“ Berjabat tanganku, maka dengan ini kau terikat kontrak menjadi kekasihku,” ucap Aldrik, seorang CEO Perusahaan IT terbesar kepada Byana, seorang Polisi Bagian Kriminalitas yang berusaha menyelidiki tentang kasus kehilangan Orang tuanya.
Terlibat dengan Daniel, Pimpinan Mafia Gangster Syrebia, berujung pada kerja sama keduanya untuk berani mengambil Resiko dan juga cinta yang tumbuh tanpa disadari pun dipertaruhkan. Disaat genggaman tangan terlepas, apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerima Realita 4
Aku pikir pagi akan selalu sama, bersinar terang dengan cahaya menyilaukan. Membuka mata dan jendela kamar, suatu pemandangan tidak biasa kembali membuat perasaan tersentuh saat melihatnya membantu memperbaiki sebuah mobil usang yang lusuh.
Seperti tidak melihat debu, oli, atau butiran pasir diatas rambut hitamnya yang pekat tidak hanya kedua tangannya.
Menatap kembali pada kedua bola matanya yang indah, kini semakin menyadari apakah kemungkinan jarak ini akan menghilang dan tembok pembatas pun runtuh.
“ Dia bersikeras membantu dari pagi tadi … panggil saja jika kau khawatir …” ucap Tante Lesti yang sibuk memotong sayur dan daging.
“ Biarkan saja, toh bukan kita yang memaksanya membantu om …” balas Byana sedikit ketus.
“ Ada apa denganmu?! Kemarin begitu khawatir, sekarang tiba tiba merasa kesal. Apa kau sedang masa pubertas kedua?” tanya Tante Lesti mengerutkan keningnya.
“ Apaan si Tan … biar saja Aldrik membantu Om, dia juga jurang bahkan tidak pernah melakukan hal seperti itu di rumah …” balas Byana bernada manja menundukkan kepalanya.
“ Kapan kalian akan menikah?.”
“ TAANNTEEE ….”
“ Apa? Apa? Kalian sudah tinggal serumah, sudah tua juga cukup umur untuk menikah, bahkan kalian bisa punya anak langsung dan berikan cucu padaku!” Tante Lesti berkata dingin dengan kembali memotong sayur dan daging.
Tidak ingin membalas perkataannya karena tahu hanya akan menimbulkan perdebatan, Byana mengibarkan bendera putih dengan membantu menyiapkan makanan untuk menu sarapan pagi sebelum beraktivitas kembali.
Tinggal sehari kami disini, tapi kenapa aku merasa sedih dan tidak ingin kembali ke rumahnya? Apa aku mulai bersikap manja? Gumam Byana dalam hati sembari menumis sayuran di panci.
Melihat Aldrik yang masuk dan Om Dhika yang masing masing langsung membersihkan diri, karena tahu akan kebiasaan Aldrik, sebelumnya Byana masuk ke kamar Aldrik dan sudah menyiapkan setelan baju dan celana untuk Aldrik kenakan.
Merasa terbantu, Aldrik turun kebawah dan tanpa sadar mengecup pipi Byana dihadapan Tante Lesti dan Om Dhika yang terlihat begitu terkejut dengan kebiasaan yang Aldrik lakukan.
Tak urung akan Aldrik yang menarik kursi untuk mempersilahkan Byana duduk pun terasa baru untuk mereka saksikan hingga tawa terdengar tanpa sadar satu sama lainnya.
“ Hari ini kebetulan ada beberapa pesanan alat olahraga yang harus kami antarkan, apa kalian akan ikut atau diam di rumah?” tanya Om Dhika memulai percakapan pagi.
“ Tentu saja kami akan di rum—”
“ Kami akan ikut dan membantu di toko.”
“ APA?!” Byana tercengang menatap Aldrik.
“ Byana, bukankah kita akan membantu Bapak dan Ibu?!” Aldrik memberikan senyuman tampan pada Byana.
Sungguh kejadian tidak terduga kembali. Seorang pria keluarga Mahendra akan bekerja di toko olahraga, membantu mengepak barang, lalu membantu mengantarkannya. Sungguh luar biasa, kenapa tidak sekalian saja kau jadi juru parkir atau tukang bersih bersih toko?!
Byana bergumam dalam hati merasa kesal karena ALdrik yang begitu polos menyetujui tanpa berbicara meminta pendapat Byana terlebih dahulu.
Tak urung akan kesibukan yang tidak Aldrik tahu saat berada di toko, pasti dia akan melimpahkan pekerjaan itu pada Byana di ujung ujungnya.
“ Aldrik, tolong masukkan dus bola tenis itu … lalu bisa bantu ikatkan beberapa baju dan celana setelan itu agar rapi di dalam plastik?.”
“ Aaahh Aldrik, di gudang ada beberapa dus sepatu dan kaos kaki yang sudah dipisahkan … bisa tolong ibu memasukkan ke dalam mobil jika sudah mengerjakan itu?.”
“ Baik, akan saya kerjakan.”
Apa sebenarnya yang terjadi? Ada dimana aku? Apa yang harus kulakukan? Kenapa tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa kulakukan? Gumam Byana kembali dalam hati, berdiri diam di tengah toko melihat Aldrik, dan semuanya sibuk kesana dan kemari.
Membayangkan Aldrik yang tidak akan terbiasa bekerja fisik dan harus berpikir di lain waktu, sungguh membuat Byana kagum akan dirinya yang dapat beradaptasi dalam bekerja begitu cepat.
Tidak lagi memperdulikan mana atasan sebagai boss atau bawahan sebagai pegawai, dia begitu berbaur sempurna dengan tidak ada cela sedikit pun.
Kabar akan Aldrik yang saat ini sedang bekerja di toko olahraga milik keluarga Byana, tersampaikan pada Arie dan Mutia disaat Vlora mengirim beberapa orang untuk mengambil barang kegiatan yang Aldrik lakukan baru baru ini.
( SRRAAKKK BHAAKKK ) Suara hantaman kuat pada atas meja dengan lembaran foto yang bertebrangan, berceceran diatas lantai.
“ KURANG AJA! berani sekali wanita itu memaksa pewaris keluarga Mahendra satu satunya bekerja begitu hina dengan para pegawai rendah itu?!” ucap Arie kesal dihadapan Mutia dan Vlora.
“ Jangankan Om, saya saja begitu terkejut ketika melihat Aldrik bekerja disana. Bahkan saya dengar saat ini Aldrik sedang menginap di rumah miskin keluarga Byana …” balas Vlora mencoba memprovokasi.
“ APA?!” Arie begitu terkejut mendengar kabar dari Vlora.
“ Sayang … apa kau akan tinggal diam? Bagaimana jika kabar ini sampai terdengar ke dewan direksi atau rekan bisnis lainnya?” tanya Mutia bernada manja.
“ Aku harus melakukan sesuatu untuk membuat Aldrik sadar!.”
“ Om, jika Om Arie mengijinkan, saya mempunyai rencana bagus yang akan membuat Byana dan keluarga tahu diri karena sudah tebal muka pada keluarga Mahendra …” balas Vlora dengan berjalan mengampiri dan menatap pada Arie.
“ Lakukan jika begitu. Buat Aldrik sadar bahwa yang dia lakukan saat ini salah.”
“ Baik Om ….”
Kembali menyeringai, sungguh hati yang tega melakukan semua hal buruk hanya demi memenuhi keinginan hati yang belum tersambut.
Tidak memerlukan waktu lama untuk bertindak, disaat uang berbicara semua seakan mudah untuk dilakukan.
“ APA DIBATALKAN? Tapi kami sudah sampai kemari dan semua barang sudah kami siapkan …” ucap Om Dhika saat berbicara dengan Manager sarana kebugaran.
“ Maaf Dhika … pemilik kami tiba tiba ingin mengganti suplier barang …” balas manager itu dengan menundukkan kepalanya merasa bersalah.
“ Tapi kontrak selama satu tahun masih lama, kenapa baru beberapa bulan sudah mem—”
“ Maaf Dhika. Aku juga tidak dapat membantu. Segera kebagian personalia saja untuk membayar ganti kerugian, mereka sudah mempersiapkannya … sekali lagi, maaf Dhika.”
Mengerutkan dahinya, berbagai pertanyaan pun hadir dalam diri Om Dhika yang tidak menyangka kabar buruk akan menerpanya mengingat ongkos dan gaji pegawai yang sudah menunggak selama sebulan.
Kini dia pun hanya dapat merenungkan nasib dan mencoba memikirkan cara lain.
Kepergian Om Dhika yang lama, membuat Byana mulai khawatir akan kondisinya. Merasa semakin gelisah, Byana pun mencoba menghubungi dengan menyalakan loudspeaker handphonenya karena sibuk membersihkan gudang penyimpanan.
“ Halo Byana …” ucap Om Dhika bernada lemas dan rendah.
“ Om … ada apa? Kenapa terdengar lemas? Apa ada masalah?” tanya Byana khawatir dengan Aldrik yang berdiri disampingnya ikut mendengarkan.
Menjelaskan tentang apa yang terjadi, tentu membuat Byana dan Aldrik yang mendengarnya pun terkejut dan bingung dengan kejadian yang tiba tiba terjadi.
Tak urung merasa iba dan juga mencoba memikirkan jalan keluar, akhirnya terucaplah sebuah nama yang ternyata begitu berpengaruh.
“ Om juga tidak tahu alasannya, tapi pemilik baru yang meminta pembatalan kontraknya.”
“ Om tahu siapa pemilik baru ini?” tanya Byana khawatir.
“ Dari yang kudengar sebelumnya dia sebagai member VIP disini, bernama Adhitama.”
( BEEP ) Tombol panggilan yang ditutup oleh Aldrik.
Byana menatap pada Aldrik yang tiba tiba berwajah masam seolah senyuman itu hilang seketika tak berbekas.
Kerutan alis yang sempat menghilang kini kembali terlihat diwajahnya yang tampan. Tak kuasa menahan perasaan seolah ingin memohon untuk mengembalikan senyumannya kembali.
Aldrik langsung mengambil handphone dari dalam saku celananya dengan terhubung pada Gestara untuk melakukan percakapan yang terlihat begitu serius.
Merasa kebingungan namun tidak ingin memganggunya, Byana pun mencoba memikirkan cara untuk membantu sang paman.
“ Byana, maafkan aku.” Ucap Aldrik saat menutup panggilan telephonenya.
“ Kenapa, kau yang minta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan sama sekali dalam hal ini.”
“ Adhitama. Itu adalah nama marga keluarga Vlora.” Aldrik mencoba menjelaskan.
“ Vlora … Adhitama?” Byana terkejut bernada tanya pada Aldrik.
“ Lebih tepatnya Adhitama Vlorayna. Dialah Vlora.”
Inilah yang kutakutkan akan terjadi. Karena itu, sejak awal aku ingin sekali agar Om dan Tante berubah pemikiran untuk memaksa Aldrik untuk tiba tiba menginap. Gumam Byana lemas dalam hati dengan menundukkan kepalanya dihadapan Aldrik.
Tidak perlu berkata, Aldrik yang sudah bisa menebak dengan apa yang sedang pikir dan rasakan, berjalan keluar toko tanpa berpamitan terlebih dahulu dengan Gestara yang sudah menunggu di depan toko menggunakan mobil yang biasa digunakan oleh Aldrik.
Terlihat setelan Jas dan Dasinya yang mewah, serta sepatu kulitnya yang mahal untuk segera dia kenakan dengan tidak perlu berkata untuk segera pergi kesuatu tempat yang kembali tidak memberikan kabar terlebih dahulu pada Byana.
“ Aldrik mau kemana, Nak?” tanya Tante Lesti pada Byana.
“ Ada … pekerjaan yang harus dia kerjakan …” balas Byana bernada rendah dan lemas.
Tante Lesti yang juga sudah bisa membaca dengan apa yang terjadi, langsung mencoba mengalihkan pikiran Byana dengan membuatnya sibuk agar tidak terasa waktu berlalu cepat hingga pikiran buruk pun dapat hilang tanpa meninggalkan bekas.
“ Langsung menuju kesana?” tanya Gestara pada Aldrik sembari mengemudi.
“ Ya, jika bisa percepat.”
Tidak lagi menunggu aba aba, tancapan gas yang melaju kencang diatas rata rata pun seolah tidak memperdulikan lagi berapa kali lampu merah yang mereka terobos untuk bisa sampai tepat waktu, dimana Om Dhika yang sudah berada dibagian personalia pun sudah siap menandatangani surat pembatalan kerja sama.
Masih merasa ragu, Om Dhika yang berat hati pun merasa gugup dan penuh penyesalan dengan menundukkan kepalanya sesaat mencoba mengulur waktu yang entah mengapa ia lakukan.
Namun merasa tidak akan menyelesaikan masalah, dengan doa yang menyertai Om Dhika pun mulai menitikkan noda hitam pada lembaran kertas persetujuan.
( BRRAAKKK ) “ TUNGGU!.” Aldrik membuka pintu secara paksa.
“ Aldrik… Nak?, apa yang kau lakukan disini?” tanya Om Dhika terkejut.
( SRREEKKK SRREEKKK SSRREEKKK SHUUTTT) Robekan kertas yang Aldrik layangkan ke udara.
“ Aldrik apa yang kau lakukan, Nak?” tanya Om Dhika kembali kebingungan.
“ Vlora cukup bermain main dan tujukan itu padaku. Pak, maaf … pulanglah dan biarkan saya yang mengurus semua masalah ini.”
“ Apa? ... Tapi ini—”
“ Silahkan Tuan Dhika.” Ucap Gestara memotong pembicaraan dengan membuka pintu keluar.
Tanpa berkata lagi, Om Dhika pun melakukan perintah Aldrik untuk kembali pulang dan dengan Gestara yang dengan siaga menunggu didepan pintu keluar membiarkan Aldrik berbicara empat mata dengan Vlora agar tidak ada yang mengganggu.
Aldrik terduduk diseberang Vlora dengan melepas kancing jasnya agar lebih leluasa untuk bergerak. Menatap pada Vlora yang terlihat terkejut dan ketakutan menundukkan kepala, karena tidak menyangka bahwa Aldrik akan datang begitu saja.
“ Ada apa denganmu? Apa aku harus berlaku kasar padamu?” tanya Aldrik yang masih mencoba meredam emosinya.
“ Aldrik, kemana harga dirimu dengan bekerja di toko seperti itu? ... Bahkan kau memindahkan dus dus dengan pegawai rendah itu!” Vlora memberanikan diri untuk berbicara karena merasa kesal.
“ Bukan urusanmu.”
“ Aldrik, untuk apa kau menginap di rumah kumuh itu?! Kau tidak akan mungkin bisa menikah dengan Byana! Lalu untuk apa kau mengorbankan diri se—”
( BHUUAAKKK PRRAANNGGG) Aldrik memukul meja kaca hingga terpecah.
Alunan deru nafas tak beraturan, tatapan wajah penuh kemarahan, serta gemericik pecahan kaca yang terinjak saat melangkah. Cukup alasan baginya untuk segera menutup mulut dan menjaga jarak jika ingin tetap masih bernafas.
Tidak lagi mengenal dirinya yang seperti dulu, perubahan diri Aldrik begitu sangat berbeda hingga membuat Vlora tak lagi sanggup berlama lama untuk bernafas didekatnya. Rasa pengap akan penyudutan diri, terlihat lebih menakutkan dari sekedar kata kata pedas yang terucap.
“ Aldrik … maamaafkan aku … aku berjanji, tidak akan seperti ini lagi … sungguh.” Vlora berjalan memundurkan langkahnya mencoba mengatur jarak dari Aldrik.
“ Jika kau punya masalah denganku, maka tujukan itu padaku. Tidak akan kubiarkan kau atau siapa pun menyakiti mereka. Tidak selama aku masih bernafas. Mengerti?.”
“ Yaa Aldrik … aku sangat mengerti.”
“ Harus kau tahu, rumah yang kau bilang kumuh itu. Dapat membuatku tidur lelap, bernafas lega, tertawa bahkan merasa tenang. Tidak ada topeng kebusukan sama sekali. Jadi Vlora, ingatlah peringatan ini jika kau berniat merampasnya kembali dariku karena, tidak untuk kedua kalinya aku akan berbaik hati meski Byana memohon padaku untuk melepaskanmu.”
Berbalik badan untuk segera melangkah pergi. Airmatanya pun menitik tak tertahan melihat pria yang dicintainya sejak lama melangkah semakin menjauhinya menyisakan rasa sesak dan sakit yang begitu menyiksa hatinya.
Aldrik, kenapa kau sampai berubah seperti ini?, apa yang dilakukan oleh Byana yang tidak dapat aku lakukan hingga kau memperlakukanku seperti ini? Gumam Vlora lirih dalam hati dengan isak tangis tertunduk lemas diujung ruangan.
“ Kembali ke kediaman Pak Dhika.” Ucap Aldrik sembari mengganti pakaiannya kembali.
“ Apa kau akan menginap lagi disana?” tanya Gestara dengan mulai mengemudi.
“ Ya, aku berjanji akan 3 hari 2 malam menginap disana.”
“ Besok perlu aku jemput?.”
“ Aku akan menghubungimu kembali nanti. Terima kasih untuk tawarannya. Setidaknya pergilah berkencan di hari libur seperti ini.” Aldrik tersenyum jahil mencoba bercanda.
“ Ciihhh, jika aku berkencan. Saat ada keadaan seperti ini, apa pacarku harus menyaksikan drama pangeran yang kau lakukan tadi? Membosankan sekali.” Balas Gestara kesal.
Dengan kembali tertawa bersama, setidaknya kekesalan yang sempat terjadi beberapa detik lalu terhenti di detik waktu yang penuh canda meski menyindir pedas.
Tak pelu merasa tak nyaman pada orang yang sudah sangat mengenal diri kita dengan baik.
( TIINN TIINN TIINN ) Suara klakson mobil Aldrik yang memberitahu terhenti di depan rumah.
“ Byana maaf, aku tadi pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu.” Ucap Aldrik saat Byana menghampirinya.
“ Selamat datang … sudah makan?” Byana bertanya dengan melambaikan tangannya pada Gestara yang berlalu pergi.
“ Belum … apa Bu Lesti memasak kembali?” Aldrik berjalan melewati Byana menuju pintu masuk.
“ Jangan kau habiskan jatah daging ayamku! kau sudah makan banyak sekali ….”
Lihat?. Terkadang tidak perlu berkata panjang lebar atau memberitahu kemana dan apa yang kita lakukan pada sosok seseorang yang begitu mencintai tulus tanpa sedikit pun merasa terganggu akan hal itu.
Yang harus kita lakukan adalah, menjaga kepercayaannya hingga tidak dapat lagi bisa bernafas di ujung hari.