Dalam hidupku tak pernah menyangka bahwa dalam pernikahanku akan mengalami hal semacam ini.
Seandainya godaan itu datang dari wanita lain, mungkin saja aku tak akan segila ini. Tapi justru godaan itu datang dari wanita yang seharusnya aku hormati sebagai ibu dari istriku.
Aku hanyalah lelaki normal, lelaki biasa yang bisa saja khilaf dalam bertindak. Apalagi jika dihadapkan dengan godaan nyata setiap hari, godaan yang mampu mengikis kesetiaanku, godaan yang mampu menjegal keimananku.
Aku, Adarga Handanu ... lelaki biasa yang sedang berjuang keluar dari jeratan nafsu sang ibu mertua. Berhasilkan aku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33 Terpaksa
POV Hera
Hari ini begitu melelahkan, pasalnya sudah tiga hari ini aku harus mengerjakan pekerjaan rumah dan merawat Mas Rahman yang sakit gila itu. Kata dokter, dia dinyatakan sudah sembuh.
Tapi, entahlah! Aku sering merasa takut saja jikalau dia kambuh lagi. Tak bisa aku bayangkan saja bila ia kambuh, lalu mengamuk.
"Hera!" Teriakan itu kembali menggema ketika baru saja aku meletakkan tulang duduk di sofa.
"Huff ... apalagi maunya!" dengusku kesal, tak urung kaki ini tetap melangkah ke arah suara meski hati menggerutu.
"Iya, Mas. Ada apa?" Kupasang wajah seramah mungkin dengan lengkungan bibir manis.
"Siang ini aku mau makan nasi rawon!"
"Tadi pagi udah aku masakin soto daging, itu juga belum habis."
"Tapi aku mau nasi rawon!" teriak Mas Rahman sembari menggebrak meja makan di dekatnya.
"Iya, nanti aku buatkan. Aku harus belanja dulu bumbunya."
"Nggak mau! Masakanmu nggak enak! Aku maunya kamu belikan di warung makan rawon Mak Bawon!"
Duh, kenapa Mas Rahman seperti anak kecil gini, ya? Jauh beda dengan Mas Rahman yang dulu. Apa otak dia masih konslet?
"Hera! Malah ngalamun!" Kembali teriakan yang disertai gebrakan meja itu mengagetkan aku.
"Iya, iya ... nanti aku belikan."
"Ingat, ya, di sini kamu itu tidak lebih dari pembantu! Jadi, kamu harus ikuti apa kataku."
Deg!
Kata-kata Mas Rahman begitu menusuk dalam, terlalu dalam hingga menembus dasar jantung. Bagaimana ia bisa berpikir seperti itu?
"Apa nggak kebalik, Mas? Mas di sini yang numpang hidup. Niko itu anakku, bukan anakmu. Sedangkan semua biaya hidupmu yang menanggung adalah Niko. Ingat, Niko itu anakku!"
"Hohoho ... apa kamu lupa, Hera? Sepertinya kamu lupa dengan surat perjanjian yang kamu buat dengan Niko."
"Ya, aku ingat. Aku boleh tinggal di sini dan bertugas merawatmu."
"Itu artinya kamu hanya pembantu yang bertugas merawatku." Senyum sinis itu kembali kuterima, ia terus saja mencibir.
Aku menghembuskan napas kesal. Kutarik oksigen sebanyak mungkin untuk menghilangkan rasa dongkol yang menyesakkan hati. Kalau saja bukan karena kebutuhan untuk tempat bernaung dan hidup enak, tak mungkin aku sudi bersikap baik dengan lelaki gila itu.
"Kenapa? Mau jengkel?" Tantang pria tua menyebalkan itu.
"Nggak!" ketusku.
"Yakin?" Mas Rahman memicingkan mata seolah mengejekku.
"Ya, yakin!" ucapku dengan nada tinggi.
"Yakin nggak jengkel tapi kok ngomongnya pakai ngotot."
"Ya Allah, Mas ... kamu ini maunya apa, sih?" Aku sudah mulai tak tahan dengan ulahnya yang menggemaskan, pengen rasanya kutampol muka tuanya itu.
"Eh, tumben ingat Tuhan? Sudah mulai sadar, ya? Apa sudah dapat hidayah?" Terus menerus ia mencibirku dengan pandangan penuh ejek.
Dengan kasar aku hentakkan kaki, berbalik dan berlalu meninggalkan lelaki tua nan songong itu.
"Jangan lupa, nasi rawon beli di warung makan Mak Bawon!" Tak kuhiraukan lagi teriakannya, kakiku terus melangkah menuju kamar dan membanting pintu dengan keras sebagai luapan emosi yang harus aku tahan.
Lelaki itu kini berubah drastis. Dulu wajahnya begitu bersih berkharisma, namun sekarang tampak dekil dengan brewok yang tak beraturan. Kenapa ia tak membersihkan diri jika sudah normal? Kenapa masih seperti orang gila saja penampilannnya?
Sungguh rasanya ingin kusingkirkan ia dari hidupku, tapi ingatanku kembali pada surat perjanjian yang sangat memberatkan bagiku. Ada tiga syarat yang harus aku penuhi dalam surat perjanjian tersebut.
Pertama, aku harus mengubah penampilan. Semua pakaian terbukaku harus dibuang. Teramat sayang pakaian mahal-mahal harus aku relakan menjadi sampah.
Syarat kedua, aku harus mengubah cara bersikap. Bisa dibayangkan bagaimana aku tidak tertekan atas perubahan yang harus aku lakukan dengan terpaksa. Bicara harus lembut, tidak boleh kasar sedikit pun. Tidak boleh mudah marah, harus lebih bersabar. Huff ... sungguh berat.
Syarat ketiga lebih membuatku hampir kehilangan detak jantung. Bagaimana tidak, syarat itu adalah menerima kembali Mas Rahman dan mau merawatnya.
Entah apa yang dipikirkan Niko saat membuat surat perjanjian itu. Kenapa harus merawat Rahman tua yang dekil dan gila?
Lebih gilanya lagi, ada ancaman di dalamnya. Jika terjadi apa-apa dengan Mas Rahman, maka akulah yang harus bertanggung jawab atas semua kesalahan yang terjadi. Aku harus rela meninggalkan rumah atau bahkan jika perlu dituntut melalui jalur hukum.
Niko benar-benar keterlaluan. Aku yakin, Bobby dan orang tuanya yang meracuni otak anakku hingga tega dengan ibunya sendiri. Lihat saja nanti, jika aku punya kesempatan kalian akan aku balas.
Dendamku terhadap Bobby dan keluarganya semakin menggebu jika teringat itu semua. Mereka memanfaatkan Niko untuk membalas sakit hati di masa lampau.
Sekarang ini, aku hanya bisa menerima dan mengikuti aturan yang diberikan Niko. Menjadi pembantu di rumah anak sendiri, sedangkan Mas Rahman yang hanya mantan ayah tiri justru menempati posisi yang seharusnya menjadi milikku.
Menghempas tubuh ke kasur empuk dan tenggelam dalam mimpi kurasa akan menghilangkan penat ini. Kupejamkan kelopak mata, membiarkan imajinasi lepas ke alam penuh khayal.
"Hera!" Aku terhenyak ketika suara keras itu kembali terdengar. Kali ini disertai gedoran pintu kamar.
"Astaga ... apalagi maunya dia?" Ubun-ubunku rasanya sudah beruap, baru saja aku hampir siap menjelajah alam khayal, malah pria tua gila itu kembali mengganggu.
Dengan malas aku bangkit dan membuka pintu. "Apa, Mas? Aku capek, pengen istirahat sejenak saja."
"Aku mau es krim yang tiga rasa. Belikan sekarang di swalayan!"
"Haduuh ... kayak anak kecil aja, sih, Mas."
"Memangnya es krim hanya untuk anak kecil?"
"Ya, enggak."
"Kalau begitu cepat berangkat dan belikan. Nanti sore Arini mau ke sini, jadi aku mau makan es krim dengan anak kesayanganku."
"Arini mau ke sini?" Dahiku melipat mendengar ucapannya. Untuk apa anak durhaka itu mau ke rumah ini?
"Iya, dia anakku. Jadi, dia berhak ke sini."
"Tapi ini rumah anakku!" Emosiku tak lagi dapat kubendung.
"Mau marah? Itu lihat, ada kamera CCTV yang merekam semua sikapmu." Telunjuknya mengarah pada sebuah benda bulat bertangkai yang menempel di sudut atas ruangan.
Kembali kuhela napas, mencoba meredam amarah yang hampir saja menembus benteng pertahanan.
"Iya, nanti aku belikan sekalian jalan beli nasi rawon. Sekarang ijinkan aku untuk istirahat sejenak." Kulembutkan suara dan memohon pengertiannya.
"Ini sudah lebih dari pukul sebelas, kenapa nggak sekarang saja? Sebentar lagi juga waktu makan siang."
Astaga naga ... sungguh sangat-sangat mengesalkan pria gila ini. Otak konsletnya lama-lama bisa membuatku ikut gila.
"Nggak usah mengepalkan tangan. Emang mau ngajak tinju?"
"Hiiiih! Kenapa kamu sekarang menyebalkan?"
"Siapa?"
"Kamu!" teriakku melengking, tak kupedulikan lagi kamera yang merekam. Sungguh aku tak tahan lagi.
"Apanya yang menyebalkan? Aku hanya minta es krim dan nasi rawon untuk makan siangku. Bukankah itu sudah jadi tanggungjawabmu menuruti semua keinginanku?"
"Aku terpaksa! Kalau bukan demi kehidupan yang nyaman, aku tak akan pernah sudi berdekatan denganmu!"
"Oh, jadi karena demi kehidupan yang nyaman kamu rela merawatku." Mas Rahman dengan santai mengelus brewoknya.
"Niko, kamu sudah dengar, kan, kata-kata ibumu?" Ia berkata menghadap ke kamera CCTV.
Duh, pakai keceplosan pula. Bakalan ada masalah baru, nih! Daripada ribet urusannya, mending aku ambil dompet dan pergi membeli es krim dan nasi rawon permintaan bos gila itu.
Masalah ucapanku tadi, akan aku pikirkan alasannya sambil jalan. Semoga saja Niko bisa memahami aku yang masih belajar mengubah diri. Belajar berubah karena dipaksa itu sangatlah sulit, sesulit menerima kenyataan bahwa Danu yang aku inginkan adalah menantuku.