NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:141.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Kepercayaan di Tengah Keraguan

Reza mendekat setengah langkah, suaranya turun.

“Jangan munafik.” Kalimat itu langsung mengenai. “Kamu tahu hubungan mereka retak.” Tatapannya menusuk. “Dan kamu juga ingin berada di posisi itu, bukan?”

Alvian langsung menoleh ke Fahri, matanya membesar.

“Om Fahri?”

Fahri bergeming, tapi tangannya sedikit menekan bahu Alvian. Menenangkan.

“Jangan bicara sembarangan,” ucapnya tegas. “Hanya dengan foto seperti itu… tidak membuktikan apa-apa.”

Matanya tidak goyah. “Aku percaya pada Kak Kaisyaf.”

Reza tertawa pendek. “Kamu lebih percaya orang lain… daripada kakakmu sendiri?”

Ia mendekat sedikit lagi. “Kamu anggap dia ‘kakak’…” suaranya sinis, “…tapi aku? Orang asing?”

Fahri tersenyum, tapi tak sampai ke mata. Lalu—

“Karena Kakak tidak pernah jadi kakak.”

Kalimat itu datar, tapi menghantam.

Reza langsung diam.

Fahri melanjutkan, suaranya tetap rendah. Tapi kali ini… lebih dalam.

“Kakak tidak pernah ada di saat aku butuh. Tidak pernah peduli.”

Wajahnya Alvian berubah. Tidak sepenuhnya mengerti… tapi merasakan.

“Yang selama ini ada…” lanjut Fahri, “…yang mengarahkan aku, mendukung aku…itu Kak Ayza dan Kak Kaisyaf.”

Reza tak menyela.

“Jadi…” tatapan Fahri kembali tajam, “…jaga kata-kata Kakak sebelum bicara.”

Reza memalingkan wajah sejenak.

“Dan satu lagi,” tambah Fahri. Nada suaranya berubah lebih tegas. “Jangan coba meracuni Alvian lagi.”

Fahri mengangkat tubuh kecil Alvian. Anak itu refleks memeluk leher Fahri.

“Om Fahri…” gumamnya lirih.

Fahri diam, hanya menepuk punggung kecil itu. Lalu berbalik pergi, meninggalkan Reza di tempatnya.

Reza tidak langsung bergerak. Matanya mengikuti punggung Fahri yang menjauh.

Tangan Reza perlahan mengepal. Namun Ia tidak marah apalagi meledak. Perlahan… sudut bibirnya terangkat tipis.

“Akhirnya keluar juga.” Suaranya rendah, hampir seperti gumaman.

Bukan soal kata-kata Fahri. Tapi kenyataan yang selama ini ia tekan, bahwa semua yang seharusnya ia lakukan sebagai kakak… justru dilakukan orang lain.

Ia memandang ke arah gerbang sekolah. Ke arah di mana Fahri membawa Alvian pergi.

“Jadi bukan cuma aku yang menginginkan dia…”

Matanya menyipit sedikit. Bukan kesal, lebih seperti… menemukan sesuatu yang menarik.

“Bagus. Jadi ini bukan sekadar soal aku dan Ayza.” Sorot matanya berubah lebih dalam. “…tapi juga kamu, Fahri.”

Senyumnya kembali muncul, tapi jelas bukan hangat. Dan kali ini, yang ia lihat bukan lagi sekadar wanita yang ingin ia dapatkan.

Tapi… persaingan yang mulai terbuka.

***

Mobil Fahri melaju perlahan meninggalkan area sekolah.

Di dalam… lebih sunyi dari biasanya.

Alvian duduk di samping Fahri. Sabuk pengamannya terpasang rapi. Tangannya saling menggenggam di pangkuan.

Bocah itu tidak langsung bicara.

Fahri fokus ke jalan. Kedua tangannya di setir mantap.

Beberapa detik kemudian—

“Om Fahri…”

Suara kecil itu akhirnya terdengar.

Fahri melirik sekilas. “Iya?”

Alvian terlihat ragu, keningnya sedikit berkerut.

“Tadi…” ia berhenti sejenak, “…foto yang ditunjukin Om Reza.”

Tangan Fahri di setir… sedikit mengencang. Namun suaranya tetap sama.

“Foto yang mana?”

Alvian menunduk, seolah mengingat.

“Abi… sama perempuan lain.”

Mobil tetap melaju. Tidak ada reaksi berlebihan dari Fahri, namun tangannya memegang stir lebih erat dari seharusnya.

“Terus…” lanjut Alvian tak lebih dari gumaman, “…dia bilang, Abi sekarang jarang pulang.” Ia menelan ludah kecil. “Katanya… mungkin Abi lagi sibuk sama pilihannya sendiri.”

Kalimat itu keluar dengan polos. Tanpa tahu… betapa berat maknanya.

Fahri tak mengatakan apa pun. Satu tangan tetap di setir. Yang lain bergerak sebentar, menepuk ringan paha Alvian, menenangkan.

“Al,” ucapnya akhirnya.

Alvian menoleh.

“Kalau orang bicara soal orang lain…” lanjut Fahri, “…kita gak bisa langsung percaya semuanya.”

Nada suaranya lembut, stabil.

“Apalagi kalau itu… tentang orang yang kita sayang.”

Alvian diam mendengarkan.

“Tapi itu Abi…” gumamnya kecil. “Kalau benar gimana?” Pertanyaan itu… jujur.

Fahri terdiam sejenak, hanya satu detik. Namun bukan karena ragu… melainkan karena ia sedang menahan sesuatu yang baru saja ia ketahui.

Kaisyaf sakit dan mungkin tak punya banyak waktu lagi.

Fahri akhirnya menoleh sedikit ke arah Alvian.

“Al…”

Nada suaranya tetap lembut, stabil.

“Abi kamu…” ucapnya hati-hati, “...bukan orang seperti itu.”

Tidak ada jeda atau keraguan. Kalimat itu keluar pasti.

Alvian mengangkat wajahnya.

“Tapi fotonya—”

“Itu belum tentu seperti yang kamu lihat,” potong Fahri, tidak keras. Tapi cukup untuk menghentikan pikiran anak itu.

Ia kembali fokus ke jalan.

“Kadang…” lanjutnya, “…orang dewasa ada di situasi yang gak bisa langsung dijelaskan.”

Nada suaranya tetap tenang dan terukur.

“Dan gak semua yang terlihat… itu kebenarannya.”

Alvian diam, mencoba mencerna.

Fahri melanjutkan, lebih lembut, “Yang pasti… Abi kamu sayang sama kamu.”

Satu tangan Fahri kembali menepuk paha Alvian ringan.

“Dan sama Umi kamu.”

Kali ini… bukan sekadar menenangkan. Lebih seperti… menegaskan sesuatu yang ia sendiri pilih untuk tetap percaya.

Mobil terus melaju.

Namun di balik ketenangan itu... pikiran Fahri tidak berhenti bekerja. Bukan tentang perselingkuhan, tapi tentang satu hal.

Apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh Kaisyaf… sampai harus sejauh ini?

“Om yakin?” tanyanya Alvian akhirnya.

Fahri mengangguk.

“Iya.”

Jawaban itu cepat, seolah tidak memberi ruang untuk hal lain.

“Kalau pun Abi lagi sibuk…” lanjutnya, “…itu bukan berarti dia berubah.”

Ia mengusap pelan kepala Alvian sebentar, nada suaranya tetap hangat.

“Tapi itu bukan berarti mereka berhenti sayang.”

Alvian terdiam, perlahan mengangguk kecil. Namun tatapannya masih sedikit kosong. Belum sepenuhnya tenang.

Fahri melihat itu.

“Kalau kamu ragu…” ucapnya lagi, lebih lembut, “…tanya langsung ke Abi nanti. Jangan simpan sendiri.”

Alvian mengangguk lagi. “Iya, Om…”

Mobil kembali sunyi. Namun kali ini… bukan karena tenang. Melainkan karena masing-masing… sedang memikirkan sesuatu.

Fahri menghentikan mobilnya saat lampu lalulintas berubah merah. Tangannya masih di setir, kuat. Namun pikirannya… tidak sepenuhnya di sana.

Dan untuk pertama kalinya, ia berharap… apa yang ia yakini selama ini… tidak salah.

***

Malam mulai turun.

Rumah terasa lebih tenang dari biasanya.

Alvian duduk di ruang tengah. Mainannya ada di depan, tapi tidak benar-benar disentuh. Matanya kosong, seolah memikirkan sesuatu.

Ayza yang baru keluar dari dapur berhenti sejenak, memerhatikan. Ada yang berbeda dari putranya.

“Al…”

Alvian menoleh. Sedikit terlambat dari biasanya.

“Iya, Umi…” Nada suaranya lembut.

Ayza mendekat, duduk di sampingnya.

“Kenapa diam saja?” tanyanya seraya mengusap punggung Alvian. “Capek?” tanyanya pelan.

Alvian menggeleng kecil, namun tidak langsung bicara. Tangannya bermain dengan ujung baju sendiri.

Ayza menunggu, tidak memaksa.

Lalu—

“Umi…”

“Iya?”

Alvian menunduk. “Tadi… Om Reza datang lagi.”

Ayza langsung menoleh. “Apa?”

Satu kata itu keluar lebih cepat dari yang ia inginkan.

Alvian sedikit tersentak, tapi tetap melanjutkan.

“Dia nunjukin foto…” suaranya mengecil, “…Abi sama perempuan lain.”

Wajah Ayza berubah. Tidak langsung marah, tapi jelas… terguncang.

“Terus?” tanyanya lebih pelan dari sebelumnya.

“Dia bilang… Abi sekarang jarang pulang…” lanjut Alvian, “…mungkin lagi sibuk sama pilihannya sendiri.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi cukup… untuk membuat dada Ayza terasa sesak. Tangannya tanpa sadar mengepal di pangkuannya.

"Reza. Ia benar-benar sudah melewati batas."

Ini bukan lagi soal dia… tapi sudah menyentuh anaknya.

 

...🔸🔸🔸...

..."Yang paling berbahaya bukan kebohongan,...

...tapi kebenaran yang dipelintir untuk melukai."...

..."Anak tidak butuh semua kebenaran,...

...tapi mereka selalu merasakan mana yang salah."...

..."Menjaga bukan berarti membela tanpa pikir,...

...tapi tetap berdiri di tempat yang benar saat semua mulai goyah."...

..."Ada orang yang mencintai dengan menjaga,...

...dan ada yang mencintai dengan merusak."...

..."Rumah tangga tidak selalu runtuh karena kebenaran,...

...tapi sering hancur karena orang luar yang sengaja masuk."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Ternyata Reza mengikut Fahri dan keluarganya yang sedang berada di pantai. Benar-benar penguntit sejati.

Ayza ke toilet. Reza bergerak mendekati bangunan toilet.

Ayza keluar dari toilet - Reza sudah berdiri di depannya. Bikin Ayza terkejut.

Reza sudah mendengar Ayza berkata yang sebenarnya. Apa masih kurang jelas - masihkah mengharapkan sesuatu yang tak mungkin dia miliki kembali.
Hanima
😍👍🙏
Anonim
Reza sebagai pengamat sejati ketika mereka makan pagi. Dia tahu kenapa Fahri terlihat berwajah cerah.

Melihat interaksi atara Fahri dan Ayza. Mendengar Alvian memanggil Abi untuk Fahri.

Semua itu membuat dada Reza terasa semakin sesak.

Alvian mau mancing di pantai. Mereka bertiga menuju pantai.

Reza mau ngapain keluar rumah juga dengan mobilnya.

Ditanya Bundanya - jawabnya ada urusan sedikit.

Sepertinya Rahman was-was terhadap Reza. Tidak akan tinggal diam kalau Reza sampai mengusik keluarga Fahri.
Rea
iya aku bacanya jg loncat krn nangis terus
🌠Naπa Kiarra🍁: Berarti sedihnya sampai nggak kuat ya, Kak 🥹

Tapi bacanya jangan lompat-lompat, kasihan retensinya 😭 Kita sesama penulis pasti tahu rasanya lihat grafik tiba-tiba jungkir balik.

Ujung-ujungnya reward melambaikan tangan dari kejauhan: waalaikumsalam 😂

Yang tersisa cuma mata panda gara-gara sistem baca model kodok.😭
total 1 replies
ngatun Lestari
masyaalloh.... banyak liku" hidup yg jadi pelajaran
Dek Sri
terima kasih atas karyanya kak, semoga sukses selalu
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
mery harwati
Terimakasih author 🙏
Sehat selalu ya 😍
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Sugiharti Rusli
kisah yang haru biru sih, semoga kisah baru yang juga sudah dibaca juga seru yah🥰🥰
Sugiharti Rusli
bahkan pada akhirnya Fahri mengakui perasaan yang dia punya ke Ayza setelah dia sah sebagai suaminya,,,
Sugiharti Rusli
karena mau menolak seperti apapun Ayza, kalo takdirnya berjodog dengan Fahri makanya memang ada jalannya melalui Alvian yang sangat menyayanginya,,,
Sugiharti Rusli
dan Fahri juga tidak pernah melampaui batasannya, bahkan setelah Kaisyaf wafat, dan pada akhirnya takdirlah yang meruntuhkan hati Ayza,,,
Sugiharti Rusli
bahkan mungkin dulu saat akhirnya Ayza berjodoh sama mendiang Kaisyaf, dia tetap ada bersama mereka sebagai adik mereka
Sugiharti Rusli
yah memang pada akhirnya memenangkan hati Ayza bukan karena ambisi buta sih,,,
Eliermswati
trma ksh thor untuk semua cerita nya, smngt dan sukses untuk karya mu selanjutnya, 😍😍😍y q msh penasaran pengen d lnjut tentang alvian gede dan ank ayza sm fahri sih
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Asih Prawawati
Terima Kasih Thour..
Terima Kasih...akhir cerita yang indah .
aku suka .
Bukan sekedar bacaan...yg perlu di baca .
Tapi lebih dari itu ..ada pembelajaran juga .
🙏🙏🙏🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Dek Sri
saya sudah mampir kak
🌠Naπa Kiarra🍁: Iya, Kak. Makasih 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Juriah Juriah
trimakasih kepada author Nana atas crita bagus nya ga krasa aku mengikuti jln crita kisah kehidupan Ayza hingga season 2 dan sudah tamat ..dan sy akan mencoba mengikuti crita yg baru terbit semangat trus buat crita baru yg lebih bagus dan sukses selalu 🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
tse
terima kasih ka. setiap ceritamu selalu banyak pengalaman berharga yang bisa kita ambil dalam memyikapi setiap masalah yang dtang dengan kepala dingin dan tidak terbawa emosi....
jadi penasaran apa kaka emang orangnya aslinya memang begini ya... ramah dan mudah memaafkan kesalahan orang lain...
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih banyak, Kak 🥹 Kalau soal aslinya, mungkin aku bukan orang yang selalu tenang atau selalu kuat.

Aku juga pernah marah, sedih, kecewa, dan terluka. Cuma aku percaya, kalau emosi dipeluk terlalu lama, yang sesak biasanya diri sendiri.

Mungkin karena itu aku lebih suka memahami dan pelan-pelan belajar mengikhlaskan 😊
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Luar Biasa
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Terima Kasih banyak Kak Nana... Karena kakak sudah menghibur Kami, para Pembaca 🙏😁
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama Kak 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!