Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggal
Apartemen terasa berbeda ketika hanya ditempati satu orang.
Bastian berangkat siang tadi. Perjalanan bisnis ke Surabaya, dua hari, kembali besok sore. Ia pamit ketika Yuna masih setengah mengantuk di meja makan, menekan kecup singkat di dahi Yuna dengan satu tangan masih memegang koper kecilnya.
Sekarang, pukul sebelas lebih dua puluh malam, Yuna berbaring di sisi kasur yang biasanya bukan sisinya... sisi Bastian.
Ia menatap langit-langit.
Pikirannya masih di kamar nomor tujuh.
Masih di wajah Lily ketika membuka pintu tadi. Masih di cara tangan gadis itu bergetar ketika mengatakannya. Masih di anggukan kecil itu, anggukan yang Yuna pilih untuk percaya, yang Yuna butuh untuk percaya.
Janji.
Janji.
Yuna memejamkan mata. Mencoba memperlambat pikirannya. Mencoba membiarkan lelah hari ini melakukan tugasnya.
Ia hampir berhasil, di ambang antara sadar dan tidak, di tempat di mana pikiran-pikiran mulai kehilangan bentuknya yang tajam... ketika ponselnya berbunyi.
Bukan nada pesan. Nada telepon.
Yuna membuka mata. Meraih ponsel dari nakas dengan gerakan yang masih setengah mengantuk. Layarnya menyilaukan di gelap kamar.
Nomor tidak dikenal.
Ia hampir tidak mengangkat. Ada aturan tidak tertulis yang sudah lama ia terapkan untuk dirinya sendiri, nomor tidak dikenal di atas jam sepuluh malam hampir tidak pernah membawa sesuatu yang perlu didengar malam itu juga.
Tapi sesuatu... naluri, kebetulan, atau mungkin kegelisahan yang sudah ada sejak sore tadi dan tidak pernah sepenuhnya pergi, membuat jarinya menggeser layar hijau itu.
"Halo?"
"Selamat malam. Bisa saya bicara dengan..." Suara perempuan di seberang, profesional, dengan nada yang terlatih untuk menyampaikan sesuatu tanpa menyampaikannya terlalu cepat. "... dengan kenalan dari pasien atas nama Lily Santoso?"
Yuna duduk.
Gerakan otomatis. Tubuhnya memproses sebelum pikirannya sempat mengejar.
"Saya," katanya. Suaranya keluar lebih pelan dari biasanya. "Saya temannya. Kenapa?"
Jeda singkat di seberang.
Jeda yang tidak lama. Tidak lebih dari dua detik. Tapi dua detik itu terasa seperti sesuatu yang mengambang di udara kamar, dan Yuna sudah tahu, di bagian dirinya yang tahu hal-hal sebelum hal-hal itu diucapkan... bahwa apa pun yang keluar sesudahnya tidak akan bisa ditarik kembali.
"Kami dari IGD Rumah Sakit Umum Bintara. Pasien Lily Santoso dibawa ke fasilitas kami malam ini..."
"Dibawa?" Yuna berdiri dari kasur. "Kenapa dibawa? Ada apa dengannya?"
"... dan kami sangat menyesal harus menyampaikan...."
"Jangan." Kata itu keluar dari mulut Yuna sebelum ia bisa menahannya. Keras, terlalu keras untuk jam sebelas malam di apartemen yang sepi. "Jangan bilang..."
"Pasien Lily Santoso dinyatakan meninggal dunia pukul dua belas empat puluh tiga dini hari. Kami memerlukan kehadiran pihak keluarga atau orang yang dikenal untuk..."
Yuna tidak mendengar kalimat setelahnya.
Bukan karena sambungannya terputus. Bukan karena suara perempuan itu berhenti.
Tapi karena ada sesuatu di dalam kepalanya yang melakukan sesuatu seperti berhenti berputar, tidak dengan cara yang dramatis, justru sebaliknya, dengan cara yang sangat senyap dan sangat tiba-tiba dan satu atau dua detik berikutnya Yuna tidak sepenuhnya ada di kamar itu.
"... karena tidak ada identitas keluarga yang terdata, apabila Anda bisa datang ke..."
"Saya akan datang." Yuna mendengar suaranya sendiri dari jauh. "Saya akan datang sekarang."
---
Tangannya gemetar ketika menutup sambungan.
Ia berdiri di tengah kamar yang gelap, ia tidak ingat kapan matikannya lampu, atau mungkin ia belum pernah menyalakannya sejak masuk kamar, dengan ponsel yang masih digenggam erat dan pikiran yang berputar terlalu cepat untuk bisa dipegang salah satunya.
Lily.
Lily meninggal.
Kalimat itu berbentuk di kepalanya dengan sempurna tapi tidak bisa masuk. Seperti sebuah kata dalam bahasa yang ia mengerti tapi tubuhnya menolak untuk mengakui artinya.
Tidak mungkin. Tadi malam mereka makan bersama. Tadi malam Lily mengangguk. Tadi malam...
Janji.
Yuna menekan punggung tangannya ke mulutnya.
Satu detik. Dua detik. Ia tidak punya waktu untuk ini sekarang. Ia tidak punya waktu untuk berdiri di tengah kamar gelap dan tidak bisa bernapas dengan benar. Ia harus...
Mega.
Jari-jarinya menemukan nama itu di daftar kontak dengan cara yang hampir otomatis dan menekan panggil sebelum pikirannya selesai membentuk kalimat yang akan ia ucapkan.
Nada sambung pertama.
Kedua.
"Yu?" Suara Mega mengantuk, sedikit parau. Baru tidur, atau hampir tidur. "Jam berapa ini..."
"Mega." Suara Yuna retak di satu titik tanpa izin. "Mega, dengarkan aku."
Hening sebentar di seberang.
"Ada apa?"
"Rumah sakit baru menelepon." Yuna memaksakan kata-katanya keluar satu per satu. Pelan. Teratur. Karena kalau ia berbicara terlalu cepat semuanya akan runtuh menjadi sesuatu yang tidak bisa dimengerti. "Tentang Lily."
Keheningan yang berbeda di seberang.
"...Yuna."
"Kita harus ke rumah sakit sekarang." Yuna sudah bergerak ke arah lemari, membuka pintunya, meraih jaket yang pertama kali tangannya menyentuh. "Rumah Sakit Umum Bintara. Kamu tahu di mana itu?"
"Yuna, ada apa dengan Lily..."
"Mega." Yuna berhenti. Memejamkan mata sebentar. Membukanya lagi. "Tolong cepat. Aku jemput kamu dalam dua puluh menit."
Suara Mega di seberang berubah.
"Aku siap."
Yuna mengemudi dengan cara yang ia tidak akan bisa deskripsikan.
Mega menunggu di depan gerbang perumahannya ketika Yuna tiba, sudah berpakaian, rambut yang belum sempat disisir, ekspresi di wajahnya yang terlihat seperti seseorang yang sudah mempersiapkan diri untuk mendengar sesuatu yang tidak ingin didengar.
Ia masuk ke mobil. Menutup pintu. Menatap Yuna.
"Bilang," katanya.
Yuna menelan. Matanya lurus ke depan, ke lampu-lampu jalan yang menunggu.
"Lily meninggal."
Mega tidak bersuara.
Yuna menginjak gas.
Mereka melaju dalam diam yang terasa seperti kaca, transparan, rapuh, sesuatu yang keduanya tahu tidak akan bertahan sampai tujuan tapi keduanya juga tidak bisa menjadi yang pertama memecahkannya.
---
IGD Rumah Sakit Umum Bintara berdiri di bawah cahaya neon putih yang tidak mengenal waktu.
Seorang perawat mengantar mereka.
Koridor. Belokan. Pintu. Koridor lagi.
Yuna berjalan dengan fokus di lantai di depannya, satu ubin, satu ubin, satu ubin... karena kalau ia mengangkat kepalanya terlalu jauh ke depan ia akan melihat pintu yang akan dibuka untuknya dan ia belum siap, ia belum...
Pintu terbuka.
Setelah itu Yuna tidak bisa merekonstruksi urutan yang tepat dari apa yang terjadi.
Yang ia ingat adalah putih. Banyak sekali putih, dinding, seprai, lampu, semua lapisan putih yang berbeda yang menyatu menjadi satu di matanya yang terlalu lelah dan terlalu hancur untuk membedakannya.
Yang ia ingat adalah wajah Lily.
Tenang dengan cara yang tidak seharusnya menenangkan siapa pun tapi entah kenapa Yuna membutuhkan beberapa detik untuk memproses bahwa ketenangan itu bukan tidur.
Yang ia ingat adalah suara... suara yang datang dari tenggorokannya sendiri atau dari Mega atau dari keduanya sekaligus, ia tidak bisa memisahkannya, suara yang tidak berbentuk kata-kata karena tidak ada kata-kata yang tersedia untuk momen seperti ini.
Mega memegang sisi ranjang itu. Tangannya putih di buku-buku jarinya.
Yuna mundur satu langkah. Dua langkah. Punggungnya menyentuh dinding dan ia membiarkan dinding itu menopangnya karena lututnya tidak lagi yakin dapat melakukan tugasnya sendiri.
Lily.
Lily yang mengangguk tadi malam.
Lily yang berkata janji.
Dokter jaga bicara.. kata-kata yang masuk ke telinga Yuna dalam potongan-potongan yang tidak langsung tersambung menjadi kalimat utuh. Kata-kata seperti pendarahan dan terlambat ditangani dan kondisi yang tidak memungkinkan.
Dan kemudian satu frasa yang akhirnya tersambung sempurna dan menghantam dengan berat yang tidak proporsional dengan jumlah kata-katanya.
Komplikasi akibat tindakan pengguguran kandungan.
Mega menoleh ke arahnya.
Wajah gadis itu... Yuna tidak punya kata-kata untuk mendeskripsikannya. Bukan hanya sedih. Melampaui sedih, ke wilayah yang tidak punya nama yang mudah, campuran antara duka dan kemarahan dan sesuatu yang terasa seperti rasa bersalah yang sangat berat yang keduanya akan pikul dengan cara masing-masing untuk waktu yang sangat lama.
"Dia pergi." Mega mengucapkan itu bukan untuk Yuna, bukan untuk dokter, mungkin tidak untuk siapa pun. Hanya perlu diucapkan. "Dia benar-benar pergi."
Yuna menutup matanya.
Ia ingat tadi malam... "jangan lakukan apa pun sebelum kami datang besok". Ia ingat cara Lily menatapnya ketika mengucapkan janji itu. Ia ingat berpikir bahwa anggukan itu cukup, bahwa malam ini aman, bahwa besok mereka akan kembali dan mulai mencari jalan keluar bersama-sama.
Besok sudah tidak ada.
Sudah tidak ada besok yang mereka rencanakan.
Mega mulai menangis, bukan sesenggukan dramatis, tapi yang lebih buruk dari itu: menangis dengan pelan dan tak terkendali, dengan bahu yang terguncang dan tangan yang masih memegang sisi ranjang itu, seperti seseorang yang tubuhnya sudah tidak bisa lagi menampung semua yang perlu dikeluarkan.
Yuna ingin menangis juga.
Air matanya ada.. ia bisa merasakannya di belakang matanya, menunggu... tapi ada sesuatu yang seperti tembok yang belum roboh, sesuatu yang membuat tubuhnya masih berdiri tegak di dinding itu dengan napas yang teratur dengan paksa.
Seseorang harus.
Seseorang harus tetap cukup berdiri untuk melakukan hal-hal yang perlu dilakukan.
Ia mendorong dirinya menjauh dari dinding.
Berjalan ke arah Mega. Meletakkan tangannya di punggung gadis itu... pelan, hadir.
"Mega." Suaranya tidak normal. Tidak apa-apa. "Orangtua Lily."
Mega mengangkat wajahnya.
Matanya merah. Masih basah. Tapi di baliknya ada sesuatu yang bergerak... pemahaman, kemudian kepedihan yang berbeda jenisnya, kepedihan yang muncul ketika seseorang menyadari bahwa kesedihan yang sudah sangat besar ini masih harus disampaikan ke orang lain yang belum tahu.
"Kartu nama itu," kata Yuna. "Yang tadi diberikan ibu Lily. Kamu masih punya?"
Mega merogoh sakunya dengan tangan yang masih gemetar.
Kartu nama itu ada,sedikit terlipat di sudutnya, tapi angka-angkanya masih terbaca jelas di bawah cahaya neon putih yang tidak mengenal waktu itu.
Mega menatap kartu itu lama.
Lalu menatap Lily untuk terakhir kalinya dengan cara yang masih menyimpan harapan bahwa mungkin ada sesuatu yang salah, mungkin ada kekeliruan, mungkin...
Tidak ada kekeliruan.
Mega menekan nomor itu.
Menunggu sambungan dengan ponsel di telinga dan mata yang sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air mata tapi masih mencoba, dan di seberang sana... di suatu tempat di kota ini, di sebuah rumah dengan kamar yang masih kosong karena anaknya belum pulang...telepon berdering di tengah malam, menunggu diangkat oleh seseorang yang tidak tahu bahwa hidupnya akan berubah selamanya di detik berikutnya.