Sebuah rumor tentang kedekatan seorang pria bernama Arsyad Mahendra dengan pengusaha batu bara yang memiliki jenis kelamin sama dengan Arsyad tiba-tiba saja menjadi trending topik di laman media sosial dan juga berita televisi.
Arsyad yang merupakan seorang publik figur sekaligus pengusaha tentu saja tak bisa tinggal diam, ia harus memikirkan cara untuk menepis rumor tersebut demi nama baiknya.
Sampai suatu hari ketika dirinya dan Tim dikejar oleh awak media, tanpa sengaja managernya mengatakan jika Arsyad akan segera melangsungkan pernikahannya pekan depan bersama wanita yang masih di rahasiakan identitasnya dan selama itu pula Arsyad mulai ketar ketir dan mencari sosok wanita yang pantas untuk di jadikan istrinya.
Bagaimana kelanjutannya? Akankah Arsyad menukan wanita itu untuk menutupi rumor yang tersebar? Dan apakah rumor itu benar adanya atau hanya isu belaka? Ikuti terus ceritanya ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zia Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yakin tidak menyukaiku?
Di sebuah restoran. Arsyad, Ella, Lala dan Kanza menatap khawatir Michelle yang sedang menelungkupkan wajahnya diatas meja.
Wanita itu terlihat pucat dan kehilangan selera makannya akibat jus sayuran yang sering diberikan oleh mertuanya di setiap pagi.
"Emm, sampai kapan aku harus meminum jus kematian itu, aku tidak sanggup lagi … gara-gara jus itu aku jadi tidak bisa memakan kue mochi kesukaanku lagi ," rengek Michelle lesu.
Semua orang tak bergeming, mereka tampak berpikir bagaimana menghentikan Rina agar tidak memberi Michelle jus sayuran lagi.
"Haruskah kita mengeluarkan semua sayuran dari rumah?" usul Kanza.
"Itu tidak mungkin, ibuku akan makan apa jika tidak ada sayuran dia vegetarian," jawab Arsyad.
"Kalau begitu katakan saja jika Michelle sudah hamil," celoteh Ella yang langsung mendapatkan penolakan dari semua orang.
"Diamlah Ella, idemu selalu membuatku pusing tujuh keliling," dengus Arsyad mendelik.
"Begini saja, untuk sementara jus itu Tuan saja yang meminumnya terus Tuan bilang pada nyonya jika Michelle sedang menjalankan program kehamilan melalui dokter jadi Michelle tak perlu lagi minum jus itu dan aku yakin jika Tuan yang memberi pengertian, nyonya akan mengerti," usul Lala.
Arsyad menghela napasnya dan mempertimbangkan usulan Lala, sepertinya yang dikatakan asisten Michelle ada benarnya. Selama ini ia tidak pernah mengatakan apapun pada ibunya untuk tidak memaksa Michelle meminum jus tersebut, kali ini ia harus melindungi istrinya dan menjauhkan Michelle dari jus kematian sang ibu sebelum hal buruk yang dapat merugikannya terjadi.
.
.
.
.
"Selamat pagi, apa tidur kalian nyenyak?" sapa Rina dengan segelas jus hijau di tangannya.
Michelle menggenggam tangan Arsyad erat saat melihat jus kematian yang membuatnya trauma.
Arsyad menepuk tangan Michelle seolah mengatakan 'jangan khawatir ada aku disini'. Mereka kembali menyapa Rina dan duduk di depan meja makan.
"Michelle, Mama buatkan kamu jus kali ini dengan tambahan madu yang akan membuat kamu segar," tutur Rina.
"Ma," seru Arsyad menatap serius ibunya.
"Ya."
"Michelle dan aku sudah berkonsultasi pada dokter kandungan dan kami akan melakukan program kehamilan dengan saran dokter jadi mama tidak perlu lagi memberikan Michelle jus itu," tutur Arsyad.
"Memangnya kenapa? Ini bagus loh malah semakin mempercepat istri kamu buat hamil."
"Iya aku paham, tapi sekarang sudah zaman canggih banyak produk-produk yang memiliki khasiat tinggi lagi pula Michelle juga selama ini selalu meminum susu promil yang bagus, hanya saja tuhan belum mempercayai kami untuk memiliki anak lagi jadi mau Michelle meminum atau memakan apapun jika tuhan belum berkehendak Michelle tidak akan bisa hamil … aku juga tidak ingin merepotkan mama dengan membuatkan Michelle jus sayur itu setiap hari."
Rina menekuk wajahnya sedih. "Padahal mama sayang sama Michelle dan ingin segera mendapatkan cucu dari kalian jadi mama sengaja buatkan jus ini setiap hari, tapi kalian malah lebih percaya dokter dibanding Mama."
Melihat mertuanya sedih Michelle jadi merasa tidak tega, ia menoleh pada Arsyad sesaat kemudian menatap mertuanya lagi.
Michelle menghela napasnya dalam. "Ma, mama jangan sedih ya. Michelle gak keberatan kok kalau harus minum jus itu setiap hari."
"Benarkah?"
Michelle menganggukan kepalanya. "Asal mama bahagia, Michelle akan lakukan apapun."
"Kalau begitu, ini minumlah ini lebih enak dari yang kemarin," kata Rina bersemangat.
Michelle mengambil gelas itu ragu, ia menelan ludahnya kasar dan bersiap untuk meminumnya, akan tetapi Arsyad menghentikan Michelle dan mengambil gelas tersebut dari tangan istrinya.
"Biar aku yang meminumnya," ucap Arsyad meminum jus tersebut sampai habis.
Michelle menatap suaminya yang sedang menahan rasa tidak jelas dari segelas jus buatan mertuanya, ia bahkan dapat melihat dari raut wajah Arsyad jika pria kaku itu saat ini pasti menahan rasa ingin muntah sehingga Michelle buru-buru memberikannya segelas air dan juga potongan buah yang dapat menetralisir rasa pahit di lidah Arsyad.
.
.
.
.
🌸🌸🌸🌸
"Terimakasih," ucap Michelle memecah keheningan dalam mobil.
"Untuk apa?"
"Karena kau sudah mewakiliku meminum jus itu."
Arsyad mengalihkan wajahnya dari Michelle. "Kau jangan kepedean, aku melakukan ini karena saran Lala bukan karena aku menyukaimu."
"Memangnya siapa yang mengatakan jika kau menyukaiku?" cetus Michelle terus terang.
Arsyad menutup kedua matanya sesaat, sepertinya ia sudah gagal fokus. Dia jadi malu sendiri karena sudah mengatakan jika dirinya tidak menyukai Michelle padahal istrinya sudah jelas tak membahas kesana.
Michelle membulatkan matanya. "Haaa, jangan-jangan kau mulai menyukaiku," goda Michelle.
"Cih, mimpi," elak Arsyad.
"Cie, kalau kau menyukaiku katakan saja aku tidak akan marah."
"Aku tidak menyukaimu."
"Benarkah?"
"Ya."
Michelle mendekatkan wajahnya pada Arsyad dan menumpu kedua pipinya dengan telapak tangan. "Kau yakin tidak menyukaiku?"
"Michelle," ucap Arsyad mengetatkan giginya.
"Apa? Aku hanya bertanya dan meyakinkanmu apa kau benar tidak menyukaiku atau cuman alasan saja," tutur Michelle, gadis itu terus saja berbicara tanpa henti sampai membuat Arsyad kesal dan pusing mendengarnya.
Ia menoleh pada Michelle yang sedang menatapnya dan tanpa sengaja manik mata keduanya saling bertubrukan dalam jarak yang sangat dekat selama beberapa menit sampai akhirnya mobil mendadak berhenti dan hampir membuat Michelle terjatuh untung saja Arsyad selalu sigap sehingga ia berhasil menahan Michelle.
"Kanza, kau tidak bisa menyetir," sentak Arsyad.
"Maaf tuan, ada kucing lewat," dalih Kanza, padahal ia sengaja menginjak rem mobilnya secara mendadak agar bisa lebih mendekatkan Michelle dan Arsyad.
Michelle menyunggingkan senyumnya sambil menatap Arsyad.
"Kenapa senyum-senyum?" dengus Arsyad.
Michelle menggelengkan kepalanya.
"Dasar aneh," gerutu Arsyad kembali memalingkan wajahnya dari Michelle.
.
.
.
🌸🌸🌸
Studio pemotretan.
Hari ini Michelle dan Arsyad akan melakukan potoshoot beberapa gaun milik desainer ternama asal Paris, mereka kini sudah tampak serasi dengan setelan jas dan gaun panjang hitam yang memamerkan bahu serta pah*a Michelle yang mulus.
Keduanya berpose di depan kamera dengan gaya yang sedikit vulgar dan mesra, Michelle yang kini sudah bisa menyesuaikan diri dengan dunia permodelan sudah terlihat seperti model profesional. Tanpa menunggu banyak arahan ia sudah bisa mengatur gaya dan merubah ekpresi wajahnya dalam hitungan detik, tanpa ada rasa canggung sedikit pun Michelle menyandarkan kepala di dada Arsyad, memeluk, melingkarkan kedua tangan di leher Arsyad, bahkan wajah keduanya menempel dan nyaris berciuman Michelle tetap terlihat biasa saja.
Berbeda dengan Arsyad kali ini, pria yang biasanya mati rasa terhadap perempuan dan tak merasakan apapun saat berdekatan dengan wanita. Kini pria tampan itu merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, ia merasakan jantungnya berdebar kencang dan darahnya berdesir seperti ada aliran listrik yang mengalir dalam tubuhnya saat dirinya berdekatan dengan Michelle.
Apalagi ketika Michelle duduk di pangkuannya, ia merasakan sesuatu miliknya terbangun sesaat, ketika milik Michelle menduduki burungnya. Tak hanya itu saja, saat adegan dirinya yang harus mencium bagian dada atas Michelle tiba-tiba saja ia merasakan suhu ruangan tersebut berubah menjadi panas.
gambar hanya pemanis.
.
.
.
Bersambung…
klo d film kn,,"adikku menantuku"🤣🤣
dr awal aku baca,supirnya nm nya kanza ku kira cewek..🤣🤣🤦