Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan kata "Mas" yang membuat Arjuna salah tingkah
Suasana meja makan pagi itu terasa sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pak Prasetyo dan Bu Kinan baru saja hendak menyantap nasi uduk mereka ketika langkah kaki kecil terdengar mendekat.
"Pagi, Tante Dita!" sapa Siena dengan suara yang cukup ceria.
DEG!
Pak Pras dan Bu Kinan sampai menghentikan kunyahan mereka, mata mereka melongo menatap cucu mereka yang biasanya sedingin es itu kini menyapa ibu sambungnya lebih dulu. Dita, yang sejak tadi hanya menunduk dengan wajah ditekuk karena masih kesal mengingat "insiden gigitan" di kamar, tersentak kaget. Namun, melihat wajah polos Siena, amarahnya pada Arjuna menguap seketika digantikan senyum tulus.
"Pagi juga, Siena. Wah, sudah rapi sekali pagi-pagi begini," balas Dita ramah.
Tak lama kemudian, Arjuna muncul. Ia terlihat sangat segar dengan kaos polo santai, rambutnya yang masih sedikit basah menambah kesan fresh.
"Wah, kebetulan sekali Ayah sudah datang!" seru Siena. "Ayah, apakah di hari Minggu ini Ayah libur bekerja?"
Arjuna mendekat, mengusap lembut kepala Siena. "Iya, Sayang. Ayah libur hari ini." Pandangan Arjuna kemudian beralih, tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata Dita.
Seketika, rona merah menjalar di pipi keduanya. Dita buru-baru memalingkan wajah yang terasa seperti terbakar. Ingatan tentang ciuman lembut berdurasi lama semalam mendadak terputar kembali di otaknya bak film romantis. Arjuna pun tak jauh beda; ia mendadak kikuk, salah tingkah sambil membetulkan letak kursinya.
Tingkah aneh pasangan muda ini tidak luput dari penglihatan Pak Pras dan Bu Kinan yang hanya bisa tersenyum tipis penuh arti.
"Memangnya kenapa kalau hari ini Ayah libur, Nak?" tanya Arjuna mencoba menetralisir suasana.
Mata Siena berbinar-binar. "Ayah, antar aku pergi ke mal yuk! Tante Dita juga harus ikut!"
BBRRRUUUFT!
Dita yang sedang meminum air putih karena gugup, spontan menyemburkan air dari mulutnya. Seisi meja makan terkejut. Arjuna dengan sigap mendekat, menyodorkan beberapa lembar tisu dengan raut khawatir yang nyata.
"Kamu tidak apa-apa, Dita?" tanya Arjuna lembut.
"E... enggak... aku enggak apa-apa, Pak!" jawab Dita gugup setengah mati sambil sibuk mengelap bibirnya.
Mendengar sebutan itu, Bu Kinan dan Pak Pras langsung kompak meletakkan sendok mereka.
"Dita, kenapa masih panggil Arjuna dengan sebutan 'Pak'?" protes Bu Kinan. "Kalian ini pasangan suami istri paling aneh yang Ibu lihat. Dita, jangan panggil suamimu 'Pak', panggil lah dia 'Mas'."
Dita hanya bisa mengangguk kaku sambil menelan ludah dengan susah payah. Sementara itu, Arjuna justru tersenyum penuh arti. Panggilan "Mas" dari bibir Dita adalah sesuatu yang sangat ia dambakan.
"Lalu, kenapa tiba-tiba ingin ke mal dan membeli Barbie, Siena?" tanya Arjuna lagi, mengalihkan pembicaraan.
Siena langsung menjawab dengan antusias, "Aku ingin membeli boneka Barbie, Yah! Semalam Tante Dita ceritakan dongeng Cinderella dan Pangeran Tampan. Aku ingat di toko mainan langgananku ada koleksi Barbie Cinderella dan Pangeran Tampannya!"
Mendengar kata "Pangeran Tampan", pandangan Dita secara refleks tertuju pada Arjuna. Di saat yang sama, Arjuna pun menatap Dita. Pria itu kembali membayangkan igauan Dita semalam, bagaimana istrinya itu menarik kerahnya dan memintanya jangan pergi.
Arjuna seolah terhipnotis kembali oleh situasi malam tadi, membayangkan bibir ranum Dita yang memanggilnya "Pangeran". Suasana meja makan yang ramai itu mendadak terasa sunyi bagi mereka berdua, hanya ada detak jantung yang saling berkejaran di balik dada masing-masing.
*
*
Mal Grand Indonesia siang itu padat luar biasa. Arus pengunjung yang membeludak membuat suasana menjadi sesak, terutama di area lantai dasar yang sedang mengadakan pameran besar. Arjuna, yang biasanya terlihat gagah dan berwibawa dengan seragam kepolisiannya, kini tampil santai dengan kaos polo yang pas di badannya, namun wajahnya tampak waspada menjaga dua wanita di dekatnya.
Siena mulai kelelahan berjalan di tengah kerumunan. Tanpa banyak bicara, Arjuna langsung mengangkat putri kecilnya itu ke dalam gendongannya. Tangan kanannya menyangga tubuh Siena, sementara mata elangnya terus memantau Dita yang berkali-kali nyaris tersenggol orang yang berlalu-lalang.
"Sini, mendekat padaku. Jangan sampai terpisah," ujar Arjuna tegas.
Tiba-tiba, sebuah dorongan dari rombongan remaja yang terburu-buru membuat Dita terhuyung. Refleks, Arjuna menarik pinggang Dita dan merangkulnya erat dengan tangan kirinya yang bebas. Kini, Arjuna berjalan dengan posisi yang cukup "ajaib": menggendong Siena di satu sisi dan merangkul Dita di sisi lainnya.
Dita menegang, jantungnya berdegup kencang karena jarak mereka yang begitu dekat. Ia bisa mencium aroma parfum maskulin Arjuna yang bercampur dengan bau sabun bayi dari baju Siena.
"P... Pak... eh," Dita menggigit bibirnya, teringat protes Bu Kinan tadi pagi. Ia melirik orang-orang di sekitar yang menatap mereka dengan iri, menganggap mereka sebagai keluarga muda yang sangat harmonis.
Dita menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. "M... Mas... Mas Juna, pelan-pelan jalannya. Aku susah mengimbangi langkahmu," ucap Dita dengan suara kecil namun jelas.
DEG!
Langkah Arjuna langsung terhenti seketika. Pria itu mematung di tengah kerumunan, matanya membulat menatap Dita. Panggilan "Mas" yang keluar dari bibir ranum Dita terasa seperti sengatan listrik ribuan volt yang langsung melumpuhkan saraf-saraf kewibawaannya.
"Kamu... kamu panggil aku apa tadi?" tanya Arjuna dengan suara yang mendadak cempreng, kehilangan nada baritonnya yang biasa.
"Mas Juna... kan ibu yang minta," jawab Dita sambil menunduk malu, wajahnya sudah semerah buah stroberi yang disukai Siena.
Arjuna mendadak salah tingkah luar biasa. Ia mencoba memperbaiki posisi gendongan Siena, namun malah hampir menyenggol manekin di pinggir toko. Ia ingin tersenyum lebar, tapi ia juga merasa malu di depan umum. Polisi yang biasanya tegas menghadapi penjahat itu kini justru terlihat kikuk; ia tersenyum-senyum sendiri seperti remaja yang baru saja ditembak gebetannya.
"Ayah! Kenapa berhenti? Itu toko bonekanya sudah kelihatan!" protes Siena sambil menepuk bahu Ayahnya.
"Oh... iya, iya! Ayo kita ke sana, Sayang," jawab Arjuna gagap. Ia mencoba berjalan lagi, namun langkahnya malah menjadi tidak sinkron. Ia berkali-kali tersandung kakinya sendiri karena matanya terus mencuri pandang ke arah Dita.
"Mas Juna, hati-hati!" Dita menahan tawa melihat tingkah suaminya yang mendadak ceroboh itu.
"Iya, Dita... maksudku, iya Sayang... eh, iya Istriku!" Arjuna semakin salah bicara, membuat beberapa pengunjung mal yang lewat menahan tawa melihat sang "Pangeran Tampan" yang gagah itu mendadak jadi linglung hanya karena satu kata dari istrinya.
Dita yang melihat wajah Arjuna yang memerah dan kikuk itu merasa sedikit menang. Rupanya, senjata "panggilan Mas" jauh lebih ampuh untuk membalas dendam soal ciuman semalam daripada sekadar gigitan di tangan.
Bersambung...
smoga Siena pelan" mulai membuka diri untuk menerima Dita sang ibu sambung yah seperti Dita yg pelan" mulai menerima Arjuna sebagai suaminya