Ima seorang gadis desa yang datang dari kampung ingin mengubah kehidupan keluarganya. Ia bekerja di sebuah mini market sebagi seorang kasir. Disanalah berkenalan dengan seorang pria yang membuatnya jatuh cinta.
Gayung bersambut cinta Ima berbalas. Laki - laki itu ternyata juga menyukai Ima. Hubungan mereka makin hari makin dekat,hingga laki - laki itu melamar Ami menjadi pendamping hidupnya.
Awal menikah hidup Ima berubah,rasanya begitu bahagia karna mendapatkan suami yang begitu perhatian. Tapi bencana itu datang saat ia sudah mempunyai seorang anak,sikap suaminya mulai dingin. Ada apa gerangan yang terjadi? apalagi Ima pernah memergoki suaminya menelpon seorang perempuan dengan kata - kata yang tidak sepantasnya . Apakah suaminya sudah bermain api di belakangnya? Bagaimana kelanjutan rumah tangga Ima dengan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Keesokan harinya saat Susi sudah berangkat bekerja tinggallah Ami berdua saja dengan Azzam putranya. Setelah sarapan dan meminum obat datanglah si dokter muda nan ganteng memeriksa kondisi kesehatan Azzam.
"Pagi ganteng. " sapa dokter yang sering dipanggil dokter Budi oleh para suster.
"Pagi juga dok." Ami mewakili putranya menjawab sapaan dokter Budi. Sementara Azzam cuma tersenyum sambil memainkan mainan yang baru di dapat dari Susi sahabat ibunya.
"Makanannya habis ga hari ini?" dokter Budi muali bertanya dan Azzam cuma mengangguk saja menjawabnya.
"Pintar." Dokter Budi memeriksa Azzam sambil terus mengajak Azzam ngobrol. Lama - lama Azzam mulai merasa tertarik mendengar obrolan dokter.
"Aku boleh jalan - jalan keluar ga ,dok?" tanya Azzam.
"Boleh,mau dokter temanin ." tawar dokter Budi.
"Mau." jawab Azzam tapi matanya melihat kearah ibunya meminta persetujuan.
"Tapi tunggu sebentar ya,dokter periksa pasien satu lagi ya. Setelah itu dokter akan kembali kesini mengajak Azzam jalan - jalan ke taman rumah sakit." janji dokter Budi sebelum meninggalkan ruang perawatan Azzam.
Azzam sangat berharap dokter Budi cepat datang. Tiap sebentar bertanya pada ibunya kapan dokter Budi akan datang. Ami mencoba memberi pengertian pada putranya.
"Assalamualaikum. " sapa dokter Budi dari arah pintu.
"Waalaikumsalam, Hore Om dokter datang." teriak Azzam riang.
"Kita jalan sekarang?" tanya dokter Budi sambil menggendong Azzam dan mendudukkan di kursi roda yang sudah ia siapkan untuk Azzam.
"Ibu ayo,ikut." ajak Azzam saat melihat ibunya masih duduk di kursi.
Ami terpaksa mengikuti keinginan putranya,ia tidak mau membuat putranya kecewa . Denga berat hati mengikuti langkah kaki dokter Budi yang mendorong kursi roda Azzam menuju taman.
Azzam benar - benar merasa bahagia bisa melihat begitu banyak orang disana. Apalagi di taman itu ada air mancur dan kolam ikan.
"Dokter terimaksih membawa Azzam kemari. " ujar Ami.
"Sama - sama. " jawab Dokter Budi sambil memandang lekat wanita yang ada disampingnya dan kebetulan juga Ami sedang memandang Dokter Budi. Sesaat mata mereka bertatap membuat desiran yang aneh dihati keduanya.
Ami buru - buru memutus pandangan matanya dan mengalihkan kearah lain. Dokter Budi semakin tertarik ingin lebih dekat dengan Ami.
"Kemana ayahnya Azzam. Dari pertama datang saya tidak pernah melihatnya?" tanya Dokter Budi penasaran, ia takut nanti suaminya Ami mengamuk pada dirinya.
"Azzam ga punya Ayah,Om dokter." jawab Azzam polos membuat Ami panic dengan jawaban putranya.
"Kok Azzam ga punya Ayah,emang ayahnya Azzam kemana?" dokter Angga bertanya sambil duduk bersimpuh di depan kursi roda Azzam.
"Ga tau,kata ibu Azzam ga butuh ayah." ucapan Azzam makin membuat Ami malu.
Dokter Angga tersenyum misterius kearah Ami. Sedikit demi sedikit ia mulai mengorek informasi dari keposan Azzam.
"Sebaiknya kita kembali,dok. Kasihan kelamaan di luar." Ami mencoba menghindari Azzam makin membuka hal - hal yang seharusnya tidak di ketahui dokter Angga
Angga cukup merasa puas mendengar info dari Azzam tentang status Ami. Senyum terbit di bibirnya karna ia masih punya harapan untuk mendekati Ami.
Ami sama sekali tidak mau berbicara sepatah kata pun sepanjang jalan menuju ruang inap Azzam. Saat sampai Ami langsung mengusir sang dokter untuk segera meninggalkan ruangan rawat inap Azzam dengan sedikit berbisik agar putranya tidak mendengar apa yang ia katakan pada dokter Angga.