Season 1 : BAB 1-119
Bercerita tentang suami istri beda profesi. Yakni, sang suami---Chandra Loey Abdinegara seorang Jenderal, tetapi kelewat polos, dan sang istri---Nadia Ruby Adriana seorang penyanyi sekaligus aktris yang kelewat gaul.
Mereka dijodohkan setelah para mantan masing-masing meninggalkan. Awalnya pernikahan mereka datar-datar saja(karena tidak saling mencintai). Namun, setelah melakukan LDR, tumbuhlah benih-benih rindu yang menjadi cinta.
SEASON 2 : Bab 120-?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lee Junhee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah move on
Pagi kali ini terasa lebih hangat dibandingkan biasanya. Nadia merasakan pagi ini ada sebuah pelukan erat mengelilingi tubuh mungilnya. Bukan jam 3 pagi suaminya bangun, tapi kebetulan sekali Chandra terlihat malas-malasan hari ini, dia kembali tidur setelah melaksanakan ibadah subuh dan berada di sisi Nadia untuk memeluknya.
Tengah malam tadi ada seekor babi hutan yang dikabarkan menyatroni pemukiman warga. Entah sebuah alasan untuk tidur bersama atau bagaimana, yang jelas, Nadia meminta suaminya itu untuk berada di sampingnya. Kekhawatiran yang cukup logis bagi seorang gadis yang berprofesi sebagai artis, membayangkan seekor babi dengan tanduk dan taring mendatangi rumah, tentu membuat Nadia tak bisa tertidur lelap bahkan beristirahat dengan tenang.
Ong yang diharuskan berjaga di kantor dinas untuk mengawasi kamera CCTV yang di tempatkan di wilayah perbatasan tampak sedang menyesap kopinya. Pikiran Ong bercabang pagi itu. Selain jengkel karena tidak bisa mengantar idolanya pergi ke pasar, Ong juga mendapati kejanggalan saat dirinya tidak sengaja berpapasan dengan seorang dokter wanita yang dikenalnya. Ong terus memikirkan hal itu berulang-ulang, mungkin kalau hari ini dia diberi kesempatan untuk bertemu dengan jenderal, dia akan segera memberitahukan keluh kesahnya ini.
Panjang umur, Chandra datang tanpa pemberitahuan dulu ke kantor dan langsung menyapa petugas yang ada di sana, termasuk Ong.
"Jangan melamun!" sapa Chandra to the point pada kawannya itu.
Ong memaksakan senyum, kelihatan sekali kalau lelaki itu tidak senang melihat wajah berseri Chandra yang akan jalan-jalan ke pasar.
"Siapa juga yang melamun. Ini, saya lagi perhatiin CCTV, biar nggak diskorsing!" jawab Ong ketus. Sedikit menyindir jenderalnya itu.
Chandra tertawa kecil, membuat Ong makin kesal saja dibuatnya. "Tidak biasanya Jenderal ketawa begitu pagi-pagi begini."
"Memangnya tertawa dilarang ya, Ong? Hehe." sekarang malah Chandra senyum sok ganteng, Ong mendengkus.
"Iya, deh iya, boleh. Asik ya, mau jalan-jalan ke pasar!" Ong masih ketus, Chandra mengulum senyum.
"Saya ke pasar juga mau membeli kebutuhan kita di sini. Sekalian, mau mendistribusikan sembako yang sudah tiba dari pusat ke daerah, untuk warga. Saya tidak hanya jalan-jalan."
Ong tersenyum semringah. "Wah, butuh bantuan dong buat angkut. Saya aja, Dan.
Please, please, ya?" bujuk Ong dengan semangat.
Chandra menggelengkan kepalanya. "No! Ada Alif, saya mau meminta bantuan dia. Alif belum paham dengan sistem kamera pengawas, kalau dia yang operasi di sini, nanti dia tidak bisa bertindak apa-apa."
Ong cemberut, lagi-lagi menghela napasnya. "Pilih kasih banget sih, jadi Ayah. Selalu baik sama yang bungsu. Saya juga 'kan mau diajak ke pasar!"
Ong ngambek yang entah kenapa membuat Chandra tertawa dibuatnya.
"Oiya, Dan. Saya kemarin sepertinya melihat dokter Nellie," ujar Ong tiba-tiba.
Wajah Chandra tampak tidak terkejut lagi, pria itu mengangguk lemah dan membuat Ong membulatkan kedua matanya kaget.
"Oh my god! Jadi beneran?! Itu dokter Nellie," ucap Ong sambil menutup mulutnya, matanya melotot dengan ekspresi luar biasa terkejut.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Toh, saya dengan dokter Nellie sudah tidak ada hubungan apa pun lagi ...."
"Tapi dulu kalian ...." Ong gagal menyambung kalimatnya, Chandra tampak murung.
"Saya sudah move on. Saya sekarang sudah ada yang punya," balas Chandra lembut, membuat Ong iri setengah modar dibuatnya.
"Ah, iya sih." Ong menggaruk tengkuknya dan tidak berkomentar apa pun. Lagi pula, dia tidak tahu bagaimana jelasnya hubungan jenderalnya dengan dokter itu berakhir, Ong hanya tahu kalau dulu mereka sempat berpacaran dan hendak menikah.
BERSAMBUNG ....