"Aku menikah lagi, dan kuharap kamu bisa menerinya sebagai istri kedua ku dengan rela. Dia orang baik." kalimat yang diucapkan dengan santai oleh Mas Andre suamiku namun bagaikan petir di telingaku
Duniaku terasa berhenti berputar saat itu. Selama ini aku merasa rumah tangga ku akan baik-baik saja. Aku menilai Mas Andre adalah pria setia. Tapi sungguh, mataku baru terbuka. Jika yang namanya pria susah untuk setia.
Itu adalah perasaan Hayati Nur Zafira saat Andre suaminya mengatakan bahwa ia telah menikah lagi dan bermaksud menjalani kehidupan poligami. Hayati tidak bisa menerima itu, namun sebagai wanita yang tahu ajaran agama, ia tidak pantas memutuskan untuk minta cerai begitu saja. Ia berusaha menyelesaikan badai rumah tangganya ini sesuai yang ajaran agamanya. Dalam pencarian nya, ia menemukan banyak hikmah dan juga bertemu dengan seseorang yang baru.
Akankah Hayati tetap mempertahankan rumah tangganya atau mencoba membangun yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rohyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup
"Maaf Lan. Aku tidak bisa." jawabku tegas.
"Hahahaha..aku tahu kau pasti menolak. Meski begitu, aku masih mengatakannya dengan harapan kau bersedia."
Alan lalu meninggalkan ruanganku dengan langkah gontai.
"Huff. Benar-benar hari yang aneh. Bu Riya masuk rumah sakit. Apa aku harus menjenguknya? Ah lebih baik tidak.'
Ponselku kembali berdering. Kali ini dari Anita.
"Mbak, ibunya Mas Alan masuk rumah sakit. Sekarang aku sedang menemaninya jadi sore nanti aku tidak bisa menjemput mbak Fira."
"Nggak papa, Nit.Bagaimana kondisi Bu Riya?"
"Beliau sudah stabil. Sekarang sedang tidur."
"Jaga beliau baik-baik. Nggak usah memikirkan aku! Aku bisa pulang naik taksi online."
"Iya, mbak. Mbak, aku dan Mas Alan..kami.."
"Iya, aku tahu. Alan sudah cerita. Selamat! Mbak doakan kalian bahagia. Yakinlah! Cinta diantara kalian lambat laun juga akan tumbuh."
"Aamiin. Semoga mbak."
Setelah mengucap salam, Anita mengakhiri panggilannya.
Aku melihat arloji yang setia melingkar di lenganku. Pukul sebelas lebih dua puluh. Sebentar lagi dhuhur. Aku mengambil mukena dan melangkah ke mushola yang ada di halaman depan kantorku. Kutunaikan sholat dhuhur dan setelahnya aku berdoa. Apa yang terjadi hari ini semua di luar rencana dan impianku. Aku pasrah pada kehendakNya. Aku ridlo pada takdirNya.
Aku merasakan hari ini berlalu dengan sangat lambat. Mungkin karena banyaknya kejadian dalam sehari yang membuat aku merasa sangat lelah dan ingin segera pulang untuk bermain bersama Ryan. Hanya itu hiburan terindahku.
Berkali kali aku melirik jam dinding. Kenapa jarumnya seolah tidak berjalan
Huff.
Dan Kak Salman. Kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali? Dia menikahiku tanpa membicarakannya dulu denganku. Dan setelah menikah juga nggak ngasih kabar. Apa sih maunya orang ini?
Ck
Akhirnya....
Aku bernafas lega saat jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Segera kurapikan barangku dan bergegas meninggalkan kantor.
"Bu sekcam!" panggil Dewi. Ia berlari kecil mengejarku.
"Ada apa?"
"Ibunya Pak Camat sakit. Ibu nggak mau jenguk?"
"Tumben manggil ibu."
"Hehehe..masih di kantor soalnya. Bagaimana? Jenguk apa nggak?"
"Mmm mungkin tidak sekarang Wik. Aku masih ada urusan."
"Bareng ya?!"
"InshaAllah."
"Ok. Aku tunggu kabarnya." Dewi melambaikan tangan dan pergi.
Aku langsung memesan tajsi online dan sebentar kemudian taksi sudah melaju menuju rumah. Penat di tubuhku membuatku ingin segera sampai dan berbaring di kasurku yang empuk.
Kenapa sih rumahku terasa jauh.
Aku meminta sopir menambah kecepatan karena terasa lambat.
Akhirnya. Sorakku dalam hati saat melihat gerbang masuk ke perumahan tempat tinggalku.
"Home sweet home." gumamku pelan lalu turun dari taksi.
"Makaaih, Pak!" ucapku.
Aku membuka kunci pintu gerbang. Ku dorong pintu gerbang lalu aku masuk dan menutup sera mengunci pintu gerbang kembaki. Aku lalu duduk sebentar di kursi teras sambil menyelonjorkan kaki. Ku lepas sepatu dan kaos kakiku. Ku pijat kakiku yang terasa pegal dan kebas seharian terkurung dalam ruang sempit sepatu.
Setelah capekku sedikit hilang, aku berdiri dan menuju pintu rumah. Saat aku memasukkan kunci dan memutarnya, aku kaget karena ternyata pintu rumahku tidak terkunci.
"Kok?! Sepertinya tadi pagi aku kunci. Kok sekarang jadi nggak kekunci. Apa aku lupa? Ah paling aku lupa. Aku juga pernah dulu lupa mengunci pintu."
Aku mengangkat bahu lalu mulai membuka pintu. Kuucap salam lalu masuk. Baru beberapa langkah aku masuk, tiba-tiba dari arah belakang seseorang meraih pundakku dan menariknya ke belakang lalu memelukku.
"Aaaa."
...***...
To Be Continue 😛😛😛😛
Readers....tolong like dong kalau habis baca. Kasih vote juga boleh...biar akunya semangat.
untuk sebagian org takdir begitu kejam tuk sebagian lagi takdir begitu indah.
mahligai dgn 1 perahu tnpa karam..
semoga kita dalam ketetapan alur_NYA&Ridho_NYA🤲