Menikah muda tidak selalu berakhir dengan tragis, meskipun banyak yang berjalan tak manis. Semua itu hanya tentang bagaimana kita menyikapi dan mempertahankannya.
Jadi, tidak perlu takut untuk menikah muda, karena tidak semua pernikahan berakhir dengan kegagalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Brownis Keju
Karena kadang mode cemburu perempuan hamil itu naik kepermukaan hanya karena sebuah pesan yang dikirim oleh salah satu perempuan penggemar Pandu. Lyra semakin sering meminta untuk ikut ke kampus, menunggu Pandu hingga jam kuliah laki-laki itu selesai.
Luna atau Devi-lah yang kadang bergiliran menemani Lyra di kantin atau pun di taman hingga Pandu menyelesaikan kelasnya.
Tidak jarang Lyra menghampiri perempuan yang mendekati Pandu dan langsung bermanja pada sang suami, kerena itu adalah cara pengusiran yang paling halus menurut Lyra sendiri, apa lagi dengan keadaan perut buncit yang tidak memungkinkannya untuk menyeret atau pun menjambak siapa saja yang menggoda suaminya.
Pandu jelas tidak pernah keberatan, karena dengan begitu membuat semua warga kampus terutama kaum perempuan tahu bahwa Pandu sudah menikah, begitu juga para laki-laki yang memang sejak wanita itu kuliah sudah menjadi incaran beberapa laki-laki seangkatan atau pun kakak tingat.
Di siang hari minggu ini Pandu dan Lyra tengah menonton tayangan televisi, sebuah drama romantis yang baru-baru ini Lyra sukai. Sebenarnya Pandu kurang menyukai, tapi demi menemani sang istri tercinta Pandu rela duduk bosan asal dapat memeluk tubuh yang tak lagi ramping itu. Dan seperti kebiasaan, Lyra menyandarkan kepalanya di dada keras milik Pandu untuk bermanja.
“Yang, aku gak nyangka benget akan segera menjadi seorang ayah di usia yang baru akan menginjak 20. Dulu aku berpikir bahwa mungkin aku akan menikah pada saat usiaku di atas 25 tahun atau mungkin 30, tapi lihatlah, karena perjodohan itu, aku malah sudah akan menjadi ayah di usia semuda ini," Pandu berucap seraya mengelus lembut perut buncit Lyra.
“Dulu, Papa bilang bahwa perjodohan ini tidak di dasari apa pun, makanya mereka gak maksa untuk aku atau pun kamu menolak. Mereka hanya ingin menyatukan kita, Mama bilang aku terlalu tertutup dan jarang berekspresi, makanya jodohin aku sama kamu yang bar-bar ini.” Pandu menjelaskan, sesekali terkekeh kecil mengingat bagaimana dulu Bayu dan Ratih menyebutkan alasan mereka menikahkan keduanya yang tak masuk akal.
“Apa kamu menyesal?” tanya Lyra dengan menatap Pandu serius. Cepat laki-laki itu menggelengkan kepala dan mengecup kening sang istri.
“Aku justru bahagia. Aku bahagia karena akan menjadi seorang ayah, dan lebih bahagia lagi karena kamu yang menjadi ibu dari anak-anakku. Aku beruntung dapat istri seperti kamu yang dapat merubah hidup aku menjadi berwarna seperti sekarang ini.” Pandu berkata dengan senyum yang terukir, melayangkan kecupan pada kening Lyra dan lengannya masih asik mengelus perut besar wanita itu dengan lembut. Desiran hangat merambat kehatinya saat sebuah tendangan dapat Pandu rasakan.
“Maaf, dulu aku sempat menyia-nyiakan kamu, menghianati kamu dan membuatmu menangis,” sesal Pandu sungguh-sungguh.
Lengan mungil Lyra menyentuh wajah Pandu, menyeka sudut mata laki-laki tampan itu yang terdapat setitik bulir bening. “Aku udah maafin kamu sejak dulu, sayang. Udah, ya, jangan bahas masalah itu lagi. Yang penting sekarang, kamu janji tidak akan melakukannya lagi, dan akan menjadi ayah yang baik buat baby, juga jadi suami yang baik dan sayang pada keluarga.” Lyra berkata dengan lembut. Mendaratkan kecupan singkat pada bibir tipis Pandu dan tersenyum manis.
“I love you sayang, aku sangat mencintaimu.” Pandu kembali mendaratkan kecupan pada kening Lyra cukup lama kemudian menyibak blus yang Lyra kenakan hingga menampilkan perut buncit itu dan mendaratkan kecupannya disana.
“I love you baby. Sehat-sehat di dalam perut Bunda ya, Nak. Ayah menunggu kehadiranmu.” Lagi kecupan Pandu daratkan di perut Lyra berkali-kali hingga satu tendangan ia rasakan tepat saat bibirnya menyentuh kulit perut besar Lyra, membuat keduanya tertawa.
“Baby-nya gak mau kamu cium-cium terus kali,” ucap Lyra di tengah kekehannya. Lagi Pandu mendaratkan kecupan pada perut buncit itu dan kembali juga sebuah tendangan Lyra rasakan pada kulit perutnya.
“Jangan tendang-tendang gitu dong baby, Bundanya kesakitan tuh,” bisik Pandu pada perut Lyra, saat mendapati istrinya meringis kecil. Usapan lembut Pandu berikan hingga bayi yang masih bersemayam di dalam perut Lyra tenang dan tidak lagi melayangkan tendangan.
🍒🍒🍒
Tidak terasa hanya tinggal dua bulan lagi, Lyra dan Pandu akan menjadi orang tua baru. Kebahagian jelas terlukis di wajah keduanya juga di wajah Linda dan Ratih yang sudah tidak sabar menunggu cucu pertama mereka. Panji sudah menikah satu bulan yang lalu dan kini sudah tinggal terpisah, berdua dengan Laras sang istri, sedangkan Levin melanjutkan S2-nya di Australia dan statusnya masih jomlo.
Leon beberapa waktu lalu sempat protes, karena tidak ingin di panggil kakek oleh anak Lyra nanti, percekcokan yang di tambahkan dengan sedikit drama antara Lyra dan Leon mendapat respons berupa gelengan kepala dan tepukan jidat dari yang lainnya termasuk Linda, yang sudah sangat dongkol pada sang suami yang tidak juga mau mengalah.
“Pokoknya Daddy nanti gak mau, ya, di panggil kakek. Kamu 'kan tahu Princess, Daddy itu masih muda, masih gagah, ganteng, dan yang jelas Daddy juga masih bisa berikan kamu seorang adik.”
“Daddy, Princess udah bisa bikin anak sendiri, dan gak butuh lagi Daddy untuk memberikan Princess seorang adik. Kasian nanti yang jadi adik Princess, di usianya yang baru masuk SD, Papa-nya malah udah reot, dia bakalan malu Daddy!”
Linda yang sudah pusing langsung menarik Leon menjauh untuk menghentikan perdebatan yang sama sekali tidak bermutu itu, membuat Ratih dan Bayu menghela napas lega begitu juga dengan Pandu. Entah harus bersyukur atau malah sebaliknya Pandu mendapatkan mertua seperti Leon yang bahkan kadang tidak lebih dewasa dari anak usia tujuh tahun.
☺☺☺
Sejak tadi Pandu sibuk berkutat di dapur seorang diri, dapur yang awalnya rapi dan bersih, kini berubah bagaikan kapal pecah, tepung yang berhamburan, gula yang berceceran juga perabotan kotor akibat terkena adonan kue yang tengah Pandu buat.
Lyra yang meminta sang suami untuk membuatkan brownies keju hanya santai-santai duduk di kursi makan sambil mengemil kripik ubi, tidak perduli dengan Pandu yang kesusahan dan tidak juga berniat untuk membantu.
Tidak sedikit pun Lyra merasa terganggu dengan kekacauan yang suaminya buat, sangat berbeda dengan Bi Nani yang sudah ketar-ketir melihat daerah pribadinya yang sudah tidak berbentuk. Inginnya Bi Nani segera membereskan kekacauan tersebut, tapi Lyra dengan cepat melarang dan menyuruh ART-nya itu untuk duduk menemaninya.
“Akhirnya selesai,” ujar Pandu menyeka keningnya yang berkeringat setelah memasukan satu Loyang adonan kue ke dalam oven untuk di panggang.
“Den Pandu pokoknya Bibi gak mau tahu, ya, ini dapur harus bersih lagi seperti sediakala!” kata Bi Nani dengan wajah frustasi.
“Tenang Bi, nanti Pandu beresin kok, tapi sekarang istirahat dulu, ya, Pandu capek.”
“No, sayang kamu harus beresin ini sekarang, ya, baby-nya gak suka lihat berantakan gini,” ucap Lyra cepat sebelum sempat Pandu duduk.
“Tapi, Yang ak…”
“Sekarang, Pandu!”
Helaan napas lelah juga pasrah Pandu keluarkan dan mulai membersihkan semua kekacauan yang di buatnya sendiri, lagi Lyra hanya menonton sambil sesekali menunjuk-nunjuk bagian mana yang harus Pandu bersihkan.
Bersamaan dengan matangnya Brownis keju yang Pandu buat, dapur sudah kembali bersih dan menerbitkan senyum di bibir Bi Nani. Pandu mengeluarkan kue buatannya dari dalam oven, lalu memindahkan ke dalam piring, memotong-motong dan memberikan taburan keju yang banyak seperti yang Lyra inginkan. Puas dengan hasilnya, barulah ia berikan pada Lyra yang masih duduk di meja makan.
“Nih brownies kejunya, habisin,” ucap Pandu seraya menyodorkan piring berisi kue tersebut ke depan Lyra.
“Enak gak?” tanya Lyra ragu saat melihat bagaimana penampilan brownis keju buatan Pandu.
“Ya jelas enak-lah sayang, kan aku yang buat, pakai cinta khusus buat kamu sama baby.” Bangga Pandu, tersenyum lebar.
“Bibi mau nyobain gak?” tawar Lyra pada ART-nya itu. Ragu, Bi Nani kemudian menggeleng dan kembali menjauhkan piring tersebut dari hadapannya.
“Aku juga gak mau, udah gak selera." Lyra ikut menggeser piring tersebut ke arah Pandu.
“Loh, kok, gitu sih, aku kan udah susah-susah bikin ini buat kamu, masa gak di makan? Ini 'kan kamu yang minta, sayang,” ucap Pandu membujuk. Lyra kembali menggeleng.
“Kamu aja yang makan, ya, sayang?” pinta Lyra dengan menampilkan puppy eyes-nya
“Ta—“
“Demi baby,”
Jika sudah membawa sang jabang bayi, maka Pandu kalah, akhirnya, mau tak mau Pandu mengangguk dan mengambil sepotong kue tersebut, yang kemudian ia suapkan ke dalam mulutya. Kunyahan Pandu tiba-tiba saja terhenti dan itu tidak lepas dari pengamatan Lyra dan Bi Nani.
“Kok rasanya gini, ya? Asin sama ada pedas-pedasnya,” ucap Pandu yang susah payah menelan kue tersebut, karena saat mau ia muntahkan Lyra dengan cepat menutup mulut Pandu dan menguncinya menggunakan tangan mungil perempuan itu yang kini lebih berisi.
“Enak?” tanga Lyra mengejek, lalu terkekeh pelan. Pandu menggelengkan kepala dan langsung meneguk air putih yang berada di atas meja.
@ ank ips jga😎