Sekuel Novel Cincin yang Tertinggal
Kisah seorang laki-laki yang mengejar cinta wanita berhijab namun tak pernah berbalas. Hanya karena sesuatu yang terjadi akhirnya laki-laki itu mau menikahi wanita tersebut walaupun terpaksa.
Menikah dengan orang yang sangat dicintai adalah
impiannya namun menjadi pengantin pengganti bukanlah keinginannya.
Akankah rumah tangganya langgeng?
Yuk ikuti kisah mereka yang seru, menarik dan inspiratif hanya di Bukan Aku yang Kau Cinta.
Like, komeng and subcribe Terima kasih💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Mengejar Keira
Makan malam yang begitu dramatis di kediaman Keira. Terlihat keluarga besarnya berkumpul membicarakan perihal perjodohannya dengan laki-laki pilihan papanya. Azmi kakak Keira satu-satunya pun hadir. Azmi menatap adiknya penuh haru. Ia tidak tega adiknya terluka karena perjodohan. Keira hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa berniat memakannya.
"Dek ayo dimakan! Jangan sampai karena masalah ini kamu jadi sakit." Azmi merasa prihatin dengan kondisi adiknya saat ini.
"Kei engga berselera Kak. Biarin Kei sakit." Ujar Keira ngasal.
"Hust ga boleh ngomong gitu, khawatir tubuh merespon ucapanmu, dek." Azmi mengingatkan adiknya agar tidak bicara sembarangan. Kei hanya menatap makanannya.
"Kenapa engga Kak Azmi saja yang dijodohkan. Biar Kak Azmi duluan yang nikah. Biar kak Azmi juga ada yang ngurus di Bandung. Kenapa harus Kei sih yang dijodohkan? Biarkan Kei menikmati kuliah sampai selesai dulu......"
"Biar kamu bebas dengan perasaanmu pada Kasdun?" Sela Papa Aiman.
"Kalau Papa tidak suka Kei bermain perasaan dengan Kasdun. Halalkan kami Pa. Jangan dengan orang yang tidak Kei cinta, Kei tidak mau!" Keira menatap Papanya dengan mata mengembun.
"Papa hanya ingin yang terbaik buat anak papa. Kamu putri papa satu-satunya. Dia laki-laki yang sudah teruji. Dia tulus mencintaimu. Dia orang yang bertanggung jawab dan setia." Lanjut Papa Aiman.
Keira bergeming menahan air mata yang hampir jatuh. Ia tidak menyangka papanya menyiapkan calon suami disaat hatinya sudah terpaut pada Kasdun.
"Kei apapun pilihan Papa itu yang terbaik buat masa depan kamu, nak!" Ujar Mama Anggita lembut.
"Tapi Kei engga kenal dia Ma. Mana mungkin bisa menikah kalau engga saling kenal begitu. Ma tolong Kei, Kei sudah punya kekasih, dia mencintai Kei begitupun sebaliknya. Mama dan Papa ingin Kei bahagia bukan? Izinkan Kei menikah dengan bang Kasdun Pa, Kei mohon!" Keira menatap kedua orang tuanya dengan sendu. Papa Mamanya menggeleng. Luruh juga air mata yang berusaha ia pertahankan. Ia berdiri.
"Papa Mama egois, enggak punya perasaan! Yang akan menjalani rumah tangga itu Kei bukan Mama atau Papa. Sebenarnya Mama dan Papa enggak sayang sama Kei. Kei kecewa!" Dengan perasaan hancur Keira berlari menuju kamarnya.
"Braaak!" Keira membanting pintu kamar tidak peduli Papa Mamanya kaget dibuatnya.
Mama Anggita beranjak dari tempat duduknya namun dicegah suaminya. Pak Aiman menggeleng pelan.
"Ga usah. Biarkan saja Keira meluapkan emosinya. Kita fokus saja mempersiapkan hari pertunangannya. Kalau perlu langsung halalkan saja mereka."
"Kamu yakin mereka akan datang sesuai perintahmu, Pa?"
"Aku yakin. Kalau mereka tidak datang berarti mereka tidak berjodoh. Kita siapkan saja semuanya."
Mama Keira tercenung memikirkan perasaan Keira yang begitu hancur mendengar perjodohan dari papanya.
...***************...
Perkataan Emak benar adanya. Obrolan singkat dengan pacar pertamanya itu selalu memberikan semangat untuk meraih masa depan. Emak lah yang selalu setia mendampinginya di saat ia terpuruk, emak yang selalu memberikan nasehat bijak dalam menata masa depan, emak yang selalu tegar di mata anaknya, emak yang selalu mendidik anaknya untuk bersyukur walaupun selalu tersungkur. Akan ada kebahagiaan setelah kesedihan. Yang pasti Kasdun lebih bersemangat untuk mendapatkan pujaan hatinya.
"Keira tunggu Abang!" Katanya bermonolog dalam hati.
Kasdun membelah jalanan kota menuju kediaman orang tua Keira yang jarak tempuh sekitar 2 jam. Perjalanan yang ia lalui berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Biasanya jalanan tersebut rawan kemacetan apalagi saat jam karyawan pabrik pada pulang kerja.
Untuk kedua kalinya Kasdun menginjakkan kakinya di rumah yang megah tersebut. Sepi.
"Ada Mas, baru selesai makan. Sepertinya beliau mau berangkat ke kantor." Ujar Bi Darsih seorang asisten di rumah Keira.
"Silakan duduk! Sebentar Bibi panggilkan." Sambungnya. Bi Darsih melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Tak menunggu waktu lama Pak Aiman menghampiri Kasdun, dengan pakaian lengkap dan menenteng tasnya siap untuk pergi.
"Kasdun! Tumben, ada apa ke sini?" Kasdun mencium tangan Pak Aiman.
"Mohon maaf, Pak. Saya mengganggu waktu luang Bapak."
"Oh ya tentu. Karena saya akan rapat jam dua."
"Saya mau bicara sama Bapak sebentar saja. Aku mohon Pak!" Mohon Kasdun dengan serius.
Pak Aiman melihat jam yang menempel di pergelangan tangan kirinya.
"Oke sepuluh menit saja, ada apa!"
"Pak saya mohon batalkan petunangan Keira dengan laki-laki itu!" Kasdun tidak ingin berbasa-basi. Apalagi pembicaraan siang ini hanya dibatasi 10 menit saja.
"Loh gimana ceritanya bukankah kamu yang memberikan ide agar mereka secepatnya menikah. Untuk menghindari zina. Kenapa kamu jadi ingin menggagalkannya?"
"Karena saya mencintai putri Bapak. Saat itu saya tidak tahu kalau sebenarnya mereka tidak saling mencintai. Begitu saya tahu ternyata putri Bapak mencintai saya, saya bertekad untuk berjuang menyatukan cinta kami." Ujar Kasdun yakin dengan ucapannya.
Ucapan Kasdun justru membuat hati Papa Aiman tergelitik. Ia ingin tertawa namun diurungkan.
"Kamu yakin akan bersaing dengan laki-laki pilihanku? Dia anak pengusaha sukses loh. Keluarganya saja memiliki harta yang tidak habis tujuh turunan. Apa ada yang kamu banggakan yang bisa kami pertimbangkan untuk memilihmu?"
"Saya memang tidak punya harta lebih untuk melamar putri Bapak. Tapi saya punya ketulusan dalam mencintai putri Bapak."
"Memangnya kamu pikir dia tidak tulus mencintai putriku?"
"Saya tidak tahu pasti. Hanya saja saya khawatir kalau putri Bapak akan tertekan jika menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai. Pak saya mohon satukan kami. Saya janji akan membahagiakan putri Bapak." Ujar Kasdun mantap. Pak Aiman menatap arloji di pergelangan kirinya.
"Pas sepuluh menit. Maaf ya Kasdun sepertinya kamu hanya buang-buang waktu saja datang ke sini. Pulanglah. Karena Keira tetap akan menikah dengan laki-laki itu. Bapak berangkat ya!" Pak Aiman tergesa menuju mobilnya, diikuti Bi Darsih yang menenteng tas laptop.
"Bi tolong jangan biarkan laki-laki itu menemui Keira!" Ujar Pak Aiman sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Siap Pak!" Jawab Bi Darsih sambil mengangguk lalu menyerahkan laptop kepada Pak Aiman.
"Pak aku mohon!"
Kasdun berusaha untuk mencegah kepergian papa Keira namun gagal. Mobil Pak Aiman melaju pelan kemudian berangsur hilang dari pandangan.
Kasdun bergeming rahangnya mengeras, ia mengepalkan tangannya. Ternyata Pak Aiman sama saja seperti kebanyakan orang kaya pada umumnya, mereka akan memilih calon menantunya yang sederajat dengannya. Dia berusaha untuk tegar seperti ia tegar melepaskan mantan istrinya.
Kasdun mendongak ke atas berharap ada Keira yang sedang menyaksikan keberadaannya di atas sana.
"Keira....Aku tahu kamu ada di atas sana. Aku tidak akan berhenti untuk memperjuangkanmu Kei. Kei lihat aku di bawah. Perlihatkan wajahmu sebentar saja!"
Kasdun menghiba. Tidak ada satu pun orang di atas sana yang muncul. Kasdun dengan langkah gontai melangkah menuju motor bututnya yang selalu setia mendampingi kemana pun ia pergi.
hadeuhh gmn nnti saat si tiara tau blu akhir nya meminang meira yng si tiara tau meira dulu perawat nya blu saat sakit, jg si tiara saat itu udah ada cembokur kan?