karya : Rosnila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondisi Mas Angga kritis
Icha terus mondar-mandir di depan ruang operasi , dia begitu khawatir menunggu operasi Angga yang belum juga selesai.
Walaupun sebenarnya Icha belum mencintai Angga , namun statusnya sebagai istri Angga membuat Icha merasa begitu bertanggung jawab dengan keadaan Angga sekarang ini.
Setelah dua jam mondar-mandir, akhirnya dokter terlihat keluar dari ruang operasi, Icha langsung mendekat untuk mengetahui keadaan suaminya saat itu.
"Bagaimana dokter kondisi mas Angga?". tanya Icha.
"Saat ini kondisinya masih kritis."
"Walaupun tumor di otak nya telah berhasil di angkat, akan tetapi kami belum bisa mengatakan apapun sebelum dia sadar."
"Terimakasih dokter." ucap ku dengan suara pelan.
Hati ku hancur Saat itu, mendengar penjelasan dokter, bagaimana jika hasilnya setelah ini dinyatakan operasi nya tidak berhasil. Apa yang akan terjadi dengan mas Angga.
Mama yang melihat kondisiku saat itu pun memeluk ku dengan erat, ya sebenarnya itulah yang aku butuhkan pelukan seorang ibu untuk membuat ku menjadi kuat.
"Icha maaf kan mama." terdengar suara mama mengucap kata maaf.
"Ma untuk apa mama meminta maaf, semua bukan salah mama."
"Mama minta maaf karena memaksa kami menikah dengan Angga."
"Ma, apa yang mama katakan."
"Bagaimana jika orang tua mas Angga dengar mereka pasti akan sedih."
"Tapi cha, mama sebagai orang tua juga sedih melihat kamu seperti ini."
"Seharusnya, Kamu menikah dan bahagia, tapi malah seperti ini."
"Cukup ma, jangan permasalahkan lagi masalah ini."
"Icha tidak apa-apa, Icha ikhlas ma."
Mama terlihat diam, tapi aku bisa melihat penyesalan di mata mama. Namun itu bukan solusi untuk semuanya.
Saat itu Aku hanya mencoba meyakinkan diriku sendiri kalau badai ini pasti berlalu, Dan akan ada pelangi indah setelah Aku mampu melewati semuanya .
Namun aku tak ingin berdebat lagi dengan mama, aku khawatir kalau kedua orang tua mas Angga mendengar bagaimana perasaan mereka .
"Ma, lebih baik mama pulang dan istirahat."
"Cha, seharusnya kamu yang pulang dan istirahat."
"Dari pernikahan, kamu belum sempat istirahat kan Cha?"
"Mama jangan khawatirkan dengan Icha, semua baik-baik saja ma."
"Mana ada orang baik-baik saja dengan kondisi seperti ini."
"Mama do'akan saja Icha mampu melewati semua ini."
"Kamu jaga kesehatan , mama mau pulang." jawab mama.
setelah berpamitan dengan kedua orang tua mas Angga, mama pun pulang bersama sopir kelurga kami.
Aku pun berjalan mendekat ke arah ruangan, saat itu Aku melihat, tubuh mas Angga di bawa untuk dipindahkan ke ruang ICU setelah operasi.
Aku memejamkan mata sesaat untuk menetralkan perasaan ku saat melihat kepala suamiku yang dibungkus perban, setidak nya Akau sudah berusaha yang terbaik, Bahakan dokter terbaik sudah didatangkan dari luar negeri, hanya tinggal berserah diri kepada Allah.
Tubuh mas Angga kembali dimasukkan keruangan ICU, karena dia belum juga sadarkan diri. Aku berharap Mas Angga akan kuat dan mampu untuk bangun kembali.
"Mbak!" panggil seorang suster.
Namun Aku masih melamun ,Bahakan tak mendengar perkataan nya.
"Mbak!" ulang suster tersebut .
Barulah saat itu, aku tersadar dari lamunan ku, dan melihat ke arah suster.
"Iya suster apa yang bisa saya bantu?" tanya ku tiba-tiba.
"Mbak, tolong hanya satu orang yang boleh menjaga nya ya."
"Baik suster."
"Kalau begitu saya permisi, silahkan hubungi kami jika butuh bantuan."
"iya Terima kasih suster."
Aku dengan perasaan yang hampa dan tidak dapat ku jelaskan saat itu, Berusaha tegar walaupun hati ku saat itu seperti di remuk. Bagaimana tidak lelaki yang baru tiga hari ini menjadi suamiku sedang terbaring tak berdaya di ruang ICU.
Tak ada kata yang dapat ku katakan saat itu, untuk menjelaskan kondisi hatiku yang sedang hancur, Aku tidak ingin menyesali apa yang sudah terjadi , karena aku yakin setiap kesedihan akan ada kebahagiaan . mungkin semua hanya butuh proses untuk saat ini.
kalau kecewa itu pasti , karena aku menyayangkan sikap Mas Angga yang menyembunyikan semuanya dariku, seandainya saja Mas Angga berkata jujur sebelum pernikahan kami ,mungkin tidak ada rasa terluka untukku saat ini.
Aku perlahan berjalan masuk menuju ruang ICU di mana Mas Angga masih terbaring dalam kondisi kritis, mataku mulai basah oleh air mata yang tak lagi dapat kubendung.
Bagaimana tidak saat aku melihat Mas Angga terbaring tak berdaya, pikiran ku kacau bahkan menerawang entah ke mana.
Aku duduk disamping mas Angga, menatap wajah tampan suami ku yang saat ini sedang lemah, bermacam do'a ku panjatkan dalam hati agar mas Angga bisa segera sadar.
Lelah ku sudah hilang bersama kegundahan yang ada dihati, sudah tiga hari berlalu setelah operasi itu dilakukan, namun mas Angga belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan sadar.
Akhirnya aku dan kedua orang tua ku berniat membawa mas Angga keluar negeri untuk menerima pengobatan yang lebih baik.
Semua sudah kami persiapkan, dan rencana pagi ini Aku dan mas Angga akan berangkat ke Singapura untuk pengobatan mas Angga.
Namun dokter tidak mengizinkan dengan alasan kondisinya masih dalam keadaan kritis, itu sangat berbahaya untuk mas Angga.
Aku menarik nafas panjang, untuk meringankan beban di hatiku saat itu, tidak kuat rasanya menghadapai semua ini.
"Dokter tolong bantu kami bagaimana caranya agar mas Angga bisa kami bawa keluar negeri."
"Maaf mbak Icha, tapi rasanya untuk saat ini tidak memungkinkan, karena kondisi suami mbak yang dalam keadaan kritis."
"Kami khawatir itu malah memperburuk kondisinya."
Aku terdiam, aku bisa saja memaksa tapi apa mas Angga kuat untuk dibawa kesana dengan kondisi seperti saat ini.
"Bersabarlah sedikit lagi, karena besok dokter yang melakukan operasi kepada mas Angga akan datang kesini."
"Terimakasih dokter." jawab ku.
Jiwa ku kembali rapuh, apa yang akan terjadi setelah ini? Hari-hari ku setelah menikah ku habis kan hanya dirumah sakit, bahkan aku melupakan kuliah ku saat itu.
Fokus ku hanya pada kesehatan mas Angga. Untung saja perusahaan mas Angga bisa di tangani dengan baik oleh sekretaris nya, karena kalau Aku yang harus mengurus itu semua, jujur aku tidak mampu. Ilmu pendidikan ku juga tidak sampai kesana.
"Mas Angga , Bangun mas !"
"Mas harus ingat ada Icha yang sedang menunggu mas."
"Bangun mas, bukankah mas janji akan membahagiakan Icha?"
Aku terus mengajak mas Angga untuk bicara, walaupun tak ada jawaban, ini adalah hari ketujuh mas Angga berada dirumah sakit, dan sudah empat hari ini mas Angga koma.
Tak ada lagi senyum disana, Taka ada lagi candaan, Yang ada hanya tubuh terbaring tak berdaya di bantu oleh berbagai alat medis.
Aku hampir putus asa, aku menangis di samping mas Angga, aku tau Allah tidak suka orang yang putus asa dengan rahmat-Nya, namun Aku memang sudah tidak mampu.
Sampai kapan semua ini akan berakhir, Dan bagaimana kondisi mas Angga setelah sadar nanti?
* Hidup dan mati mahkluk ini hanya Allah yang akan menentukan ,tak akan pernah ada yang tau, namun kita sebagai mahkluk ya harus siapa kapan pun waktu itu datang."