21+
[Penuh dengan adegan dewasa yang explicit (jelas), pertengkaran, alkohol, kata-kata kasar, dan gaya hidup bebas]
Sebuah cinta segitiga yang menghadapkan Kenny Charlotte Cullen pada sebuah kisah yang penuh amarah, nafsu, cinta, tawa, dan tangis dengan dua pria yang benar-benar mencintainya dengan cara yang berbeda.
-Kau adalah kelemahanku-
~Scout Damian Sharp
-Aku bertahan karena tanpamu aku tidak tau bagaimana caranya hidup-
~Harry Julio Smith
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan
Happy Reading.
****
Kenny POV
"Trims." ucapku setelah Edward memberiku secangkir kopi.
"Tidak masalah..."
Aku menyandarkan punggungku pada sandaran sofa yang nyaman dan menghirup aroma kopi yang menenangkan. Sangat sempurna.
"Kau nampak sangat tertekan beberapa hari ini." aku menatap Edward dan tertawa canggung akan pertanyaanya.
"Hanya sedikit masalah di rumah." ucapku seadanya.
"Berkelahi dengan orang tua?"
Sial.
Mana mungkin aku menjawab, orangtuaku sudah meninggal dan aku sudah menikah. Itu terlalu pribadi dibicarakan dengan orang yang baru kau kenal.
"Hehe.... Sudah berapa lama kau bermain musik?"
"Aku terlahir dari keluarga musik....."
Begitulah aku mendengarkan kisah Edward. Bagaimana dia begitu menyukai musik, apa arti musik baginya, dan lainnya yang membuatku sangat antusias. Suara barittonnya yang nyaman, tawanya yang manis, dan sifatnya yang benar-benar baik. Dia benar-benar sempurna.
***
"Harry...." Lolita menggoyang tubuh Harry yang berbaring seharian penuh di tempat tidur. Setelah kejadian tidak mengenakkan semalam, Lolita memilih menginap.Tidak ada yang tau apa yang terjadi pada Harry di sini jika sendirian. Siapa tau dia bunuh diri.
"Harry.... Ayolah..." Lolita mencoba menarik tubuh Harry yang tengkurap di kasur. Persetan, pikir Lolita. Dia segera berbaring di samping Harry dengan menjaga gips pada lehernya.
Mata Lolita menerawang menatap langit-langit. Betapa semuanya menjadi sangat rumit. Andai Lolita memiliki ramuan untuk melupakan seseorang, dia bersedia memberikan apa pun untuk ramuan itu, hanya untuk menghilangkan Kenny dari ingatan Harry.
"Kenapa kau menyiksa dirimu, Harry. Buatlah semuanya simpel. Dia tidak suka, maka berhentilah. Jika berusaha terus, yang ada hanya sakit hati."
"Bagaimana denganmu?" Lolita terkejut dengan ucapan pertama Harry setelah satu harian ini. Dia ingin memalingkan wajah, namun terhalang gips.
"Maksudmu?"
"Kau mengerti maksudku."
Lolita mengigit bibirnya dan paham betul kalimat pengusiran Harry padanya. Tidak boleh ada air mata lagi. Pikirnya. Dia menarik napas. Menahan gejolak sakit di dadanya.
"Aku tidak bisa...."
"Begitu juga denganku, Lolita. Aku tidak bisa berhenti untuk Kenny. Sekeras apa pun aku mencobanya."
"Aku akan pulang...." Lolita tidak sanggup mendengar ini lagi. Dia bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar
"Lolita, aku serius dengan perkataanku. Menyerahlah."
Lolita berhenti sejenak. Dia melipat bibirnya menjadi garis keras. Tetap tenang Lolita. Tetap tenang. Rapal Lolita dalam hatinya.
"Harry, aku memasak makanan tadi. Panaskan saja dengan microwave. Kita bicara lagi nanti..." dengan itu Lolita segera bergegas pergi sebelum dia menangis dan mempermalukan dirinya sendiri.
***
"Lakukan yang benar, Edward!...." Jenn mengumpat dalam ponselnya.
"Dia menutup dirinya." ujar di seberang.
"Terserah, sialan. Intinya lakukan apa pun caranya. Dan bila saatnya tiba, kabari aku."
"Yah..."
"Aku serius, lakukan secepatnya atau studio sialanmu itu ku tutup." Jenn semakin marah mendengar jawaban setengah hati itu.
"Baiklah... Baik.."
Jenn menutup panggilan dan menarik napas perlahan. Semua akan baik-baik saja, bukan? Dia melihat kasurnya yang menyedihkan, padahal dia menginginkan Scout bisa berbaring di sini dengannya. Namun, hanya angan-angan semata.
Pikirnya, jika dia sudah di rumah ini semua akan berjalan mulus, tetapi tidak. Yang ada, kesabaran Scout untuk Kenny sangatlah luar biasa. Bahkan, setelah si sialan itu ketahuan berduaan dengan pria lain.
Akan tetapi, dia harus berpikir positif.Hanya menunggu waktu. Dia mengenal Scout dengan baik, batas kesabaran Scout sudah di puncak. Hanya sedikit kesalahan, maka Scout akan meledak. Meledakkan amarahnya. Dan Jenn sangat menunggu saat itu datang.
****
Kenny POV
"Sarah..."
"Yes, Mrs?" Sarah melirik sekilas padaku melalui kaca spion.
"Ummm... Kau tau Scout di mana? Aku menghubunginya seharian ini. Apa dia pergi dinas?"
"Saya kurang tau, Mrs. Yang pasti, beliau tidak pergi dinas."
Aku menarik napas lega. Selega ini mengetahui dia tidak pergi ke mana-mana. Aku melemaskan punggungku. Ini membahagiakan dan benar-benar melegakan.
"Anda nampak bahagia, Mrs."
"Benarkah?" aku tertawa canggung. Kenapa aku sebahagia ini?
"Yes, Mrs. Saya senang akan itu."
"Bisakah kita pergi ke toko anggur(alcohol)?"
"Untuk apa, Mrs?"
"Saya ingin membeli hadiah untuk Scout"
****
Tengah malam sudah lewat.Aku sudah menunggu Scout sekian lamanya sejak tadi. Aku berusaha tidur, tetapi tidak bisa.
Aku bangkit dari tidurku dan duduk di kasur. Aku melihat ponselku. Pesanku sudah di terima, tetapi belum di baca Scout. Aku memandang anggur yang kubeli tadi, padahal aku ingin sekali memberikannya untuk Scout.
Aku memakai swetarku dan sendalku untuk berjalan ke luar kamar. Aku memeriksa ruangan kerjanya. Nihil. Lalu ke perpustakaan, juga tidak ada. Lalu memeriksa setiap kamar dan ruangan di rumah ini, tetapi nihil. Aku kehabisan ide. Lalu saat melewati kamar Jenn, pikiran mengerikan itu menampar wajahku. Apa dia di sini? Sial. Tidak mungkin.... Sebenarnya mungkin saja. Aku menggeleng kepala keras-keras, menolak percaya walau setengah hatiku mengatakan dia ada di sana. Aku perlu mengecek satu ruangan lagi
Aku berjalan cepat menuju pintu samping yang menghubungkan rumah dan parkiran, tetapi itu terkunci. Aku mencaei kunci, namun tak ada.Ahk.. Ini membuatku frustasi.Masih ada satu pintu lagi.
Aku menuju pintu samping di dapur dengan cepat, keluar dari rumah, dan mengitari halaman Scout yang luas, hanya untuk ke parkiran. Aku berjalan semakin cepat saat merasakan udara dingin menembus pakaian hingga tulangku. Astaga.
Aku menggigil. Aku segera membuka pintu dan menyentuh dinding yang dingin untuk menyalankan lampu. Dan.. Yap.. Aku melihat koleksi mobil Scout yang banyak, dasar ba*jiangan kaya.Aku mulai menghitung jumlah mobilnya yang kuhapal mati.
".....13...14...." Aku segera menggigit kukuku dengan gugup. Ini lengkap. Bahkan sepeda motornya pun lengkap. Sial. Artinya, dia memang di kamar Jenn. Aku menarik napas dan mataku mulai pedih.
Aku memaksa diriku untuk tidak menangis. Aku terlampau sering menangis. Kuatkan hatimu, Ken.. Luka yang lebih menyakitkan dari ini sudah kurasakan, tak apa, semua akan baik-baik saja.
Saat aku akan mematikan lampu, aku mendengar suara batuk. Batuk itu berulang sangat sering. Aku segera berlari dan mencari sumber itu seraya memanggil nama Scout. Aku mendapati sumber suara itu, namun aku tidak bisa melihat apa-apa karena kaca hitamnya. Aku membuka pintunya, itu terbuka.
"Oh,... Scout..." Aku melihat dia berbaring di kursi pengemudi yang di senderkan dan bau alkohol memenuhi mobil dan mataku menatap tiga botol alkohol di mobil. Sial. Wajahnya memucat karena udara yang dingin ini. Sudah berapa lama dia begini? Sebanyak apa yang dia minum?Aku segera membuka sabuk pengamannya. Sialan, Scout.
"Ayo bangun, pria besar..." aku menarik-narik tubuhnya yang berat.
"Ken..." bisiknya parau
"Apa?! Cepat bangun sialan!!" aku berteriak marah.
"Ken.." suaranya semakin parau, jangan bilang dia mau mengucapkan salam perpisahan terakhir? Jangan mati dulu, sialan.
"Bangunlah, ayo tidur di rumah."
"Aku tidak suka rumah tanpamu Ken. Aku tidak bisa tidur tanpamu." Aku menghentikan aktivitasku mendengar rengekan Scout dan menatap matanya yang terbuka menatapku. Itu penuh luka. Dan itu menyakitiku.
"Bangunlah, kita akan tidur bersama."
"Sampai kapan? Pada akhirnya kau akan pergi lagi dan lagi..." Aku menatap matanya yang tertutup. Air mata mengalir dari sisi wajah kirinya, hatiku sakit melihatnya. Secara naluriah, aku segera mengecupnya.
"Kenapa? Kenapa kau ingin aku tidak pergi?"
Raut wajah Scout berubah, garis kasar dan keras terbentuk di dahinya. Bibirnya bergetar. Dan air mata itu turun lagi saat dia membuka mata dan menatapku.
"Aku mencintaimu, Ken.. Aku sangat mencintaimu, melebihi apa pun yang ada di dunia ini"
"Scout..." aku berusaha tidak ikut menangis.
"Kau kelemahanku, Kenny. Kumohon, tinggallah selamanya denganku
****
Maaf lama update, soalnya tugas+ujian+ dan bla" sangat padat.. huhu.. Sorry Guyss
Mrs.Fox