Bagaimana jadinya jika persahabatan yang di jalin begitu lama, ternyata menimbulkan benih benih cinta ?
Ya, itulah yang di rasakan oleh Sasikirana, seorang gadis yang masih duduk di bangku SMA.
Si gadis tomboy, dan selalu menjadi biang ribut di sekolah, siapa yang menyangka ternyata memiliki perasaan cinta pada sahabatnya sendiri.
Akankah Sasi jujur dengan perasaan nya ? ataukah dia akan mengubur dalam dalam perasaan itu ?
Ikuti terus kisah nya, Sasi si gadis tukang bikin rusuh.
Happy Reading 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keseriusan Axel !
Bian sudah tiba di kantornya lagi,
Tapi saat dia mulai masuk ke kantor, semua mata tertuju padanya, namun tidak ada seorang pun yang sekedar bertanya kenapa ada banyak luka di tubuhnya,
Mereka bukannya tidak mau, tapi tidak berani, apalagi bian dikenal sangat tidak ramah sama sekali,
Bian pun segera masuk ke dalam lift, dan tidak memperdulikan sama sekali tatapan yang tertuju pada nya,
Setelah keluar dari dalam lift, bian langsung menuju ke ruangannya,
"Pak," seru cheri yang langsung berdiri dari duduknya saat melihat bian akan masuk ke dalam ruangan pribadi nya
"hem," jawab bian tanpa menoleh ke belakang,
"Bapak dari mana aja sih ? kenapa tidak menjawab telepon saya ?" tanya cheri menumpahkan kekesalan nya
"ck, dasar bawel !" setelah mengucapkan itu, bian langsung masuk ke dalam ruangannya,
Cheri melayangkan tinjunya ke udara, dia semakin kesal dengan sikap bosnya itu, "dasar es balok !" umpat cheri,
Setelah itu, dia langsung menuju ke ruangan bian untuk mengonfirmasi mengenai pembatalan kerjasama yang bian minta sebelumnya,
Tok..
Tok..
Tok..
Cheri mengetuk pintu,
Ceklek,
Setelah itu, dia langsung membuka pintu ruangan bian,
"Pak, saya mau memberikan berkas, bukti pembatalan kerjasama yang bapak minta tadi pagi," ucap cheri
"Simpan saja di atas meja !" jawab bian singkat dengan posisi menghadap jendelanya dan membelakangi cheri,
Cheri yang curiga pun menelisik bian dari atas sampai bawah, biasanya bian jarang sekali membuka jasnya, tapi kenapa sekarang dia tidak memakai jas dengan lengan baju yang dia gulung sampai siku, terlebih cheri juga melihat celana yang di kenakan bian sedikit kotor di bagian bawah,
Cheri maju sedikit ke arah dimana bian berdiri,
saat sudah tiba tepat di belakang bian, cheri langsung membulatkan matanya ketika melihat siku bian yang di tutup perban,
Cheri pun reflek memutar badan bian dengan menarik lengan kekar pria di hadapannya itu,
Setelah bian membalikkan tubuhnya, cheri semakin terkejut melihat kening bian yang juga di tempeli perban putih dan sedikit ada bercak berwarna merah di perban tersebut
"Ya ampun pak, kenapa bisa kaya gini ?" tanya cheri khawatir sambil meraba bergantian kening dan siku bian,
Bian pun terkejut dengan perlakuan cheri, pasalnya hanya cheri yang berani bersikap seperti ini padanya,
Saat cheri kembali meraba kening bian, memeriksa luka bian lagi, tiba tiba mata keduanya bertemu, dengan posisi yang begitu intens,
deg
Jantung kedua nya berdetak lebih cepat dari biasanya, dan seketika itu juga waktu terasa berhenti sekejap di antara mereka,
"ehem ehem.." bian berdehem 2 kali, menetralkan kembali hati dan pikiran nya, sontak membuat cheri juga tersadar dan langsung menurunkan tangannya yang tadi masih menyentuh kening bian,
"emm, maaf pak," ucap cheri lalu mundur sedikit kebelakang
bian kembali ke mode datarnya, "apa ada lagi yang ingin kamu katakan ? kalau tidak ada silahkan keluar !" ucap bian yang membuat cheri mendengus kesal dengan perkataan bosnya itu,
"ck, dasar es balok !!" gumam cheri sambil berjalan meninggalkan ruangan tersebut,
Dan tentu saja bian masih bisa mendengar apa yang cheri katakan, tapi dia sama sekali tidak ingin berdebat dengan wanita itu,
huh hah huh hah
Cheri memegang dadanya saat sudah ada di balik pintu,
"aduh, kenapa sih ini jantung gue selalu kaya gini kalau di deket si es balok itu ! Please cheri jangan sampai lo jadi pelakor !!"
Di dalam ruangan pun, bian merasakan hal yang sama,
Dia tidak mengerti, kenapa jantungnya selalu tidak bisa di kontrol saat bersama dengan cheri, awalnya bian mengira itu karna cheri selalu membuat dia marah, tapi makin kesini debaran di hatinya semakin intens setiap dia dekat dengan sekretarisnya itu,
**
Di lain tempat, tepatnya di sebuah cafe tak jauh dari rumah arion,
Axel membawa sasi kesana untuk bisa berbicara berdua tentang masalah mereka.
Setelah memesan minuman dan makanan di cafe itu, axel lalu menatap sasi dan menggenggam tangannya
"Maaf," ucap axel
"Untuk apa ?" tanya sasi
"Tadi pagi,"
Sasi diam tidak membalas lagi ucapan axel,
"aku cuma ingin memperjelas hubungan kita ini, sas !"
Sebenarnya sasi pun ingin sekali bisa bersama axel, apalagi dia sudah memendam lama perasaan nya itu, tapi sekali lagi banyak yang di pikirkan nya termasuk kedua orang tua mereka,
"apa mami dan papi mu akan setuju jika kamu menjalin hubungan dengan aku ?" tanya sasi,
"Kenapa mereka harus tidak setuju ? Lagipula kamu juga sudah di anggap sebagai anak nya sendiri kan selama ini oleh kedua orang tua ku ??" jawab axel cepat,
"itu maksudku !! Karna mereka mengenalku, apa mereka akan merestui kita ?" tanya sasi lagi, wajahnya begitu murung penuh dengan kekhawatiran,
Axel melepaskan tangan sasi, lalu berjalan ke arah sasi duduk,
Axel berlutut tepat di depan sasi,
"Hei, lihat aku !!" Axel memegang dagu sasi,
"Kamu percaya sama aku ?" tanya axel lagi, lalu sasi pun menganggukkan kepalanya pelan,
"Aku sayang sama kamu, sas, aku gak mau kehilangan kamu lagi !! Kamu cukup percaya dan serahkan semua sisanya padaku !!" ucap axel lembut dengan wajah yang begitu serius terus menatap manik mata sasi,
Sasi pun tersenyum mendengar jawaban axel yang cukup menenangkan bagi dia,
Axel mengeluarkan sesuatu dari sakunya,
"Sas, mungkin ini terlalu cepat buat kamu ! Tapi aku gak mau terlambat lagi untuk mengungkapkan perasaan ku sama kamu,"
Sasi melebarkan matanya, dan saking terkejutnya dia sampai membuka mulutnya membentuk huruf o,
Axel lalu berdiri dan memasangkan sesuatu itu ke leher sasi,
Sasi langsung memegang dan menundukkan kepala untuk melihat apa yang ada di lehernya saat ini,
"Please, jangan pergi lagi dari aku !" ucap axel dengan tatapan yang begitu intens, sampai tidak sadar mereka sudah menjadi pusat perhatian di cafe tersebut,
Prok
Prok
Prok
Suara riuh tepuk tangan dari para pengunjung cafe itu menyadarkan sasi dari lamunan nya, sasi pun seketika menutup wajah cantiknya yang sudah merah merona dengan kedua telapak tangannya,
Axel pun tersenyum melihat sasi menjadi salah tingkah seperti itu,
Dia kemudian membuka tangan sasi yang menutupi wajahnya, lalu kembali berlutut lagi di depan sasi, dan mulai menggenggam tangan gadis cantik itu,
Axel menutup mata dan mulai menarik nafasnya dalam dalam,
Setelah itu dia pun kembali membuka matanya, lalu...
"Sas, Will you marry me ?" tanya axel dengan penuh keyakinan tepat di hadapan sasi, yang di saksikan langsung oleh seluruh pengunjung cafe itu,
Sasi semakin di buat terkejut dengan pertanyaan axel itu, dia bahkan tidak sampai berpikir axel bisa sejauh ini,
Mata sasi mulai berkaca kaca, dia tidak menyangka maksud dari ucapan axel yang tidak mau kehilangan dia lagi adalah dengan melamar sasi untuk dijadikan nya istri,
Terima !!
Terima !!
Terima !!
Lagi lagi, suara riuh orang orang di cafe itu membuat suasana semakin ramai,
Sasi menarik nafas dalam dalam, lalu dia memegang bahu axel memintanya untuk kembali berdiri,
"Cinta adalah dimana kamu sanggup menerima apa adanya dia !!" ucap sasi,
Sasi mengambil tangan axel, dan menautkan jari jemari kecilnya di sela jari milik laki laki itu,
"apa kamu sanggup menerima aku dengan segala kekurangan yang ada di diriku ?" tanya sasi menatap lekat manik mata pria di hadapannya, "nanti, kalau suatu saat kamu melihat aku sebagai sasi yang dulu, apa kamu akan tetap berada di sisiku ?" tanya sasi lagi dengan air mata yang mulai menggenang
Tidak bisa di pungkiri, sosok sasi yang sekarang adalah pembuktiannya yang ingin dia tunjukkan pada axel, betapa dia kecewa saat axel dulu meremehkannya dan menganggap sasi tidak pantas untuk menjadi kekasihnya, ya, meskipun sekarang dia sudah tau itu hanya sebuah kesalahpahaman.
Axel mengeratkan genggaman jarinya,
"Cinta sejati itu adalah yang membuat kamu menjadi orang yang lebih baik, tanpa mengubah kamu menjadi orang lain selain diri kamu sendiri," ucap axel sambil memegang sebelah pipi sasi dengan satu tangannya yang lain,
"Dulu, sekarang, atau di masa depan nanti, kamu akan tetap menjadi Sasi ku !!" kata axel lagi dengan lembut,
Sasi meneteskan air matanya,
"So, would you be mine ?"
...****************...