"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbanan Dalam Cinta
Author Pov
Setelah berpamitan dengan Azzam, Fajar langsung menghampiri taxi online yang sudah dipesannya tadi. Menempuh perjalanan cukup panjang, membuat Fajar semakin gusar. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Jika benar ini semua ulah Dhuha, maka ia tidak akan tinggal diam.
Ting...
Notifikasi pesan masuk berbunyi, segera Fajar membacanya. Seketika air muka Fajar berubah, matanya nanar, ketika melihat Raina yang masih dalam keadaan lemah dan tampak tidak baik, dengan tubuh serta mulut yang terikat.
Rahang Fajar mengeras, tangannya mengepal serta batinnya yang memanas, semakin panas lagi karena teriknya matahari siang ini.
Siapa sebenarnya yang sudah melakukan semua ini? jika benar Dhuha lalu mengapa, pria seperti Dhuha mampu bertindak sekasar itu pada Raina. Apalagi, Dhuha memiliki rasa cinta untuk Raina. Tapi jika bukan Dhuha siapa lagi? setahu Fajar, ia tidak pernah membuat masalah dengan orang lain.
Sedangkan Raina? Mana mungkin gadis itu memiliki musuh, Raina saja bahkan tidak pernah memiliki kebencian kepada siapapun. Jangankan kebencian, pikiran buruk mengenai orang lain saja gadis itu tidak pernah terbesit.
Setelah mengambil motor miliknya di bengkel, dengan kecepatan penuh Fajar melajukan kuda besinya. Dengan pikiran yang campur aduk, namun Fajar tetap fokus pada perjalanannya. Sampai akhirnya, ia tiba di sebuah caffe yang orang itu tunjukkan.
Fajar menyebarkan matanya untuk melihat sekeliling caffe, namun ia tidak menemukan sosok Dhuha yang ia curigai. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan kembali ia terima.
“Gue, ada dipojok. Pakai baju merah dan topi.”
Setelah membaca pesan itu, Fajar langsung menghampiri sang empu pesan. Tangan Fajar tampak mengepal, ia masih menduga orang itu adalah Dhuha. Namun.. betapa terkejutnya Fajar, ketika ia melihat orang itu. Dia bukan Dhuha ataupun orang yang tidak dikenalnya.
“Hai.. Tuan Admajaya,” ucap wanita itu dengan senyuman pada Fajar.
Ya.. ternyata pelakunya adalah seorang wanita, wanita yang sama sekali tidak Fajar curigai bahkan terlintaspun tidak. Kini wanita itu malah mendekatkan dirinya disamping Fajar.
“Lo.. jangan sentuh gue!!” ucap Fajar yang langsung menghempaskan setuhan tangan wanita berbaju merah itu.
“Tuan Admajaya.. kamu kaget aku yang lakuin semua ini? heh.. dasar bodoh! Aku mencintaimu Fajar, bahkan aku mengenalmu lebih dulu dari pada Raina. Tapi.. takdir mempermainanku, sampai aku harus melakukan tindakan nekat ini. Ini demi cintaku,” ucap wanita itu dengan suara yang dibuatnya manja.
Bahkan ia masih saja menggelayutkan kepalanya di pundak Fajar, meskipun sempat Fajar tepis beberapa kali.
“Dimana Raina?!” kali ini Fajar kembali bertanya dengan emosinya yang memuncak.
Namun, dengan santainya gadis itu menjawab, “Ada.. dia ada bersama anak buahku. Dan.. dia akan aman sesuai permintaan kamu. Tapi.. ada syaratnya.”
“Menjijikan!!” ucap Fajar geram.
“Kamu.. jangan jemput Raina, dan tetaplah diam. Aku tidak akan macam-macam padanya, jika kamu mau menurutiku juga syaratku.”
“Katakan saja dengan jelas! Jangan bertele-tele,” ucap Fajar dengan segala ketidak nyamanannya terhadap wanita yang menempel dipundaknnya itu.
“Well.. kamu harus ikutin semuuaa yang gue suruh. Aku, nggak akan minta kamu untuk langsung meninggalkan Raina. Tapi, secara perlahan, dan sampai Raina benar-benar membencimu. Terserah bagaimana caramu. Karena aku hanya menginginkan cinta mu untukku saja, bukan untuk Raina,” ucap wanita itu terjeda, kemudian ia tampak menghubungi seseorang dan memintanya memberikan pada Raina.
“Katakan kalau kamu tidak benar-benar mencintainya. Jika tidak, maka terserah.. kamu mau memilih berpisah karena kematian dan tidak akan pernah melihat Raina lagi. Atau.. berpisah dengan cara yang sederhana. Sesederhana kataku tadi," ucapnya pelan didekat telinga Fajar.
Kali ini demi keselamatan Raina, Fajar mengiyakan semua yang wanita itu inginkan. Bahkan jantungnya kembali memburu, bagaimana mungkin cinta yang baru saja ia mulai langsung ia akhiri. Bahkan cintanya ini berakhir karena paksaan dari seseorang, yang mengaku mencintainya.
Tapi jika seperti itu caranya, bukanlah cinta sebutannya. Karena jika mencintai seseorang, maka kita harus rela, melihat orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain. Bukan malah sebaliknya, dengan cara yang tergolong rendahan seperti yang wanita itu lakukan.
...*****...
Disebuah gudang kosong ini, Raina kembali pada posisinya semula. Sempat wanita algojo itu menawarinya makan, namun langsung ditolak oleh Raina. Gadis ini, bahkan tampak lemah karena memang sejak semalam ia hanya makan sedikit, itupun dipesta pernikahan Raihan, teman Fajar.
“Hah.. dasar cewek angkuh!! Ditawarin makan nggak mau, sekarang lo tahu rasa kan? Kelaperan. Memang benar kata orang, kesempatan pertama itu jangan sampai disia-siakan,” kata wanita itu, sambil melihat kearah Raina, yang memilih membuang muka dan tak ingin mendengar ataupun melihat wanita kasar didepannya itu.
Kemudian panggilan masuk diponsel wanita itu berbunyi, langsung dengan segera ia mengangkat ponselnya. Dari nada bicaranya yang sedikit pelan, mungkin saja wanita itu sedang berbicara dengan bosnya, orang yang menyuruhnya membawa Raina.
“Bos gue telpon, dan udah memastikan. Suami lo, gak akan datang. Karena memang ini juga merupakan rencana suami lo dengan bos gue.”
Mendengarkan kalimat yang terlontar dari mulut wanita itu, Raina tampak mengrenyitkan dahinya. Bagaimana mungkin, Fajar merencanakan penculikan istrinya sendiri. Bukankah Fajar sangat mencintai Raina?
“Pasti lo bertanya-tanya kan? Kenapa gue bisa tahu, suami lo yang sedingin es ternyata tidak pernah berubah. Bos gue udah cerita semua tentang hubungan kalian. Kepalsuan yang selama ini suami lo perlihatkan, sangat sempurna bukan? Heh.. gak heran, wanita manapun pasti akan bertekuk lutut ketika melihat lelaki yang bermulut manis, seperti Fajar.”
Kemudian wanita itu mendapatkan pesan, dan dilihatnya. Ternyata bosnya mengirimkan beberapa foto yang menggambarkan Fajar tengah asyik bersama dengan seorang wanita. Raina hanya mampu melihat wajah Fajar, sedangkan gadis itu hanya tampak dari belakang.
“Wanita itu bos gue. Dan lihat suami lo, bukannya nyari istrinya, dia malah mesra-mesraan dengan wanita lain,” ucap wanita itu yang terasa menohok sangat dalam di jantung hati Raina.
Bang Fajar, jadi.. selama ini, dia hanya berpura-pura? Cintanya juga hanya palsu, dan dia belum berubah sama sekali? – batin Raina dengan mata nanar, menyaksikan fakta yang sangat melenceng jauh dari dugaannya selama ini.
Tapi.. dia masih belum percaya, karena bisa jadi foto itu hanya tipuan dari editan yang sempurna.
Setelah itu, wanita bertubuh besar ini mengarahkan ponselnya kepada Raina. Ia meminta Raina untuk mendengarkan baik-baik ucapan Fajar dari panggilan suara yang berlangsung.
“Raina.. maaf selama ini gue cuma mau buat Bunda bahagia. Dan selama dua pekan ini, itu semua palsu. Gue masih Fajar yang sebelumnya. Lo.. hanya tabir gue untuk menutupi kekecewaan dari Bunda. Dan gue udah nggak tahan dengan semua ini, bahkan kata cinta yang pernah gue ucapkan itu juga sandiwara. Mulai sekarang dan sampai nanti, kita akan menjalani hidup kita masing-masing,” ucap Fajar pelan, namun menyakitkan ketika didengar oleh Raina. Bahkan gaya bicara Fajar kembali seperti dulu lagi.
Mengingat kembali kalimat yang Fajar ungkapkan, langsung membuat mulut Raina tidak mampu lagi berkata, hanya batin dan hatinya saja yang menjerit. Ada ketidak percayaan disana, namun bukti dan ucapan Fajar tampak benar dan mungkin saja itu benar, begitulah yang Raina fikirkan saat ini.
Kini, hanya tatapan nanarlah yang bisa mengungkapkan rasa yang Raina alami. Gadis ayu itu, memandang jauh kearah luar jendela. Meskipun tubuh dan mulutnya terikat, matanya masih bisa menantap. Tatapan nanarnya kemudian berubah menjadi air mata, gadis itu tidak mampu lagi menahannya.
Setetes demi setetes air hangat itu, terjun di pipinya yang terhalang niqab. Ia teringat, kenangan bersama dengan Fajar, kenangan indah yang selama dua pekan ini mereka lalui. Kenangan yang hanya sebuah kepalsuan dan sandiwara Fajar, menurut Raina.
Raina masih terus larut dalam isakannya. Banyak pertanyaan-pertanyaan tabu yang menghinggapi pikirannya saat ini.
Jika hati dan rasa bisa dipermainkan semudah ini, lalu untuk apa rasa itu hadir tanpa permisi? Ternyata dirinya hanya berpura-pura. Ketika sudah jengah maka dengan mudahnya ia mencampakkan. Jika saja, aku mampu untuk membaca semua yang tersurat dengan baik, maka ini mungkin tidak akan terjadi. Aku tidak akan kecewa, bahkan aku tidak akan pernah memberikan kepingan hati yang tersusun rapih membentuk satu bentuk yang sempurna, yaitu cinta. Cinta kepada makhluk yang tak memiliki rasa – batin Raina, rasanya dadanya kini sesak dipenuhi duri, yang seolah-olah tak berhenti menusuk ke seluruh relung hatinya.
...*****...
Sementara wanita yang sedari tadi menempel di pundak Fajar, kini bangkit dan dengan raut wajahnya yang puas kemudian ia beranjak pergi meninggalkan Fajar. Tak lupa ia kembali mengingatkan, janji yang Fajar katakan padanya mengenai hubungannya dan Raina.
Masih dengan wajahnya yang kecewa. Ya.. Fajar kecewa dengan dirinya sendiri. Ia bahkan dapat membayangkan bagaimana perasaan Raina saat ini. Gadis itu pasti mulai membencinya, dan pasti akan banyak pertanyaan nantinya yang akan Raina lontarkan.
Jika dalam mencintai membutuhkan pengorbanan, maka aku akan siap dengan menanggung semua risiko yang akan ku terima. Satu hal Raina, andaikan kamu bisa mengerti.. cintaku padamu bukanlah sebuah permainan. Aku minta maaf Raina, aku belum bisa menjadi suami yang terbaik untukmu. Demi keselamatanmu, aku akan rela menanggung segalanya. Dan aku meminta kesabaran darimu, sampai nanti aku menemukan cara menghindarkanmu dari ancaman wanita menjijan itu – batin Fajar masih dengan emosionalnya.
Kemudian ia bangkit dan langsung menjalankan apa yang wanita itu minta sebagai syarat keselamatan Raina.
...-----♡●♡-----...
Alhamdulillah bisa up lagi..
Hiks.. hiks.. gak kebayang kalau begini jadinya😭😭
Yuk, terus support kisah cinta Fajar-Raina❤ jangan lupa tinggalkan jejak nya ya teman-teman🤗 kritikan dan saran dari teman-teman itu sangat-sangat membantu ana dalam menulis💙
Jazakillah Khair 💖
selamat berakhir pekan🌹
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa