NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Kapten

Terjerat Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kandas Sebelum Di Mulai

Mereka duduk berhadapan di sebuah coffee shop kecil di kawasan Foggy Bottom, tak jauh dari George Washington University.

Tempat itu tidak terlalu ramai hanya beberapa orang yang duduk di sudut ruangan, sebagian sibuk dengan laptop mereka. Suara mesin kopi sesekali terdengar, berpadu dengan alunan musik jazz pelan yang mengisi udara sore di Washington, D.C.

Namun bagi Kirana dan Damar dunia seolah sunyi tidak ada yang langsung bicara hanya tatapan.

Kirana menatap Damar tanpa berkedip tatapan yang penuh luka dan kekecewaan.

Sementara Damar terlihat ragu seperti mencari kata yang tepat tapi tak kunjung menemukannya.

Dan akhirnya Damar bersuara.

“Kirana,” suara Damar pelan, sedikit bergetar. Kirana tidak menjawab dia tetap menatap Damar menunggu.

“Seperti yang kamu dengar," lanjut Damar, “Salma itu mantan pacarku.” Hening.

Damar menunduk sejenak, lalu kembali menatap Kirana namun Kirana hanya tersenyum tipis senyum yang tidak sampai ke matanya.

“Itu alasan kamu nggak mau punya komitmen sama aku?” tanya Kirana pelan, Damar terdiam lalu mengangguk kecil.

“Awalnya iya,” jawabnya jujur.

Kirana tertawa kecil pahit.

“Oh… jadi begitu.” Kirana mengangguk pelan, seolah mengerti namun air matanya mulai menggenang.

“Kirana,” suara Damar melemah, “ada yang belum selesai antara aku dan Salma.”

Kirana mengalihkan pandangan sejenak mencoba menahan emosinya.

“Aku dan dia, ” lanjut Damar, “Kita empat tahun bersama.” Damar menarik napas panjang.

“Kami hampir bertunangan.”

Kirana memejamkan mata satu kalimat itu cukup untuk menghantam hatinya.

“Baik,” ucap Kirana pelan. “Aku paham.” Namun suaranya mulai pecah air matanya jatuh.

“Kirana, dengar dulu aku belum selesai bicara,” kata Damar cepat, Kirana mengusap air matanya lalu menatapnya lagi.

Damar menelan ludah. “Lalu kamu datang…” tatapannya berubah lebih lembut.“Dan aku nggak bisa mengabaikan kamu.” Kirana terdiam.

“Kamu menarik laki-laki manapun tak bisa mengabaikan mu,” lanjut Damar. “Dan aku mulai… punya perasaan.” Damar menghela napas panjang.

“Maafkan aku Kirana,"

Kirana menatapnya dalam. “Sekarang aku tanya,” suaranya pelan tapi tegas. “Siapa yang kamu cintai, Damar?”

Damar membeku matanya menatap Kirana tapi tidak ada jawaban yang langsung keluar.

“Kirana aku, ” akhirnya Damar bersuara terdengar ragu.

Kirana langsung menggeleng senyumnya muncul lagi namun pahit.

“kamu aja nggak yakin,” katanya pelan Damar mengusap wajahnya frustasi.

“Kirana, ini nggak sesederhana itu,”

“Enggak,” potong Kirana. “Sebenarnya sederhana.”

Kirana menarik napas dalam.

“Lihat satu minggu ini,” Kirana berhenti sejenak menatap Damar lurus. “Kamu menjauh dari aku.” Hening. “Itu sudah cukup jadi jawaban.”

Damar terdiam tidak bisa menyangkal.

“Kirana,” suara Damar melemah namun Kirana menggeleng.

“Kamu nggak sepenuhnya salah,” katanya pelan, Damar menatapnya terkejut.

“Aku yang salah,” lanjut Kirana. “Karena aku yang datang aku yang ngejar kamu.” Mata Kirana kembali berkaca-kaca.

“Aku yang terlalu antusias dengan perasaan ku.”

Damar merasakan dadanya sesak. “Kirana,”

“Aku bukan pemeran utama di cerita kamu, Damar,” ucap Kirana lirih kalimat itu membuat Damar kehilangan kata-kata.

“Kirana, perasaan aku ke kamu itu nyata,” katanya akhirnya Kirana menatapnya.

“Kalau gitu bagaimana,” katanya pelan, “perasaan kamu ke Salma?”

Damar terdiam lama dan diam itu sudah cukup menjawab Kirana tersenyum tipis air matanya jatuh lagi.

“Kalau kita punya waktu lebih,” kata Damar akhirnya, “mungkin perasaanku kekamu akan lebih besar,”

Kirana tertawa kecil “Tapi kenyataannya?” lanjutnya menatap Damar dalam.“Dia ada di apartemen kamu.”

Damar menutup matanya sejenak.“Kirana, kasih aku waktu,” ucapnya sambil menggenggam tangan Kirana.

Kirana melihat tangan itu lalu perlahan melepaskannya.

“Aku menyerah, Damar.” Suaranya tenang namun justru itu yang paling menyakitkan. “Aku nggak mau melanjutkan cinta sendiri ini.”

“Kirana, aku” Suara Damar bergetar “Sudah,” potong Kirana pelan dia menggeleng.

“Ini keputusan aku.” Damar menatapnya putus asa. “Aku nggak akan ganggu hidup kamu lagi.”

“Kirana, tidak jangan,” Damar terlihat cemas sekarang

“Aku mohon,” suara Damar melembut,“Tolong ngerti posisi aku." Hening seketika.

“Hormati keputusan aku, Damar.” Kirana berdiri mencoba tersenyum namun air matanya terus mengalir.

Di luar, langit sore Washington, D.C. mulai meredup, lampu jalan perlahan menyala, memantulkan cahaya ke jendela kafe.

Kirana berbalik melangkah pergi tanpa menoleh meninggalkan Damar yang masih duduk terdiam dengan penyesalan yang datang terlambat.

1
sitanggang
mcnya ternyata goblok🤦🤦
Rosie: Baca J.R.R Tolkien aja cocok buat anda jangan novel online.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!