Sequel Istri Kesayangan Tuan Muda
Patah hati yang dirasakan Sena membuatnya berpikir bahwa semua pria sama, Gadis berusia 24 tahun itu memutuskan untuk tidak mencintai lagi. Sena takut terluka untuk yang kedua kali.
Namun, kehadiran dua pria tampan Zac dan Evan yang tiba-tiba mengusik hidupnya. Membuatnya kalang kabut, ia kembali dihadapkan situasi sulit. Zac dan Evan berusaha untuk mencuri hatinya dengan segala cara.
Bagaimana sikap Sena dalam menghadapi kedua pria tampan itu? Apakah salah satu dari mereka berhasil membuat Sena jatuh cinta?
Temukan jawabannya di novel sequel Istri Kesayangan Tuan Muda ya. "Let Me Love You"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafasal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Setelah menghabiskan makanan yang sama dengan milik Evan, gadis itu bukannya merasa kenyang. Ia malah merasa bersalah dan menyesal, bagaimana tidak. Ia yang terbiasa dengan makanan sederhana terpaksa harus memakan makanan ala western yang sudah dipesankan Evan untuknya.
Bukannya tidak nikmat, justru makanan itu sangat nikmat dan menggunggah selera sekali. Apalagi food platingnya benar-benar sangat cantik, Ia bahkan hampir tidak tega untuk memakannya. Namun karena harganya yang sangat menguras kantong, membuat Ia sama sekali tidak bisa merasakan kenikmatan dari makanan tersebut. Selama Ia menghabiskan makanan itu, Ia terus berpikir bagaimana caranya Ia membayar makanan ini.
Sena masih harap-harap cemas dengan total tagihan yang akan diberikan kepadanya, ia bukan gadis yang pandai berakting. Yang bisa menyembunyikan rasa gelisahnya dengan tersenyum, tidak ia tidak bisa melakukan hal itu dan entah itu termasuk kelebihan atau kekurangan dalam dirinya. Ia pun bingung.
“Saya permisi ke toilet sebentar,” pamitnya seraya berdiri.
Evan hanya mengangguk dan mengulas senyum tipis, ia sudah tahu tentang kegusaran yang dirasakan Sena dan itu seolah menjadi hiburan baginya. Baginya, Sena tampak sangat menggemaskan ketika gadis itu sedang merasa panik.
Mata sayu dan bibirnya yang berulang kali dikatup erat itu bagi Evan benar-benar pemandangan yang sangat jarang dijumpai. Pria yang mengenakan anting di telinga kanan dan kirinya itu, tampak sangat menikmati penderitaan yang dirasakan Sena.
...🍁🍁🍁...
“Hah, bagaimana ini? Uangku hanya tersisa ini, sedangkan makanan yang harus aku bayar bisa jadi sekitar 900 ribuan. Lalu aku harus mencari kemana yang 400 ribu.” Sena menatap pantulan dirinya di cermin toilet, ia berulang kali menghela napas lirih demi memikirkan solusi yang tepat untuk masalahnya kali ini.
Ia tiba-tiba teringat dengan sesuatu. Dengan masih berdiri di depan kaca besar depan wastafel. Kini Sena mulai merogoh tasnnya, lalu mengambil dompet panjang berwarna cokelat.
Sena membuka tiap sisi dompetnya. Namun, ternyata Ia tidak menemukan apa-apa. Ia menepuk pelan keningnya seraya mengingat-ingat tentang uang yang selalu Ia sembunyikan di sisi dompetnya yang jarang terjamah.
“Kenapa aku bisa lupa! Minggu kemarin 'kan aku pakai untuk membelikan Shera sepatu baru,” ucapnya lirih. Kali ini Ia benar-benar tidak bisa menemukan solusi, rasanya ingin sekali menangis dan berteriak karena begitu kesal dengan Evan yang semau jidatnya memesan makanan yang mahal-mahal.
Dengan menghela napas panjang, Sena akhirnya memutuskan keluar dan menghadapi apapun yang terjadi.
Saat Ia baru melangkahkan kaki keluar dari pintu toilet. Terdengar seorang pria yang menyerukan namanya.
“Nona Sena!”
Gadis itu menoleh ke sumber suara, dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa pria yang sedang berdiri menatapnya tanpa ekspresi.
“Tu-tuan Zac?!”
Sena mengalihkan perhatiannya sesaat. “Bagaimana dia bisa ada di sini? Memang dunia ini benar-benar sempit ya, kok bisa dia ada di mana-mana!” gumamnya lirih dengan wajah kebingungan.
Saat Sena tengah sibuk dengan pikirannya, Evan yang melihat dirinya berdiri di depan toilet tampak mengernyit. Pria itu pun akhirnya menyusul.
“Lo kenapa lama banget!” suara meninggi Evan dengan raut wajah yang dibuat kesal perlahan berubah setelah melihat Zac yang berdiri sekitar lima meter dari Sena.
Sena yang berdiri di antara kedua pria itu hanya bisa bergeming seraya melihat ke arah Zac dan Evan secara bergantian. “Kenapa rasanya canggung begini!” gumamnya dengan wajah panik.
Kedua netra Zac menatap Evan dengan tak berkedip, begitu juga sebaliknya. Evan juga melakukan hal sama, kedua pria itu saling pandang tanpa suara. Sebelum akhirnya Sena membuka percakapan.
“Sa-saya bayar dulu!” ucapnya mencoba menghindari situasi canggung itu.
“Udah gue bayar, sekarang kita pulang!” tukas Evan seraya berjalan mendekatinya.
“Nona Sena biarkan pulang bersamaku!” ujar Zac yang juga berjalan mendekatinya.
Sena semakin merasa kebingungan. Namun, di satu sisi Ia begitu terkejut karena makanan yang seharusnya Ia bayar sudah dibayar oleh Evan. Itu tandanya Ia berhutang budi dua kali pada Evan.
“Ehmm ... Sa-saya pulang sendiri saja!” ucapnya mencoba menengahi tanpa menoleh ke arah kedua pria itu. Ia memilih menatap lurus ke depan.
“Lo kesini sama gue, jadi pulangnya juga harus sama gue!” tukas Evan dengan wajah serius.
“Tidak ada aturan seperti itu, Nona Sena berhak memilih Ia akan pulang dengan siapa!” Zac tak mau kalah.
Membuat Sena semakin tersudut karena merasa tertekan dengan situasi yang terjadi.
“Sa-saya memilih pulang sendiri saja!”
“Gue bukan cowok brengsek yang biarin cewek pulang sendirian!”
“Aku menghormati keputusanmu, tapi izinkan aku mengantarmu untuk mencari taksi dan ikut serta bersamamu.”
“Hah!”
Suasana dirasa Sena semakin tak mengenakan, Ia bahkan bingung harus menanggapi bagaimana ucapan Zac.
Tepat di saat mereka bertiga terdiam dengan mata yang tak lepas saling pandang satu sama lain. Terdengar suara seorang gadis menyerukan nama Zac.
“Kak Zac!” seru Lily seraya berjalan ke arah mereka bertiga. Gadis yang terlihat sangat cantik itu segera menghampiri Zac.
“Anda sangat keterlaluan, Tuan. Datang bersama seorang gadis malah menawarkan untuk mengantar pulang gadis lain!” cibir Evan dengan tersenyum smirk.
Lily tampak mengernyit mendengar ocehan Evan, tentu saja Ia tak mengerti maksud ucapannya. Sedangkan Sena, gadis itu tampak terkejut dengan kehadiran Lily.
“Sekarang sudah jelas, 'kan! Sena harus pulang bersama siapa!” tegas Evan dengan tersenyum penuh kemenangan. “Kita pulang sekarang!” Evan berjalan ke arah Sena dan menggandeng tangan kirinya.
Zac pun melakukan hal yang sama, Ia menggandeng tangan kanan Sena. Sehingga saat ini, gadis itu seperti sebuah mainan yang sedang diperebutkan.
“Nona Sena kumohon pulanglah bersamaku!” pinta Zac dengan wajah memohon.
Sena menoleh ke arah Zac dengan wajah yang sulit diartikan. Namun, saat Ia melihat Lily Ia seperti yakin untuk memutuskan suatu hal.
“Tolong lepaskan tangan saya!” pintanya dengan wajah datar.
Kedua pria itu akhirnya melepaskan tangannya dengan ekspresi bertanya-tanya. Sena menoleh sesaat ke arah Zac dan bergantian ke arah Lily. “Permisi!” ucapnya seraya berjalan di antara Zac dan Evan.
Zac ingin mengejar. Namun, Evan segera menahannya. “Tuan, jangan bersikap semaumu sendiri. Apalagi mencoba menyakitinya! Itu tidak akan pernah kubiarkan,” tegur Evan seraya mengalihkan perhatian ke arah Lily dengan tatapan sulit diartikan. Setelah itu evan setengah berlari mengejar Sena.
Lily yang sedikit mengerti situasi yang terjadi, menepuk pelan bahu Zac. “Tidak ingin mengejarnya, Kak? Sepertinya gadis itu salah paham dengan kehadiranku!”
Zac menghela napas panjang seraya mengulas senyum. “Jika dia cemburu denganmu, berarti aku masih ada harapan!”
Lily tampak terdiam seraya menatap saksama wajah Zac, sudah lama Ia tak melihat senyum manis itu terukir di wajah Zac selepas kematian Marisa.
....😘😘😘😘😘