Siapa yang mengira.
Pertemuanku dengan seorang pria di sebuah vila, mengubah kisah cintaku.
Dalam sekejap statusku berubah, menjadi pacarnya pak bos. Oh Tuhan... aku hanya meminta bantuannya kenapa menjadi seperti ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketidaktahuanku
Entah kenapa, tatapanku selalu mengarah ke handphone yang setia berada dalam genggamanku saat ini. Berkali - kali ku menatapnya dan sebanyak ku menatapnya akupun kecewa.
"Ice Cream Vanilla"
Pandanganku segera beralih ke sebuah ice cream yang tiba - tiba hadir di hadapanku. Aku terkejut, suara pria yang mengagetkanku dan sebuah tangan yang tampak akrab di mataku. Sedalam apa aku temenung, hingga ku tak menyadari kedatangan pria ini. Perlahan ku mengangkat wajahku. Memastikan pemilik suara dan tangan ini.
"Mas Rafka" Panggilku.
Ya itu Rafka, dia memberikanku sebuah ice cream yang tanpa ku sadari ice cream tersebut sudah berpindah tempat ke tanganku.
"Apa kabar mu Ay?"
"Baik mas"
"Lagi ada masalah?" Tanyanya dan dia ikut duduk di sampingku sekarang.
"Hah.."
Rafka tersenyum mendengar keterkejutanku. Sepertinya dia sudah memperhatikanku sejak tadi.
"Makanlah ice creamnya, nanti mencair"
"Oh iya.. makasih untuk ice creamnya"
Akupun menurutinya, membuka perlahan bungkus ice cream yang terbalut sempurna. Memasukan ke dalam mulutku perlahan dan mulai menikmatinya.
"Bagaimana kabar ibumu mas?"
"Baik, terakhir kali kamu mengunjunginya, sore itu juga dia sudah boleh pulang"
"Oh.. syukurlah"
"Terima kasih ya.. kamu tidak membenci ibuku"
Kali ini dia menatapku dan tersenyum.
"Gimana ice creamnya enak?"
"Rasa ice cream selalu sama mas, engga pernah berubah. Apalagi rasa vanila aku menyukainya"
"Yah.. Rasa kesukaanmu, dan.. maaf aku telah berubah"
Rafka tertunduk dan kemudian menatap ke depan. Aku hanya bisa tertegun mendengar ucapannya.
"Aku minta maaf Ayna, aku merasa belum benar - benar minta maaf sama kamu. Aku merasa belum ada kesempatan untuk minta maaf dengan tulus. Maaf Ayna.." Pintanya.
Suasana menjadi hening. Hanya desahan nafas Rafka yang terdengar. Rasanya dia menyimpan banyak beban.
"Waktu itu, aku ngerasa kamu melupakanku. Sosokmu kian hilang. Kamu sibuk.. sangat sibuk. Aku berusaha memahami situasimu. Saat ku berharap kamu ada di sisiku.. tapi ternyata tak bisa" Ucapnya.
Dia kembali terdiam menarik nafas panjang dan berucap kembali.
"Maafkan aku, saat itu akupun merasa lelah menunggumu. Menunggumu menemaniku. Sampai akhirnya aku mendapatkan perhatian dari wanita lain. Dia hampir mengisi hari - hariku. Perlahan ku melupakanmu"
Inikah perasaannya. Perasaan yang ku tak pernah tahu. Rasa kecewanya terhadapku. Dulu aku merasa dia tak lagi memperhatikannku dan ternyata dia juga merasakan hal yang sama.
"Dan sekarang aku sadar, aku sungguh bodoh. Seharusnya ku mencari solusinya. Seharusnya ku mencari jalan keluarnya. Seharusnya kita bicara. Tapi aku malah menyakitimu"
Aku menjadi pendengar yang baik saat ini. Kami memang tidak saling menatap. Pandangan kami hanya lurus ke depan. Sesekali ku meliriknya. Melihatnya berbicara.
"Maaf, setidaknya walaupun kita tak bisa kembali seperti awal. Aku ingin kita berpisah dengan cara yang baik" Ucapnya dan tersenyum untukku.
"Ehmm, Ohya.. pria yang waktu itu sungguh pacarmu?"
"Oh.. iyah" Jawabku.
Dia melihatku seperti menunggu jawabanku selanjutnya.
"Saat itu aku baru mengenalnya, tak sengaja bertemu dengannya di villa. Alamat villa yang kamu berikan waktu itu salah mas. Kamu memberikan alamat villa miliknya"
"Ku yakin dia pria baik"
"Yah.. sangat baik" Jawabku cepat.
"Kamu mencintainya?"
"Yah.."
"Lalu apa yang mengganggumu"
"Entahlah.. Aku hanya merasa kecewa"
"Bicaralah dengan baik dengannya"
"Yah.. Kau benar"
Aku termenung kembali. Memikirkan perkataan Rafka. Rasanya aku memang perlu bicara kembali dengan Adit. Tidak berdiam diri seperti ini.
"Oh.. Aku harus kembali"
"Mau ku antar?"
"Tidak, aku mencari taxi saja"
"Aku temeni sampai kamu mendapatkan taxi ya"
Aku menggangguk, menyetujuinya. Hari memang sudah semakin gelap. Baiknya memang aku harus kembali. Kami berjalan bersama, rasa canggung menemaniku. Dulu tangannya selalu menggenggamku. Kami selalu berjalan sejajar dan saling menatap dan kemudian tersenyum bersama. Tapi saat ini semua telah berubah. Rafka bukan lagi orang yang selalu di sampingku, bukan lagi orang yang selalu menggenggamku, senyumannya bukan lagi untukku.
Adit yang selalu ada untukku sekarang. Adit yang selalu menggenggamku. Adit yang selalu tersenyum untukku.
Sore menjelang malam ini, Rafka menemaniku menuju jalan dan membantuku menghentikan taxi. Terima kasih sudah pernah membuatku bahagia. Terima kasih sudah pernah mengisi hari-hari ku. Aku tak menyesal mengenalmu. Kamu pasti bahagia nanti.
🍀🍀🍀
Adit masih belum menghubungiku. Aku mesti bagaimana. Aku tak berani menghubunginya terlebih dahulu.
Mungkinkah dia kesal denganku atau dia kecewa denganku. Ahh... aku yang kecewa dengannya. Kenapa aku berfikir dia kecewa denganku.
Handphone ku bergetar, aku langsung meraihnya. Aku harap Adit yang menghubungiku. Namun senyumku lenyap seketika saat kata "Temanku" yang tertulis jelas di layar handphone saat ini.
Revan menghubungiku. Mau apa dia. Dia sudah cukup menyulitkan hubunganku dengan Adit. "Temanku" Rasanya tak cocok nama ini tertulis untuknya. Aku harus menggantinya menjadi "Musuhku"
"Mas Revan, maksud kamu itu apa sih.. ngajuin syarat kayak gitu"
"Kekanak - kanakan banget mas"
"Kamu memang engga ada niat buat kerjasama kan, ngasih syarat yang pasti ditolak sama mas Adit"
"Katanya temen, tapi kamu malah menyulitkanku"
"Hei.. hei.." Panggilnya.
"Aku yang menghubungimu terlebih dahulu, kenapa malah kamu bicara terus - terusan"
"Aku keselllll..." Teriakku.
"Hahahah"
Revan malah tertawa mendengarku. Dia akar masalahnya dan dia pantas ku marahi. Tapi tunggu.. kalau nanti dia memutuskan untuk menolak kerjasama bagaimana, karena aku telah memarahinya.
"Mas.. beri aku alasan kenapa kamu mengajukan syarat seperti itu?"
"Karena aku percaya sama kamu"
"Hanya itu?" Tanyaku bingung.
"Perusahanku menempatkan dana besar di perusahaan Adit. Aku berhak menentukan siapa yang akan terlibat di dalamnya.
Aku percaya sama kamu, aku kenal kamu. Makanya aku mensyaratkan ini"
"Beneran hanya itu?"
"Lalu menurutmu apa?"
"Tidak ada maksud lainkan?" Tanyaku terus menyelidiki.
"Ah.. aku tau maksud perkataanmu, kamu berfikir aku menggodamu"
"Aku tak berfikir seperti itu"
"Ok.. ok.. Jadi siapa pria di taman sore tadi?"
"Bagaimana kamu tahu?"
"Bukan hanya aku, Aditpun tahu"
"Hah.. maksudnya?"
Aku tak paham. Bagaimana Revan bisa tahu begitupun dengan Adit.
"Kamu dan Adit tidak pulang bersama?"
"Maksudnya"
"Duhhh Ayna, aku yang bertanya kenapa kamu malah nanya lagi, Jawab dulu pertanyaanku"
"Yah tapi aku mesti jawab apa, aku engga paham"
"Tadi aku engga sengaja lewat taman itu. Ku fikir itu bukan kamu. Tapi setelah liat Adit juga di sana. Aku yakin itu kamu"
Kalau memang adit ada saat itu, kenapa dia tidak menemuiku. Apakah dia salah paham lagi melihatku dan Rafka. Masalahku dengan Revan belum beres. Sekarang ditambah lagi dengan masalah Rafka. Kami tak sengaja bertemu sore tadi.
Malam ini tidurku pasti tidak akan tenang. Sampai saat ini Adit masih belum menghubungiku. Sedangkan aku masih tak punya keberanian untuk menghubunginya terlebih dahulu.
Pembicaraanku dengan Revanpun sudah berkahir. Meninggalkan beban yang makin menumpuk di kepalaku.
Malam ini indah, tapi hatiku gusar. Kadang apa yang kita lihat dan dengar belum tentu benar. Suasana hati kita kadang menentukan kesimpulan yang terbentuk di fikiran kita. Aku tahu kamu mencintaiku, ku harap kau mempercayaiku.
.
.
.
.
Lanjut episode berikutnya ya dears😘.. semoga menikmati ceritanya.
dilike ya 😘dan dijadikan favorite
jangan lupa bintang dan vote yang banyak
komentar dan masukan yang baik ditunggu😇
terima kasih..
tetap setia menunggu upnya ya😊😊
lah ngapain teriak2,gak capek teriak2 mulu
dah lah lebih baik putus aja dan jadian ma Adit...
ish ish baru awal msih nyimak perlakuan Rafka ke Ayna.. mungkin cuek krn sibuk..