🚫 KISAH NYATA 🚫
TOK TOK TOK!!
Suara ketukan sebanyak tiga kali terdengar dari pintu kosanku di tengah malam buta.
Dari dalam kamar aku diam mendengarkan. Tidak ada suara langkah kaki di sana. Senyap.
TOK TOK TOK!!
Ketukan itu berbunyi lagi.
Aku menelan ludah. Malam buta begini, siapa teman kosan yang berani keluar kamar untuk mengetuk pintu?
Aku yakin itu adalah 'dia'.
'Dia' yang selama ini sudah menyapa kami, para penghuni kosan melalui suara tangisannya, suara eramannya, dan penampakan wujudnya.
'Dia' yang pada akhirnya mampu merasuki badan salah satu diantara kami.
Kalian yang pernah menjadi anak kosan, atau yang akan menjadi anak kosan, atau yang tidak pernah menjadi anak kosan sekali pun ...
Kemarilah, duduk bersamaku!
Akan ku ceritakan kisahku yang pernah menjadi anak kosan bersama 'mereka' para "PENGHUNI KOSAN?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oktabebee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKN (Part 1)
Halo teman-teman, Bebee back nih 😁
Tangan sebenarnya masih lelah sih rasanya. Cuma karena ternyata gatal juga ini tangan pengen nulis, jadi .. here we gooooo!!
Seperti janjiku kemarin, kali ini aku akan menceritakan tentang kisahku saat menjalani program KKN dulu. KKN itu singkatan dari Kuliah Kerja Nyata ya teman-teman, barangkali ada yang belum tahu. Aku menjalani KKN di salah satu desa di Cirebon, Jawa Barat. KKN adalah suatu program yang diadakan kampus untuk para mahasiswanya agar mereka sedikitnya bisa menyalurkan ilmu yang didapat selama perkuliahan untuk membantu membangun desa.
Kalau tidak salah, KKN kampusku diadakan pada tahun 2014, tapi aku lupa ya tepatnya bulan apa. Tapi yang pasti, saat itu KKN dilaksanakan berbarengan dengan pengajuan proposal skripsi. Untuk itu kami, yang saat itu menjadi mahasiswa semester 7, harus pintar-pintar membagi otak dan waktu untuk mengerjakan dua tugas besar kampus sekaligus.
Universitas tempatku menuntut ilmu terbagi menjadi beberapa gedung yang terbagi di beberapa titik kota, yaitu kampus satu hingga empat. Begitulah kami menyebutnya.
Kampus 1 berisi mahasiswa manajemen, ekonomi murni, hukum, dan apalagi aku lupa, banyak soalnya, hehe. Kampus 2 berisi mahasiswa sepertiku, yaitu mahasiswa pendidikan. Di sana ada pendidikan Matematika, Bahasa Indonesia, dan Ekonomi. Untuk Bahasa Inggris, kebetulan gedungnya memisah, dia berada di kampus 3 bersama mahasiswa kedokteran. Dan kampus 4 adalah kampus cadangan, ini dulu ya, entah sekarang. Dulu kampus 4 dijadikan kelas tambahan bagi kami yang kebetulan ada kelas sore. Keempat kampus ini letaknya cukup berjauhan. Butuh kendaraan untuk menuju ke salah satunya jika tidak ingin capek. Hehe. Dan kampus utamanya adalah kampus 1.
Aku yang mahasiswa kampus 2, jelas tidak tahu mereka-mereka yang berada di kampus 1 dan 3. Nah, melalui program KKN inilah yang akhirnya menyatukan kami.
Siang itu aku dan teman-teman sedang menunggu pembagian regu KKN di depan ruang dosen. Pembagian nama regu KKN nanti akan ditempelkan pada mading besar di depan ruangan tersebut.
Tak lama, mading sudah terisi banyak lembar kertas yang berisi nama-nama regu yang langsung ditentukan oleh pihak kampus.
Dan, jeng jeng jeeeeeng ....
Aku lihat satu-satu nama anggota reguku. Tidak ada satu pun yang aku kenal 😅
Dari jurusanku cuma aku seorang diri, sudah macam jomblo saja, sepi tak berteman.
Siang itu kami seluruh mahasiswa dari kampus 1 sampai 3 diminta datang ke kampus 1 untuk bertemu dan berkenalan dengan anggota regu masing-masing.
Sampai di kampus 1, sudah banyak mahasiswa di sana. Aku mulai mencari reguku. Dan tak lama, satu persatu dari kami akhirnya berkumpul. Semua jurusan yang aku sebutkan di awal tadi, ada semua di reguku. Karena memang kami semua sengaja disatukan untuk membangun desa yang kami tempati selama 40 hari kedepan. Kami saat itu mendapatkan desa Cengkeh, sebut saja begitu yaa biar gampang 😅 Karena memang desa sebenarnya yang aku dapat berawalan huruf 'C'.
"Desa Cengkeh itu dimana sih?" Tanya salah satu diantara kami.
Kami duduk memutar saat itu di teras masjid sambil mendata apa-apa yang kami butuh. Kami juga sudah berkenalan satu sama lain. Kami semua terdiri dari 20 orang, 14 perempuan, dan 6 laki-laki.
"Lumayan jauh sih kalau dari sini. Di perbatasan kota," jawab salah satunya.
Kami saat itu dibekali uang oleh kampus sebesar berapa juta gitu yaa peregu, aku lupa. Intinya uang itu untuk bekal kami mengontrak rumah dan lain-lain.
"Ya sudah yang tahu betul letak desa Cengkeh, nanti survey yaa, sekalian cari rumah kontrakan!" Perintah Indro, sang ketua regu.
Indro hari itu juga langsung di tunjuk oleh kami sebagai ketua regu. Kalau tidak salah dia anak ekonomi. Indro sendiri adalah sebutanku untuk dia, sebutan asli saat KKN yaa. Dia memang agak mirip dengan Indro warkop soalnya, hehe. Dan aku memberinya sebutan 'Om Indro'.
Siang itu akhirnya dua anggota reguku, Nani dan Ipah langsung bersedia mendatangi desa Cengkeh untuk survey sekalian mencari rumah kontrakan karena arah rumah mereka memang dekat dengan desa Cengkeh. Sementara aku dan teman lainnya bergegas pulang untuk menyiapkan barang-barang yang akan di bawa selama hidup di desa orang 40 hari kedepan.
***
Pagi itu kami semua sudah berkumpul lagi di kampus 1 lengkap dengan bawaan kami masing-masing, sudah macam orang mau pindah rumah saja. Segala tikar, boneka, bantal, guling, baju ganti satu lemari di bawa semua. Ya, seru sekali pagi itu.
"Gimana rumahnya?" Salah satu diantara kami bertanya pada Ipah.
"Bagus. Rumah minimalis. Kayaknya sih baru ya rumahnya. Dan yang penting, harganya murah euy," jawab Ipah bersemangat.
Memang benar, harga sewa rumah yang Ipah sebutkan memang murah jika dibandingkan dengan rumah kontrakan yang di dapat regu lain. Dan itu pilihan cerdas. Karena sisa uang saku yang ada bisa digunakan untuk menambah dana program-program KKN nanti.
"Eh tapi kamarnya hanya dua. Jadi rumah itu hanya cukup untuk anak perempuan saja," Nani melanjutkan.
"Lah? Terus kita yang laki-laki tidur di mana dong?" Tanya Faruq.
"Samping rumah kontrakan ada kebun tuh. Nah, tidur di sana saja sana!" Nani menjawab asal.
"Hahahaha" Semuanya tertawa.
Walau baru kenal beberapa hari, tapi alhamdulillah kami langsung akrab.
"Tenang, sudah saya sewakan lagi satu rumah yang tidak jauh dari kontrakan. Cukup untuk kalian berenam," ucap Ipah menimpali.
Agak siang, kami dibubarkan untuk menuju desa KKN masing-masing. Anggota reguku berbarengan mengendarai motor masing-masing konvoi menuju desa Cengkeh.
Kurang lebih 40 menitan kami sudah sampai di tempat tujuan. Kami parkirkan motor kami di halaman mushola. Karena sangat alhamdulillahnya, rumah kontrakan yang kami sewa tepat sekali dekat dengan mushola. Kami hanya perlu berjalan kurang dari 60 detik saja maka kami akan sampai untuk sholat berjamaah. Ya, mushola itu berada tepat di depan rumah kontrakan kami. Sungguh rejeki yang sangat luar biasa. Alhamdulillah.
Kami menghirup udaranya dalam. Di sana masih sejuk. Karena memang desa Cengkeh dekat sekali dengan sawah. Lalu di belakang sawah ada sungai besar yang arusnya lumayan deras dengan batu-batu yang besar. Gunung Ciremai pun terlihat semakin dekat dari sana. Tak jauh dari rumah kontrakan, ada banyak bukit-bukit menjulang. Anggap saja desa Cengkeh sudah masuk ke dalam wilayah pegunungan.
Kami bersiap mengangkat barang bawaan masing-masing untuk dibawa masuk ke dalam rumah minimalis yang bernuansa ungu itu. Dari luar, rumahnya memang terlihat cantik. Rumah dengan cat ungu dan lantai orange bercorak batik serta batuan alam menempel di sebagian permukaan dindingnya. Aku tersenyum lega. Karena Nani dan Ipah ternyata memang pintar mencari rumah hunian.
(Ini foto real aku dan teman-teman KKN ya.)
Namun setelah pintu di buka ....
asramanya brkas rumah sakit gak terpakai lg. bayangin aja gimana....
Btw kak, mampir juga ya ke novel aku...
Aku iseng-iseng kak, maanfaatin waktu luang yang kebanyakan gara-gara jadi pengangguran.
Judulnya (Siapa) Aku Tanpamu