NovelToon NovelToon
Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Tamat
Popularitas:722.8k
Nilai: 4.5
Nama Author: Mar Dhyah

Kisah cinta seorang wanita yang berbalut iman dengan pria bejat yang merenggut kehormatannya.

Chayra Azzahra harus ikut Om dan Tantenya tinggal di sebuah pesantren atas wasiat dari Almarhum bapaknya. Dia akan menikah dengan salah seorang pria shaleh di pesantren itu.

Namun, sebuah tragedi membuatnya terjebak dalam sebuah pernikahan dengan laki-laki bejat kekasih sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dhyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersitegang

Tidak ada yang membuka percakapan lagi setelah Ardian berlalu. Mereka berempat hanya saling pandang.

"Gue kesana sebentar. Kalian tunggu disini." Amira langsung berlalu mengejar Ardian tanpa menunggu persetujuan ketiga temannya.

"Ada apa sih dengan tu cowok. Dendam banget deh sama Ayra. Padahal sama kita biasa aja ya.." Tina ngoceh sendiri seraya menatap Alesha yang masih tertegun menatap kepergian Amira.

Plak!

Tina menepuk pundak Alesha sekuat tenaga.

"Astagfirullahal'adzim, lho apa-apaan sih, Tina?" Alesha menepis kasar tangan Tina.

Tina memutar bola matanya kesal. "Lho dengar nggak, gue bilang apa?"

"Huh, nih gue denger pakai pantat." Alesha memajukan sedikit pantatnya pada Tina.

"Aku mau susul Mira sebentar." Chayra berlari kecil menjauhi Alesha dan Tina.

"Lho, kok Ayra ikut pergi." Alesha memandang Tina keheranan.

Chayra tertegun berdiri beberapa meter dibelakang dua orang yang sedang bersitegang di depannya.

"Apa, Sayang. Gue sudah muak mendengar alasan lho. Lho semakin kesini semakin sulit diatur. Lho tidak pernah mau diajak keluar lagi. Takut mengulang dosa besar lagi lah, macam deh alasan lho. Lama-lama gue muak kalau lho kayak gini terus."

Chayra mendengar dengan jelas setiap patah kata yang keluar dari mulut Ardian.

"Gue.. gue.. hanya ingin menjadi wanita yang lebih baik, Kak. Gue sudah janji pada diri gue sendiri, kalau gue akan berubah."

"Tapi gue capek kalau kita pacaran hanya sebatas bisa saling pandang saja. Bergandengan tangan pun, lho nggak pernah mau sekarang. Gue pusing, Mira dengan sikap lho yang seperti ini. Sudah dua tahun gue bertahan. Lho sadar nggak sih?!"

"Lalu kita harus bagaimana sekarang, Kak?"

"Gue mencintai lho, Mira. Sangat mencintai lho." Menangkup pipi Amira.

Amira langsung memalingkan wajahnya. Menurunkan tangan Ardian perlahan. "Kalau memang Kak Ardian mencintai Mira. Seharusnya, Kakak menerima keputusan Mira untuk tidak berpacaran dengan bebas. Seharusnya Kakak menghargai cinta itu. Cinta itu tidak harus memuaskan nafsu pasangan, Kak. Cinta itu saling menghargai dan saling menyayangi. Kakak tau kan artinya kasih sayang?"

Ardian langsung berdecak kesal. Terserah lho, Mir." Berpaling menjauhi Amira.

Amira terdiam menarik nafas panjang. Mengusap air matanya yang sudah mengalir sejak tadi. Untung saja suasana Kampus sudah sepi. Jadi, tidak ada yang membuat kejadian itu sebagai tontonan.

Chayra masih berdiri mematung di belakang dua orang itu. Menyaksikan bagaimana Ardian marah Mada Amira.

"Kalau lho memang benar-benar mencintai gue, gue butuh bukti." Melirik sedikit ke arah Amira yang berada dibelakangnya.

"Bukti apa lagi, Kak? Kehormatanku sebagai wanita pun, sudah Kakak renggut. Kehormatanku sudah menjadi milik Kakak. Aku tidak ada nilainya lagi, Kak. Kalaupun aku mencari pria lain. Belum tentu mereka menerimaku apa adanya."

Ardian tersenyum sinis. "Gue tidak ada niat untuk meninggalkan lho, Mira." Kembali mendekat. "Gue hanya ingin kita pacaran seperti dulu. Itu saja kok. Nggak usah lah bahas masalah kesucian segala. Hal itu tidak berpengaruh buat gue. Mau lho perawan kek, mau nggak kek. Kalau gue sudah cinta ya cinta. Itu semua hanya berpengaruh untuk orang yang terlalu pemilih. Tapi, hal itu tidak berlaku untuk Ardian."

"Tapi kita melampaui batas, Kak. Agama sangat menentang keras perbuatan kita itu. Gue.. gue.. hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik. Gue nggak mau, Nyokap gue nyesel ngelahirin gue karena gue tidak bisa menjaga diri."

"Lho ngomong apa sih? Nggak usah lah bawa nama orang tua segala. Gue hanya ingin lho kembali seperti dulu. Nyokap dan Bokap lho juga kan tidak pernah mempertanyakan hal keberadaan lho saat keluar malam." mendekatkan wajahnya ke wajah Amira.

"K.. kalau Kak Ardian menginginkan itu semua.."

"Mm.. terus...?"

"N... nikahi gue sekarang, Kak."

Ardian menjauhkan wajahnya seraya berdecak. "Gue belum mau menikah, Mira. Gue nggak mau sibuk dengan urusan rumah tangga. Gue masih senang menikmati masa muda gue." Kembali mendekatkan wajahnya pada Amira. Jarak wajahnya dengan Amira hanya beberapa senti saja.

"K.. Kak A.. Ardian m.. mau a.. apa?" Mulut Amira bergetar ketakutan.

Ardian tersenyum. "Jangan takut, Sayang. Ardian Baskara cuma mau mengingatkan Amira Nindia bagaimana indahnya ciuman pertama kita waktu itu."

Amira mundur perlahan. "J... jangan l.. la.. lakukan i.. itu, K.. Kak.." Wajah Amira berubah pucat pasi.

"Berhenti!" Chayra berjalan mendekat. Meraih pundak Amira. Menjatuhkannya ke dalam pelukannya. "Jangan coba-coba menyakiti Amira lagi."

Ardian mendengus. "Huh, lho lagi lho lagi. Eh, Setan. Tau apa lho dengan hubungan gue dengan Amira. Jangan ikut campur kalau lho tidak mau terlibat."

"Aku cuma mau melindungi temanku yang terzalimi oleh anda."

"Cih! Sombong sekali lho." Ardian tersenyum sinis. "Kayaknya lho musti dikasih pelajaran biar jera." Mengelilingi Chayra dan Amira yang masih berpelukan.

"Anda jangan macam-macam!"

"Heh.." Ardian tersenyum sinis. "Siapa lho berani ngancam-ngancam gue. Punya apa lho? Bapak saja nggak punya pakai acara sok-sokan jadi pahlawan segala. Gue peringatkan sekali lagi. Lho jangan berani macam-macam sama gue. Lama-lama urusan kita akan jadi panjang kalau lho terus-terusan ikut campur."

"Sudah, Kak. Kakak lebih baik pergi sekarang. Jangan membuat temannya Mira ketakutan di sini." Amira menarik diri dari Chayra. Mendorong tubuh Ardian agar menjauhi Chayra.

"Dengarkan gue, Mira. Jangan salahkan gue kalau terjadi sesuatu sama temen lho yang sok suci ini." Menunjuk Chayra dengan tangan kirinya.

"Jangan ngomong macam-macam, Kak. Kak Ardian pergi sekarang." Mendorong semakin keras.

"Tunggu tanggal mainnya." Tersenyum sinis seraya berlalu.

Selepas kepergian Ardian. Amira menatap Chayra dengan tatapan mengiba. "Maafkan sikap Kak Ardian, Ayra. Lho nggak apa-apa kan?" Mengusap-usap wajah Chayra dengan raut wajah khawatir.

"Aku baik-baik saja, Mira. Aku yang seharusnya bertanya sama kamu. Apa kamu baik-baik saja selama ini? Kenapa kamu mempertahankan hubungan yang membuatmu terlihat sangat menderita."

"Gue baik-baik saja, Ayra. Kok lho bilang gitu sih? Selama ini Kak Ardian selalu baik kok sama gue." Pura-pura tersenyum bahagia walaupun terlihat genangan air mata.

"Apa benar begitu? Tapi, kok yang aku lihat sangat berbeda dengan yang kamu ucapkan?"

"Ya Allah.. gue baik-baik saja, Ayra. Sudahlah jangan dipikirkan. Tadi Kak Ardian cuma sedang emosi. Jadi, ya begitulah yang terjadi. Sekarang gue udah baik-baik aja kok. Nanti Kak Ardian juga akan baik dengan sendirinya kok."

"Kamu yakin?"

"Iya, gue yakin." Amira mengangguk-anggukkan kepalanya seperti orang yang ragu.

Chayra hanya diam menatap Amira. Kenapa dia yang merasa, kalau Amira diperlakukan dengan tidak adil oleh pria itu.

"Sudah, ah. Ayo kita pergi sekarang. Terlalu lama larut dengan masalah ini membuat kita gagal pergi jalan-jalan."

"Aku masih meragukan ucapan kamu, Mira."

"Ayo... sudahlah jangan dipikirkan lagi. Kita pergi sekarang." Amira mengedarkan pandangannya. "Nah, tuh si Alesha dan Tina sudah menunggu kita." Menunjuk ke arah Alesha dan Tina yang sedang duduk di sebuah bangku panjang. Terlihat jelas kalau dia mengalihkan topik pembicaraan agar Chayra tidak terus-menerus menginterogasinya.

Chayra memejamkan matanya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Apa yang dipikirkan Amira sehingga gadis itu sampai mau disakiti pria seperti Ardian.

Tarikan tangan Amira memaksanya untuk mengikuti saja kemauan gadis itu.

"Kalian berdua tidak diapa-apain kan sama tu cowok?" Tina langsung mendekati Chayra dan menatap wajah Chayra dengan teliti.

Amira melengos. "Nggak ada yang terjadi. Kak Ardian nggak sejahat itu kok."

"Terus kenapa tadi dia menunjuk-nunjuk Ayra pakai tangan kiri. Nggak sopan banget kan?"

"Memang orangnya orang yang tidak tau sopan santun." Timpal Chayra.

Amira langsung tersentak mendengar ucapan Chayra. "Kenapa sih, harus bahas Kak Ardian lagi? Kita kan mau pergi jalan-jalan. Please deh, lupakan kejadian tadi. Kita habiskan waktu kita tanpa mengingat masalah, ok!"

"Iya, iya.. nggak segitunya juga kali. Cinta sih cinta, tapi kalau udah berani menyakiti ngapain dibelain coba?" Gerutu Tina.

"Sudah, jangan dibahas lagi. Kita berangkat sekarang." Alesha mencoba menengahi.

"Ayo.." Chayra menarik tangan Amira dan Tina.

* * *

1
Danny Muliawati
semangat Ardian
Danny Muliawati
gerak cpt Ardian utk mencari info
Danny Muliawati
tunggu aza akibat dr perbuatan Lo AMIRA
Danny Muliawati
Luar biasa
Danny Muliawati
astagfillahalazim manusia seta SD i Ardian smga segera dpt balasan
Danny Muliawati
kan kejadian si brengek Ardian smga ada yg nolong ya Allah
Danny Muliawati
kok AQ was2 yah dg omongan si Ardian SM ayra
Risma putri Anggraini
parah banget sih ardian
Sadiah
Bagus ceritanya aku suka bangett,, 😊👍
Sadiah
Bagus ceritanya aku suka bangett,, 😊👍
cahaya
menarik 🌹🌹🌹
cahaya
up
Sila Watyi
jahat sekali kka author,,ikut nangiss😭😭😭
Yus
Kecewa
Vivi
👍👍👍👍
Sadiah
lucu suaranya acara cadel gitu,, 😘🥰
Sadiah
yach.. udh habis aja belom liat anak kedua nya... mudah²an ada sambungan nya lagi baby yg kedua chayra&Adrian ☺👍👍
Sadiah
jadi dehh adik buat adzra
Sadiah
sedih banget bacanya episode ini 😭😭
Sadiah
sabar ardian sesungguhnya Allah itu lebih deket dengan seorang pendosa apa lagi kamu benar² bertaubat Allah lebih mencintai Adrian 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!