Aku benci sekali padanya! Dia lelaki paling menyebalkan yang pernah aku temui. Ucapannya selalu menyakiti hati, tingkahnya kasar dan juga egois! Paket komplit sebagai pria pemenang nominasi paling di benci sejagat.
Tapi kenapa semuanya kini berubah?
Mungkinkah aku jatuh cinta pada lelaki ini? Pangeran berhati dingin bernama Melviano Mahaprana Gunardi?
Tak mungkin!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu lelaki primadona desa.
Aku mengekor Ibu dan Bapak, terus berjalan menuju sebuah rumah bergaya joglo yang besar dan cantik. Di kampung ku, hampir semua warganya masih memiliki rumah semi permanen, yang sudah permanen dan bergaya minimalis modern hanya beberapa gelintir, bisa di hitung dengan jari.
Tapi Rumah Juragan Bara ini, tetap bergaya klasik, dia mempertahankan arsitektur Jawa dan di beri sedikit sentuhan modern. Benar-benar juragan tanah, gaya nya nggak kampungan seperti orang-orang di sini, horang kaya!
Ibu duduk di sebuah kursi plastik yang sudah di sediakan oleh pemilik rumah, banyak kursi-kursi berjejer dan tertata rapih di depan teras yang sudah di tata serta terdapat banyak alat musik khas musik kroncong.
Aku melihat beberapa warga yang sudah berkerumun, duduk di barisan paling depan. Semua orang sepertinya membawa anak gadis mereka yang di dandani begitu rupa.
Ada yang memakai kebaya komplit dengan sanggul dan giwang emas dan besar menggantung di kedua telinganya -dia sinden nya ya?-
Ada lagi yang memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana panjang berbahan kain warna hitam, dengan rambut di ikat kebelakang, -mau melamar kerja, mba?-
Ada yang lebih parah, dengan make up yang absurd di wajahnya, dia bahkan melukis alisnya sangat hitam dan tebal persis seperti alis sinchan.
Aku langsung menggelengkan kepala heran, "Bu.." Bisikku sambil mendekatkan bahuku ke arah Ibu yang duduk di sebelahku.
"Opo?"
"Iki acara opo tho? kok banyak anak gadis datang dandan menor begitu?" tanyaku penasaran.
Biasanya kan yang suka musik keroncong itu cuma orang-orang tua, kenapa ini malah seluruh gadis desa duduk manis memenuhi kursi yang di sediakan pemilik rumah.
"Mereka semua ingin ketemu sama Mas Gatot, anaknya Juragan Bara."
"Ooh..." Aku manggut-manggut, "kayak cerita 'Ande ande lumut' ya bu..." bisikku sambil terkikik.
"Putraku si Ande ande lumut... Temuruna ana putri kang unggah-unggahi
Putrine ngger, kang ayu rupane
Klenthing ijo iku kang dadi asmane..."
"Hus! menengo tho!" (diam!)
Lalu Ibu menatap ku dari ujung kaki sampai ujung kepala, dan mendengus kesal.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Di suruh dandan, malah cuma pakai kaos oblong sama celana jeans! pakai sandal jepit lagi! Mau ketemu juragan kok pake baju nya nggak sopan! pakai sepatu dong!" Ucap Ibu.
"Lhah, kan tadi aku nggak mau ikut. Ibu yang maksa."
"Kayak mau ke kelurahan aja, pakai sepatu." cibirku.
Ibu gemas lalu menoel perutku. Aku pun tertawa geli.
"Sudah mulai!" Bisik Ibu.
Aku menatap ke teras rumah si juragan, sudah banyak orang berkumpul sambil memegang alat musik nya masing-masing. Di depan mereka duduk seorang Ibu yang sangat anggun mengenakan kebaya berwarna keemasan dan menggunakan konde lengkap dengan aksesorinya. Dengan anggun dia memegang microfon dan lantunan musik pun mulai mengalun.
"Yen arep crito, karo sopo...
(Kalau mau cerita, sama siapa...)
Yen ora crito, kok tambah nelongso.
(kalau tidak di ceritakan, tambah sengsara)
Oh.. soyo sue, kok ngene rasane..
(Oh, semakin lama kok begini rasanya)
Sedino dino kok ngatoni wae..
(Sehari-hari hanya teringat selalu.)
Yen arep sambat, wes ra kuat.
(Ingin mengeluh, sudah tak kuat)
Arep njaluk tulung, bingung lehku nembung
(mau minta tolong, bingung mengatakannya)
Tekan sok kapan iso mendem iki..
(Entah sampai kapan, bisa memendam ini)
Kasmaran prio kang kepati-pati.
(jatuh cinta pada pria, setengah mati.)
(#kasmaran Didi kempot)
Aku terhipnotis suara sinden yang sedang bernyanyi, pikiranku seketika melayang teringat Vian. Padahal sehari ini, aku sudah berhasil melupakan nya tapi mendengar lagu ini aku jadi ingin menangis.
Aku mengangkat tanganku ke dada dan menepuk dadaku dengan pelan.
Sepanjang lagu itu berputar, aku terus menghela napas, ikut nelangsa. Suara nya yang syahdu, musiknya yang lembut dan merdu membuatku ingin menangis karena terus menerus teringat Vian. Aku benar-benar terhanyut pada musik keroncong yang baru kali ini kudengar.
Aku menatap layar ponselku, dan kembali menghela napas. Kenapa Vian sama sekali tak menghubungiku ya? Apa selama ini, cuma aku sendiri yang jatuh cinta?
Apa mungkin, Vian memang masih mencintai Arina dan menganggap aku sebagai pelarian?
Sehingga ada atau tidaknya aku di sisinya, tidak mengubah apapun untuknya?
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat mencoba membuang semua pikiran burukku.
"Ayo!"
Tiba-tiba Ibu menarik ku, sehingga membuat lamunanku ambyar.
"Kenapa Bu?"
"Kita temui Juragan Bara dan Mas Gatot."
"Ngapain?"
"Kenalan!" Ucap Ibu gemas sambil menarik tanganku.
Ibu mengajakku berdiri, mengantri di belakang barisan wanita-wanita muda yang mengular panjang di depan pintu rumah Pak Bara.
Fixs ini seperti cerita dongeng 'Ande ande Lumut'!. Semua gadis ini bergiliran menunggu di panggil satu satu untuk bertemu si jaka tole, eh maksudnya si ande ande lumut.
"Bagus'e kayak apa si Bu? sampai pada rela ngantri kayak gini?" lirihku. (Bagus bagi orang Jawa berarti lelaki yang tampan)
"Pokok'e bagus banget! guanteng! persis seperti namanya, Gatotkaca!"
Aku mencibir mendengar celotehan Ibu.
Karena aku nggak ada keinginan untuk menarik hati wong bagus yang jadi primadona di kampung ini, aku tetap bersikap santai. Bahkan tak malu mengenakan sandal japit yang banyak membawa tanah basah dan mengotori lantai rumah si juragan.
Akhirnya giliranku tiba, Ibu langsung menarikku agar masuk dan menemui sang juragan.
Ada dua orang lelaki dan seorang wanita duduk di sebuah kursi kayu bergaya kuno.
Wanita itu adalah sinden yang tadi menyanyi. Satu lelaki berumur sekitar 60 tahunan, dengan rambut memutih di sisir rapi ke belakang menggunakan minyak rambut.
Dan satu lagi lelaki yang lebih muda, aku belum lihat wajahnya sih, karena dia duduk membelakangi ku. Aku hanya bisa melihat rambut hitamnya yang tebal.
"Selamat Malam, Pak. Saya mau mengenalkan Putri saya." Ucap Ibu sambil mengangguk hormat pada Pak Bara.
"Iki sing jenenge Fafa, tho?" Ucap si lelaki tua yang aku yakini pasti si Juragan Bara.
"Nggih Pak."
"Fa, ini Pak Bara dan Istrinya, lalu itu Mas Gatot." Ucap Ibu mengenalkan satu persatu orang-orang yang sedang duduk, kepadaku.
"Nah Gatot, kui loh sing jenenge Fafa. Dia kerja di Jogja."
Orang yang bernama Gatot pun bangkit dari duduknya, elahdalah ternyata dia berbadan gempal, aku tak tahu karena badannya tertutup sandaran kursi kayu tadi.
Dia berbalik dan menatapku.
Wajah Mas Gatot sangat chubby, kedua pipinya munthuk kayak bakpau yang baru mateng.
Inikah lelaki idaman yang menjadi primadona di kampung ku? yang di gilai semua wanita muda hingga rela mengantri panjang dan dandan super maksimal?
Aku melipat bibirku ke dalam, mencoba menahan senyum yang tak bisa ku tahan.
"Hallo, Saya Gatot." Ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Aku menjabat tangannya, "saya Fafa, Mas." Jawabku sopan.
"Kamu kerja di Jogja? di mana?" Tanyanya.
"Saya kerja di Mall XX, jadi SPG."
"Sudah lama bekerja jadi SPG?" Tanya nya lagi sambil tersenyum.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku melirik Ibuku yang berdiri sambil menatapku dengan senyum mengembang lebar.
Lalu aku melirik Pak Bara, yang juga sedang tersenyum sambil menatap aku dan Gatot.
Duhh... firasat apa ini? kenapa mereka semua tersenyum nggak jelas begitu?! Jantungku langsung berdebar-debar tak karuan.
"Yuk, ngobrol sambil duduk." Ajak Gatot dengan sopan.
"Su.. sudah malam, sepertinya saya mau pulang saja." Aku melotot ke arah Ibu yang masih tersenyam-senyum nggak paham dengan kode ku untuk pulang.
"Baru jam 10, nduk. Nggak apa-apa. Toh rumah mu dekat dari sini." Kali ini Pak Bara yang bicara.
"Kayaknya Gatot suka dengan Fafa, Bu. Dari tadi nggak ada gadis yang di ajak ngobrol. Baru si Fafa ini yang di ajakin ngobrol."
Ebuseet!!!
Jantungku langsung berpacu dalam melodi eh, berpacu dengan cepat mendengar kata-kata Pak Bara yang sedikit berbisik pada Istrinya.
"Nggih Pak, leres..." Ucap si istri sambil tersenyum senang.
"Matik aku...!"
.
.
#bersambung🤗