Ini kisah seorang gadis cantik, Sheilla Abraham namanya. Seorang gadis nakal, pembuat onar yang akhirnya memutuskan untuk berubah.
Namun, ternyata keputusan Sheilla untuk berubah malah membuat nya menjadi bahan bullyan di sekolah baru nya.
Lalu, akankah Sheilla melawan? atau membiarkanmu dirinya menjadi bahan bullyan murid-murid di SMA Raharja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizkook lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Thirty Four
Anak-anak ARMI dan Dark Black tengah di sibukkan mencari siapa sebenarnya pemimpi Kobra yang sekarang, karena seingat mereka pemimpin Kobra terdahulu telah pensiun dan menghilang tanpa jejak.
Ternyata tidak mudah mencari informasi tentang sosok ini, ia juga tidak pernah menunjukkan wajahnya sehingga membuat mereka semakin kesulitan.
"Kalian merasa aneh gak sih sama ketua Kobra ini?" Tanya Ander yang membuat mereka semua langsung menoleh padanya.
"Aneh kenapa?" Tanya Yudha.
"Coba kalian pikirin deh, kalau informasi nya saja sangat sulit untuk di cari, dia pasti bukan orang biasa. Tapi yang gue liat waktu peperangan beberapa hari lalu dan saat di sekolah, dia terlihat seperti seorang pengecut dan hanya bisa membual."
Yudha dan lainnya mengangguk atas ucapan Ander, karena mereka juga merasakan hal yang sama. Seperti ada sesuatu yang janggal tentang hal ini.
"Pemimpin Kobra itu," Dion menggantung kalimatnya dengan nada misterius yang membuat mereka semua penasaran.
"Bukankah dia terlihat sangat membenci Sheilla, dan dia sepertinya tengah menargetkan Sheilla. Karena itu dia membuat Sheilla kehilangan orang yang dia sayangi."
Kini semua mata langsung tertuju pada Sheilla yang terdiam dengan tatapan kosong.
"Benar yang Dion katakan, ini semua karena aku. Dia menargetkan aku, tapi malah membuat mama kehilanganmu nyawanya."
Paham dengan apa yang tengah di pikirkan kekasihnya, Ryan langsung mengusap kepala Sheilla pelan. "Jangan memikirkan yang aneh-aneh, itu bukan salah kamu."
"Shei, sorry. Gue gak bermaksud buat ngomong gitu, gue cuma_"
"Gapapa, aku paham kok." Sheilla tersenyum tipis, dan itu membuat Dion semakin merasa bersalah karena sungguh ia tak bermaksud seperti itu.
"Sudahlah, lebih baik kita lanjut bahas hal lain dulu." RM menengahi, tak mau jika suasana menjadi canggung.
Mereka pun lanjut membahas hal-hal lain untuk menemukan siapa ketua Kobra yang sekarang ini, mereka harus menemukan dia secepatnya atau dia akan terus menjadi ancaman.
•
•
•
Sheilla sudah lama tidak berkumpul dengan Love dan teman-teman, maka hari ini ia memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama mereka sebentar. Ia juga mengajak Alena, karena ia tidak pernah di izinkan pergi jika tidak bersama keluarga, ARMI atau Ryan.
Mereka benar-benar mengetatkan penjagaan pada Sheilla karena mereka tahu jika Sheilla tengah menjadi incaran si ketua Kobra.
Sheilla sama sekali tidak menolak karena ya, hanya mereka kan yang menjadi temannya? Sheilla tidak punya teman lain selain mereka dan Love and the genk.
Mungkin karena Love and the genk tidak termasuk anak motor dan tidak terlibat dalam urusan ini, maka ketiga gadis cantik itu tidak di termasuk dari mereka yang diizinkan bersama Sheilla sesuka hati.
"Wah, sudah lama kita tidak berkumpul gini. Gimana kalau kita nyalon, seperti remaja perempuan pada umumnya."
Alena menggeleng ragu, begitu juga Sheilla. "Nyalon? Lo salah ngajak orang, Na." Love mendengus malas.
Nana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Memang apa salahnya dengan nyalon?"
Love memutar bola malas, "Nyalonnya gak salah, cuma Lo salah ngajak Alena dana Sheilla nyalon. Mereka tuh lebih suka balapan dari pada nyalon kayak gitu."
Nana hanya mengangguk-angguk saja seperti orang bodoh.
"Bukannya gak suka nyalon, cuma bosen aja gitu kalau nyalon." Sheilla memberikan Klarifikasi.
"Ya udah, gimana kalau kita nonton film aja? Aku dengar ada film baru yang baru tayang beberapa hari lalu," Usul Ara.
Alena mengangguk setuju, ya daripada nyalon kan, dia lebih baik nonton film yang Ara maksud walaupun ia sudah bisa menebak jika film itu pastilah film tentang percintaan.
•
•
•
Kini kelima remaja itu sudah berada di dalam bioskop, duduk di bangku paling depan ke tiga. Mereka hanya perlu menunggu film di mulai saja.
Popcorn ukuran super besar sudah Nana persiapkan, tak hanya satu. Namun ada lima popcorn dengan ukuran sebesar bocah usia 6 tahun.
"Woy, Lo gila ya Na?"
"Popcorn sebanyak ini siapa yang bakal ngabisin?" Alena tak habis pikir dengan gadis berambut pirang di samping nya ini.
"Udah, santai aja Al. Itu semua bakal habis di perut Nana, percaya deh sama gue," ucap Love.
Nana mengangguk, kemudian nyengir ketika Alena menatapnya heran. Gadis satu ini perutnya benar-benar bisa menampung makanan sebanyak apapun.
Film pun di mulai, mereka mulai menikmati film percintaan anak SMA itu dengan khidmat. Beberapa kali di buat melayangkan karena sikap manis si MC laki-laki.
Selama adegan film terus berlanjut, Sheilla tak menunjukkan ekspresi apapun. Entahlah, ia tidak tersipu atau bahkan berdebar melihat adegan-adegan romantis itu. Ia malah tersipu ketika mengingat perlakuan Ryan yang terkadang terlihat cuek, namun perhatian.
"Kenapa tidak tersipu, bukankah perlakuan laki-laki itu terlihat manis?" Suara yang terdengar di sebelahnya sontak membuat Sheilla menoleh.
Ia mengerutkan kening sesaat melihat siapa yang baru saja bicara, namun sesaat kemudian ia kembali fokus melihat ke depan. "Tidak ada yang bisa membuatku tersipu kecuali kekasihku."
"Oh, maksud mu laki-laki itu? Ketua Dark Black?"
Sheilla mengacuhkan laki-laki itu, tidak menjawab pertanyaan nya sama sekali.
"Cih, ku rasa cowok mu itu biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari laki-laki seperti itu."
"Berhenti bicara, ini bioskop!"
"Aku tidak mengatakan jika ini adalah studio musik."
Sheilla memutar bola matanya malas, berbicara dengan laki-laki seperti Jack ini sungguh membuat emosi terpancing saja.
Selanjutnya Sheilla hanya diam, sedangkan Jack masih tetap berkicau walau dengan suara berbisik. Laki-laki itu berhenti membuka mulutnya ketika seorang ibu-ibu yang duduk di sampingnya menegur dirinya.
•
•
•
Sheilla tidak tahu mengapa, bahkan ketika ia dan yang lainnya sudah keluar dari bioskop pun Jack memasih tetap mengikutinya. Benar-benar kuman merepotkan.
"Hei, siapa kau?! kenapa mengikuti kami?!" Nana kesal, laki-laki yang selalu berjalan di samping Sheilla itu terlihat seperti seorang penguntit.
Alena yang awalnya tidak memperhatikan karena sibuk bertukar pesan dengan RM pun akhirnya menoleh. "Lo bukannya yang di Hawai waktu itu?" Tanyanya dengan dahi berkerut.
"Hai nona cantik, lama tidak bertemu." Jack menyapa Alena, sedangkan perempuan itu malah berdecih kesal padanya.
"Kalian akan kemana setelah ini?" Itu Sheilla yang bertanya.
"Kita bakal ke restauran yang ada di mall ini dulu deh kayaknya, kenapa?" Jawab Ara.
Sheilla mengangguk sesaat, "Aku ingin kekamar mandi, nanti aku akan menyusul kalian."
Sheilla pun pergi, dan Jack ingin mengikuti nya namun kerah bajunya langsung di tarik oleh Alena. "Mau kemana Lo?!"
Jack menggeleng takut, Alena terlihat mengerikan dengan tatapan membunuh itu. "Nggak, gak mau kemana-mana."
"Kalau mau ikut, Lo ikut kita. Jangan berani-berani Lo ngikutin kakak gue ke kamar mandi." Alena menyeret Jack pergi diikuti yang lainnya.
•
•
•
Rasanya cukup melegakan setelah Sheilla membuat semua sisa makanan yang terkumpul di lubang analnya.
Kini gadis itu tengah mencuci tangan sebelum menyusul teman-temannya yang lain.
Ceklek...
Salah satu pintu kamar mandi terbuka, Sheilla sedikit terkejut melihat siapa yang keluar dari sana, namun setelahnya ia pun terdiam dan kembali mencuci tangan nya.
"Cih, dunia ini sempit sekali. Tidak bertemu di sekolahkan, aku malah bertemu gadis menjijikkan seperti mu di toilet mall." Gadis itu mencuci tangan di samping Sheilla.
Sheilla hanya diam, ia berusaha tenang supaya tidak melakukan kekerasan pada gadis itu. Namun sepertinya gadis itu tidak akan pernah menutup mulutnya jika ia tidak segera menjahit mulut si*lan itu.
"Aku rasa Ryan benar-benar buta karena memilih perempuan seperti mu menjadi kekasihnya."
"Kau iri?"
"Iri? tidak ada yang bisa membuatku iri dengan gadis menyedihkan seperti mu."
Sheilla terkekeh pelan, "Tidak ada? benarkah?" Ia menatap remeh gadis itu. "Aku memilih Ryan, aku memiliki kasih sayang keluarga nya. Itu saja cukup untuk membuatmu iri dengan ku."
"Kau?!" Aya menatap Sheilla tajam.
Mengusap tangan nya dengan tisu, Sheilla melemparkan tisu sisa tangan nya itu tepat di wajah Himalayya.
"Berkacalah, dan kamu akan melihat siapa perempuan yang menjijikkan sebenarnya."
Sheilla meninggalkan Aya yang terlihat marah di kamar mandi begitu saja.
"Gue bakal pastiin, Lo bakal sangat menderita nantinya."
ikutan sedih,,,soal ny penjahat asli ny lom tahu ad dendam ap sma sma sheilla trus kn kayak sembunyi d balik layar gthu,,,,
ryan keren,dh kayak pangeran berkuda besi ajj,,,🤭🤭🤭