Semalaman suara gaduh di atas genteng itu membuat bulu kuduk merinding.
Entah apa yang tengah ribut di atas genteng sana. Karena, tak terlihat wujudnya.
Karena gangguan itu, akhirnya yang punya rumah membiarkan rumahnya kosong. Namun, Bu Heni tidak membiarkannya kosong begitu saja. Dia menawarkan rumah itu untuk di kontrakan dengan harga yang sangat murah.
Setiap Orang yang menempati rumah itu selalu merasakan hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal. Seperti munculnya bayangan hitam yang tinggi besar di ujung teras.
Terror bercak darah di sekeliling rumah membuat bulu kuduk merinding. Apalagi tengah malamnya muncul Makhluk aneh yang menyeramkan. Pundak terasa di tindih balok es yang super dinginpun di rasakan oleh Bunga, orang yang kesekian yang menempati rumah itu.
Bunga dan Angga tetap mencoba untuk bertahan, hingga akhirnya mereka kalah dan mundur dari rumah itu. Setelah Bunga melihat Makhluk aneh yang berwujud ular berkepala manusia yang berambut panjang serta memakai mahkota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosa_Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi di datangi Genderewo.
Assalamualaikum semuanya...
Sebelum membaca jangan lupa untuk subscribe, follow dan like ya. Terimakasih 🙏
Selamat membaca, semoga kalian suka.
Hendra menyalakan perapiannya, Setelah dia komat-kamit, sedikit demi sedikit kemenyan itu di taburkannya di atas arang, yang sudah berubah menjadi bara yang nampak merah menyala.
Semua ritualnya sudah dia laksanakan, tinggal dia menunggu hasilnya.
Hendra sengaja melakukan ritual itu, karena dia percaya kalau hal itu di laksanakan dengan terarur, semua makhluk tak kasat mata apapun akan tunduk kepadanya.
Kepulan asap dan aroma dari kemenyan yang khas pun, kini mulai merebak memenuhi seluruh ruangan. Dari ruangan tamu, hingga kamar mandi yang berada di belakang rumah itu, semuanya berasap dan beraroma kemenyan.
" Seluruh ruangan telah beraroma wangi kemenyan, berarti… Di ruangan manapun mereka berada, pasti akan merasakan dan mencium aromanya." Ujarnya.
" Tinggal aku menunggu penampakkan dari makhluk halus itu, akan aku tanyakan tentang keberadaan mustika merah delima itu. Pokoknya, mustika merah delima itu harus menjadi milikku." Ucapnya lagi penuh pengharapan.
Diapun segera ke ruang tengah, bergabung bersama anak dan isterinya yang tengah menonton TV.
" Sudah selesai bakar kemenyan nya?..." Sapa Ani.
" Sudah… Semoga saja malam ini aku bisa melihat penampakkan makhluk yang menjaga mustika merah delima itu." Sahutnya sambil duduk di samping anaknya.
"Aku tidak akan seperti kamu kemarin, masa… Melihat nenek-nenek saja, sampai pingsan, hingga di Opname selama satu minggu di Rumah Sakit. Ada-ada saja… He… He…" Hendra mengejek Isterinya.
" Yaa… Semoga saja nanti kalau ada penampakkan, semoga saja wujudnya yang sangat mengerikan. Biar tahu rasa." Balas Ani kesal. Sepertinya dia tidak terima di ejek oleh suaminya itu.
" Sudahlah… Kenapa kita mempermasalahkan hal itu?... Tuh… Anakmu sudah mulai mengantuk nampaknya." Hendra mengalihkan pembicaraan.
" Sini… Aku gendong." Hendra segera menggendong Anaknya untuk di pindahkan ke kamar tidur.
" Aku mau nemenin Anida ah, sudah ngantuk. Mungkin karena sudah minum obat." Ujar Ani, dia mengikuti suaminya yang menggendong Anida.
" Iya… Kamu harus banyak istirahat, biar segera pulih kesehatanmu seperti sebelumnya." Ujar Hendra lagi.
Tak menunggu lama, Anipun sudah tertidur pulas, dengkuran halus mulai terdengar dari kamar itu.
Sedangkan Hendra, duduk sendiri di ruang tengah sambil menonton TV.
Dia berharap akan melihat penampakkan malam itu.
Malampun kian sunyi, Waktu terus merayap, detik demi detik, menit demi menit, hingga jam pun sudah berlalu.
Tak terasa… Tiga jam sudah, Hendra duduk di sana. Dia menunggu datangnya penampakkan itu. Namun, belum ada tanda-tandanya.
Dia berusaha untuk tenang dan sabar, menunggunya. Dia yakin, pasti penampakkan itu akan datang menemuinya.
Namun…
Sampai dia tertidur pun, penampakkan makhluk yang tak kasat mata itu, belum juga menampakkan wujudnya.
Kira-kira jam dua dini hari…
" Aaaaaah… Jangan… Jangan… Mendekat!... Jangan ganggu aku… Pergi… Pergi…" Hendra berteriak-teriak seperti yang sangat ketakutan sekali.
Keringat dingin sudah membanjiri wajah dan seluruh tubuhnya. Tangannya menepis-nepis kesana-kemari… Entah apa yang sedang di tepisnya.
" Pergiiii!... Pergiii… Jauh-jauh… Pergiiii!..." Teriaknya lagi, semakin kencang daripada tadi, hingga Ani yang tengah lelap tertidur di kamar pun, terbangun karenanya.
Dia segera menghampiri suaminya, dia mendapati suaminya yang tengah meronta-ronta seperti yang ketakutan. Tangannya nampak menepis-nepis kesana-kemari tak tentu arah.
" Pah… Pah… Bangun!... Kamu kenapa?..." Ani mengguncang-guncangkan tubuh suaminya, namun Hendra tidak segera bangun, dia malah semakin histeris berteriak.
" Aaaaaaw… Jangaaaaan… Jangan mendekat!... Pergiii…" Teriak Hendra dengan begitu kencangnya.
Ani merasa kesusahan untuk membangunkan suaminya, diapun segera mengambil air, lalu di cipratkan ke wajah suaminya hingga beberapa kali.
" Aaaaaaw…. " Hendra akhirnya terbangun dan tersadar dari mimpinya.
" Jangan-jangan mendekat!..." Serunya, dengan mengacungkan jari telunjuknya.
"Sadar pah!... Kamu mimpi buruk rupanya?...".Kata Ani, sambil mendekati suaminya.
" Haaaah... Huuuuh…" Nafas Hendra nampak tersengal-sengal seperti yang habis lari maraton, atau yang sedang di kejar sesuatu yang sangat menakutkan.
Ani menyipratkan air kembali ke muka suaminya.
" Apa-apaan sih?..." Barulah Hendra tersadar sepenuhnya.
Dia lalu mengusap mukanya yang basah, karena air cipratan dari tangan Isterinya.
Lalu, dia duduk menyender ke dinding.
"Kamu mimpi apa?... Sampai berteriak histeris seperti itu." Tanya Ani kemudian.
" Haaah… Aku mimpi sangat menyeramkan sekali, aku di datangi sosok makhluk yang sangat tinggi, besar dengan rambut gimbalnya, matanya merah melotot kira-kira sebesar kepalan tangan, mulutnya besar dan bertaring di kedua sudut bibirnya, telinganya lebar dan meruncing ke atas… Kulitnya hitam dan bau bangkai menyengat tercium dari tubuhnya… Tinggi badannya sampai ke langit-langit rumah ini, jari-jari tangannya besar-besar dengan kuku-kukunya yang panjang meruncing!... Sosok yang menyeramkan itu, menghampiriku… Tangannya seperti yang akan mencekik leherku ini… Aku sangat takut sekali melihatnya…" Hendra menuturkan mimpi seramnya itu.
" Dimana kamu melihatnya?..." Ani bertanya kembali.
" Di sudut itu…" Hendra menunjuk ke sudut ruang tamu, dimana dia menyimpan dan membakar kemenyan itu.
" Itu mungkin makhluk penunggu Mustika merah delima itu, iya… Sepertinya dia datang karena, kamu memanggilnya dengan asap kemenyan itu." Ani sepertinya menggoda suaminya.
" Katanya tidak akan takut, katanya akan menanyakan mustika merah delima itu, kalau makhluk itu menampakkan wujudnya. Mana buktinya?... Baru mimpi juga sudah ketakutan setengah mati." Ani malah mengejeknya.
"Itu dalam mimpi, kalau bukan dalam mimpi, aku akan langsung menanyakannya. Pokoknya, aku harus memiliki ajimat pusaka itu. Apapun caranya." Niat Hendra tetap seperti semula.
" Nanti malam Jum'at depan, kebetulan malam Jum'at Kliwon. Kita ritual lagi." Ani menyemangati.
" Sekarang masih malam, sebaiknya kita tidur lagi saja." Ujar Ani, sambil kembali ke dalam kamarnya untuk melanjutkan kembali tidurnya yang terganggu karena teriakan suaminya.
*
" Assalamualaikum…" Keesokkan harinya bu Heni bertandang ke rumah kontrakannya Ani, karena dia dengar Ani sudah pulang dari Rumah Sakitnya.
"Waalaikumsalam…" Sahut Ani sambil membukakan pintu.
" Ibu… Ayo masuk bu." Ani mempersilahkan bu Heni untuk masuk.
" Kamu sakit apa?... Hingga masuk rumah sakit dan di Opname lagi." Tanya bu Heni. Dia menatap wajah Ani, seperti yang mencari sesuatu.
" Kata dokter, hipertensi dan stroke ringan." Sahut Ani.
" Sekarang bagaimana?" Tanyanya lagi.
" Sudah baikan bu…" Sahut Ani pula.
"Kamu sampai pingsan, kenapa, kamu melihat apa?... Jangan-jangan… Seperti yang di alami oleh Bunga tempo hari itu." Bu Heni mencoba mengorek keterangan dari Ani.
"Emh… Iya bu… Sebelumnya saya melihat nenek-nenek yang membawa bakul yang di gendong menggunakan kain batik warna coklat, ya… Seperti yang mau ke sawah gitu bu. Matanya itu menatap sangat tajam kepada saya. Seperti yang marah." Ujar Ani menjelaskan.
" Dia terlihat di mana?..." Tanya bu Heni lagi.
" Itu… di dekat jendela." Ani menunjukkan telunjuknya ke arah jendela rumah itu, yang letaknya berdekatan dengan sudut ruangan itu.
" Lho!... Itu apa?..."Bu Heni menanyakan sesuatu yang berada di sudut ruang tamu, tepat di bawah jendela yang di tunjuk Oleh Ani.
Ani nampak seperti yang kaget dengan pertanyaan itu.
Bu Heni menanyakan perapian yang semalam di pake membakar kemenyan, dan lupa belum di tutup, juga belum di Pindahkan.
" Seperti sesajen, dan… Kamu membakar kemenyan?..." Sebelum Ani menjawabnya, bu Heni sudah mengetahuinya, dan langsung menanyakan nya.
Ani diam tidak langsung menjawabnya.
" Emh… Keluarga saya sudah terbiasa membakar kemenyan." Sahut Ani, malu-malu.
" Ooh… Ya sudah tidak apa-apa." Bu Heni tidak mempermasalahkannya.
" Boleh saya bertanya bu." Tanya Ani sedikit ragu.
" Mau menanyakan apa?..." Bu Heni balik bertanya.
" Apa benar bu, di rumah ini ada mustika merah delimanya?..." Bu Heni tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu.
" Katanya iya, tapi ibu juga tidak tahu dengan pasti benar atau tidaknya. Namun yang jelas, dari dulu dari sebelum ibu lahir, di sini itu ada pohon beringin, dan selalu ada saja yang bertapa di bawahnya. Katanya ingin memiliki Mustika merah delima itu, namun belum ada seorangpun yang bisa mengalahkan makhluk yang menjaganya itu." Bu Heni menjelaskan apa yang dia tahu tentang tempat itu.
" Dimana bu pohon beringin itu Tumbuhnya?..." Ani seakan penasaran.
" Di sini… Di sudut ruangan ini." Sahut bu Heni lagi.
" Yang menunggunya itu, katanya Genderewo, dan ular besar yang berkepala manusia, berambut panjang dan memakai mahkota di kepalanya, nah… Di mahkotanya itulah di simpan mustika merah delima itu, makhluk yang memakai mahkota mustika merah delima, jarang menampakkan wujudnya, kebanyakan orang melihat penampakkan Genderewo, tuyul, pocong, kuntilanak,dan nenek-nenek. Itu katanya. Tapi, Bunga pernah melihat penampakkan ular bermahkota itu, dia sampai pingsan dan langsung pindah dari rumah ini, waktu itu dia melihatnya tengah sendirian karena suaminya tidak pulang karena hujan sangat deras waktu malam itu." Bu Heni menjelaskan lagi.
Ani seperti yang terpana mendengarnya, dia seperti yang tidak takut. Tapi, dia merasa penasaran ingin tahu banyak tentang mustika merah delima itu.
salam dari "Ternyata aku keturunan RPD" mampir kak
"Tak mungkin... Semua rompi kan di jepit, Enggak mungkin fi terbangkan angin.
itu ☝️☝️ ga mungkin di terbangkan angin 🤔🤔