NovelToon NovelToon
AndaiKata

AndaiKata

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Elegi223

Qirana Velaryne Azzahra atau bisa kalian panggil gua rana/Luna Mahasiswa dari kampus swasta biasa, Gadis cantik harapan orang tua, itu sulit buat merealisasikannya, ketika gua beranjak dewasa, banyak hal yang gua sesali, terutama masa kecil gua, mungkin andai kata gua bisa balik ke masa itu, mungkin gua bisa merubah sedikit takdir gua, andai gua ngungkapin perasaan gua sejak dulu, pasti cowok yang gua suka bakal jadi pacar gua saat ini, andai gua fokus bangun diri gua, terutama bakat utama gua di bidang seni lukis, mungkin gua akan ada penghasilan tambahan, kenapa gua nggak bisa mewujudkan semua itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elegi223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Sahabat Lama

Seminggu berlalu, setelah kegiatan MPLS berlangsung dengan baik, gua bersama Erin yang senantiasa berada disisi gua, tak lupa dengan Yura and The gang yang mendukung setiap tindakan, Di hari pertama aja gua udah bisa liat muka-muka manipulatif mereka, sebab gua cantik (pede amat gua anjay) pasti ada aja orang yang iri, itu berlaku untuk para cewek pribumi, kalo untuk kaum lelaki.... ya gua selalu jadi pusat perhatian seperti nanti perlu menutupi penampilan ini. bisa memicu resiko yang tidak terduga kalo Gua terus seperti ini, untuk Delvano... sikapnya masih sama seperti dulu, lembut dan perhatian beberapa kali sering sekali ada coklat ataupun makanan manis lainnya di laci meja. Tidak perlu di tebak lagi pasti dia, tapi... kok setiap hari ya? bisa-bisa gigi ini hilang satu persatu.

Gua berada di kelas yang sama bareng Erin, Yura dan yang lain, gua duduk sebangku sama Erin, untuk Yura di sebangku sama sahabat gua namanya Ghina Arabela, dia adalah seseorang yang sempat membela gua sewaktu di Bully dulu, walaupun dia harus menanggung resiko kena bully juga, tapi dia sahabat gua yang paling baik, tutur katanya yang lembut mengingatkan gua pada Bundah saat berbicara, membuat persahabatkan kami berlangsung sampai lulus SMA, saat akhir masa SMA, kami sempat bertemu sekaligus berpamitan satu sama lain, Ghina berencana kuliah di tempat tinggalnya di Jakarta, perpisahan tersebut membuat gua sempat down beberapa hari.

Langit cerah memancarkan warna biru yang kontras, awan mengepul membentuk berbagai macam menyesuaikan sudut pandang, tak lupa matahari yang senantiasa bersinar menyapa bumi yang saat ini tengah ramai, aroma khas tanah kering di sepanjang pinggir jalan, Suara derak kaki berlalu lalang di sepanjang jalan SMP Negeri 33 palembang, di kelas 7.3 gua Erin dan Yura tengah asik belajar

"hahhh~ Lana ajarin dong... sulit banget soal ini"ucap Yura mengerucutkan bibirnya mendapati soal yang tidak bisa ia jawab, Erin melihat sekilas lalu berkata sambil kembali memeriksa Pekerjaan Rumah yang akan di kumpulkan besok

"rumus kamu kebalik... ini FPB bukan KPK"ucap Erin, atensi gua mengarah pada apa yang ditunjuk Erin

"rumus kamu kebalik Yura..."ucap gua sambil tertawa lepas tak lupa Erin selalu mengejek Yura dengan sebutan "Bodoh Pangkat dua" Yura hanya bisa menggaruk kepalanya lalu memperbaiki kesalahan yang ia tulis.

Tak terasa tiga puluh menit berlalu, mereka selesai kemudian beranjak menuju kantin, seminggu ini tidak ada yang istimewa selain perkenalan setiap guru yang akan mengajar, tak sengaja mata gua tertuju pada lorong yang nampak familiar, tempat yang dulunya menjadi markas para pembully, mataku nggak sengaja melihat Ghina yang tengah di seret paksa oleh seorang laki-laki yang gua kenal, ya di adalah pacar pembully, nggak tau namanya siapa tapi gua kenal mukanya

"lagi liatin apa na?"ucap Erin mengagetkan gua

"eh nggak ada rin, gua nggak--"ucapan gua terhenti saat Mendengar keributan yang terjadi tak jauh dari Gua dan Erin, disitu Yura seperti marah besar kepada seorang siswa yang sangat Gua kenal, ya anak itu adalah pacar dari orang yang pernah membully gua di masa lalu, namanya Johan, Erin dan Gua berlari kecil menuju Yura untuk menenangkannya yang masih nampak meledak-ledak

"Lo tuh nggak usah ikut campur urusan orang, lagian ngapain Lo bela-bela ini anak miskin"ucap Johan dengan nada angkuhnya, masih sama seperti dulu, perlahan Gua mendekati seorang gadis yang sangat ku kenal, tanpa Gua sadari, mulut Gua kelepasan

"Pengecut! emangnya dengan kuasa apa Lo bisa semena-mena gini"ucapku dengan suara dingin yang mampu membuat teman bahkan seluruh orang di sekitar gua merinding, sadar akan ucapanku, Gua takut hal buruk kembali terjadi, tanpa sadar badanku gemetar, rasa sesak kurasakan kembali, perasaan yang telah lama menghilang kini hadir dalam diriku, meski badanku tegar, tapi mental masih tetap sama, masih lemah.

Saat ku tengah berada dalam lautan kesadaran yang dalam, perasaan hangat menyelimuti tanganku, entah apa yang di pikirkan Max, ia menggenggam jari jemariku dengan lembut, ini pertama kalinya ada orang lain yang bersentuhan dengan Gua, tapi yang jadi pertanyaan ku, sejak kapan Max begitu perhatian dengan ku? biasanya ia sangat cuek, dari SD tatapannya sangat menyeramkan.

Max dengan tatapan yang tajamnya berkata "selangkah lo jalan...."ucapnya lalu mendekat kemudian mencengkram erat bahu siswa itu, terdengar ringisan pelan siswa itu, Gua melihat tangan Max yang besar menekan bahu siswa itu, di pikiranku bertanya-tanya sejak kapan Max punya kekuatan sebesar itu? apalagi usianya sama sepertiku.

Bukan hanya Max, Alvin dan Delvano juga ada, anehnya mereka kok bisa akrab?? apa yang terjadi pada mereka ini? hah sudah lah Gua bersyukur mereka akrab kembali, Delvano mendekat menggenggam tanganku dengan lembut lalu berkata

"Lana kamu nggak papa kan?? coba aku liat bagian mana yang sakit?"ucapnya memutar-mutar tubuhku sampai kepalaku pusing tujuh keliling.

Alvin tanpa basa basi menendang mereka hingga mereka terpental jauh, mereka hanya bisa mengeram kesakitan tanpa adanya pergerakan melawan, Alvin perlahan mendekat lalu berkata "cih semut rendahan beraninya ama cewek, sini kita duel! sama-sama cowok adilkan?"ucapnya dengan nada sinis.

Max perlahan mendekat lalu menginjak dada murid itu dengan kuat lalu berkata"akan ku buat rumah sakit jadi rumah kedua lo"bisik pelan Max di telinga siswa itu, terlihat badan siswa itu bergetar, terutama kakinya yang seakan menahan beban berat dari atas, terlihat senyum menyeramkan Max yang cukup mampu membuat semua orang bergidik ngeri, tapi entah kenapa Gua ngerasa senyum itu seperti familiar.

kenapa Gua ngerasa senyum itu kek mirip seseorang.... tapi siapa?

pertanyaan tersebut membuat Gua semakin penasaran pada Max, tapi Gua punya Delvano, setidaknya Gua kepo tentang Max hanya sebatas teman saja, tapi Gua ngerasa Max kali ini melindungi Gua tanpa hutang budi atau sebab apapun.

"ba.... ba.... baik Gua nggak lagi"ucap siswa itu terbata-bata sambil menahan sakit akibat tendangan Alvin ditambah dengan tekanan dari Max membuat ia menggigil ketakutan, Gua cukup shok karna ini pertama kalinya liat bajingan ini ketakutan, dalam hati antara Gua seneng atau curiga, sebab bajingan ini tidak sesederhana itu.

Setelah itu siswa itu pergi tergesa-gesa, Yura sempat mengejek siswa tersebut dengan sebutan "banci" perkataan tersebut membuat Gua dan Erin tertawa lepas, tanpa sadar Max masih menatap kami begitu juga Delvano ia mendekat menenangkan Gua namun tatapan Max seakan ia seperti sedih yang membuat Gua merasa aneh Max ini kayak orang yang lagi memergoki kekasihnya selingkuh, dari tatapannya saja sudah tergambar jelas. Saat Gua asik beragumen sendiri Erin menyenggol bahu kiri Gua dengan cukup keras, lalu beribisik

"eh tumben yak Max ngomong, apa otaknya kebentur sesuatu kah?"ucap pelan Erin di telinga kiriku, Gua mengisyaratkan jari telunjuk di antara bibir menyuruh Erin untuk diam, lalu membalas

"ish kau ini nggak tau apa yang lo gibah ada di depan mata kita"ucapku yang langsung di sela Yura

"mungkin kalik.... soalnya nih anak kulkas 12 pintu keknya ada konslate di bagian otaknya, tapi bisa jadi karna lo cantik Na, Max terpesona sama lo"ucap Yura seperti biasa usilnya mulai kumat lagi, Gua dengan pelan menggeplak bagian belakang badannya lalu berkata

"hush nih anak main nimbrung ae dah, nggak liat kondisi napa"ucap ku memarahi Yura yang di balas sengiran khasnya, Erin hanya terkekeh kecil, ya pemandangan ini selalu terjadi sampai sekarang.

Max melihat Gua, Erin, dan Yura, namun tatapannya sangat berbeda dari yang biasa Gua liat, tanpa sepatah katapun ia pergi meninggalkan kami bertiga yang asik bergosip ria, namun mataku selalu tertuju di punggung Max yang perlahan menghilang di ikuti Alvin dan Delvano yang menatap Gua lalu pergi tanpa pamit.

kayaknya bukan cuma Max tapi mereka bertiga emang geser otaknya

batin Gua sambil menggeleng pelan, menghilangkan pikiran yang tidak perlu, lalu mengulurkan tangan pada sahabat lama Gua di kehidupan sebelumnya

"sekarang sudah aman, mereka udah pergi kok"ucap Gua pada sahabat lama bernama Ghina, terlihat pakaiannya yang acak-acakan, terutama roknya yang ada bekas gesekan, ia berdiri di bantu oleh Gua, namun tidak ada respon darinya, ia masih diam dan kepalanya menunduk.

"tenang aja lo aman ama kami, banci-banci itu nggak akan ganggu lo lagi"ucap Yura tersenyum ke arah Ghina semakin Gua perhatiin Yura ini semakin berbahaya. Ghina menoleh melihat Yura yang tersenyum ke arahnya, lalu menatap Gua dan Erin dengan mata yang berkaca-kaca.

"Terima kasih.... maaf sudah merepotkan kalian, aku tidak bermaksud merepotkan kalian, aku..... aku cuma merasa kalo aku nggak pantas"ucap Ghina, perkataan yang seharusnya Gua katakan di kehidupan sebelumnya, malah Dia sekarang menggantikan posisik Gua, sepertinya ini efek kupu-kupu dari kehadiran Gua.

"ngapain lo minta maaf ke kami, kami nggak ngerasa di repotin kok, seharusnya yang minta maaf itu mereka yang gangguin lo"ucap Yura dengan nada tidak senang, Ghina menunduk takut.

"udah ra, lo bikin anak orang ketakutan nah, entar bisa bisa kita malah di tuduh ngebully dia"ucap Erin memarahi Yura yang bertinda implusif, Yura hanya memalingkan mukanya, Gua tau kalo Yura ini sulit menyembunyikan ketidak sukaannya.

"udah deh kok kalian malah debat disini, perut Gua udah berdemo nih minta diisi, mending kita ke kantin aja, ngobrol disana"ucap Gua yang di angguki keduanya, tanpa basa-basi Gua menarik tangan Ghina lalu beranjak ke kantin, Ghina hanya pasrah mengikuti kami tanpa protes sedikitpun

Nyahoo hehehe semoga kalian suka dengan cerita author, sampai sini dulu sampai jumpa di next bab ya see you MUACH

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!