Di usia yang tak dikatakan muda, Amaira Husna selalu didesak untuk segera menikah. Alih-alih berkeluh-kesah kepada sahabatnya, Reynand. Menceritakan kegalauannya tentang bagaimana cara mengambil sikap sebab orangtuanya telah mencarikan jodoh untuknya, justru dia mendapati hal yang tak pernah dia sangka.
Salahnya yang bercerita atau inilah solusi satu-satunya untuk menolak jodoh dari orangtua. Sebab Reynand datang di hari yang sama bertepatan disaat tamu orangtuanya tiba. Reynand datang mengutarakan niat untuk melamarnya.
Akankah Amaira menerima tindakan konyol Reynand, yang notabenenya berstatus sahabat dengan hubungan yang jelas tanpa dilingkupi adanya cinta.
Atau terpaksa menerima dan menganggapnya sebatas solusi yang malah berbuntut frustasi akibat keputusannya?
Tpe-
20-09-2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Jam kantor telah usai, namun rasanya aku enggan untuk pulang ke rumah lebih dulu. Jadi kali ini aku sempatkan untuk mampir ke sebuah Caffe, tujuanku adalah ingin bersendiri. Sebab sejak kejadian kemarin perasaanku sedikit gundah dan juga merasai kesal yang berkecamuk di dalam dada.
Memikirkan statusku telah menikah pada sahabatku sendiri, hidup bersamanya dalam satu atap. Tapi kan gak berarti hidupku harus sesuai dengan kehendaknya.
Padahal aku sendiri sudah mengatakan pernikahan ini hanya sebatas status, tapi kenapa dia seenaknya saja mengaturku.
Pandanganku pun kini beralih pada cincin yang Reynand selipkan seusai akad. Ini hanya status semata. Kini statusnya pun telah menjadi suamiku. Kalau arti dari pernikahan yang sebenarnya peran suami adalah memimpin. Tapi beda halnya dengan apa yang terjadi dalam padaku.
Kupejamkan mataku dan menarik nafas dalam-dalam. Apa bisa jadi Reynand bertindak demikian semata-mata hanya sebagai rasa tanggungjawabnya pada Papa yang telah memasrahkanku padanya, pikirku.
Aku menghela napas lalu meneguk minumanku sebelum beranjak memilih untuk pulang.
Namun aku terkejut, ksla aku sudah sampai di depan rumah. Rumah masih dalam keadaan gelap, padahal sekarang sudah jam sebelas malam lebih. Mobil Reynand pun juga tidak ada di garasi.
Aku merogoh ponsel yang ada di dalam tas, namun tidak ada pesan maupun panggilan telfon dari Reynand.
"Apa dia semarah itu," gumamku.
Kemudian aku memasuki rumah berlanjut membersihkan diri. Keesokan harinya saat aku bangun dan mengecek ke kamarnya maupun diluar rumah tak terdapat tanda-tanda Reynand pulang. Garasi masih tetap kosong, hanya mobilku saja yang terparkir disana.
"Inikah balasan atas penolakanku kemarin. Kekanak-kanakan sekali," desisku.
"Jadi, semalam aku tidur sendirian dirumah ini" ucapku kesal.
***
Akupun sampai saat ini juga tak mau menghubungi Reynand. Aku masih keukeh pada pendirianku, karena diapun juga tak memberi satu kabar apapun kemana dia pergi.
Padahal semenjak hari itu, sudah terhitung dua hari berlalu, jadi sudah dua malam pula aku sendirian berada dirumah.
Keterlaluan sekali kamu Rey!
Gak usah pulang aja sekalian!
Biar rumah ini sekalian aku jual! gerutuku kesal.
Aku duduk disofa ruang tamu, menimang-nimang ponselku, lalu jempolku mulai men-scholl naik turun mencari kontak yang bertuliskan nama Reynand.
Setelah menimbang - mengukur - mengulur waktu juga menunggu yang sampai dua hari ini Reynand pergi tanpa kabar, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi nomor telponnya.
Setelah dicoba dan menunggu tapi kenyataannya tiada hasil. Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif cobalah beberapa saat lagi, dan saat dicoba lagi, hasilnyapun sama, cuma coba lagi.
Tak menyerah. Aku mencoba menghubungi keluarga Reynand yakni Om Danu. Tapi beliau mengatakan Reynand tidak sedang berada disana.
Aku juga menghubungi teman maupun tempat dia bekerja, tapi mereka mengatakan Reynand sedang tidak berada dikantornya.
"Jadi kemana perginya Reynand?" gumamku.
Akupun hanya menungguinya diruang tamu. Berbaring disofa, dan mungkin saja sebentar lagi dia akan pulang, pikirku.
Tapi terlintas pula pikiran-pikiran buruk. Karena malam semakin larut. Aku takut dan cemas jikalau ada hal-hal tak baik yang tengah menimpa dirinya.
"Rey, pulanglah" gumamku yang kini berbaring disofa yang tanpa sadar menitikkan air"
Pulang Bang!!! ditunggui sama mbak Ira !!
Reader's adakah yang pernah kayak gini ??
😣
To be continue