Putri Amatheia tidak pernah menduga akan bertemu dengan laki-laki yang bukan dari bangsanya, makhluk aneh dengan segala kekurangan yang ia dapati.
Pertemuan itu membuahkan cinta dan keserakahan dua manusia beda alam.
Sedangkan nyawa sang Raja berada dalam tanggung jawabnya, dengan menerima pinangan musuh sejati kaum ikan duyung, yang telah berusaha memporak porandakan kerajaan yang seharusnya menjadi kekuasaan Putri Amatheia sebagai putri mahkota.
Filghofin Orlando lelaki pendiam itu harus menelan pil pahit, ketika di hadapkan dengan permasalahan yang tidak pernah ia sadari, penduduk desa yang melakukan pembunuhan berencana untuknya, karena di yakini sebagai pemuda pembawa sial, karena hasil pernikahan terlarang dengan bangsa penghuni pegunungan Gordon, dan membuatnya terdampar di pulau antah-berantah dan mengharuskan dia memasuki tempat yang bukan dunianya.
Atas nama hati dan cinta. akan kah cinta mampu membawa keserakahan menjadi keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delima Rhujiwati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Ratu Sinnan sepertinya perlahan mulia merasakan kedekatan antara Caillani dan putri Galene, kesembuhan putri Galene tidak luput dari ketelatenan Caillani dan tabib Wlyrus.
Andaikan itu adalah suatu hal yang kebetulan, ratu Sinnan tentu akan merestui ikatan cinta mereka.
Sebagai wanita duyung yang pernah melewati fase muda dan mengalami rasa hati, mencintai dan dicintai adalah rasa yang sulit untuk diungkapkan.
Ratu Sinnan kembali duduk termenung di atas pembaringan yang terbuat dari cangkang kerang raksasa, lamunannya jauh hingga menuju ke alam mimpi. Menyatukan kembali kepada alam bawah sadar Raja Brenton yang juga sedang berusaha memperdaya pangeran Sharklys, namun itu bukan suatu yang mudah baginya. Mereka berjalan saling mendekat, senyum mereka merekah saling menggenggam erat tangannya dan berpelukan, saling menyapa dan memberi kekuatan yang hampir saja rapuh oleh belenggu keputusasaan. Pelukan Raja Brenton yang erat, memberikan kehangatan namun sisi lain rasa perih karena perpisahan yang tidak bisa di nalar, karena sebuah pengkhianatan dan keserakahan. Membuat sepasang kasih yang tulus itu bersanding dengan rasa yang nelangsa.
"Ratuku, bersabarlah! Tidak lama lagi kita akan berkumpul, aku merasakan aura cincin mustika emas sudah berada tidak jauh dariku, putri Amatheia akan segera sampai pada tujuannya" dalam penyatuan alam bawah sadar mereka Raja Brenton membelai Surai indah ratu Sinnan.
"Yang mulia Raja, tiada kata yang bisa saya ucapkan kecuali kerinduan yang semakin merajalela ini, anak-anak kita semua dalam masa perjuangan untuk mengembalikan keutuhan istana Gkinzerniyu kembali, bertahanlah! Semua akan baik-baik saja." Ratu Sinnan menghibur, dan memberikan sentuhan lembut kepada Raja Brenton dengan mencium punggung tangannya.
Mereka berjalan menyusuri lantai batu pualam yang sejuk dan nyaman, memandang luas ke hamparan pemandangan yang cantik, melihat para prajurit dan penghuni istana Gkinzerniyu yang saling bahu membahu, dan sedang menyongsong kebahagiaan mereka masing-masing.
Angin sejuk itu menerpa kamar Ratu Sinnan, meniupkan bunga yang sedang bermekaran dari taman Zorxoka yang indah. Jatuh tepat di sisi pembaringan Ratu Sinnan, sehingga membuatnya terjaga, menyentuh bunga yang masih segar dan harum.
Bibirnya tidak lepas dari senyum yang tersungging indah penuh kewibawaan seorang Ratu yang menjadi panutan seluruh rakyatnya, Ia mengambilnya dan mencium aroma wangi bunga yang baru saja tertiup angin dan menghampirinya.
Sementara itu, hari-hari putri Galene tidak pernah lepas dari belajar, dan mendapatkan bimbingan dari nyonya Rebecca. Kegigihannya untuk mengejar ketinggalan selama ia dalam masa perawatan karena sindrom nazarkolepsilis, tidak pernah mengalahkan semangatnya.
Kehidupan di dalam istana Gkinzerniyu pendek kata, tetap seperti semula. Bersih, segar, dan tidak pernah lepas dari canda dan tawa para penduduknya. Walaupun sedang dalam masa-masa penantian yang belum jelas, bagaimana nasib Raja dan putri Amatheia selanjutnya.
Pelajaran pun telah usai, nyonya Rebecca harus kembali dan meninggalkan putri Galene sendiri di tempat ia mendapatkan bimbingan.
Tidak lama kemudian, hadirlah sosok Caillani yang sejak awal sudah dengan telaten menunggu putri Galene selesai mendapatkan bimbingan dari nyonya Rebecca. Tangannya membawa ramuan herbal untuk Putri Galene, yang memang harus selalu rutin ia konsumsi walaupun kondisi sudah lebih banyak berangsur membaik.
Wajah cantik putri Galene yang semula puas dengan pencapaiannya dalam mengejar pendidikan yang terlambat ia ikuti, kini berubah sedikit tegang ketika mendapati Caillani tiba-tiba berada di hadapannya.
"Hi... Selamat sore putri Galene! Senang melihatmu tersenyum dan dalam keadaan segar bugar begini." Caillani mendekatinya dan duduk di depan putri Galene yang sedang menunduk, dan meremas tangannya sendiri.
"Hi... Terima kasih, tapi... Tidak seharusnya kau menemui ku disini! I..ini akan merepotkan dirimu, Cai." Putri Galene menjawab salam dari Caillani sekaligus, wajahnya menangkap senyuman Caillani yang bersemangat memberikan bungkusan ramuan yang di kemas dalam sebuah guci kecil.
'oh sang penguasa alam... Dosa apa yang akan aku terima, bila aku abaikan saja senyumnya dan kasihnya yang seharusnya tidak aku terima ini.' putri Galene bergelut sendiri dengan batin hatinya.
Berbeda dengan rasa yang Caillani rasakan, semakin kesini ia semakin yakin bahwa mencintai putri Galene adalah sebuah anugerah, keyakinan akan berjalan dengan lancar kuat dalam lubuk hatinya.
Dalam perbincangan mereka, kali ini Caillani memberanikan dirinya untuk mengungkapkan isi hatinya, kepada putri Galene.
"Putri Galene, ketahuilah! Beberapa saat ini, di saat kau terbaring dalam lelap mu, bahkan di saat lemah mu. Aku merasakan hatiku tumbuh rasa ingin memiliki dan ingin bersamamu, aku mencintaimu Galene." Tatapan mata Caillani menjurus ke arah mata putri Galene, menanti sebuah kata yang akan ia dengar darinya, seperti di saat ia mendengar suara putri Galene menyatakan kerinduannya waktu itu.
Hening tanpa ada suara lagi, namun sepasang mata menatap dari jauh dengan pandangan yang penuh tanda tanya, apa sebenarnya yang telah terjadi dengan merek berdua.
"Caillani, ma..maafkan aku, waktu itu a..aku salah ucap, aku merindukan kakak ku putri Amatheia, iya aku merindukan dia bukan kamu." Jawab Putri Galene sambil menenggelamkan pandangan mata Caillani yang masih saja menelisik mencari sesuatu yang tepat, yang harus ia dapatkan.
"Sungguh aku tidak akan perduli, Galene! Aku mencintaimu. Ini tulus dan bukan karena kau adalah seorang putri dari yang mulia Raja Brenton, bukan." Caillani memberanikan dirinya untuk memegang tangan putri Galene.
"Maaf Caillani... Sepertinya aku harus segera menemui ibunda Ratu, kami ada janji untuk membaca pustaka bersama." Dusta putri Galene sambil berlalu namun tidak lupa membawa guci yang Caillani berikan padanya.
🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬
Yuk yuk kita dukung Caillani donk 🤭
To be continued 😉
Salam Sayang Selalu By RR 😘