Rafasya tak mengira jika kelebihannya membuatnya harus kehilangan orang-orang yang di cintainya.
Rafa dan Raka akan berjuang demi cinta mereka, meski harus menghadapi semua tantangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keistimewaan Raka.
Raka sudah sepenuhnya sadar, kelima orang muridnya itu, kini sedang berdiri di depannya.
sedang pak Agus juga sudah sedia berbagai macam minyak berjaga-jaga jikalau Raka kembali tak sadarkan diri.
"sekarang aku mau tanya? Eko kamu mengenal tanah kuburan yang kamu ambil tadi?" tanya Raka.
"iya pak, itu milik seorang anak yang baru mati sebulan yang lalu, dia otu tetangga ku," jawab Eko masih takut.
"baiklah aku akan mengantar kalian semua pulang, tanpa terkecuali," kata Raka.
"iya pak, terima kasih," jawab kelimanya.
sekarang Raka sudah meminta Eko naik ke mobilnya, dan Raka melajukan mobilnya mengikuti ketiga sepeda motor itu.
satu persatu mereka sampai dengan selamat, bahkan Jinny yang duduk di belakang juga tak melihat ada yang aneh.
"mana rumahnya Eko?" tanya Raka penasaran.
"itu pak, rumah besar itu, tapi semenjak anaknya meninggal dunia ibunya jadi gila, dan yang tersebar kabar jika sekarang pemilik rumah menikah dengan pembantunya," kata Eko.
Raka melihat muridnya itu, "kamu tukang gosip, sampai tau sedetail itu."
"habis Mak terus mengomentari mereka, jadi saya ikut denger pak, hehehe," tawa Eko.
terlihat dari lantai atas, ada seseorang yang mengintip keluar, dan bertepatan Raka juga melihatnya.
"ternyata ada ajian lintrik di sini, orang ini ternyata yang sengaja melakukan ini semua," gumam Raka.
"maksudnya pak?" binggung Eko.
"sudah kamu turun, katanya tetangganya," kesal Raka pada muridnya yang cerewet itu.
"rumah saya masih di ujung pak,kalau nganter mbok ya sekalian," kata Eko cengengesan.
"dasar kau ini," gumam raka menginjak pedal gas mobilnya.
Jinny yang berdiri di depan gerbang rumah itu, hantu perempuan itu pun ingin tau lebih.
Jinny menembus dinding rumah itu, benar saja seorang wanita sedang membaca tulisan Jawa di sebuah daun pinang kering.
Jinny tak mengerti dengan apa yang di ucapkan wanita itu, setelah itu Jinny berkeliling rumah.
dia sampai di sebuah ruangan yang terkunci. Jinny melongok kan kepalanya kedalam.
jinny melihat seorang ibu yang terpasung di sebuah balok kayu besar.
bahkan kondisi wanita itu begitu mengenaskan, dia hanya terus menangis.
Jinny tak tega melihat nya, kemudian mengeluarkan kepalanya, "tega benget sih, kan kasihan," kata Jinny sedih.
dia melihat wanita yang tadi membaca mantra sedang naik ke lantai dua.
di sana ternyata dia memberikan air minum pada seorang pria yang terlihat begitu pucat.
sedang Raka merasa aneh karena jinny yang hilang entah kemana, kemudian dia melihat sebuah cincin batu akik berwarna hijau.
tak sengaja Raka mengusap batu cincin itu, "loh kok disini, padahal lagi nonton yang seru," kata Jinny bingung.
"dari mana?" tanya Raka kesal.
"aku tadi lihat rumah besar itu, beh ... mengerikan," kata Jinny sambil menggosok tubuhnya.
"kami hantu aja takut?" tanya Raka tertawa.
kini mereka menuju ke rumah Karena hari makin larut, "aku sih gak takut, tapi ternyata wanita itu punya mantra Jawa, terus ada sosok yang menghisap roh seseorang," jawab Jinny.
"apa!" teriak Raka sambil mengerem mendadak.
Jinny pun menembus mobil sampai terlempar keluar, kemudian masuk lagi.
"ih gak lucu ih ... kenapa tega banget sih, aku Sampek kejengkang gitu," kesal hantu Jinny.
"ah maaf, aku kaget," jawab Raka menahan tawa.
sedang Jinny mencebikkan bibirnya, "sudah pulang dulu, nanti aku ceritakan segalanya," mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
mobil pun berhenti di rumah, tapi terdengar suara tangisan Rania yang tanpa henti.
Raka bergegas masuk setelah mencuci kakinya, benar saja sesosok makhluk sedang menggoda Rania.
Raka pun mengejarnya hingga kebelakang rumah, dan langsung membaca ayat yang bisa membinasakan jin.
setelah itu Rania di ambilkan air putih oleh Mak nur dan akhirnya bisa tidur, Raka kembali kedalam rumah.
"eyang sebenarnya ada apa?" tanya Raka.
"tadi om mu pulang dari kulakan gabah, sepertinya dia ketempelan sesuatu," jawab Mak nur.
"om kalung yang pernah di berikan Rafa mana?" tanya Raka yang tak melihat kalung itu.
"ah itu ... om tadi pagi lupa mau bilang, kalung itu talinya putus jadi om tinggal di rumah," jawab Adri.
Raka pun mengendong Rania yang sudah tidur, "tolong ambilkan dan biar ku perbaiki, semoga hal seperti ini tak terjadi lagi," kata Raka.
Adri pun mengambilnya, Raka heran melihat bagaimana kalung itu bisa putus, padahal tali kalung itu terbuat dari anyaman khusus.
Raka melihat Adri yang memiliki aura tersendiri, Raka melempar air yang sudah di doakan oleh Mak nur pada Adri.
"goblok ... panas!" teriaknya dengan kuat.
Raka buru-buru memberikan Rania pada Mak nur, Jinny melindungi dua orang itu.
Raka langsung menempelkan tasbih kayu stigi ke tubuh Adri, kemudian membaca surat-surat pendek.
benar saja Adri muntah darah kotor berbau menyengat, bercampur rambut dan potongan kuku.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, om kena pelet eyang," kata Raka melihat Mak nur yang syok.