NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: MISI PENGAWALAN KATERING

Pagi itu, briefing di ruang komando terasa sedikit... berbeda. Biasanya, layar hologram menampilkan peta wilayah musuh, grafik radiasi, atau simulasi serangan teroris. Hari ini, yang terpampang besar di tengah ruangan adalah gambar butiran biji-bijian berwarna keemasan yang bersinar lembut.

"Golden Grain," jelas Komandan Varen dengan wajah serius, seolah sedang membahas strategi nuklir. "Ini adalah hasil panen percobaan dari Sektor Hidroponik 7. Kandungan nutrisinya lima kali lipat dari makanan sintetis biasa. Ini adalah harapan bagi ribuan anak di Panti Asuhan 'Mentari Baru' yang selama ini hanya mendapat jatah protein blok tawar."

Dia menoleh ke arah Squadron Aurora. "Misi kalian hari ini sederhana tapi krusial: Mengawal pengiriman satu truk kontainer Golden Grain dari gudang pusat ke panti asuhan. Jaraknya hanya 15 kilometer, melewati zona industri tua. Intelijen kami mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan dari kelompok pencuri teknologi bernama 'The Scavengers'. Mereka ingin mencuri bahan ini untuk dijual di pasar gelap dengan harga selangit."

Varen berhenti sejenak, tatapannya tajam. "Ingat, muatan ini lebih berharga daripada nyawa kalian. Jangan sampai satu butir pun hilang."

"Siap, Pak!" seru mereka serempak.

Tapi begitu keluar dari ruang briefing, ekspresi Bimo berubah total. Wajahnya yang biasanya santai kini tegang luar biasa. Tangannya terus-menerus mengepal dan membuka, seolah menahan keinginan untuk langsung berlari ke truk.

"Bim, lo oke?" tanya Raka sambil memeriksa magnum laser-nya. "Lo kelihatan lebih stres daripada saat kita hadapi anjing mutan kemarin."

"Ini bukan cuma misi, Rak," gumam Biko, suaranya rendah tapi penuh tekanan. "Itu makanan. Makanan beneran buat anak-anak. Kalau sampe jatuh ke tangan pencuri... mereka bakal jual mahal, dan anak-anak itu bakal kelaperan lagi."

Elara menepuk bahu Bimo. "Tenang, Bim. Kita nggak bakal biarin itu terjadi. Rencana standar: Kai ambil posisi di drone pengintai, aku dan Raka di sisi kiri-kanan truk, kamu... ya, kamu jadi benteng di belakang truk. Oke?"

"Oke," jawab Bimo singkat. Tapi matanya masih menatap truk pengangkut itu dengan tatapan protektif yang berlebihan, seolah truk itu adalah bayinya sendiri.

Mereka berangkat. Truk besar berwarna putih bersih itu melaju pelan di antara gedung-gedung pabrik tua yang sudah ditinggalkan. Suasana hening, terlalu hening. Angin berdesir lewat celah-celah jendela pecah, membawa debu besi.

"Kai, laporan," bisik Elara via komunikator.

"Area bersih," jawab Kai dari atas drone yang melayang tinggi. "Tapi... tunggu. Ada panas mesin terdeteksi di balik reruntuhan gudang sektor C-4. Tiga... tidak, lima target. Mereka menyergap!"

Sret!

Tiba-tiba, dari dua sisi jalan, muncul kendaraan hover modifikasi berwarna hitam legam dengan duri-duri logam. Sekelompok pria bertopeng dengan senjata perangkap listrik melompat turun, mengepung truk.

"Berhenti! Serahkan kargonya atau kami hancurkan truk beserta isinya!" teriak pemimpin mereka melalui pengeras suara.

"Posisi pertahanan!" perintah Elara sigap.

Raka dan Elara segera menembakkan laser peringatan ke arah ban kendaraan musuh, memaksa mereka mundur sedikit. Tapi musuh itu banyak dan agresif. Mereka menggunakan alat peretas portabel untuk mencoba membajak sistem kemudi truk dari jarak jauh.

"Truk mulai oleng!" teriak Raka. "Mereka coba ambil alih kendali!"

"Aku coba blokir sinyalnya!" Kai panik mengetuk-ngetuk tabletnya, tapi serangan siber musuh terlalu kuat.

Di tengah kekacauan itu, satu kelompok pencuri berhasil menerobos garis pertahanan Raka dan Elara, lari mendekati pintu belakang truk dengan alat pemotong laser canggih.

"Mereka mau buka pintunya!" seru Elara. "Bimo! Cegah mereka!"

Biasanya, Bimo akan menyerbu dengan tinju besinya, menghajar musuh sampai pingsan dalam satu pukulan. Tapi kali ini, dia melakukan sesuatu yang sama sekali tidak terduga.

Saat seorang pencuri mengayunkan alat pemotong laser ke arah gagang pintu truk, Bimo tidak menyerang orang itu. Sebaliknya, dia melempar dirinya sendiri ke depan pintu tersebut.

Tang!

Sinar laser mengenai lengan baju seragam Bimo, tapi dia tidak bergeser sedikitpun. Dia berdiri tegak, membentangkan kedua tangannya lebar-lebar menutupi seluruh pintu belakang truk, menjadi perisai hidup.

"Mundur dari kargoku!" geram Bimo, suaranya menggelegar lebih keras dari mesin truk. Matanya melotot, penuh amarah yang jarang terlihat. "Kalian nggak bakal sentuh satu butir pun!"

Para pencuri terkejut. "Hei, minggir raksasa! Atau kami tembak!"

"Coba saja!" tantang Bimo.

Salah satu pencuri menembakkan pistol kejut listrik ke arah Bimo. Zzt! Listrik biru menyambar tubuhnya, tapi Bimo hanya menggeram, kakinya mencengkeram tanah seperti akar pohon raksasa. Dia tidak mundur. Dia bahkan melangkah maju, mendorong si penembak hingga terjatuh.

Tapi aksi paling gila belum terjadi.

Melihat musuh mulai mengelilinginya, Bimo tiba-tiba berlari ke samping truk, meraih sebuah objek besar yang tergeletak di dekat roda cadangan. Itu adalah wajan raksasa berbahan baja tebal, sisa prototipe peralatan dapur lapangan yang dulu pernah dibuang markas karena terlalu berat untuk dibawa prajurit biasa. Bagi Bimo, itu sempurna.

Dia mengangkat wajan seberat 50 kilogram itu dengan satu tangan seolah itu terbuat dari plastik, lalu memegangnya di depan dada seperti perisai kapten Amerika di film-film lama.

"Ayo coba tembus ini!" teriak Bimo menantang.

Seorang pencuri menembakkan peluru plasma. Blam!

Peluru itu menghantam permukaan wajan baja, memantul liar ke arah langit dan meledak di udara tanpa melukai siapa pun.

"Wah, gila..." desis Raka yang sedang bertarung di sisi lain, sempat lupa menembak musuh karena takjub. "Dia pakai wajan sebagai perisai anti-plasma?"

"Serang dia rame-rame!" perintah pemimpin pencuri frustrasi.

Lima pencuri sekaligus menyerang Bimo, menghujani wajan itu dengan berbagai jenis senjata energi. Blam! Blam! Zzt! Prang!

Suara dentuman logam bergema di seluruh lorong pabrik. Tapi Bimo tetap diam di tempat, kakinya menancap kuat, wajahnya merah padam karena menahan dampak ledakan, tapi matanya menyala dengan tekad baja. Dia tidak membiarkan satu pun serangan menyentuh pintu truk di belakangnya.

"Kalian pikir kalian bisa mengambil makanan anak-anak lapar?!" teriak Bimo di sela-sela dentuman. "Mimpi basah!"

Tiba-tiba, dengan gerakan cepat, Bimo mengayunkan wajan raksasa itu bukan untuk menangkis, tapi untuk menyerang. Wussh!

Angin tekanan tinggi tercipta dari ayunan wajan itu, menghempas tiga pencuri sekaligus hingga terbang menabrak tembok. Dua lainnya panik melihat "raksasa berwajan" itu melangkah maju mengancam.

"Mundur! Orang ini gila!" teriak mereka, lalu lari kembali ke kendaraan hover mereka dan kabur meninggalkan lokasi.

Debu perlahan mereda.

Bimo masih berdiri di sana, napas tersengal-sengal, asap tipis keluar dari permukaan wajan panas yang dipegangnya. Seragamnya hangus di beberapa bagian, wajahnya penuh jelaga, tapi dia masih utuh. Dan yang paling penting, truk di belakangnya aman. Pintu belakang bahkan tidak tergores.

"Bim..." Raka berjalan mendekat, matanya membelalak tak percaya. "Lo... lo baru aja ngalahin lima orang bersenjata lengkap cuma modal wajan bekas?"

Bimo menurunkan wajan itu pelan, tangannya gemetar sedikit karena adrenalin. Dia menoleh ke arah truk, memastikan tidak ada kerusakan, lalu menghela napas lega. Senyum lebar kembali merekah di wajahnya yang kotor.

"Alat dapur itu multifungsi, Rak. Kata Pak Harun dulu, koki yang baik harus bisa melindungi bahannya sampai jadi masakan."

Kai mendaratkan dronenya, tertawa terbahak-bahak sambil mengusap air mata. "Gila! Itu tadi epik banget! 'Perisai Wajan Aurora!' Kita harus rekam itu buat arsip!"

Elara, yang biasanya paling tenang, hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum bangga. Dia berjalan ke arah Bimo, menepuk debu di bahu temannya itu. "Kerja bagus, Bimo. Kamu menyelamatkan misi ini. Lebih dari itu, kamu menyelamatkan harapan ratusan anak."

Bimo tertawa kecil, agak malu dipuji setinggi itu. "Ah, nggak juga. Cuma refleks aja. Soalnya... kalau makanan itu hilang, rasanya kayak dunia bakal runtuh lagi kayak dulu."

Raka menatap Bimo dalam-dalam. Dia mengerti sekarang. Bagi Bimo, wajan itu bukan sekadar besi. Itu adalah simbol janji pada Pak Harun. Itu adalah benteng terakhir antara masa lalu yang kelaparan dan masa depan yang penuh harapan.

"Ayo kita lanjutkan perjalanan," ajak Elara. "Anak-anak di panti sudah menunggu."

Mereka kembali naik ke kendaraan masing-masing. Bimo duduk di bagian belakang truk kali ini, memeluk wajan raksasanya erat-erat seperti boneka kesayangan, siap menghadapi ancaman apa pun yang mencoba mendekati "emas cair" milik anak-anak itu.

Perjalanan sisa menuju panti asuhan berlangsung lancar. Langit mulai cerah, seolah merayakan kemenangan kecil sang koki raksasa. Tidak ada yang tahu bahwa di kejauhan, badai sesungguhnya sedang mengumpulkan awan hitamnya. Tapi untuk saat ini, di atas truk pengangkut makanan itu, ada empat pahlawan yang percaya bahwa kebaikan—dan wajan baja—selalu menang.

Dan bagi Bimo, ini baru permulaan. Misi sebenarnya baru akan dimulai saat dia bertemu dengan wajah-wajah yang butuh kehangatan itu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!