[ Aku hamil, Om. ]
Meskipun sempat gamang, pesan singkat itu berhasil kukirimkan bersama dengan surat keterangan bahwa kehamilanku sudah berjalan tujun pekan.
Om Adrian adalah lelaki ketiga yang berhasil kupertahankan lebih dari setahun lamanya sejak aku terjerumus dalam hubungan terlarang. Perbedaan usia kami terpaut dua puluh empat tahun, tapi tak menjadi penghalang hubungan yang mulanya memang terjalin hanya demi kesenangan.
Dia berbeda dengan dua Sugar Daddy-ku sebelumnya yang memang berstatus lajang. Ya, dia beristri. Dan dengan kehamilan ini aku berencana untuk menggantikan posisi istrinya.
Terkesan tak tahu diri, bukan?
Namun, percayalah aku punya alasan. Alasan yang bila kujelaskan pun tak akan mampu dimengerti sebelum kalian mengalaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Ada Orang Baik
Di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan. Semuanya ada karena campur tangan takdir Yang Maha Kuasa.
Nyatanya dunia memang sempit. Dari ratusan negera dan jutaan pulau di dunia. Ternyata Mas Rafael dan Om Lian adalah saudara!
Mereka berasal dari satu Ayah yang sama yaitu Pak Indra Herlambang. Dulu beliau adalah pengacara kondang yang namanya paling sering dibicarakan karena banyak menangani kasus-kasus besar yang melibatkan publik figur, pengusaha, perusahaan, bahkan politisi!
Sekitar lima tahu lalu beliau wafat menyusul sang istri dan meninggalkan satu orang anak yang tak lain Mas Rafael, siapa yang menyangka ternyata beliau mempunyai seorang anak dari hubungan gelapnya dengan ibu Om Lian sebelum menikah dengan ibu Mas Rafa.
Tak ada yang tahu pasti seperti apa kronologisnya saat itu. Namun, yang jelas Om Lian dan Mas Rafa sudah terbukti secara DNA adalah saudara.
Semua mulai masuk akal sekarang. Tak ada yang namanya bantuan secara cuma-cuma. Terlepas itu tulus atau tidak semua pasti ada sangkutpautnya.
Yang jadi pertanyaanku sekarang hanya satu.
Di mana Om Lian? Dan kenapa dia pergi dengan meninggalkan begitu banyak tanda tanya besar?
Suara langkah kaki yang mendekat menginterupsi kami.
Mas Rafa tampak bangkit dari tempatnya saat melihat Mbak Amira memasuki ruangan.
Perempuan dalam setelan formal itu membungkuk mencium punggung tangan suaminya, lalu tersenyum begitu hangat. Sungguh pemandangan yang membuat hatiku bak diremas kala kembali mengingat sosok Om Lian.
"Sudah menunggu lama?" tanyanya sembari mendaratkan bokong di sisiku, sementara Mas Rafa pamit pergi.
"Lumayan. Tapi nggak kerasa, karena ngobrol banyak sama Mas Rafa," jawabku.
"Jadi suamiku sudah menceritakan tentang hubungannya dengan Mas Lian?"
Aku mengangguk.
Mbak Amira terlihat menghela napas panjang, sebelum melanjutkan.
"Aku tahu semuanya mungkin terlihat begitu rumit untuk kamu mengerti, Lea. Namun, begitulah kenyataannya. Terkadang kehidupan berjalan tak sesuai keinginan. Sesuatu yang tampak manis di awal seringkali pahit akhirnya. Bahkan banyak sekali kejadian di luar nalar yang pernah terjadi dalam kehidupanku, tapi semuanya berhasil kulewati hingga berhasil sampai di posisi sekarang. Aku yakin semua juga berlaku untukmu. Sepertinya Mas Rafa sudah mengatakan hal ini sebelumnya, tapi biarkan aku kembali mempertegasnya.
Jangan pernah anggap semua bantuan kita sebagai bentuk dari rasa kasihan. Karena kita adalah keluarga. Aku dan kamu sama-sama anak tunggal yang ditinggal wafat hampir seluruh anggota keluarga dalam keadaan tak wajar. Jadi, mulai sekarang kamu adalah adikku."
Aku menatap nanar kedua tangan yang tertaut di atas paha, kemudian beralih menatap sorot mata meneduhkan yang ditunjukkan Mbak Amira.
Tiba-tiba pandanganku memburam, kala dipertemukan dengan sosok kakak yang selama ini tak pernah kubayangkan kehadirannya.
Dia mengulurkan tangan, kemudian menyeka air mata yang entah sejak kapan sudah lolos dari sudut mata ini.
"Terkadang seorang perempuan dipaksa untuk tegar hanya karena dia lebih banyak menanggung beban daripada lelaki. Namun, sekuat-kuatnya Kaum Hawa yang namanya tulang rusuk tetap harus dilindungi. Jadi, jangan sungkan untuk berbagi kesedihan. Hanya perempuan yang mengerti perasaan perempuan lainnya."
Mendengar itu dorongan untuk meluapkan segala kesedihan semakin menjadi. Aku menangis tergugu dalam dekapan Mbak Amira sembari menceritakan segala rasa pahit yang sudah kualami selama sembilan belas tahun ini.
Sepertinya usaha tersebut cukup berhasil. Ikatan yang semula membelenggu diri perlahan melonggar.
Tanpa sadar semuanya mulai terasa lebih ringan.
***
Di ruang meeting semua Tim Mbak Amira dikumpulkan. Sebelumnya kami sudah membahas tentang strategi penjebakkan sponsor tetap Pak Wira yaitu Pak Hans.
Seharian penuh mereka melakukan riset mendalam hingga akhirnya mendapatkan celah untuk melumpuhkan salah satu lelaki pecandu s*langkangan itu. Rupanya setelah bangkit dari pingsan dia begitu murka mendapati aku telah hilang dari pandangan.
Pak Wira yang kelabakan pun menawarkan alternatif lain dengan mengajukan wanita 'penghibur' lainnya, dan membooking sebuah klub malam untuk pesta wanita, minuman, dan narkoba malam itu.
Berharap mendapat kesenangan berlipat, tapi sayang malam panjang yang dia impikan justru berakhir petaka saat Tim Mbak Amira berhasil melacak lokasinya.
Boroknya pun terbongkar setelah kedapatan menggelapkan uang haji dan kecanduan mengkonsumsi barang haram. Sang istri yang selama ini mengetahui suaminya adalah sosok suami idaman itu pun begitu terpukul ketika mengetahui kenyataannya.
Saat itu juga Pak Hans resmi membatalkan kerja samanya dengan perusahaan Pak Wira karena berpikir bahwa dia telah berkhianat.
Padahal berita eksklusif yang diliput FaTV pagi tadi adalah kerjaan Bang Ilham yang berhasil menghack stasiun TV tersebut meski hanya dalam beberapa menit. Luar biasa.
Sampai malam ini pemberitaan tentang pengusaha keturunan Amerika itu masih hangat di televisi. Polisi juga mulai meminta keterangan pada Pak Wira terkait kasus tersebut.
Sejauh ini aku belum bisa bernapas lega sebenarnya. Sebelumnya Pak Wira benar-benar bangkrut, sebelum pria tua itu benar-benar jera.
Kulihat di depan Mbak Amira masih berkutat dengan in fokus yang menunjukkan sebuah grafik saham FaTV dan Fahlevi's Entertainment. Tampak di sana H Travel sudah dicoret dari daftar.
Tinggal dua yang tersisa. Salah satunya adalah PT A.J. Sementara yang diberi bulat merah adalah target berikutnya.
Arden's Group. Yang dipimpin oleh Margaretta Andrean. Merupakan perusahaan fashion asing sekelas Kacci. Yang kudengar mantan suaminya adalah seorang dokter keturunan Eropa - Indonesia, sebelum setahun lalu mereka resmi bercerai karena sang suami kedapatan selingkuh dan terlibat dalam pembunuh berencana kakeknya Mbak Amira.
"Sebenarnya tak terlalu sulit untuk membuat Arden's Group membatalkan kerja samanya dengan perusahaan Pak Wira. Mengingat aku mengenal pimpinan perusahaan fashion itu dengan baik begitu pun anggota keluarganya yang lain. Yang jadi permasalahan di sini adalah kita harus mencari bukti konkret agar Mrs. Margaret percaya, mengingat kerja sama mereka bahkan sudah terjalin lebih dari dua puluh tahun lamanya dibandingkan dengan A.J yang baru berjalan sekitar dua setengah tahun. Apalagi kabarnya anak kedua beliau sempat akan dijodohkan dengan Mas Lian."
Deg!
Aku tertegun mendengar penuturan terakhir Mbak Amira. Jadi, Om Lian sempat akan dijodohkan dengan anak dari pemilik Arden's Group?
"Ah, iya. Aku pernah denger kabar itu," timpal Kevin yang membuat semua orang yang ada di ruangan menoleh ke arahnya. "Sekitar lima tahun lalu, keluarga kita sama keluarga Mrs. Margaret ngadain acara makan malam. Beliau datang bertiga bareng suami sama anak perempuannya, kalau yang laki katanya menetap di Amerika jadi psikiater. Duh, siapa lagi namanya lupa--"
"Dustin. Dustin Andrean," potong Mbak Amira.
"Nah, itu." Kevin menjentikkan jarinya.
"Dia yang membantuku pulih dari penyakit mental pasca trauma. Setelah itu ada sedikit story di antara kita. Sampai akhirnya berteman baik hingga sekarang."
Aku tertegun melihat tatapan lain yang ditunjukkan Mbak Amira. Begitu pun orang-orang di sekelilingnya. Tak terkecuali Mas Rafa. Kepalanya tampak tertunduk ketika membahas tentang Dokter Dustin.
"Silakan lanjutkan, Kevin! Yang tadi tak usah dipikirkan," tambahnya tiba-tiba, ketika menyadari atmosfer di ruangan ini mulai terasa berbeda.
Kevin mengangguk pelan, kemudian melanjutkan.
Dia bercerita bahwa Pak Wira yang lebih dulu menawarkan perjodohan, tapi tak lama langsung disetujui Mrs. Margaret mengingat beliau juga sangat menyukai Om Lian. Begitu pun anak perempuannya yang merupakan adik kandung dari Dokter Dustin, Marianne, atau biasa dipanggil Anne. Perempuan seumuran Mbak Amira itu juga menunjukkan gelagat sama. Dia menyukai Om Lian.
Namun, sayang. Saat itu luka karena kepergian Diana masih membekas dalam diri Om Lian. Dia menolak perjodohannya dengan begitu sopan hingga pihak kedua bisa menerimanya dengan lapang dada. Namun, tidak dengan Pak Wira. Menurut keterangan Kevin saat itulah pertama kalinya dia melihat Pak Wira memukuli Om Lian menggunakan tongkat bisbol dengan membabi-buta.
"Besok aku dan Lea akan menemui Mrs. Margaret dan Anne secara resmi untuk melakukan negosiasi."
"Hah?" Tanpa sadar kata itu terlontar.
Semua orang menatap dengan ekspresi yang sama. Bingung.
"Kenapa Lea?" tanya Mbak Amira.
Bergegas aku menggeleng cepat, lalu tersenyum kikuk.
"Bukan apa-apa, Mbak."
"Kalau begitu mulai besok untuk sementara kamu harus menunda kuliah, dan lebih fokus pada masalah ini. Untuk mengejar segala ketertinggalan kamu bisa minta bantuan Kevin atau Ilham. Setahuku selain pandai IT dia juga piawai di bidang sastra," tuturnya.
Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
***
Dada ini berdegup kencang saat Mbak Amira membawaku ke perusahaan Arden's cabang Indonesia. Kebetulan beliau sedang ada di kantor bersama dengan anak keduanya di lantai lima. Ruangan yang paling besar di antara yang lainnya. Di desain simple, tapi berkelas. Tampak kalau penghuninya memiliki selera yang tinggi.
Setelah melakukan ritual perkenalan seperti biasa dan Mrs. Margaret bertanya beberapa hal tentang hubunganku dan Om Lian, tanpa sadar aku justru memperhatikan perempuan dewasa yang duduk tepat di sebelah Mbak Amira. Wajahnya tak terlalu kentara blasteran. Namun, sedikit freckles di sekitar bawah matanya menunjukkan gen itu diturunkan ibunya.
Dia cantik, sangat cantik. Wajahnya juga teduh. Rasanya mustahil bila lelaki normal tak tertarik pada wanita ini.
Aku tak habis pikir kenapa Om Lian bisa menolak perjodohan mereka saat itu.
Perempuan ini benar-benar positif vibes sekali.
Anne yang menyadari tatapanku, tiba-tiba tersenyum. Lalu memulai percakapan di saat Mbak Amira tengah ngobrol serius dengan ibunya di sana.
"Aku menyesal karena tak bisa hadir di pernikahan kalian. Bukan apa-apa, hanya kebetulan resepsi pernikahan kalian bersamaan dengan launching produk terbaru Arden's. Sekarang aku tahu alasan kenapa dia menolakku saat itu."
Deg!
Aku tertegun saat mendapati nada getir dari ketenangan yang ditunjukkannya.
"Ternyata dia lebih menyukai wanita yang strong, mandiri, dan cantik luar dalam sepertimu, Lea. Diliat dari sisi mana pun aku tak akan mampu menandingimu. Sekarang semua terlihat masuk akal." Dia tersenyum, begitu tulus. Meski aku tahu ada perasaan yang tengah dia tahan di dalam sana.
"Amira sudah mengatakan semua krologisnya. Terlepas dari apa yang pernah terjadi di masa lalu, aku sama sekali tak menaruh dendam pada Lian. Jadi, diusahakan kami akan membantu semampunya."
.
.
.
Bersambung.
sukses trs tuk karya2nya y 💕💕💕💕