara-suara itu terus terdengar, namun perlahan mulai memudar ketika langkahnya semakin mendekati ruang kepala sekolah.
"Kamu masuk saja. Kepala sekolah sudah menunggu," ucap siswa itu, lalu pergi sebelum Violet mengucapkan terima kasih.
Tok.. Tok... Tok...
"Permisi, apakah bapak memanggil saya?" tanya Violet.
"Ya, masuk dan duduklah."
Violet masuk dan duduk di hadapan kepala sekolah.
"Violet, apa kamu tahu kenapa saya memanggilmu untuk datang ke sini?"
"Tentu. Apa karena masalah video itu?" jawab Violet tenang.
"Ya. Tapi selain itu... ada hal lain lagi yang ingin saya sampaikan." Kepala sekolah menarik napas sejenak.
"Seseorang telah menelpon saya. Dia meminta agar kamu tidak dikeluarkan dan harus dipindahkan ke kelas khusus."
Violet mengernyitkan dahinya."Dipindahkan?"
"Bukankah kelas itu khusus untuk murid-murid tertentu, seperti murid yang orang tuanya memiliki kuasa?" lanjutnya.
Kepala sekolah menggeleng kesal.
"Saya tidak tahu. Saya hanya menjalankan perintah dari pemilik sekolah."
Ia terdiam sejenak, lalu kembali menggerutu pelan.
"Seharusnya kamu dikeluarkan... bukan dipindahkan..."
Violet yang mendengar gerutuan sang kepala sekolah mengabaikannya.
"Apa ada hal lain, pak?" tanya Violet.
"Guru dari kelas khusus sudah menunggumu di depan ruang guru. Cepat ke sana dan jangan membuat guru itu menunggu lama," ucapnya datar.
"Terima kasih."
Violet pun keluar dari ruang kepala sekolah dan benar saja - ia melihat guru dari kelas khusus sudah menunggunya.
"Cepat ambil tas dan bukumu. Saya tunggu lima menit dari sekarang," ucap guru itu singkat.
Violet mengangguk lalu bergegas kembali ke kelas.
Saat sampai di depan pintu, ia tidak melihat guru wanita itu, dengan mengedikan bahunya, ia tidak peduli.
Violet pun masuk ke dalam kelas, dan suasana langsung berubah.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Violet mengabaikan itu dan berjalan menuju bangkunya.
Ketika sampai di bangkunya, ia melihat meja dan kursinya dipenuhi coretan-coretan Tip-Ex dan spidol. Bahkan tasnya pun tak luput dari coretan itu.
Violet menarik napas panjang dan mengambil tasnya kemudian ia gendong di sebelah kanan.
"Akhirnya pergi juga.."
"Buat suasana suntuk saja..."
Violet pura-pura tak mendengar itu.
Walau dalam hatinya sudah mengutuk keras semua murid yang membicarakan dirinya dan juga mencoret tas nya.
"Aerin, " ucap Violet dalam pikirannya.
"Iya, Vio?"
"Bantu aku untuk membalas perbuatan mereka,"
"Dengan senang hatii," jawab Aerin dengan semangat.
"Apa yang perlu Aerin lakukan, Vio?"
"Buat mereka tersedak seolah-olah karena debu yang masuk dari jendela yang terbuka,"
"Oh...tugas mudah itu. Biar Aerin lakukan sekarang," jawabnya. Setelah itu langsung pergi menuju kelas Violet sebelumnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Aerin sudah berada di sudut kelas dekat dengan jendela yang semuanya dibuka.
Dari tangannya muncul segenggam debu halus.
Setelah mendapatkan momen yang pas, Aerin pun meniupnya perlahan seolah debu itu masuk melalui jendela yang terbuka.
" Ekh-! Uhukkk!"
Salah satu murid tiba-tiba terbatuk keras, lalu disusul yang lainnya.
"Aduhh, tenggorokan gue perih banget!"
"Mana minum, mana minum!"
Semua murid berlarian mencari air, namun seolah tahu apa yang dicari oleh para murid itu, Aerin telah lebih dulu mengambil semua botol minum yang mereka bawa.
Guru wanita yang baru masuk kelas setelah menyelesaikan urusannya, terkejut ketika melihat murid-muridnya terbatuk keras.
"Ada apa ini?!"
Baru saja berbicara seperti itu, guru wanita tersebut langsung terkena debu.
Ia terbatuk keras dan langsung berlari keluar menuju kantin.
"Bu, bu, berikan saya air botol segera!" ucap guru wanita itu dengan menahan batuk yang ingin keluar.
Ibu kantin pun langsung segera saja mengambilkan air botol.
Ia kebingungan, kenapa dengan guru itu, bukannya tadi ia lihat baik-baik saja setelah keluar dari toilet? Kenapa sekarang malah batuk-batuk keras seperti itu.
Di tengah kebingungan ibu kantin, Aerin yang menyebabkan masalah justru tersenyum senang melihat itu.
"Hahaha... Itulah akibatnya menganggu nona ku. Rasakan panas itu. Enak kan perih perih anget tuh tenggorokan."
Aerin hanya tertawa melihat itu semua. Setelah dirasa cukup, Aerin kembali ke ruang dimensi nya.
"Bagaimana Aerin?"
"Tentu saja berhasil, Vio!" seru Aerin dengan semangat.
"Apa kau tau, Vio?"
"Tidak, apa emangnya?"
"Aku baru saja mengambil semua botol minum para murid dan membuangnya ke dalam selokan. Biar mereka tau, sakitnya karena panas itu bagaimana." jawab Aerin dengan semangat.
"Ya ampun, Aerin... Kenapa kau lakukan itu?! Aku menyuruhmu hanya untuk membuat mereka tersedak debu sampai tenggorokan mereka panas," Violet terkejut.
"Ya, biar sekalian aja panasnya, Vio. Kan kalau gak ada minum, tenggorokan mereka semakin panas, hihihihi," jelas Aerin.
"Haishhh," sambil tepuk jidat Violet dengan tingkah Aerin. "Ya sudahlah. Tapi makasih, Aerin... Hari ini mungkin jadi hari sedikit tenang."
"Sama-sama, Vio. Muachhh" Kiss Aerin.
Violet langsung bergidik ngeri." Hiiihhh... Aku masih normal, Aerin," jerit Violet dalam hati.
Dan tak terasa, Violet sudah berada di depan ruang guru.
"Kamu lama," ucapnya dingin.
" Maaf," jawab Violet singkat.
Guru itu menatapnya sejenak.
Lalu-
Ia berbalik.
" Ikuti saya. "
Mereka berjalan menyusuri koridor yang semakin sepi.
Semakin melangkah jauh dari keramaian sekolah, semakin sunyi pula suasana yang dirasa.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan pintu kelas khusus.
Guru itu berhenti.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
Namun sebelum membuka-
Ia berkata pelan.
"Di dalam kelas ini... kamu tidak akan menemukan murid biasa. Semuanya merupakan murid kalangan atas."
Pintu mulai terbuka perlahan.
"Dan jika kamu tidak bertahan dengan sikap mereka..."
Suara guru itu terdengar lebih dingin.
"... maka kau akan berakhir di toilet kelas."
Pintu terbuka sepenuhnya.
Semua murid langsung terdiam dan menoleh ke arah pintu.
Guru Yan - nama guru kelas khusus, berjalan masuk, dengan diikuti oleh Violet.
Semua murid menatap tak percaya dengan apa yang dilihat oleh mereka.
Mereka langsung berbisik pelan.
"Bukannya dia Violet yang ada dalam video itu, ya?"
"Kenapa dia masuk kelas ini?"
" Apa dia masuk ke sini, karena pengaruh sugar daddy-nya itu kah?"
"Wah... ada mainan baru nih..."
"Semuanya diam," ucap tegas Guru Yan.
Semua murid pun langsung terdiam ketika mendengar ucapan tegas dari Guru Yan.
" Perkenalkan, dia Violetta Rosalyn. Mulai hari ini, ia akan menjadi bagian dari kelas ini."
"Apa?!" semua murid terkejut.
"Violet, silakan duduk di kursi kosong itu."
Setelah dipersilakan oleh Guru Yan, Violet berjalan menuju kursi kosong di baris kedua.
Ketika ia mulai duduk di bangkunya, seseorang yang duduk di belakangnya, mulai menendang-nendang bangkunya.
Violet menarik napas, mencoba untuk bersabar di hari pertamanya.
...... To be continued ......