“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 – Cegatan yang Tak Terduga
Langkah Ardila terasa berat saat ia akhirnya keluar dari aula megah itu. Suara bisik-bisik masih terdengar samar di belakangnya, seperti bayangan yang enggan melepaskan. Namun kali ini, ia tidak berhenti. Tidak menoleh. Tidak juga ragu.
Malam itu… ia sudah terlalu lelah untuk peduli.
Gaun yang ia kenakan masih anggun membungkus tubuhnya, tetapi hatinya terasa kosong. Seolah semua yang ia perjuangkan selama ini runtuh dalam satu malam yang sama.
Namun di balik ketenangannya, tersembunyi satu rahasia besar.
Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang tahu…
bahwa semua yang terjadi malam ini… adalah pilihan Ardila sendiri.
Bahwa video itu.
Foto-foto itu.
Semua yang menghancurkan Rafa di depan publik…
adalah hasil dari tangan seorang istri yang sudah terlalu lama disakiti.
Langkahnya semakin cepat menuju pintu keluar utama.
Ia ingin pergi.
Pergi dari semua kebohongan.
Pergi dari rumah yang tidak pernah benar-benar menjadi tempat pulang.
“Ardila!”
Suara itu menghentikannya.
Ardila menutup mata sejenak sebelum berbalik.
Laras berdiri di sana, napasnya sedikit terengah, wajahnya tegang. Tidak seperti sebelumnya yang penuh amarah terbuka, kali ini ada sesuatu yang lain dalam sorot matanya.
Kecemasan.
“Kamu mau ke mana?” tanya Laras, mencoba menahan suaranya agar tidak terlalu menarik perhatian.
Ardila menatapnya datar.
“Pergi,” jawabnya singkat.
Laras langsung mendekat, meraih pergelangan tangan Ardila dengan cepat.
“Kamu nggak bisa pergi sekarang.”
Nada suaranya berubah. Lebih rendah. Lebih mendesak.
Ardila mengerutkan kening.
“Kenapa?” tanyanya dingin.
Laras menelan ludah. Untuk sesaat ia tampak ragu, tapi kemudian egonya kembali mengambil alih.
“Kamu masih bagian dari keluarga ini,” ucapnya. “Masalah ini bisa kita selesaikan secara baik-baik. Nggak perlu dibesar-besarkan.”
Ardila tersenyum tipis.
Ironis.
“Dari awal… memang sudah besar, Tante,” katanya pelan. “Saya cuma berhenti mengecilkannya.”
Laras menggenggam tangannya lebih erat.
“Kamu harus ikut saya pulang,” katanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih keras. “Kita bicarakan ini di rumah.”
Rumah.
Kata itu terasa asing di telinga Ardila.
“Rumah yang mana?” balas Ardila tenang. “Yang penuh kebohongan itu?”
Laras mulai kehilangan kesabaran.
“Kamu jangan keras kepala!” bentaknya pelan. “Kamu pikir setelah semua ini kamu bisa pergi begitu saja?”
Ardila menatap lurus.
“Bisa.”
Satu kata.
Tegas.
Tanpa ragu.
Namun Laras tidak mundur.
Justru ia semakin mendekat, suaranya kini berubah menjadi bisikan tajam.
“Kamu sadar nggak sih… kalau kamu pergi sekarang, semua yang kamu nikmati dari keluarga ini akan hilang?” ucapnya. “Fasilitas, nama, bahkan—”
Ia berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam.
“—kerja sama perusahaan ayah kamu dengan keluarga kami juga bisa berakhir.”
Deg.
Kalimat itu menggantung di udara.
Jadi ini alasannya.
Bukan soal keluarga.
Bukan soal mempertahankan pernikahan.
Tapi soal kepentingan.
Ardila tertawa kecil.
Pelan.
Namun cukup untuk membuat Laras merasa tersindir.
“Jadi… selama ini saya dipertahankan bukan karena saya menantu yang baik,” ucap Ardila, “tapi karena saya anak Pak Arham?”
Laras terdiam.
Jawaban itu sudah jelas… tanpa perlu diucapkan.
Dan di situlah sesuatu dalam diri Ardila benar-benar putus.
“Lepaskan,” katanya dingin.
Namun Laras tidak bergerak.
“Tidak sebelum kamu ikut saya pulang.”
Suasana mulai menegang.
Beberapa orang memperhatikan dari kejauhan.
Dan tepat saat itu—
“Lepaskan anak saya.”
Suara berat dan tegas itu memotong segalanya.
Laras membeku.
Ardila menoleh.
Pak Arham berjalan mendekat dengan langkah pasti. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menyimpan kemarahan yang dalam.
Ia berdiri di samping Ardila, lalu dengan lembut melepaskan tangan Laras dari pergelangan putrinya.
Gerakannya tenang.
Namun penuh arti.
“Pak Arham…” Laras mencoba tersenyum, meski jelas terlihat gugup. “Ini cuma salah paham—”
“Saya tidak melihat ada yang perlu disalahpahami,” potong Pak Arham dingin.
Suasana langsung hening.
“Saya justru melihat dengan sangat jelas,” lanjutnya, “bagaimana anak saya diperlakukan.”
Laras mencoba mengatur napas.
“Pak, ini masalah rumah tangga mereka. Lebih baik diselesaikan secara internal—”
“Cukup.”
Satu kata itu membuat Laras terdiam.
Pak Arham menatapnya lurus.
“Sudah cukup anak saya bertahan di hubungan yang menyakitinya,” katanya tegas. “Dan saya tidak akan membiarkan itu berlanjut.”
Jantung Ardila berdegup kencang.
Ia menatap ayahnya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Ketegasan… sekaligus perlindungan yang selama ini ia rindukan.
“Pak Arham, kita bisa bicarakan baik-baik. Jangan sampai hubungan perusahaan kita—”
“Kalau hubungan itu dibangun di atas penderitaan anak saya,” potong Pak Arham tanpa ragu, “maka saya tidak membutuhkannya.”
Deg.
Laras terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar kehilangan kendali.
Pak Arham lalu menoleh pada Ardila.
Tatapannya melembut.
“Ardila,” panggilnya pelan.
“Iya, Pa…”
“Mulai malam ini,” ucap Pak Arham dengan suara tegas namun hangat, “kamu tidak perlu kembali ke rumah itu lagi.”
Air mata Ardila akhirnya jatuh.
Pelan.
Tanpa suara.
“Papa tidak akan membiarkan kamu terjebak dalam pernikahan yang menghancurkan kamu sendiri.”
Setiap kata terasa seperti pelukan.
Menguatkan.
Menyembuhkan.
“Besok,” lanjut Pak Arham, “kita urus semuanya secara resmi.”
Ardila terdiam.
Seolah memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
“Papa mau kamu bercerai.”
Kalimat itu akhirnya diucapkan.
Jelas.
Tanpa ragu.
Dan untuk pertama kalinya…
Ardila tidak merasa takut.
Justru sebaliknya.
Ia merasa… bebas.
Laras menggeleng cepat.
“Tidak bisa! Ini tidak bisa terjadi begitu saja!” katanya panik. “Kalian tidak bisa memutuskan sepihak seperti ini!”
Pak Arham menatapnya tajam.
“Perhatikan baik-baik,” ucapnya dingin. “Ini bukan keputusan sepihak. Ini keputusan seorang ayah… yang melindungi anaknya.”
Tidak ada yang bisa membantah.
Laras terdiam, napasnya memburu.
Sementara Ardila…
perlahan mengusap air matanya.
Ia menarik napas panjang.
Lalu mengangguk.
“Iya, Pa…”
Jawaban itu sederhana.
Namun penuh arti.
Ia memilih dirinya sendiri.
Akhirnya.
Pak Arham mengangguk, lalu menggenggam bahu putrinya dengan hangat.
“Ayo pulang.”
Dan kali ini…
kata “pulang” benar-benar terasa seperti rumah.
Ardila berjalan bersama ayahnya, meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
Tanpa penyesalan.
Tanpa ragu.
Di belakang mereka, Laras hanya bisa berdiri diam.
Menyadari bahwa yang ia takutkan… benar-benar terjadi.
Ia tidak hanya kehilangan kendali atas menantunya.
Tapi juga…
kehilangan kendali atas segalanya.