Sequel "Dua Suami"
Hiatus
Mencintai seorang janda mungkin sudah menjadi sebuah kutukan untukku. Setelah ditinggal istri dan anaknya yang masih dalam kandungan membuatku menutup hatiku rapat-rapat.
Hingga pertemuan dengan wanita hamil tanpa suami membuatku teringat dengan mantan istriku yang sudah meninggal membuatku ingin sekali berada di sisinya untuk menjaganya.
Namun lambat laut bukan perasaan ingin melindungi, tapi mencintainya membuatku mampu membuka hatiku yang telah lama tertutup rapat.
Namun aku harus dengan rela melepaskan saat bayi yang ada di dalam kandungannya membuatku harus rela menyerahkan pada suaminya yang ternyata adalah sepupuku sendiri. Oh tidak, dunia itu ternyata begitu sempit.
Saat diriku ingin sekali menutup hatiku rapat-rapat lagi. Wajah yang sama namun orang yang berbeda membuat kami dekat. Apalagi dia juga seorang janda dengan satu putra.
Apakah aku bisa membuka hatiku untuknya? Meski sifat dan wataknya yang berbeda, namun wajahnya membuatku ingat dengannya?
Maaf semuanya, sementara Hiatus dulu. Aku sedang menyelesaikan karyaku yang lain. 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sudah lebih dari tiga hari suaminya tidak pulang. Dan juga tak ada kabar, Lia menghubungi ponsel suaminya namun tidak aktif. Lia sungguh cemas, sudah dua hari kemarin dia menenangkan diri menghibur dirinya mungkin suaminya sedang sibuk hingga lupa mengisi ponselnya.
Hingga hari ketiga Lia memberanikan diri menghubungi ponsel suaminya. Dia tak peduli jika dianggap terlalu posesif hingga mengganggu pekerjaan suaminya. Suaminya sudah hampir tiga hari tak ada kabar. Saat bertanya pada mama mertuanya, Erika menjawabnya dengan enteng.
'Bram memang selalu seperti itu. Kalau sudah bersama pekerjaannya apalagi profesinya sebagai pengacara, dia lupa segalanya. Tapi yakinlah kalau tak ada hal buruk yang dilakukannya. Dia semata-mata karena pekerjaannya. Tapi, dia kan sekarang sudah punya istri, harusnya memberi kabar sebentar kek pada istrinya. Apa dia lupa waktu lagi?' Penjelasan terakhir sang mama mertuanya membuat Lia sedikit lega dan juga sedikit hilang kecemasannya.
Namun kesabarannya hari ini mencapai batas, dia berhak menghubungi suaminya terlebih dahulu. Dia berhak bertanya dimana dan bagaimana serta sedang apa suaminya saat ini. Namun berkali-kali dia menghubungi ponselnya namun tetap tidak aktif ponselnya.
Dan telepon kantor tidak ada yang mengangkatnya seolah tidak ada orang yang berada di tempat. Lia berdiri mondar-mandir kesana-kemari di dalam kamar apartemen suaminya. Dia sungguh belum tenang jika belum mendengar kabar dari suaminya.
**
Lia berlari dengan langkah tergesa-gesa menuju ruang unit gawat darurat di rumah sakit yang agak jauh dari apartemen suaminya dan jauh pula dari kantor firma hukum suaminya. Bisa dikatakan kabar yang tadi diterima dari rumah sakit pinggiran kota.
"Apa yang dilakukannya hingga sampai kecelakaan di pinggiran kota ya Tuhan." Guman Lia dalam langkahnya menuju ruang yang dituju.
"Maaf, saya Delia suami Bramantyo yang dihubungi tadi." Ucap Lia menghampiri beberapa polisi yang berjaga di depan ruang unit gawat darurat.
"Kami dari kepolisian. Saya memberi tahu lagi. Kalau suami anda mengalami kecelakaan tunggal di lokasi xxx, diduga karena rem blong. Kami masih melakukan penyelidikan. Suami anda sedang ditangani dokter di dalam." Jelas salah seorang polisi itu yang membuat tubuh Lia terhuyung ke belakang yang langsung ditangkap polisi lainnya yang berada di sisi Lia dan dibantu untuk duduk di kursi tunggu depan ruang unit gawat darurat.
"Lalu? Bagaimana keadaan suami saya pak?" Tanya Lia mencoba mengendalikan emosinya yang campur aduk sedih dan sakit yang dirasakannya.
"Keluarga pasien." Seru dokter yang baru saja keluar dari ruang unit gawat darurat.
"Saya istrinya dok." Sela Lia langsung berdiri menghampiri dokter meski tubuhnya terasa lemah.
"Syukurlah suami anda segera dibawa ke rumah sakit. Jadi dia masih bisa tertolong. Hanya luka-luka luar di tubuhnya. Sepertinya sistem keamanan pada mobilnya sangat baik. Sehingga tidak ada luka serius pada pasien. Mungkin akan sadar besok. Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan." Jelas dokter membuat Lia semakin terhuyung ke belakang.
Lututnya lemas, tubuhnya lemah. Rasa lega dan cemas berhimpitan di dadanya. Polisi yang membantunya tadi hingga digiring untuk duduk di kursi tunggu.
Lia kembali berdiri mengikuti langkah para perawat yang menggiring ranjang suaminya untuk dibawa ke ruang perawatan. Lia menatap pilu wajah suaminya yang banyak berbalut perban yang melingkar di kepalanya. Tatapan sedih dan cemas muncul di wajahnya.
TBC
lanjuuut