Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Pamit
Bab 34 Pamit
Mendapat kabar dari kekasihnya, sebenarnya membuat Akbar ragu. Dia takut teman-teman Kalila akan memandangnya aneh, tapi di sisi lain dia sangat ingin memperlihatkan hubungan dia di depan Danes. Akhirnya Akbar pun memutuskan untuk pergi ke rumah kekasihnya, walaupun dia sempat ragu.
Sampai di rumah Kalila, security membukakan pagar untuknya dan dia masuk memakirkan motor bebeknya. Akbar merogoh ponsel yang ada di saku celana untuk mengabarkan pada Kalila kalau dirinya sudah sampai di rumahnya. Mendapat kabar dari Akbar, Kalila langsung bergegas keluar dari rumah menghampiri kekasihnya.
Kalila melambaikan tangannya saat melihat Akbar dan Akbar pun langsung menghampiri Kalila yang berdiri di depan pintu rumahnya.
“Apa tidak apa-apa aku datang di saat kamu sedang berkumpul bersama teman-temanmu. Aku takut suasana jadi tidak enak karena kedatanganku,” ucap Akbar membuat kalila tersenyum.
“Engga apa-apa, sayang!" Kalila langsung merangkul tangan Akbar dan menariknya masuk ke dalam rumah. Saat akan memasuki ruang tempat berkumpulnya teman-temannya, langkah Aknar terhenti membuat Kalila langsung menoleh padanya.
“Ada apa?” tanya Kalila.
Akbar mengatur napasnya, “Sayang, jujur ini lebih gugup dibandingan kemarin aku bertemu keluarga kamu. Boleh aku pulang sekarang enggak?” Kalila tertawa saat mendengar perkataan Akbar dengan mimik wajah yang panik. Melihat sang kekasih yang tertawa membuat Akbar langsung memasang wajah masamnya. Tanpa memedulikan bagaimana perasaan Akbar, Kalila tetap menarik tangan Akbar untuk masuk ke dalam.
“Sayang, tunggu!” Lagi-lagi Akbar menghentikan langkahnya.
“Apa lagi sih yank?” tanya Kalila yang mulai kesal.
“Sebentar sayang, aku mau merapihkan bajuku dulu.” Kalila tersenyum menggelengkan kepalanya, “Kamu udah cakep kok,” ucap Kalila membuat keduanya tersenyum saling memandang. Keduanya pun jalan masuk ke dalam.
Saat sampai di ruang keluarga suara ramai dan tawa pecah saat itu seketika menjadi hening saat melihat kedatangan Akbar. Semua menatap keduanya seolah-olah meminta penjelasan. Berbeda dengan Kama, dia tampak kesal melihat Akbar yang datang.
“Eh Nak Akbar, ayo sini gabung sama yang lainnya,” ucap Ana seketika membuat semua melirik padanya. Ana menahan tawanya saat melihat wajah mereka semua yang kebinggungan.
“Mi, sebenarnya ini ada apa?” tanya Elina pada Ana. Ana mendekat pada Akbar dan memperkenalkan dia sebagai kekasih Kalila.
“Kenalin, ini kekasih Kalila,” ucap Ana.
Duar!! ... bagai petir yang menyambar, semua yang ada di sana tampak kaget dengan apa yang mereka lihat, terutama Danes. Melihat itu membuat hatinya sakit dan kecewa, karena Kalila tidak mengatakan apapun padanya.
“Iiih ... Lila! Kok kalian maen rahasia-rahasiaan sih?Ya Tuhan, gue speechless,” ucap Elina sambil menutup mulutnya dengan tangan. Kalila dan Akbar saling memandang dan tersenyum.
“Sejak kapan? Kok di sekolah kalian biasa aja. Hebat banget deh aktingnya,” lanjut Hesti sambu memasang wajah yang kesal, karena Kalila menyembunyikan semua ini darinya.
”Emmm ... dua minggu yang lalu,” jawab Kalila.
“Kalian lanjut ngobrol ya, Mami mau siapin makan siang buat kalian semua,” ucap Ana dan semua mengangguk. Ana pun kembali ke dapur untuk mempersiapkan makan siang.
Terlebih dahulu Kalila dan Akbar duduk dan melanjutkan berbagai pertanyaan yang dilayangkan untuk keduanya. Keraguan Akbar salah, nyatanya kehadiran dia membuat suasana semakin ramai. Semua sibuk dengan pertanyaan mereka untuk pasangan baru ini kecuali Danes. Sejak tadi dia hanya diam dan ikut tertawa, hal itu membuat Kama sadar kalau dirinya sekarang sedang patah hati.
Kama memang sangat mendukung Danes, karena dia dan Danes memiliki sifat, hobby dan minat pun sama. Makanya Kama tidak menyetujui Akbar menjadi pasangan Kalila, karena dukungan dia penuh jatuh pada Danes.
“Oh jadi kalian sudah lama mengenal. Pantes waktu Pak Akbar masuk ke dalam kelas, Kalila tampak gerogi,” ucap Hesti mengundang tawa semuanya.
“La, jadi lo manggil Pak Akbar apa?” tanya Elina sambil menggoda sepupunya itu. Kalila tersenyum dan melirik ke arah Akbar.
“Emm ... Kak Akbar,” jawabnya polos dan mereka semua menertawakan dirinya.
“Yaelah, lo kaku banget sih, La! Panggil kekasih itu yang mesra dikit, yayang kek atau bebep gitu biar romantis,” timpal Andri.
“Bebek kali,” lanjut Hesti sambil melayangkan satu jitakan di kepala sahabatnya itu.
Setelah melakukan tanya jawab ala-ala konferensi pers, mereka pun langsung menuju meja makan, karena semua makanan sudah siap tersaji. Ana memasak banyak sekali menu membuat teman-teman Kama dan Kalila terpana. Mereka pun langsung mengambil piring dan dengan lahap menyantap makanan.
“Mau ini enggak?” tanya Kalila pada Akbar sambil menunjukan ayam bumbu kecap. Akbar hanya mengangguk dan Kalila pun mengambil satu potong ayam masuk ke dalam piringnya. Semua orang melihatnya tersenyum, mereka merasa bersyukur akhirnya Kalila sedikitnya mau terbuka tentang dirinya.
“Tante, masakan tante luar biasa enak! Boleh nambah enggak, Tan?” ucap Andri sangat lahap menyantap makanannya. Ana tersenyum mengangguk.
“Ah lo mah, modus tingkat dewa!” ucap Hesti mengundang tawa.
Selesai makan, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga.
“Ekhm ... guys, ada yang mau gue sampaikan.” Kali ini Danes mengeluarkan suaranya dan semua orang otomatis langsung melihat ke arahnya. Semua tahu kalau Danes pasti sedang merasakan patah hati saat ini.
“Ada apa Kak? Kaya yang serius banget,” tanya Elina dan Danes hanya tersenyum.
“Sebenarnya hari ini gue mau pamit sama kalian semua.” mendengar itu membuat semua orang kaget.
“Kak, lo kenapa? Apa karena gue ....” belum selesai Kalila menyelesaikan ucapannya, Danes dengan cepat memotong pembicaraan Kalila.
“Bukan! Gue mau pamit, karena selama dua tahun ke depan gue tidak di Jakarta. Gue koas dan ditugaskan kampus di sebuah desa kecil di Papua. Makanya hari ini minta kalian kumpul di rumah Kalila. Sebenarnya gue meminta Kama untuk mengajak kalian berkumpul hari ini, Thanks ya Bro! Kalau sekiranya gue ada salah, mohon di maafkan ya teman-teman. Buat lo Kalila, selamat ya dan lo berhasil buat gue tercengang kaget. Dan Pak Akbar, nitip Kalila ya! Dia orangnya sangat sulit untuk ditebak, jadi kita harus lebih agresif lagi.” Kalila langsung menatap sinis pada Danes, sedangkan Akbar mengangguk tersenyum.
“Iiih Lo Akbar, kaya mau pergi kemana aja. Gue sedih nih!” ucap Elina.
“Iya, pamitnya kaya mo pergi jauh enggak kembali,” lanjut Hesti yang merasa sangat sedih akan berpisah dengan Danes. Suasana seketika tampak haru. Mereka pun memeluk Danes dan memberikan semangat padanya berjuang untuk kesehatan Indonesia.
~Bersambung~
Terima Kasih! Jangam lupa untuk
•Like
•Komen
•Vote yaa 🙏