“Jangan pernah kembali ke rumah ini sebelum membawa laki-laki itu, untuk bertanggung jawab.”
Diana Rosemery Falika merasa hidupnya runtuh: diusir dari rumah karena kehamilan, dikhianati oleh laki-laki yang mengambil kehormatannya lalu menghilang tanpa jejak.
Di tengah kesedihannya, Aksatama Dikara hadir sebagai penopang—membantunya bangkit, dan perlahan membuat hatinya kembali percaya pada cinta.
Namun saat ia mulai berdamai dengan masa lalu, sosok yang menghilang itu kembali… Tibra Janari Sajana muncul membawa sebuah fakta mengenai transaksi rahasia yang berpotensi mengubah segalanya—fakta yang bisa menyeret Diana kembali pada luka yang sama.
Kini Diana harus memilih: menyambut masa lalu yang kembali menuntut tempat, atau menjauh demi melindungi hatinya sendiri.
Spin-off Rush Wedding. Lanjutan kisah Diana dan Tibra—dua hati dari dua kasta berbeda. Sebagian kisah awal mereka bisa ditemukan di novel pertama, namun buku ini dapat dinikmati secara terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muffin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah kandung Galeo!
.......
.......
...🍓🍓🍓...
Jenar menyesap iced americano-nya dengan malas di teras rumahnga yang sejuk. Ia baru saja selesai melakukan rutinitas perawatan kulitnya dengan skincare mahal yang masih menguar dari kulit wajahnya yang segar. Iseng, jempolnya bergerak lincah menelusuri tagar lokasi Desa Sukojati di media sosial—sebuah ritual harian demi mencari jejak sang pujaan, Rakata Swara Langit.
Namun, gerakan jempol itu mendadak kaku.
Matanya menyipit menatap sebuah unggahan buram. Siluet HRV hitam itu—ia hafal setiap lekuknya. Itu mobil Raka. Di sana, seorang wanita menggendong bayi tampak masuk dengan terburu-buru, sementara seorang pria menggebrak kaca mobil Raka dengan kalap.
PYARRRR!!
Gelas di tangan Jenar menghantam marmer putih, pecah berkeping-keping. Cairan hitam pekat memuncrat, mengotori lantai yang bersih—persis seperti suasana hatinya yang mendadak keruh.
“Perempuan kampung itu lagi...” desisnya tajam. Rahangnya mengeras, giginya bergelatuk menahan emosi yang meluap. “Kenapa Raka selalu menolongnya?! Sial! Aku harus cari tahu siapa sebenarnya perempuan itu.”
Dengan jemari yang masih gemetar, ia mulai mengetikkan pesan pada seseorang yang selalu bisa ia andalkan untuk urusan kotor seperti ini.
Sementara itu, di belahan jalan yang berbeda, Tibra mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menyisir setiap persimpangan dengan beringas, berharap menemukan jejak dari mobil Raka.
“Brengseeek!!! Ke mana dia bawa lari Diana gue?!” umpatnya, memukul setir hingga klakson menjerit pendek.
Tak lama, dering ponsel didasbornya bergetar membuyarkan fokusnya. Nama Adit muncul di layar. Tibra baru teringat jika hari ini ia punya jadwal penyuluhan desa yang seharusnya ia pimpin.
Dengan napas memburu, ia membanting setir menepikan mobilnya ke bahu jalan yang berdebu. Lalu menekan tombol hijau dengan kasar.
“Saya masih ada urusan mendesak. Tolong kalian handle dulu penyuluhan itu sampai selesai,” potong Tibra cepat, bahkan sebelum lawan bicaranya sempat mengucap salam.
“Tapi, Pak, warga sudah berkumpul dan—”
“Kalau sudah selesai, kalian kembali ke penginapan pakai Grab saja. Nanti semua ongkosnya saya ganti!”
Tanpa menunggu balasan, Tibra memutus sambungan sepihak. Ia melempar ponselnya ke kursi penumpang, lalu kembali menginjak gas hingga putaran mesin menderu tinggi. Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan dingin yang mematikan.
“Kamu nggak akan bisa ke mana-mana, Di ... nggak akan pernah.”
Mobil Tibra melesat meninggalkan kepulan debu di jalanan desa, membawa amarah yang meluap.
Namun, di dalam kabin HRV milik Raka, segalanya terasa berbanding terbalik. Keheningan yang pekat menyelimuti mereka, hanya interupsi suara napas Diana yang masih tersengal dan tangis kecil Galeo yang mulai mereda dalam dekapan ibunya.
Raka melirik dari sudut matanya. Ia melihat jemari Diana yang memutih karena memeluk bayinya terlalu erat. Wanita itu tampak kalut; tatapannya kosong, menembus kaca depan tanpa benar-benar melihat jalanan.
"Kamu ... mau saya antar ke mana?" tanya Raka pelan, suaranya sangat hati-hati, seolah takut akan memecahkan sesuatu yang rapuh di dalam mobil itu.
Diana tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela, melihat pepohonan yang berlalu dengan cepat. Pikirannya kalut. Jika ia pulang sekarang, ia takut Tibra sudah menunggunya di depan rumah Mbok Sarmi.
“Ke mana saja," bisiknya parau tanpa menoleh. "Asal tidak pulang sekarang."
Raka mengangguk mengerti. Tanpa banyak tanya, ia memutar kemudi menuju arah selatan, menjauh dari pusat desa.
Satu jam kemudian, deru mesin mobil berganti dengan suara deburan ombak yang konsisten. Raka memarkirkan mobilnya di bawah naungan pohon ketapang yang rindang. Ia turun sejenak, meninggalkan Diana yang masih terdiam, lalu kembali dengan dua buah kelapa muda yang masih segar di tangannya.
Ia menyodorkan satu pada Diana melalui jendela yang terbuka. "Ayo turun sebentar. Minum dulu," ujar Raka lembut, suaranya tenang mengimbangi angin laut yang mulai masuk ke dalam mobil. "Saya tahu kamu pasti haus karena kejadian tadi."
Diana menatap buah kelapa itu dengan ragu, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia membuka pintu mobil, menghirup udara laut yang asin dan lembap.
Mereka berjalan pelan menuju sebuah batang kayu besar yang terdampar di bibir pantai. Angin laut menyapu wajah mereka, memainkan ujung rambut Diana dan Raka yang sedikit berantakan. Di depan mereka, matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna emas yang berkilauan di atas permukaan air yang bergejolak.
Raka menyesap air kelapanya, membiarkan rasa dingin yang alami itu membasahi tenggorokannya. Ia menumpu kedua lengannya di atas lutut, memandang lurus ke cakrawala di mana langit dan laut seolah menyatu.
“Kalau saya lagi sedih, atau sekadar ingin melarikan diri dari bisingnya dunia, saya selalu ke sini,” suara Raka memecah keheningan, rendah namun jelas di tengah deburan ombak. “Dari sekian banyak pantai di pesisir ini, pantai ini yang paling saya suka.”
Raka terdiam sejenak, membiarkan suara ombak yang liar mengisi jeda di antara mereka.
"Di sini ombaknya berisik, tidak pernah berhenti. Tapi justru suara berisik itu yang bisa menenggelamkan semua pikiran buruk di kepala saya. Rasanya seperti laut ini siap menampung beban apa pun yang saya buang ke dalamnya," tambahnya lagi dengan nada yang lebih dalam.
Namun, Diana masih diam. Ia tidak menyentuh air kelapanya. Matanya menatap hamparan laut yang terombang-ambing luas, namun jemarinya masih mencengkeram kain jarik penutup bayinya dengan sangat erat—sebuah gestur pertahanan diri yang sangat kentara. Tubuhnya bahkan masih tampak sedikit gemetar.
Tak mendapat jawaban, Raka akhirnya menoleh, menatap samping wajah Diana yang pucat. Rasa penasaran itu tidak lagi bisa ia bendung.
“Pria tadi ...” Raka menggantung kalimatnya, mencari kata yang tepat. “Kamu mengenalnya? Maksud saya ... kenapa dia sampai mengejarmu seperti itu?”
Diana terdiam cukup lama. Hanya ada suara ombak yang menghantam pasir, menciptakan jeda yang terasa sangat berat di antara mereka. Ia memejamkan mata sejenak, menghirup udara laut sedalam mungkin seolah mencari kekuatan dari angin yang berembus, lalu menatap hamparan biru di depannya.
Ia tahu, ia tidak bisa lari selamanya—terutama dari kebenaran yang baru saja mengejarnya sampai ke jalanan.
"Ya ... aku mengenalnya," Diana akhirnya mengangguk pelan.
Suaranya sangat lirih, namun terdengar begitu tajam dan jelas di telinga Raka.
"Dia ayah kandung Galeo."
...Halo, Sahabat Pembaca! Aku kembaliiiii…. ...
...Mohon maaf lahir dan batin, ya. ✨...
...Siapa nih yang sudah kangen? Hihi....
...Aku mau kasih info sedikit, sepertinya untuk ke depannya aku belum bisa update setiap hari. Kalau misal dalam satu minggu aku update 2 sampai 3 kali, gimana menurut kalian?...
...Kira-kira kalian mau aku update di hari apa aja, nih? Tulis di kolom komentar, ya!...
...Selamat membacaaa🍓...