NovelToon NovelToon
Aku Putri Yang Tidak Diinginkan

Aku Putri Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Isma Malia

Kehidupan Valeria Zeline Kaelani terlihat sempurna, namun ia tahu bahwa ia adalah hanya anak angkat. Namun Valeria tidak tahu siapa orang tua kandung nya. Rahasia ini menjadi senjata bagi Arum Anindira, kakak kandungnya yang iri dan hidup miskin. Arum mengancam akan membocorkan kebenaran tentang orang tua kandung nya kepada Valeria demi mendapatkan uang dari ibu angkatnya, Bu Diandra.

Di tengah kekacauan ini, sahabat Valeria, Aluna Kinara, tak sengaja mendengar ancaman tersebut, dan ia dihadapkan pada dilema yang berat. Kisah ini semakin rumit dengan hadirnya dua pria yang memperebutkan hati Valeria: Kian Athaya Naufal Mahendra yang mencintai dalam diam, dan Damian Mahesa yang usil namun tulus. Namun, Kedekatan mereka terancam buyar ketika mantan pacar Damian masuk ke sekolah yang sama.

Kisah ini bukan hanya tentang cinta dan persahabatan, tetapi juga tentang pengorbanan, pengkhianatan, dan perjuangan seorang putri untuk menemukan jati dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Malia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interogasi Pagi Diandra: Terbongkarnya Sumber Intelijen Revan (Kian Mahendra)

Di saat yang sama, Valeria yang sedang belajar di kamarnya, membaca pesan itu. Meskipun terkejut, ia merasa lega karena Revan sudah memikirkan solusi terbaik. Ia hanya perlu menghafal alasan bisnis yang kuat itu.

Tepat saat Valeria baru selesai membaca dan mencerna pesan dari Revan—tentang penolakan lahan dan alasan risiko RTH—pintu kamarnya diketuk.

"Valeria, Tante masuk ya," kata Tante Kiara.

"Iya, Tante," balas Valeria.

Kiara masuk. "Valeria, Pak Bimo sudah datang. Sepertinya Mama kamu belum pulang, jadi kamu bisa fokus belajar dulu."

"Oh iya, Tante," kata Valeria. Ia segera berdiri, mengumpulkan buku dan alat tulisnya. Meskipun lelah, ia tahu ia harus tampil fokus di depan Pak Bimo demi menjaga restu Diandra.

"Semangat ya, Sayang," ujar Kiara menyemangati.

Valeria pun membawa buku dan alat tulisnya, lalu turun ke lantai bawah menemui Pak Bimo di ruang tengah.

"Selamat sore, Pak Bimo," sapa Valeria dengan senyum ramah.

"Selamat sore, Valeria. Semangat sekali kamu sore ini," balas Pak Bimo. "Saya dengar dari Tante Kiara, Ibu Diandra ada meeting lagi. Itu bagus, berarti waktu kita tidak terganggu. Langsung saja, kita bahas tugas kamu."

Pak Bimo membuka notes-nya. "Kamu pasti sudah melakukan research lokasi sesuai instruksi saya. Apa yang kamu temukan? Bagaimana lahan yang direkomendasikan Ibumu, yang dekat sini? Apakah itu masuk dalam top list kamu?"

Valeria mengambil napas, teringat pada pesan Revan. Ini adalah ujian pertamanya dalam menerapkan alasan bisnis yang kuat.

"Ya, Pak," jawab Valeria, tenang. "Lahan yang dekat rumah memang sangat strategis dari segi lokasi dan traffic. Namun, setelah kami analisis lebih lanjut, kami menemukan satu kendala besar."

"Oh ya? Kendala apa?" tanya Pak Bimo, tertarik.

"Lahan itu memiliki risiko RTH (Ruang Terbuka Hijau)," jelas Valeria, menggunakan istilah teknis yang disiapkan Revan. "Kami membutuhkan kontrak sewa minimal lima hingga tujuh tahun untuk menjamin Return on Investment (ROI) dari biaya renovasi kafe permanen. Karena risiko RTH ini tidak bisa dijamin, kami memutuskan untuk menolak lahan tersebut dan beralih ke lokasi lain yang hanya berjarak 1,5 km, namun menjamin kontrak jangka panjang lima tahun."

Pak Bimo menyimak dengan serius. Matanya menunjukkan rasa hormat. "Keputusan yang sangat bagus, Valeria. Dalam bisnis, menjamin aset jangka panjang jauh lebih penting daripada hanya melihat lokasi. Jadi, kamu sudah menemukan lokasi alternatif?"

"Sudah, Pak. Kami sedang memproses Surat Minat Sewa dengan agen properti di lokasi baru tersebut," kata Valeria, merasa lega karena lulus ujian dadakan dari Pak Bimo.

"Luar biasa, Valeria. Itu menunjukkan kamu dan Revan benar-benar berpikir seperti pebisnis," puji Pak Bimo.

"Baiklah, kalau begitu, kita bahas layout interior untuk lahan barumu malam ini. Kamu punya denah kasarnya?"

Valeria tersenyum. Ia tahu, dengan dukungan Pak Bimo, presentasi di depan Mamanya Diandra, nanti akan jauh lebih mudah. Kini ia harus fokus menyiapkan bagiannya, tanpa bergantung pada Revan.

Tak lama kemudian, sekitar pukul delapan malam, pintu depan terbuka. Diandra pulang dari meeting-nya. Ia berjalan masuk dan melihat Pak Bimo dan Valeria masih berada di ruang tengah.

"Selamat malam, Pak Bimo," sapa Diandra dengan senyum lelah, tetapi matanya langsung beralih ke Valeria, mencari sinyal tentang hasil survey sore tadi.

"Malam, Bu Diandra," balas Pak Bimo.

Diandra mendekati mereka. "Bagaimana, Valeria? Belajarnya lancar? Kamu sudah berdiskusi dengan Revan tentang lokasi kafe? Kalian sudah meninjau lahan yang Mama sarankan?"

Valeria menutup bukunya. Ini adalah momen yang ia tunggu.

"Sudah, Ma," jawab Valeria dengan nada yang sangat tenang dan profesional. "Revan sudah meninjau lokasi yang Mama sarankan tadi sore."

"Bagus. Dan hasilnya?" tanya Diandra, mengharapkan jawaban ya.

Valeria menoleh ke Pak Bimo sejenak, seolah meminta dukungan profesional. "Kami sudah melakukan analisis kelayakan, Ma. Secara lokasi, itu luar biasa. Tapi, kami memutuskan menolak lahan tersebut."

Senyum Diandra menghilang. "Menolak? Kenapa? Itu lokasi terbaik di area sini! Revan bilang apa? Kenapa kalian menolak saran Mama?"

Valeria dengan tenang mengulang semua yang telah ia pelajari dari Revan dan dikonfirmasi oleh Pak Bimo. "Alasannya risiko bisnis jangka panjang, Ma."

"Lahan itu memiliki risiko RTH (Ruang Terbuka Hijau) setelah masa sewa minimal tiga tahun berakhir," jelas Valeria, menggunakan istilah teknis yang disiapkan Revan. "Investasi besar untuk renovasi kafe permanen tidak sebanding dengan jaminan operasional yang hanya tiga tahun. Kami tidak bisa mengambil risiko sebesar itu."

Diandra terperanjat. Wajahnya menunjukkan keterkejutan murni, bukan karena sandiwaranya gagal, melainkan karena ia sama sekali tidak tahu mengenai risiko RTH tersebut. Ia memang menyarankan lahan itu karena tahu tanah itu milik rekananan suaminya dan lokasinya ideal, tetapi ia tidak pernah memeriksa detail tata ruangnya.

"Risiko RTH?" ulang Diandra, suaranya sedikit meninggi karena terkejut.

"Valeria benar, Bu Diandra," sela Pak Bimo, memberikan endorsement penuh. "Valeria menunjukkan pemikiran bisnis yang sangat matang. Menolak lahan berisiko RTH adalah langkah yang tepat. Itu adalah kekurangan besar pada lahan tersebut, yang sangat bagus karena tim mereka berhasil menemukannya."

Diandra menatap putrinya dan kemudian Pak Bimo. Ia tidak bisa membantah alasan profesional itu, apalagi setelah Pak Bimo memuji kecerdasan Valeria.

"Lalu, apa solusinya?" tanya Diandra, berusaha keras mengendalikan nada suaranya.

Valeria tersenyum tipis. "Solusinya sudah kami temukan, Ma. Revan dan Damian sudah meninjau lahan lain, sekitar 1,5 km dari sana. Lahan itu lebih aman, lebih murah, dan agennya sudah menyanggupi kontrak sewa minimal lima tahun."

"Kami sudah meminta agen untuk menyiapkan Surat Minat Sewa. Kami akan menyetor uang muka begitu draft kontraknya siap besok," tutup Valeria.

Diandra hanya bisa mengangguk, masih memproses fakta bahwa lahan yang ia yakini sempurna ternyata memiliki cacat fatal yang justru ditemukan oleh Revan. Ia kini harus menghadapi dua kekalahan: lahan yang disarankan bermasalah, dan Revan bertindak lebih cerdas dari yang ia duga.

"Baik. Mama mau lihat draft surat minat sewa itu besok pagi," ujar Diandra.

Setelah mengucapkan selamat malam pada Pak Bimo, Diandra pamit. Ia naik ke atas, menyisakan pertanyaan besar: Bagaimana Revan tahu tentang risiko tata kota yang bahkan dia sendiri tidak mengetahui nya?

...****************...

Setelah Pak Bimo pulang dan Valeria kembali ke kamarnya, Diandra segera masuk ke kamarnya. Ia tidak bisa tenang. Perkataan Valeria tentang risiko RTH terasa sangat mengganggu. Itu berarti ia, dengan segala koneksinya, melewatkan detail krusial pada properti rekanan suaminya.

Diandra segera mengambil ponselnya dan menghubungi Daniel Danendra, Ayah Revan.

"Halo, Daniel," sapa Diandra, suaranya terdengar dingin dan tegang.

"Oh, Diandra? Ada apa malam-malam begini? Apa ada masalah dengan Valeria?" tanya Daniel, yang sudah bersiap tidur.

"Bukan Valeria. Ini soal Revan. Soal lahan Pak Suseno," jawab Diandra, langsung ke intinya.

Daniel terkejut. "Lahan Suseno? Revan sudah menghubunginya? Saya baru saja memberinya kontak tadi pagi. Kenapa? Apa dia sudah sepakat harga?"

Diandra menghela napas. "Dia tidak sepakat harga, Daniel. Dia menolak lahan itu. Dan ini yang membuatku meneleponmu: Valeria bilang mereka menolak lahan Pak Suseno karena ada risiko RTH (Ruang Terbuka Hijau) setelah tiga tahun masa sewa."

Ada keheningan panjang dari ujung telepon.

Daniel terkejut luar biasa. Pertama, ia tidak tahu ternyata Revan bergerak begitu cepat untuk menyewa lahan itu. Kedua, dan ini yang lebih penting, ia sama sekali tidak tahu bahwa lahan itu bermasalah dengan rencana tata kota.

"RTH? Diandra, saya tidak tahu menahu soal RTH itu," kata Daniel, suaranya benar-benar menunjukkan kejutan. "Pak Suseno hanya bilang dia mau menjual atau menyewakannya karena dia sudah tua. Dia tidak pernah menyebutkan soal rencana pemerintah daerah."

"Jadi, kamu juga tidak tahu?" tanya Diandra, ada nada kekalahan dalam suaranya.

"Tidak, Diandra. Saya tidak tahu. Kalau saya tahu, saya tidak akan menyarankan Revan ke sana. Lahan itu memang strategis, tapi jika ada risiko RTH, itu adalah kerugian besar bagi penyewa. Berarti, Revan dan timnya menemukan informasi yang kita berdua tidak miliki."

Diandra terdiam. Revan tidak hanya menolak sarannya; dia menolak dengan bukti valid yang membuktikan bahwa Diandra dan Daniel ceroboh.

"Aku akan mengecek ini ke Pak Suseno besok. Terima kasih sudah memberitahu, Diandra," tutup Daniel.

...****************...

Setelah panggilan berakhir, Daniel duduk di tepi ranjang. Ia mengagumi kecepatan dan kecerdasan putranya. Revan tidak sekadar mencari properti, dia melakukan due diligence profesional.

Namun, kekaguman itu bercampur dengan kekhawatiran. Revan sekarang bernegosiasi di dunia bisnis yang gelap, dan itu hanya akan menarik perhatian lebih banyak orang.

Daniel mengambil keputusan. Ia tidak akan mengintervensi negosiasi Revan, tetapi ia akan melakukan satu hal untuk melindungi putranya.

Daniel segera mengirim pesan kepada Pak Suseno.

[Pesan Daniel kepada Pak Suseno]

"Suseno, tolong konfirmasi. Apakah lahan di Jalan Cempaka itu benar-benar ada risiko RTH setelah tiga tahun? Dan tolong, jika ada anak muda bernama Revan Danendra yang menghubungi agen Anda, pastikan dia mendapatkan deal sewa terbaik dan jangan ada masalah kontrak."

Daniel kini menjadi pelindung rahasia bagi operasi Revan, tanpa diketahui oleh Diandra. Sementara itu, Diandra mulai menyusun rencana balasannya: ia harus mencari tahu siapa sumber intelijen Revan yang begitu handal dan cepat.

Di saat yang sama, Diandra tidak bisa tidur. Fakta bahwa Revan—seorang siswa SMA—menemukan kelemahan kontrak yang ia sendiri, dengan semua koneksinya, tidak ketahui, adalah penghinaan dan ancaman. Ia harus tahu siapa yang membantu Revan.

Diandra meraih ponselnya lagi dan menghubungi seseorang yang ia percaya untuk urusan intelijen rahasia, seseorang di jaringan bisnisnya yang gelap.

"Saya butuh kamu melacak jaringan yang digunakan Revan Danendra. Dia baru saja menggagalkan rencanaku dengan menemukan detail properti yang sangat rahasia. Cari tahu, siapa yang memberinya informasi tentang risiko RTH di lahan Pak Suseno," perintah Diandra dengan suara rendah dan dingin.

"Baik, Bu Diandra. Beri saya waktu," jawab suara dari seberang, yang tidak lain adalah Mr. X, spesialis informasi undercover Diandra.

Tak sampai satu jam kemudian, ponsel Diandra berdering. Mr. X menelepon kembali.

"Sudah ketemu?" tanya Diandra, tidak sabar.

"Sudah, Bu. Jaringan yang menyadap dan memverifikasi data tata ruang properti di area itu, termasuk risiko RTH, adalah jaringan yang sangat sensitif. Jaringan itu tidak dikendalikan oleh keluarga Danendra, juga bukan dari koneksi lokal," jelas Mr. X.

Diandra menahan napas. "Lalu?"

"Jaringan yang mencari tahu masalah ini, Bu, yaitu dari keluarga Mahendra," kata Mr. X.

Diandra terdiam. Nama itu adalah kejutan besar. Keluarga Mahendra—keluarga yang dimiliki oleh kian, teman dekat Revan.

Selama ini Diandra fokus pada Damian (karena kedekatan emosionalnya dengan Valeria) dan ia tidak pernah menganggap serius Kian, si jenius teknologi dan data yang pendiam.

"Kian Mahendra," desis Diandra. "Dia adalah otaknya. Dia yang memberikan senjata kepada Revan."

Diandra kemudian mematikan panggilan dengan Mr. X. Nama Kian Mahendra bergema di benaknya. Ia kini tahu siapa musuh intelektual Revan.

"Kian Mahendra..." Diandra mengulang nama itu perlahan.

Ia segera mengoreksi ingatannya berdasarkan fakta yang sebenarnya: Rex Adrian bukanlah musuh, melainkan pesaing bisnis utama perusahaannya, sekaligus sahabat baik Mikhael. Hubungan yang rumit: persaingan sengit di kantor, persahabatan akrab di luar. Diandra dan Mikhael menjalankan dua perusahaan terpisah; satu milik Diandra, satu milik Mikhael.

Dan kini, Diandra tahu mengapa nama Mahendra terasa begitu penting: Kian Mahendra adalah putra Rex Adrian.

Selama ini, Diandra fokus pada Damian dan Revan. Ia tidak pernah mengira bahwa partner bisnis terdekat Revan adalah putra pesaing bisnisnya—yang secara teknis juga adalah anak dari sahabat suaminya.

Kini, semuanya masuk akal. Rex Adrian pasti tahu betul bagaimana pergerakan bisnis di Jakarta, dan Kian-lah yang memberikan kecerdasan itu kepada Revan.

"Ini bukan lagi hanya soal kafe," gumam Diandra. "Ini adalah ujian kehormatan. Rex Adrian pasti sudah tahu seluruh skenario ini dari Mikhael. Dia tidak berniat balas dendam. Dia hanya ingin melihat dan mengamati seberapa jauh kemampuan putranya, Kian, dalam membantu anak dari pesaingnya sendiri."

Diandra menyadari bahwa Kian Mahendra tidak beroperasi sebagai musuh, melainkan sebagai pengamat dan mentor yang brilian yang dibayar dengan persahabatan Revan. Kecerdasan Kian yang menemukan risiko RTH itu bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memastikan proyek ini berdiri di atas dasar yang kuat, sesuai standar Mahendra.

Fokus Diandra kini bergeser dari menyerang menjadi mengamati dan menguji kualitas kerja Kian.

Ia tahu, Mikhael pasti sudah mendengar tentang proyek kafe ini dari Rex, dan keduanya mungkin sedang mengamati dari jauh untuk melihat apakah Kian dan Revan dapat melewati standar profesional mereka.

Diandra tidak akan menyerang Kian. Sebaliknya, ia akan menggunakan pengetahuannya ini untuk mempersulit Revan dan Valeria, sekaligus menaikkan standar.

...****************...

Di pagi hari, Diandra sudah berada di dapur bersama Bi Sri, sibuk menyiapkan dan menata sarapan di meja makan.

Tepat saat itu, Kiara datang, mengenakan setelan kantor yang rapi dan elegan—sesuatu yang jarang ia kenakan jika hanya berada di rumah.

"Kamu mau ke mana, Kiara?" tanya Diandra.

Kiara tersenyum. "Ini, Mbak, Kak Mikhael nyuruh aku untuk ngurus perusahaan di sini. Katanya Kak Mikhael masih lama di luar negerinya. Jadi, aku harus mulai handle operasional harian."

Mendengar kabar itu, Diandra merasa puas. Kontrol Mikhael atas bisnisnya di Indonesia kini dipegang oleh adiknya, bukan oleh orang luar.

"Baguslah. Sudah saatnya kamu itu mengurus perusahaan dan bantuin Kakak kamu, Kiara," kata Diandra.

"Iya, Mbak," balas Kiara.

Tak lama kemudian, Valeria tiba di meja makan. Ia melihat Kiara dari atas sampai bawah. "Tante mau ke mana? Tumben rapi banget?"

"Ah, Tante mau ke perusahaan Papa kamu, Val. Mulai hari ini, Tante yang akan mengurusnya untuk sementara," kata Kiara.

"Ya sudah, kita sarapan dulu, ayo," ajak Diandra, meminta mereka duduk.

Momen Surat Minat Sewa

Saat mereka mulai menyantap sarapan, Diandra mengalihkan perhatiannya pada Valeria. Wajahnya kembali serius.

"Valeria, Mama sudah cek email. Surat Minat Sewa dari agen properti lahan barumu sudah masuk," kata Diandra, nadanya menguji.

Valeria tahu ini adalah awal dari interogasi pagi hari. Ia harus menampilkan kepercayaan diri yang ia dapatkan dari Kian dan Revan.

"Iya, Ma. Kami sudah meminta agen mengirimkan draft-nya pagi ini," jawab Valeria.

Diandra tidak langsung marah soal penolakan lahan kemarin. Sebaliknya, ia meluncurkan serangan yang jauh lebih cerdas, langsung menargetkan sumber intelijen Revan.

"Mama sudah baca alasan kalian menolak lahan Pak Suseno, soal risiko RTH itu. Mama akui, itu alasan yang sangat valid dan profesional. Tapi Mama bingung," kata Diandra, menatap putrinya tajam. "Bagaimana kamu dan Revan—yang baru sehari di dunia properti—bisa menemukan risiko tata ruang yang bahkan tidak diketahui oleh pemiliknya, Pak Suseno, ataupun Papa Revan?"

Diandra mencondongkan tubuh sedikit. "Mama mau tahu, Valeria, siapa sumber informasi valid kalian? Mama ingin tahu nama orang yang memberikan data tata kota yang begitu akurat. Karena, jika Mama harus mengizinkan kalian berinvestasi, Mama harus tahu kualitas jaringan intelijen yang Revan gunakan."

Valeria tahu ia harus melindungi Kian—putra Rex Adrian, musuh terselubung perusahaan Mamanya. Ia memilih strategi aman, berpura-pura tidak tahu dan mengarahkan kembali ke Revan sebagai frontman.

"Valeria nggak tahu, Ma," jawab Valeria dengan nada jujur. "Semua urusan teknis data dan survey dipegang penuh oleh Revan. Dia cuma bilang kami menemukan risiko RTH dari sumber yang sangat terpercaya. Valeria fokus pada layout interior dan menu."

Diandra menatap putrinya lekat-lekat. Ia tahu Valeria tidak sepenuhnya berbohong, tetapi ia juga tahu bahwa Valeria sedang menutupi sesuatu.

"Ya, kamu tanya sama Revan dong, Valeria!" tukas Diandra, suaranya naik satu oktaf. "Nanti begitu sampai di sekolah, kamu tanya sama Revan. Mama mau tahu nama orang itu sebelum Mama tanda tangan persetujuan sewa lahan yang baru!"

Walaupun sebenarnya Mama sudah tahu, batin Diandra. Ia tersenyum tipis, puas. Dengan menekan Valeria, ia memaksa Revan untuk secara resmi menyebut nama Kian Mahendra dan, pada gilirannya, ia bisa mulai menggali rencana tersembunyi Rex Adrian.

"Iya, Ma, nanti Valeria tanyakan ke Revan," janji Valeria.

"Bagus," kata Diandra, mengakhiri interogasi.

...****************...

Setelah sarapan, Kiara berpamitan untuk berangkat ke perusahaan Mikhael, dan Valeria berangkat ke sekolah. Diandra segera menahan Kiara di depan pintu.

"Kiara, tunggu sebentar," panggil Diandra. " Mbak minta kamu kerjakan satu hal di perusahaan Kakakmu."

"Ada apa, Mbak?" tanya Kiara.

"Tolong, hari ini kamu tarik semua data keuangan dan pergerakan aset yang berkaitan dengan keluarga Mahendra di perusahaan Mikhael selama lima tahun terakhir," bisik Diandra. "Aku mau kamu cari tahu, apakah ada transaksi mencurigakan atau pinjaman yang melibatkan nama Kian Mahendra atau ayahnya, Rex Adrian, yang tersembunyi dari Mikhael. Lakukan ini secara diam-diam, jangan sampai ada yang tahu."

Kiara sedikit terkejut dengan permintaan mendadak ini. "Baik, Mbak. Akan saya coba cek. Ada apa dengan keluarga Mahendra?"

"Mereka sekarang ikut bermain dalam rencana kafe Revan," jawab Diandra dengan dingin. "Dan aku tidak suka ada musuh dalam selimut yang mengawasi putriku."

Diandra kini memulai operasinya. Tidak hanya menguji Revan, tetapi juga menyusup ke bisnis suaminya sendiri untuk menemukan kaitan antara Kian Mahendra dan permainan bisnis besar.

...****************...

Valeria dan Tante Kiara menaiki mobil untuk menuju sekolah. Selama di mobil, Kiara tampak fokus, sesekali berbicara di telepon terkait urusan kantor yang baru ia handle.

"Val, kamu jangan lupa, ya. Kamu harus fokus di sekolah dan juga di bisnis kafe itu. Tante akan bantu Papa kamu mengawasi perusahaan, jadi kamu juga harus bantu di bagian kamu," ujar Kiara sebelum menutup panggilan teleponnya.

"Iya, Tante. Valeria tahu," jawab Valeria.

Namun, di benak Valeria, hanya ada satu hal: misi Revan. Ia tahu ia harus segera bertemu Revan dan Kian untuk menyampaikan tuntutan mendesak Mamanya mengenai jaringan intelijen.

Sesampainya di sekolah, mobil berhenti tepat di gerbang utama.

"Tante pergi dulu, ya, Val. Semangat belajarnya," kata Kiara, mencium pipi Valeria.

"Hati-hati, Tante," balas Valeria.

Tante Kiara pun pamit dan segera pergi meninggalkan area sekolah, menuju kantor perusahaan Mikhael untuk memulai penyelidikan rahasia yang diminta Diandra.

Valeria segera melangkah masuk ke dalam sekolah. Ia mencari Revan dan menemukan pemuda itu sedang berjalan bersama Kian di koridor menuju kelas mereka.

"Revan!" panggil Valeria, bergegas menghampiri mereka.

Revan dan Kian berhenti.

"Val, ada apa? Lo kelihatan panik," tanya Revan.

"Gawat, Van. Mama tahu," bisik Valeria, menatap Kian.

Kian langsung menyadari maksud Valeria. "Tahu apa?"

"Mama sudah tahu lahan Pak Suseno bermasalah, dan dia tahu kita tolak dan gue yang kasih tahu. Tapi dia nggak tahu soal risiko RTH itu. Yang dia mau tahu sekarang siapa sumber informasi kita," jelas Valeria, suaranya tercekat.

"Mama suruh gue tanya lo, Van. Dia nggak mau tanda tangan Surat Minat Sewa lahan baru sebelum dia tahu nama orang yang kasih data RTH yang akurat itu. Dia bilang dia harus tahu kualitas 'jaringan intelijen' kita."

Revan menoleh ke Kian. "Kian, ini yang kita takutin. Diandra sekarang bukan lagi nguji bisnis, dia nguji jaringan kita. Dia mau lo muncul ke permukaan."

Kian menghela napas, menyadari bahwa operasinya telah terdeteksi. "Dia cerdas. Dia tahu kunci sukses kita bukan di cash flow, tapi di data. Kalau kita kasih tahu, lo jadi target. Kalau kita nggak kasih tahu, dia nggak kasih izin."

"Jadi, kita harus gimana?" tanya Valeria, menatap Revan dan Kian bergantian.

Revan memandang Kian. " Kian. Bokap lo sahabat Om Mikhael, tapi pesaing Tante Diandra. Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi Tante Diandra? Jujur atau tetap sembunyi?"

Kian berpikir cepat. Menghindar hanya akan menguatkan kecurigaan Diandra bahwa dia beroperasi sebagai musuh.

"Ya, jujur saja," kata Kian, tenang. "Tinggal bilang gue memang tidak ikut andil dalam modal atau kepemilikan bisnis kafe kalian, tapi hanya sebagai pencari informasi dan penasihat solusi dalam bisnis kalian. Itu fakta, dan itu membuat alasan penolakan lahan kemarin sangat kuat."

"Oke, bagus seperti itu aja," kata Revan, setuju. "Berarti nanti pulang sekolah atau pas jam Valeria les, lo ikut datang ke rumah Valeria."

"Oke, tapi kita pastiin dulu Tante Diandra ada apa enggak. Val, biasanya Mama lo pulang jam berapa?" tanya Kian.

"Gue nggak tahu, soalnya nggak pasti pulangnya," jawab Valeria.

"Ya sudah, nanti lo tanyain Mama lo hari ini pulang jam berapa," kata Revan.

"Oke, nanti pas istirahat gue hubungi Mama," janji Valeria.

Tepat saat itu, bel masuk berbunyi nyaring.

"Ya sudah, kalau begitu gue mau masuk ke kelas gue ya," kata Valeria.

"Ya, Val. Ya udah, yuk, Kian, kita masuk kelas," kata Revan.

"Ayo. Bye, Val," ujar Kian.

"Bye, Kian, Revan," balas Valeria.

Mereka pun berpisah. Revan dan Kian berjalan menuju kelas 11 IPA 1, sementara Valeria berjalan ke arah kelas 11 IPA 2.

Saat di koridor menuju kelasnya, Valeria bertemu Damian. Damian, yang tadi pagi harus bersandiwara sebagai asisten Revan, kini berjuang mempertahankan jarak dari Valeria

"Val," panggil Damian. "Lo tadi lagi ngobrolin apa sama Kian dan Revan? Kok serius banget?"

Valeria berhenti dan tersenyum biasa. "Oh, itu, Dam? Biasa aja kali. Cuma check tugas dari Pak Bimo," jawab Valeria, nada bicaranya santai, sama seperti biasa.

"Tugas Pak Bimo? Soal layout interior kafe?" tanya Damian.

"Iya, Revan sama Kian lagi bantu gue cari denah yang paling efisien buat kafe kita," jelas Valeria.

Damian mengangkat bahu, sedikit cemberut. "Oh, layout. Gue kan yang kemarin ikut survey di lapangan. Kenapa lo nggak ajak gue diskusi soal desain juga, Val?"

Valeria tertawa kecil, melunakkan perkataannya agar Damian tidak merasa dikesampingkan. "Tentu aja gue bakal ajak lo, Dam. Nanti setelah gue punya draft kasarnya. Lo kan yang paling tahu rasanya berdiri di lokasi itu. Jadi, feeling lo tentang penataan ruang pasti paling benar."

Valeria menepuk lengan Damian. "Gue cuma briefing cepat sama mereka tadi. Lo jangan cemburu gitu dong. Lo juga bagian dari tim. Sekarang bel udah bunyi, ayo buruan masuk kelas," ajak Valeria.

Damian merasa sedikit lebih baik. "Oke deh. Nanti istirahat kita kantin bareng, " katanya, lalu mereka berdua bergegas menuju kelas mereka.

Valeria dan Damian masuk ke kelas, tetapi pikirannya langsung terfokus pada misi yang diberikan Revan: Mencari tahu jadwal kepulangan Diandra hari ini.

Valeria tahu, dengan kerahasiaan yang semakin rumit dan kehadiran Kian yang harus disembunyikan dari Diandra, mendapatkan waktu dan tempat yang aman untuk pertemuan sore ini sangatlah krusial.

Saat jam pelajaran pertama dimulai, Valeria mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Tante Kiara, yang kini berada di kantor perusahaan Mikhael.

[Pesan Valeria kepada Tante Kiara]

"Tante, sori ganggu. Mama hari ini pulang kantor jam berapa ya? Aku mau kasih lihat draft Surat Minat Sewa kafe ke Mama, takutnya kalau kelamaan, Mama keburu marah."

Valeria menggunakan alasan 'Surat Minat Sewa' sebagai pembenaran untuk bertanya tentang jadwal kepulangan Mamanya, memastikan Kiara tidak curiga. Kini, Valeria hanya bisa menunggu balasan, berharap Diandra akan pulang larut malam agar meeting antara Revan, Kian, dan Pak Bimo bisa berjalan lancar di rumahnya.

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!