🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Sisa kantuk semalam
Pagi hari di rumah keluarga Bramantyo berjalan lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Sinar matahari masuk dari jendela ruang keluarga, menyinari ruangan dengan cahaya hangatnya.
Di sofa ruang tengah, Shaka sedang duduk nyaman dipangkuan Oma-nya sambil memegang mobil kecil berwarna merah.
Demamnya memang belum turun sepenuhnya. Namun, setidaknya pagi ini kondisi Shaka jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Tidak ada tangisan panjang atau rengekan yang membuat semua orang panik.
Sesekali Shaka menggerakkan mobil mainannya di paha sang Oma sambil mengeluarkan sedikit ocehan lemah yang belum jelas artinya.
"Nah, cucu Oma udah mau main lagi," ujar ibu Keanu sambil tersenyum lega.
Tak jauh dari sana, Anindia baru turun dari kamar setelah bersiap pergi ke kampus. Rambut dan pakaiannya sudah terlihat rapi seperti biasa. Meski wajahnya terlihat kurang segar karena begadang semalam.
"Shaka," panggil Anindia lembut sambil berjalan menghampiri.
Begitu melihat ibunya, Shaka langsung mengangkat mainannya tinggi-tinggi seolah ingin memperlihatkannya. Anindia tersenyum kecil, lalu mengusap kepala putranya.
"Jagoan bunda hari ini udah lebih baik ya?" Ujar Anindia lembut.
Di saat yang sama, Keanu muncul dari arah dapur sambil membawa segelas air putih. Penampilannya tetap rapi seperti biasa, kemeja kampusnya sudah melekat dengan baik, serta wajahnya terlihat tenang.
Jika dilihat sekilas, tidak ada yang aneh. Namun beberapa detik kemudian, lelaki itu kembali memijat pelipisnya sendiri. Bahkan, hampir berulang kali.
Anindia yang kebetulan melihat langsung menaikkan sebelah alisnya, "Mas," panggilnya.
Keanu menoleh, "Hmm?"
"Ngantuk ya?" Tanya Anindia kemudian.
Keanu terdiam sesaat lalu menjawab santai. "Sedikit."
Anindia hampir tersenyum melihat suaminya yang terlihat baik-baik saja. "Sedikit katanya," gumamnya.
Keanu pura-pura tidak mendengar, lalu berjalan mendekati Shaka. Tangannya terulur mengusap kepala putranya itu sejenak. "Pagi, jagoan kecil."
Shaka hanya menatap ayahnya sekilas, lalu kembali fokus pada mainan di tangannya. Sementara ibu Keanu yang memperhatikan sejak tadi hanya menggeleng pelan sambil tersenyum.
Yang sakit adalah Shaka. Tapi yang paling merasakan efeknya adalah Anindia dan Keanu. Satu ibu muda yang berusaha menahan kantuk. Sementara satunya lagi, seorang ayah muda yang sejak tadi berusaha terlihat santai meski kesadarannya jelas belum terkumpul sepenuhnya.
Keanu yang tadinya berdiri di dekat sofa, tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah Anindia. Tatapannya berhenti cukup lama, wajahnya berubah datar tanpa ekspresi.
Anindia yang awalnya tidak terlalu memperhatikan akhirnya mulai merasa heran. Ia mengernyit sedikit. "Kenapa, Mas?"
Keanu tidak langsung menjawab, seolah sedang mengamati sesuatu dengan serius.
Anindia semakin curiga, "Mas?"
Keanu akhirnya mengangkat tangannya dan menunjuk wajah Anindia. Tanpa diduga, ia justru terkekeh kecil. "Bener kan?" Ujarnya.
Anindia mengernyit bingung, "Bener apanya?"
Keanu menahan tawanya, "Istri aku jadi panda beneran."
Anindia langsung mematung beberapa saat, lalu refleks menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya.
"Mas Kean!"
Ibu Keanu yang mendengar penuturan putranya hanya tersenyum. Sementara Keanu justru menikmati reaksi istrinya.
"Tadi malam udah dibilang," lanjut Keanu.
Anindia spontan menutup bawah matanya dengan kedua tangan. Padahal sebelumnya ia merasa penampilannya sudah cukup baik, ternyata masih terlihat juga.
"Lucu," ujar Keanu dengan gelengan kecil.
"Bukan lucu, ini kurang tidur, Mas!" Protes Anindia.
"Iya," jawab Keanu kemudian. "Panda kurang tidur."
"Mas!"
Tawa Keanu akhirnya lepas. Tawanya tidak keras, tapi cukup membuat kekhawatiran itu berubah sedikit lebih ringan. Bahkan Shaka yang tidak mengerti apa-apa ikut menatap kedua orang tuanya.
Anindia hanya bisa menghela nafas pasrah. Terkadang, menghadapi anak yang sedang demam masih terasa lebih mudah daripada menghadapi mode iseng suaminya yang muncul tanpa peringatan.
Anindia lalu berbalik menghadap ibu mertuanya yang sedang memangku Shaka, jelas mengalihkan suasana.
"Ma, Nindi sama Mas Keanu berangkat dulu, ya," pamit Anindia.
Ibu Keanu mengangguk kecil, "Iya, hati-hati di jalan."
Anindia tersenyum, lalu mencium tangan ibu mertuanya dengan sopan. "Titip Shaka dulu ya, Ma."
"Tenang aja," jawab ibu Keanu. "Biar Mama yang jagain."
Anindia tersenyum, lalu mencium kening Shaka. "Bunda berangkat dulu ya, sayang."
Keanu ikut mendekat, lalu mengusap kepala Shaka. "Jadi anak baik, ya."
Shaka melirik sekilas, lagi-lagi ia kembali asyik dengan mainannya sendiri. Melihat tingkah Shaka, ibu Keanu hanya tersenyum gemas.
Setelahnya, Anindia dan Keanu melangkah menuju pintu. Baru beberapa langkah, Keanu tiba-tiba berhenti.
"Bentar, sayang," ujar Keanu serius, sambil berpura-pura mengecek saku celananya.
Anindia menoleh, "Dompetnya ketinggalan?"
Bukannya serius, Keanu justru menyeringai lebar dan mencubit hidung Anindia. "Panda!" Ujarnya lalu berlalu begitu saja.
"MAS KEANU!" Kesal Anindia.
Keanu buru-buru melangkah ke arah pintu sebelum mendapatkan tatapan protes lain dari istrinya. Pagi itu, sebelum berangkat ke kampus, rumah kembali dipenuhi rasa hangat yang sederhana. Dam untuk sesaat, kekhawatiran semalam terasa sedikit lebih ringan.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Di kelasnya, Anindia sudah duduk di bangkunya sejak beberapa menit lalu. Sebuah buku terbuka di atas meja. Matanya menelusuri baris demi baris tulisan yang ada di sana, berusaha mempersiapkan diri sebelum kuliah dimulai.
Namun sejujurnya, tidak banyak yang benar-benar masuk ke kepalanya. Rasa kantuk yang dibawanya sejak pagi masih bertahan dengan setia.
Sesekali Anindia berkedip lebih lama dari biasanya. Tangannya bahkan sempat menopang dagu beberapa detik sebelum kembali meluruskan posisi duduknya.
"Lo kenapa?"
Suara seorang gadis di sampingnya membuat Anindia mengangkat kepala. Salah satu teman sekelasnya yang duduk tak jauh darinya sedang memperhatikannya dengan heran.
Anindia langsung menggeleng kecil, "Enggak kenapa-napa."
"Yakin?" Ujar gadis itu sambil memicingkan mata.
Anindia hanya mengangguk singkat dan tersenyum, lalu kembali menatap bukunya.
"Wajah lo bilang sebaliknya," langsung gadis itu.
Anindia hampir terkekeh mendengarnya. Ia menutup buku sejenak, lalu menghela nafas pelan. "Kelihatan banget, ya?"
"Banget," sahut temannya itu.
Anindia hanya bisa pasrah. Sepertinya, efek begadang semalam memang tidak bisa disembunyikan semudah yang ia kira.
Temannya itu masih memperhatikannya dengan penuh rasa penasaran. "Lelah banget kayaknya," ujarnya. "Biasanya lo kelihatan fresh. Ini kayak habis begadang semalaman."
"Kerja?" Tebak gadis itu.
Anindia menggeleng, "Bukan."
"Jadi, nugas ya?" Tanya gadis itu kemudian.
Anindia terdiam sesaat. Jujur saja, menjelaskan alasannya akan membuka percakapan yang jauh lebih panjang. Dan ia sedang tidak punya energi untuk itu.
"Cuma kurang tidur aja," ujar Anindia pada akhirnya.
"Kalau kurang tidur aja bisa lemes gini, berarti parah banget." Timpal temannya itu.
Anindia kembali terkekeh, jika dipikir-pikir memang cukup parah. Semalaman bergantian menjaga anak yang sedang demam, lalu paginya harus berangkat kuliah seperti biasa. Meski hari ini kedua peran itu sedang menguji daya tahan tubuhnya secara bersamaan.
Tak lama kemudian, suasana kelas langsung hening ketika pintu kelas terbuka.
Seorang pria paruh baya melangkah masuk dengan langkah mantap. Kepalanya plontos mengkilap di bawah cahaya lampu kelas. Kacamata berbingkai hitam bertengger rapi di wajahnya, sementara sebuah map tebal berada di tangannya.
Begitu melihat sosok itu, beberapa mahasiswa yang masih berbicara langsung duduk tegak. Bukan tanpa alasan, dosen itu dikenal sebagai salah satu dosen paling tegas di jurusan mereka.
"Selamat pagi," suara beratnya langsung memenuhi ruangan.
"Selamat pagi, Pak," jawab mahasiswa hampir bersamaan.
Pria itu mengangguk singkat lalu meletakkan map-nya di atas meja. Tatapannya menyapu seluruh isi kelas dari balik kacamatanya, cukup untuk membuat beberapa mahasiswa sibuk membuka buku catatan.
Anindia yang sejak tadi berusaha melawan kantuk, ikut meluruskan posisi duduknya. Ia bahkan merapikan bukunya sekali lagi. Hari ini ia harus benar-benar bertahan, karena jika ketahuan tidak fokus dengan dosen yang satu ini pasti akan tidak menyenangkan.
Jam kuliah berlangsung. Di awal, semua masih berjalan normal. Anindia berusaha fokus, menyalin poin-poin penting ke dalam bukunya.
Semuanya masih aman terkendali. Namun perlahan, rasa kantuk itu kembali datang. Ia mencoba bertahan, tapi beberapa menit kemudian kelopak matanya terasa semakin berat.
Anindia menghela nafas pelan. Tangannya masih memegang pulpen, tapi pikirannya mulai terasa jauh. Suara dosen di depan kelas mulai terdengar jauh.
Tanpa sadar, kepala Anindia sedikit menunduk. Pulpen di tangannya berhenti bergerak. Untuk sejenak, pandangannya terasa gelap.
Brakk!!
Suara keras menghantam meja di hadapannya. Anindia langsung tersentak bangun. Tubuhnya refleks tegak seketika, jantungnya berdegup kencang seperti baru saja dikejutkan dari mimpi yang terlalu dalam.
Satu kelas mendadak sunyi. Semua pasang mata langsung tertuju ke arahnya.
Dan di sana, dosen berkepala plontos itu berdiri tepat di samping mejanya. Satu tangan masih menekan meja yang baru saja ia pukul keras. Wajahnya datar, tapi jelas tidak bersahabat.
"Kelas saya bukan tempat tidur," suaranya tegas, dalam, dan dingin.
Anindia langsung menunduk cepat, "Maaf, Pak."
Dosen itu menatap Anindia beberapa detik tanpa ekspresi. "Lain kali, kalau mengantuk silakan izin keluar."
Anindia hanya mengangguk kecil, wajahnya terasa panas menahan malu. "Iya, Pak."
Dosen itu menarik tangannya dari meja, lalu kembali melangkah ke depan kelas. Sementara Anindia berusaha keras menstabilkan nafasnya yang masih kacau.
Anindia masih duduk tegak di kursinya bahkan setelah dosen itu kembali ke depan kelas dan melanjutkan materi seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun bagi Anindia, kejadian beberapa detik lalu terasa begitu nyata. Rasa kantuknya lenyap seketika. Wajahnya masih terasa panas karena malu. Tangannya kembali memegang pulpen, meski jemarinya sedikit kaku.
Di sekelilingnya, suasana tetap sunyi. Beberapa mahasiswa sempat melirik ke arahnya sebelum akhirnya buru-buru kembali menatap ke depan.
Ada yang menahan senyum, ada pula yang ikut merasa ngeri karena membayangkan berada di posisi yang sama. Sementara gadis yang tadi mengajaknya bicara hanya melirik sekilas ke arah Anindia, seolah mengatakan 'gue udah bilang lo kelihatan capek'.
Tentu saja gadis itu tidak berani mengatakannya. Anindia sendiri memilih menunduk pada buku catatannya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Anindia ditegur saat sedang belajar. Bahkan sejak SD hingga SMA, ia tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Anindia selalu menjadi murid yang memperhatikan pelajaran, jarang membuat masalah, dan hampir tidak pernah mendapat teguran dari guru.
Karena itu, pengalaman sederhana ini justru terasa jauh lebih memalukan dari yang ia bayangkan. Apalagi yang menegurnya bukan dosen biasa, melainkan dosen paling galak di jurusan mereka.
Dan sayangnya, kejadian itu pasti akan terus teringat olehnya untuk waktu yang lama.
Anindia menatap buku catatannya sedikit lebih lama. Rasa malu itu masih tertinggal, membuatnya enggan mengangkat kepala terlalu cepat. Bahkan sekarang, ia masih bisa merasakan bagaimana seisi kelas menatapnya beberapa menit lalu.
"Kenapa juga harus ketiduran, sih?" Batin Anindia.
Dari sekian banyak hari kuliah yang sudah ia jalani, hari ini ia melakukan hal yang paling tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dan yang lebih parahnya lagi, ketika di kelas dosen yang paling galak.
Anindia akhirnya menghela nafas pelan, tidak ada gunanya terus memikirkan hal yang sudah terjadi. Toh, ia tidak bisa mengulang kembali ke beberapa menit yang lalu.
Perlahan, Anindia merapikan posisi duduknya. Kali ini, tidak ada lagi rasa kantuk yang mengganggu, setidaknya pikirannya sudah kembali sadar sepenuhnya.
Anindia mengangkat pandangannya, menatap ke depan dan mencatat poin-poin penting dengan lebih fokus dari sebelumnya.
Bagaimanapun juga, kuliah harus tetap berjalan. Dan setelah kejadian barusan, rasanya mustahil baginya untuk tertidur lagi.
Jam kuliah kembali berjalan seperti biasa. Meski begitu, Anindia justru menyadari satu hal. Menjadi mahasiswa ternyata tidak sesederhana datang ke kampus dan mengikuti kelas. Begitu pula menjadi seorang ibu.
Ada hari-hari ketika keduanya berjalan lancar. Ada pula hari seperti ini, ketika tanggung jawab di rumah dan di kampus saling bertabrakan, memaksanya belajar menyeimbangkan semuanya sekaligus.
Hari itu, Anindia mendapat pelajaran tambahan yang tidak tertulis di buku manapun. Bahwa, begadang demi anak yang sedang sakit memang tidak dapat dihindari. Tapi datang ke kelas dalam keadaan kurang tidur juga memiliki konsekuensinya sendiri.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁