Quinsha bocah kecil yang tak di inginkan kelahirannya oleh ayahnya, Salman Cakra Negara. Bangsawan tinggi yang demi mendapatkan hak waris, harus menikahi wanita yang telah di jodohkan oleh keluarga besarnya.
Sementara Salman Cakra Negara diam diam telah menikahi Lusiana wanita yang ia cintai dan Memiliki seorang putri bernama Quinsha.
Untuk merahasiakan pernikahannya dengan Lusiana. Quinsha di kucilkan di sebuah pulau terpencil hanya di temani seorang pengasuh setia yang di sebut Romo. Dalam asuhan Romo, Quinsha tidak hanya belajar menulis dan membaca, dia juga di ajari ilmu bela diri.
Dalam lima belas tahun, kemampuan Quinsha semakin berkembang dan mampu membangkitkan inti alam dalam memanfaatkan unsur angin, api tanah dan air. Romo meninggal di usia Quinsha 15 tahun.
Quinsha meninggalkan pulau tersebut pergi ke kota besar untuk menelusuri orang tua kandungnya. Namun Quinsha yang lugu dan tidak tahu bagaimana kehidupan di kota besar, takdir telah mempertemukannya dengan dua pria yang sama sama memiliki kekuatan supranatural. Arkana Devin, pemimpin perusahaan Moon Silver yang memiliki musuh bebuyutan bernama Bramantio Anderson, pemimpin perusahaan Blood Moon.
Kedua pria tersebut, tidak hanya melibatkan Quinsha dalam perseteruan, juga melibatkannya dalam cinta segitiga yang berujung pertemuan Quinsha dan keluarga besarnya.
Bramantio Anderson, "Kau milikku, darahku. dan dosaku"
Arkana Devin, "Aku menyukai tantangan. Dan tantangan itu adalah Kau!"
Hal yang tidak di sukai Quinsha. "Kalian berdua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Bramantio memperhatikan Quinsha yang tengah berdiri di depan jendela kamar yang terbuka, menatap lurus ke depan.
Quinsha memutar tubuhnya, menghadap Bramantio dengan tatapan marah.
"Aku tidak baik baik saja setelah aku mengenal kalian!"
"Quin, apa maksudmu?" tanya Bramantio menperhatikan Quinsha melangkahkan kakinya keluar dari kamar, lalu ia bergegas menyusulnya.
"Quin, kau mau kemana?" tanya Bramantio terus mengikuti langkah Quinsha menuruni anak tangga.
"Jangan ikuti aku lagi, biarkan aku pergi dan bebas melakukan apa pun yang aku mau. Aku ingin hidup normal layaknya manusia normal."
Quinsha mengungkapkan kekesalannya yang selama ini ia pendam, dan hari ini adalah puncak kegundahannya.
"Tapi di luar berbahaya untukmu Quin," jawab Bramantio menarik tangan Quinsha hingga mundur ke belakang.
"Lepas!" Quinsha menghempaskan tangan Bramantio.
"Aku tidak perduli!" sahut Quin menatap marah Bramantio. "Aku bosan denganmu, aku bosan dengan semua ini. Aku mau bebas tanpa ada bayang bayangmu!"
"Quin, aku-?"
Quinsha melipat kedua tangannya, memohon kepada Bramantio untuk tidak mengikuti dan memberinya kebebasan.
"Aku mohon, biarkan aku pergi." Quinsha memotong ucapan Bramantio.
Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar suara langkah seseorang dari belakang.
"Hei, ada apa ini?" sapa Arkana yang baru saja tiba menemui mereka.
"Kau lagi, kau lagi!" seru Quinsha kesal, kini dua pria yang selalu membayangi hidupnya, ada di hadapannya.
"Quin, tentu saja aku akan selalu ada di dekatmu," jawab Arkana.
"Diam! aku tidak mau mendengar apapun dari kalian lagi. Biarkan aku pergi!"
Quinsha berlari menuju pintu gerbang utama rumah Bramantio. Sementara kedua pria tersebut termangu beberapa saat melihat sikap Quinsha yang terlihat tidak biasanya.
"Ada apa dengan dia?" tanya Arkana menoleh ke arah Bramantio.
Bramantio hanya mengangkat kedua bahunya, "entahlah." Lalu balik badan dan melangkahkan kakinya.
"Hei kau mau kemana?!" Arkana berlari menyusul Bramantio dan mensejajarkan langkahnya.
"Kau pikir aku mau kemana?" Bramantio menoleh sesaat, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Apakah kau akan membiarkan Quinsha berkeliaran di luar sendirian?" tanya Arkana menarik bahu Bramantio supaya berhenti melangkah dan menanggapi serius apa yang terjadi dengan Quinsha.
"Lalu aku harus apa?" tanya Bramantio kesal. "Memaksanya kembali ke rumah? mengurungnya di kamar?"
Arkana mengerutkan dahi menatap raut wajah Bramantio yang terlihat murung.
"Kau kenapa?" tanya Arkana. "Ini bukan kau, Bram."
Bramantio tersenyum samar, memalingkan wajahnya ke samping. "Quin menginginkan kebebasannya, dan aku tidak bisa terus terusan memaksakan keinginanku."
"Kau bukan Bram yang aku kenal, Bram sahabatku pantang menyerah."
Perlahan Arkana berjalan mundur dengan tatapan bingung ke arah Bramantio.
"Kalau kau tidak mau menyusul Quinsha, biar aku saja!" Arkana balik badan lalu berlari secepat kilat meninggalkan Bramantio yang masih terpaku di tempatnya.
"Terserah kau," ucap Bramantio pelan.
Sementara Arkana yang terus berlari mengejar Quinsha. Menghentikan langkahnya, menatap sekitar jalan yang tiba tiba pandangannya mengabur akibat kabut tebal yang menyelimuti jalan.
"Apa yang terjadi?" ucap Arkana coba memusatkan pikirannya, matanya terpejam mencoba menyingkirkan kabut tebal.
Perlahan matanya terbuka, ia terkejut karena sudah berada di dimensi lain. Nampak puluhan vampire dan werewolf tengah mengepung Quinsha.
"Celaka, aku tidak bisa menanganinya sendirian. Terlalu banyak musuh, aku harus memanggil Bram."
Arkana kembali memusatkan pikirannya, memanggil Bramantio lewat telepati. Namun berkali kali ia gagal mencoba.
"Aku tidak bisa menghubungi Bram!"