"Tidak ada yang boleh menyentuhnya barang sedikitpun tanpa seijinku. Karena dia adalah mate-ku. Ingat itu baik-baik." dengan tegas presdir mengucapakannya didepan para musuh.
Missa Elif Kumara. Sekertaris cantik di perusahaan Unilever. Tak disangka oleh Elif bahwa presdir yang memimpin perusahaan dengan segala ketegasan dan kewibawaannya adalah seorang vampire. Dan yang lebih mengejutkan lagi Elif adalah mate dari sang presdir yang sudah ribuan tahun ditunggu-tunggu.
Segala rintangan dan ujian agar bisa bersama dengan dipenuhi kebahagiaan ternyata tak semudah yang dibayangkan.
Apakah Elif dan presdir akan terus bersama dengan segala rintangan dan ujian? Dan apakah Elif akan percaya jika dirinya adalah keturunan penyihir yang seharusnya musnah?
Yuk baca kisahnya. Jangan sampai telat ya.
Jangan lupa like, vote dan follow.
Ig : ZulfaZul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zulfa Laeli Ahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 {Kerjasama}
"Mantan, wajahmu kenapa?" suara terkejut seseorang membuat dua pria yang sedang duduk di sofa juga ikut terkejut.
Wanita cantik bertubuh langsing yang tak lain adalah Malika, langsung duduk di sofa yang kosong. Tangannya menutup bibir, takut ada lalat yang masuk. Tak percaya melihat wajah tampan sang mantan yang kini terdapat luka. Tak seperti terakhir lali dia lihat.
"Aditya, dia kenapa?" karena tak mendapat jawaban dari sang mantan, Malika memilih bertanya pada Aditya.
"Aku ngga papa. Ngga usah khawatir, aku juga ngga butuh. Semua gara-gara rencana kamu. Wajah aku jadi kaya gini tau." ketika Aditya akan menjawab, pria yang duduk disebelahnya itu langsung menjawab dengan cepat. Terdapat tuduhan diakhir kalimatnya pada sang mantan yang duduk berhadapan dengannya.
"Idih, aku kan cuma tanya. Kasihan kan muka kamu sudah jelek tambah jelek lagi. Hahaha." Malika membalas dengan ejekan. Tak mau kalah dengan ucapan sang mantan.
"Ngga usah basa-baso, ada apaan sampai kamu minta kita berdua kemari?" Marco yang tidak sabar langsung mengalihkan pembicaraan menuju inti.
"Soal kerjasama. Rencana aku berhasil. Dihari dimana kita janjian, aku sama presdir akhirnya bisa dekat. Walau cuma sebentar." terlihat wajah ceria Malika menjawab pertanyaan Marco.
"Cih, cuma itu?"
Malika melempar tasnya dengan kesal ke arah wajah Marco yang terluka. Namun, tas tersebut justru ditangkap oleh Aditya, berusaha melindungi wajah bos-nya yang terluka. Bisa jadi, jika tas mahal itu mengenai wajah bos-nya maka luka tersebut akan semakin bertambah parah.
"Ya iya lah. Aku cuma mau bilang kalau rencana yang aku buat berhasil."
"Berhasil apanya? Gagal. Aku ngga tambah dekat sama Elif, justru jika dia tahu siapa yang menyekapnya bisa jadi dia akan membenciku bukan menyukaiku." kesal Marco. Saat dirinya mengingat waktu di gudang tengah hutan.
Semua adalah ide dari Malika. Dia menang banyak, bisa dekat dengan pria yang dia inginkan yaitu presdir. Sedangkan Marco, dia perintahkan oleh Malika untuk menyekap Elif di gudang. Dan hal itu adalah sebuah kesalahan besar.
Marco baru menyadari semuanya. Kesalahan terbesarnya adalag berurusan dengan seseorang yang ternyata diluar dugaanya.
***
"Sofu, aku merasa tidak kuat untuk menanggung kekuatan sebesar ini ditubuhku. Rasanya sangat sakit. Apalagi cincin ikatan ku dan presdir hilang. Kekuatan ini bisa jadi tidak terkendali. Aku takut melukai banyak orang." Elif tertunduk sedih setelah mendengar ucapan sofu tentang kekuatannya.
"Minumlah ini." sofu menyodorkan sebotol kecil yang berisi ramuan. Ramuan itu berkhasiat untuk mengendalikan kekuatan yang mengalir didalam darah.
Sangat berguna untuk Elif yang saat ini masih belum bisa mengendalikan kekuatannya.
Darah mendesir pelan. Berputar secara bergantian mengalir teratur di tubuh. Lebih terasa tenang. Bahkan kekuatan yang tadinya selalu terasa sangat kuat, kini perlahan mulai melunak.
"Bagaimana?" Tanya sofu saat melihat Elif yang seperti merasakan sesuatu.
Presdir yang duduk disamping Elif, menggengam tangan sang mate. Menguatkan jika ada sesuatu yang terjadi. "Terasa lebih terkendali." Elif menjawab setelah memejamkan matanya. Merasakan desiran pelan yang terasa diseluruh tubuh.
"Sofu, mengenai cincin itu bagaimana?" Tanya presdir bergantian.
"Jangan kamu pikirkan. Sekarang kamu lepas cincinnya. Gunakan kekuatan batin kalian saja. Aku takut jika seseorang yang mengambil cincin itu akan menggunakannya untuk kepentingannya sendiri. Jika itu terjadi, maka kamu (presdir) akan terikat juga. Aku tidak ingin itu terjadi, Dex." jawab sofu dengan memandang ke arah cincin yang terpasang dijari panjang sang cucu.
*
*
*
Bersambung...
Maaf ya gaes, beberapa chapter terakhir ngga bikin asik. Mungkin setelah ujian selesai, chapter selanjutnya bakal lebih asik dan menghibur.
Jangan lupa like, koment dan favorite, GRATIS!!! Kalau mau sedekah, silakan kasih hadiah dan vote (hari senin). Makasih semuanya...