Ara, harus menelan pil pahit setelah perjuangannya selama 2 tahun terbuang sia-sia,
"Aku kira pengabdianku selama 2 tahun ini akan membuahkan hasil yang indah, Mas,"ujar wanita cantik berambut panjang itu,
"tapi ternyata aku salah, .... "
"Aku menyerah Mas Arya"ujar Ara menatap langit malam, dengan air mata yang meleleh membasahi pipinya, tapi bibirnya mengembangkan senyum yang penuh luka....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak Ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34, Cinta Tak Harus Memiliki..
"kamu urus rapat ini, usahakan dapat kontrak dengan Chef baru itu"ujar Arhan kepada asistennya, Arhan langsung keluar dari ruangan rapat, tanpa berpamitan kepada anggota rapat.
Ara diam menundukan kepalanya Berusaha untuk tidak perduli dengan kepergian Arhan dari ruang rapat, tapi tidak dengan hatinya,
Hatinya merasa penasaran kenapa Arhan keluar dari ruang rapat,
Ara mengehela nafas kasar berusaha tetap fokus saat mendengar suara asisten Arhan yang sudah mulai membahas pembahasan rapat mereka,
"Akhhhh,... kenapa harus begini"Gumam Arhan, masuk keruangan kerjanya, dia berdiri menatap lurus kedepan ke arah dinding kaca di ruangannya,
"Takdir macam apa ini, satu masalah belum selesai kenapa malah masalah baru hadir"gumam Arhan, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya,
Arhan memegang kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri,
Dengan sempoyongan Arhan berjalan ke arah meja kerjanya, membuka laci meja kerjanya mengambil tumpukan obat, dan meminum obat itu tanpa menggunakan air,
Arhan seperti sudah biasa meminum obat sebanyak itu,
"Akhhh..."Arhan menghela nafas kasar, saat setelah obat itu dia telan habis,
Arhan merebahkan tubuhnya di sofa single di ruangannya, memejamkan matanya menutup matanya dengan sebelah tangannya,
***
"Mbak Ara terimakasih semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar"ujar asisten Arhan, dia berhasil meyakinkan Ara untuk melakukan kerjasama ini,
Awalnya Ara menolak namun karena bujuk rayu wanita itu Ara akhirnya menyetujui kerja sama dengan produk terbaru Arhan,
"Terimakasih mbak, semoga kerja sama kita saling menguntungkan"jawab Ara, berusaha profesional walaupun hatinya berat menerima kerja sama ini karena ternyata bos perusahaan ini adalah Arhan,
***
Ara berjalan menelusuri lorong-lorong sepi untuk sampai di restoran dimana dia meninggalkan Layla tadi,
Namun suara seseorang yang sangat dia kenal mengehentikan langkah Ara,
"Kenapa kembali ke negara ini?"Tanpa berbalik Ara tahu suara siapa itu,
Ara tidak menjawab Dia menundukkan kepalanya, namun bukan sebuah pertanyaan yang dia dapatkan lagi tapi sebuah pelukan hangat dari seseorang yang selalu dia ingat selama lima tahun ini,
Tangan Ara gemetar memegang tangan Arhan yang memeluk tubuhnya dari belakang,
"Kenapa kembali lagi Ara, Kenapa di saat hati ku ingin mulai membersihkan nama kamu, kenapa kamu malah membuat semuanya hancur"ujar Arhan, dengan suara parau menahan tangisnya.
"Apa daya ku, Ar, takdir yang kembali mempertemukan kita,"jawab Ara meneteskan airmatanya,
"Apa ini takdir baik atau buruk Ara,"jawab Arhan,
Akhirnya runtuh juga pertahanan dia untuk tidak memeluk wanita yang telah habis mengambil hati dan cinta nya,
****
"semangkin cantik kamu Chef Ara"ujar Arhan menatap lurus kedepan, saat ini mereka duduk di taman perusahaan Arhan,
"Kamu makin sukses tapi kenapa terlihat kurus"jawab Ara, Arhan tersenyum memegang erat pinggiran kursi yang sedang dia duduki,
"Akhir akhir ini mood ku untuk makan semangkin berkurang "jawab Arhan,
"kenapa?"tanya Ara menatap Arhan,
"karena aku baru pulang dari luar negri dan makanan di sana gak cocok untuk Aku"jawab Arhan tersenyum tipis,
"Alasan"jawab Ara, hening sepi, namun tiba-tiba keduanya saling tatap dan tertawa bersama,
"Astaga entah apa yang lucu, tapi rasanya aku ingin tertawa"ujar Ara, mengusap ujung matanya,
ujung matanya basah, tapi bukan karena sedih atau bahagia, saat ini perasaan campur aduk,
Ara melihat jam tangannya dan melihat jam menunjukkan pukul jam dua belas kurang,
"Mau ikut, Aku mau ketemuan reunian dengan asisten asisten ku"ujar Ara menatap Arhan,
"gak kayaknya, aku ada janji"jawab Arhan, Ara menganggukkan kepalanya,
"Baiklah, aku permisi dulu"ujar Ara berdiri menatap Arhan, mereka kembali berpisah tapi bukan untuk selamanya,
"Iya hati hati, sampai jumpa kembali"jawab Arhan, Ara menganggukkan kepalanya lalu berjalan kembali menuju arah tujuan awalnya,
Sedangkan Arhan menatap ke arah Ara yang semangkin menghilang dari pandangannya,
Arhan tersenyum pelan, sambil mengelus pelan dadanya,
"Aku tidak tahu apakah takdir akan menyatukan kita, atau sebaliknya, aku sudah pasrah dan untuk cinta,... cinta ku habis di kamu Ara,"gumam Arya,
dia bingung bagaimana bisa satu wanita menghabiskan rasa cintanya, saat ini Arhan berdiri terlihat baik baik saja, tapi tidak dengan hatinya, hatinya hampa tidak berasa, saat Ara pergi dan membawa jauh cintanya,
"Yah, rasa ku kutipan cinta tidak harus memiliki itu, benar ada"gumam Arhan
***
"Aaaaa Chef Ara"ujar Ajeng, terlihat berdiri dengan susah payah sambil memegang perutnya yang buncit.
"Ajeng, pelan pelan kamu hamil, ya ampun"Jawab Ara sedikit berlari karena kaget melihat perut Ajeng yang sangat besar sudah hampir meledak membuat Ara terlihat ngeri,
"Anak ketiga"jawab bunga, Ara terlihat kaget melihat wajah Bunga yang terlihat jauh berbeda,
"Apa, kenapa? Mau nanya kenapa wajah gue beda"jawab bunga sudah paham dengan ekspresi wajah Ara,
"Gue operasi"jawab bunga,
"Gue sempat mengalami kecelakaan mangkanya gue operasi"tambah bunga lagi,
"Ya udah gak usah merajuk"jawab Ara, Dia duduk namun matanya menatap tiga kursi kosong di samping karin,
"Hai Karina"sapa Ara, Karina tersenyum langsung memeluk Ara sambil menangis,
"Mbak, Aku kangen kamu"ujar Karina,Ara tersenyum membalas peluk Karina,
****
"Meningal"ujar Ara kaget saat mendengar cerita tentang Sifa,
"Iya, Mbak dia di KDRT sama suaminya yang bajingan itu"jawab Seseorang dari belakang Ara,
Terlihat seorang wanita cantik memakai jilbab sambil menggandeng seorang anak laki-laki tampan,
"Aisyah"ujar Ara melihat penampilan Aisyah yang jauh berbeda,
"Hai Mbak selamat kembali lagi ke negara ini"jawab Aisyah memeluk Ara erat,
"Bisa ceritakan Tentang Sifa?"Tanya Ara penasaran,
"Dia menikah sudah sekitar tiga tahun, dia di jodohkan Mbak, lebih tepatnya dia di jadikan alat pelunasan hutang oleh Ayahnya yang bangsat itu"ujar Bunga geram.
"Dia dua kali keguguran, karena sering di KDRT oleh suaminya, yang manipulatif itu, tepatnya di tiga tahun pernikahannya, dia bunuh diri karena sudah tidak sanggup menahan sakit fisik dan mentalnya,"Aisyah melanjutkan cerita Bunga dengan derai air mata,
"Dia sempat memberitahukan kami tentang keadaannya yang kami kira selam ini baik baik saja, dia sangat pandai menutupi apa yang dia rasakan selama ini,"ujar Aisyah,
"Dia bung diri tepat di depan kami, kami terlambat sedikit sedikit saja Mbak"jawab Karina menangis tersedu-sedu,
"lalu bagaimana dengan Suamiku?"Tanya Ara dengan mata memerah sedih,
"Dia ,hah dia bebas dan dia baru saja melangsungkan pernikahannya,"jawab bunga sinis,
Ara menatap bunga "Apa kalian tidak melaporkan masalah in pada pihak berwajib?"Tanya Ara, ikut geram,
"Dia tidak tersentuh mbak, dia orang berduit dia orang kaya, di tambah istrinya yang baru ini salah satu orang berkuasa"jawab Aisyah mengusap wajahnya dengan selembar tisu,
"Hah, menyedihkan sekali hukum sekarang "jawab Ara, ikut sedih
~
jadi betul"anaknya si Arya toh panggil Daddy ke Paman nya bagus bagus
CLBK kah ini no good
sekarang dah balik lagi jadi begundal
hemmmm aku stop baca Thor ma"af ya 🙏