NovelToon NovelToon
Bingkai Surga Untuk Ellana

Bingkai Surga Untuk Ellana

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:623.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

"Aku sudah menutup semua pandanganku untuk dunia yang sementara ini, Ellana. Aku sudah buta, buta akan keindahan yang tersaji di luar sana. Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang memang tidak ingin aku lakukan. Jangan paksa aku untuk menjadi seorang suami yang tidak pernah bisa mencium aroma surga karena tidak bisa berlaku adil."

***



Ketika Allah menunjukkan kasih sayangNya dengan menggubahkan segores ujian di dalam bahtera rumah tangga, mungkinkah cinta itu masih tetap terbingkai utuh? Sanggupkah sepasang suami istri menjalani ujian itu dengan penuh keikhlasan? Dengan selalu berpegang teguh pada janji Allah bahwa akan ada surga bagi orang-orang yang sabar dan ikhlas?

Dan ketika sebuah janji telah terikrar untuk sehidup sesurga bersama seorang wanita yang telah ia pilih untuk ia jadikan pendamping hidup, mungkinkah janji itu akan tetap terjaga, meskipun pendampingnya kini sudah tidak lagi sempurna? Masihkah surga itu tetap terbingkai indah di dalam kehidupan mereka?


Rama Gilang Pradana bersama Ellana Alessia Safaraz Ismail akan memulai kisah mereka di sini. Sosok dua manusia yang mendamba surga dalam perjalanan cinta mereka.


Slow Update

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepiting Rebus

"Terimakasih banyak ya nak Al, karena kamu sudah mau direpotkan untuk menunggu Nana di rumah sakit."

Alan tersenyum simpul. "Tidak masalah Tante, saya yang seharusnya minta maaf. Karena dalam kondisi sakit seperti ini, saya masih mengganggu Nana untuk memikirkan masalah pekerjaan. Pekerjaan ini harus selesai hari ini juga Tan, karena lusa, para kontraktor sudah mulai bekerja."

Alan, hampir seharian setia menunggu Nana di rumah sakit. Setelah Ellana memintanya untuk datang ke rumah sakit siang tadi, sampai hari berganti malam pun ia masih setia berada di tempat Nana tengah terbaring. Bukan hanya sekedar menjenguk ataupun menunggu Nana, namun ia juga terpaksa harus membawa pekerjaannya ke rumah sakit, karena lusa proyek pembangunan cluster di pusat kota sudah mulai berjalan.

Lintang tersenyum simpul. "Nak Al, apakah kamu membutuhkan sesuatu untuk dimakan? Tante belikan di kantin ya?"

Alan menggeleng sembari tersenyum. "Tidak perlu repot-repot Tante, nanti biar saya sendiri yang ke kantin. Tante Lintang istirahat saja. Saya lihat tante Lintang begitu lelah."

Lintang terkekeh. Memang benar apa yang dikatakan oleh saudara kembar Ellana ini, bahwa ia merasa sangat lelah hari ini. Apalagi setelah beberapa hari berada di rumah sakit, meski tidak melakukan apapun namun ia merasakan badannya terlalu lelah.

"Atau Bunda istirahat saja di rumah? Biar bisa beristirahat dengan tenang. Kalau tidur di rumah sakit pasti tidak akan nyaman bukan?"

Nana yang melihat wajah sang bunda yang begitu sayu semakin membuatnya iba. Memang benar apa yang dikatakan oleh banyak orang bahwa tempat istirahat paling nyaman adalah di dalam rumah, bukan di rumah sakit.

"Sayang, kalau Bunda pulang, kamu bagaimana? Siapa yang akan menjagamu Nak? Adik-adikmu memiliki acara masing-masing. Sedangkan ayah sedang berada di luar kota, jadi hanya Bunda yang bisa menjaga kamu di sini Nak."

Nana mengulas sedikit senyumnya. "Bunda jangan khawatir. Sepertinya selepas Isya', ayah Agum dan tante Sarah tiba di Jogja, jadi mereka bisa menggantikan Bunda menjaga Nana."

Dahi Lintang mengernyit. "Benarkah seperti itu Sayang? Tapi mengapa ayah Agum tidak memberitahu Bunda jika ia dan tante Sarah akan ke Jogja?"

"Sebelumnya ayah Agum tidak memiliki rencana apapun Bun. Ayah hanya ingin berkunjung ke makam nenek akhir bulan ini, tapi setelah mendengar kabar Nana masuk rumah sakit, ayah mendadak memajukan rencananya datang ke Jogja."

Lintang mengangguk-anggukkan kepalanya. Hubungan silaturahmi dengan mantan suaminya memang berjalan baik, namun itu semua hanya sebatas saling memberi kabar satu sama lain. Selebihnya Nana sendirilah yang begitu akrab dengan ayah kandungnya. Meskipun hubungan mereka terjalin hanya lewat ponsel saja.

"T-tapi selama Bunda pulang, kamu di sini bersama siapa Nak? Masa iya Bunda meninggalkanmu sendiri?"

"Biar saya yang tetap di sini Tante, sampai ayah Nana tiba di rumah sakit ini."

Al seperti memanfaatkan kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Nana. Setelah mengetahui jika hubungan saudara kembarnya dengan Rama sudah diketahui oleh Nana, membuat Al semakin gencar melakukan pendekatan kepada wanita yang sudah berhasil mengusik ketentraman batinnya itu. Ia hanya berharap semoga kehadirannya bisa sedikit mengobati rasa kecewa yang dirasakan oleh wanita itu.

Nana menoleh ke arah Al yang saat ini berada di sisi ranjangnya. "Mas Al tidak perlu repot-repot. Hampir seharian loh mas Al nungguin aku di sini. Pastinya mas Al kelelahan bukan?"

Al hanya mengulas sedikit senyumnya. "Tidak Na. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Bukankah tadi di sini aku bekerja? Jadi setelah pekerjaan itu selesai, baru namanya aku nungguin kamu di rumah sakit."

"T-tapi Mas..."

"Sudah Na, kali ini jangan menolak ya. Biarkan tante Lintang istirahat di rumah." Al kembali mengedarkan pandangannya ke arah Lintang. "Pastinya tante Lintang juga sangat merindukan suasana rumah bukan?"

Lintang hampir tidak bisa berkata apa-apa. Semua ucapan Al benar-benar membuatnya sedikit tenang jika saat ini ia harus meninggalkan sang anak. "Jadi, apa boleh jika sekarang Tante meninggalkan rumah sakit?"

Al terkekeh. "Tentu saja boleh Tan. Semoga kualitas istirahat Tante di rumah jauh lebih baik ya."

Lintang terkekeh. "Terimakasih banyak nak Al." Ia menjeda ucapannya kemudian mendekat ke arah Nana. "Sayang, Bunda pulang dulu ya. Kamu tidak apa-apa kan di sini sama nak Al sampai ayah Agum tiba di Jogja?"

Nana mengangguk. "Iya Bun tidak apa-apa. Bunda istirahat saja di rumah. Salam untuk adik-adik ya Bun."

"Iya Sayang, Bunda pamit ya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Lintang melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan Nana. Sedangkan Al, mendaratkan bokongnya di kursi kecil yang berada di sisi ranjang El.

"Apakah kamu butuh sesuatu untuk dimakan Na? Kalau butuh, biar aku carikan di luar."

Nana terkekeh. "Mas, aku ini terbaring di rumah sakit karena penyakit typus, jadi tidak boleh makan sembarangan."

Al ikut mengulas senyum. "Aku kira kamu boleh makan makanan dari luar. Kalau boleh bisa aku carikan sate, nasi goreng, atau apa gitu."

Nana semakin mengeraskan tawanya. "Kamu ini bisa saja Mas. Untuk sementara aku tidak diperbolehkan makan makanan seperti itu Mas. Saat ini hanya bubur dan sayur-sayur tawar yang menjadi suplai energiku. Besok kalau sudah sembuh, sepertinya aku akan balas dendam."

"Hahaha benar juga ya. Jangan lupa beri tahu aku kalau kamu mau balas dendam ya. Aku yang akan traktir kamu untuk memakan semua makanan yang kamu mau."

"Tidak perlu Mas, nanti gaji aku mubadzir kalau tidak aku untuk membeli makanan di luar sana, hihihihi."

Rasa hangat menjalar di hati Al tatkala melihat wajah Nana yang dipenuhi dengan rona keceriaan seperti itu. Di dalam hati, ia menyisipkan sebuah pinta, semoga hati wanita yang ada di hadapannya ini suatu saat nanti terbuka, sehingga dapat melihat jika di dekatnya ada seorang laki-laki yang memendam perasaan terhadapnya.

"Na...?"

"Ya Mas?"

"Bagaimana dengan hatimu saat ini?"

Dahi Nana sedikit mengerut. "Hatiku? Penyakit typus ini menyerang ususku Mas, bukan menyerang hati. Jadi aku rasa hatiku tidak bermasalah."

Al berdecak. "Issshhhh bukan itu maksudku Na."

"Lalu?"

"Setelah mengetahui bahwa El akan menikah dengan Rama, bagaimana kondisi hatimu saat ini? Apakah kamu terluka? Kecewa? Atau bagaimana?"

Nana yang sebelumnya menatap netra milik Al, kini ia alihkan pandangannya ke arah depan dengan tatapan menerawang. Masih dengan seutas senyum di bibirnya, ia mencoba menanggapi pertanyaan dari Al. "Mungkin aku hanya terkejut saja Mas. Jika aku kecewa dan terluka rasa-rasanya tidak pantas, karena memang sebelumnya rasa yang aku miliki ini hanya sebuah rasa yang terpendam untuk mas Rama." Nana menghembuskan nafasnya sedikit kasar. "Ada sebuah rasa sesak di dada, namun itu semua hanya sebentar saja. Karena aku selalu percaya bahwa apa yang telah Allah pilihkan pastilah yang terbaik untuk semuanya."

"Apakah kamu membenci saudara kembarku?"

Nana terkekeh sembari menautkan kembali pandangan matanya ke arah Al. "Mana bisa aku membenci sahabatku yang memiliki hati tulus seperti Ellana Mas? Di sini dia tidak bersalah sama sekali. Hati Ellana yang telah terpilih, jadi sebagai seorang sahabat, aku juga harus berbahagia jika melihatnya mendapatkan kebahagiaan."

Al tersenyum lega. "Aku menyangka, hubungan kamu akan berakhir seperti hubungan El dengan Mia, Na."

"Yang terjadi diantara aku, Ellana, dan mas Rama berbeda dengan apa yang terjadi diantara Ellana, Mia, dan Diko. Jika hubungan Ellana, Mia dan Diko sudah sangat jelas bahwa mereka bermain di belakang Ellana. Jadi sangat wajar jika hubungan Ellana dan Mia berakhir tidak baik. Tapi yang terjadi diantara aku, Ellana dan mas Rama, kami semua tidak tahu bahwa diantara kami ada sebuah keterikatan satu sama lain. Ellana tidak mengetahui jika mas Rama adalah lelaki yang selama ini aku damba dan aku juga tidak mengetahui bahwa Ellana lah yang dicintai oleh mas Rama. Jadi ini semua di luar kendali kami, dan rasanya tidak elok jika hubunganku dengan Ellana berakhir begitu saja."

Alan mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Nana. "Syukurlah jika hubungan kalian tetap baik-baik saja Na. Kamu adalah wanita baik Na, semoga Allah memberikan pengganti yang jauh lebih baik untukmu."

Nana tersenyum simpul. "Aamiin Mas."

Aku tidak akan terburu-buru, akan aku temani kamu untuk bisa kembali memulihkan hatimu Na. Aku berdoa, semoga aku lah lelaki yang kelak bisa memberimu kebahagiaan.

***

"Hati-hati di jalan ya Nak. Terimakasih banyak karena kamu sudah mengantarkan Ellana pulang."

Setelah dari butik dan mampir ke warung bakso yang tak jauh dari tempat tinggal Ellana, Rama mengantar pulang calon istrinya itu. Seperti biasa, kedatangannya ke rumah calon mertua, disambut hangat oleh kedua paruh baya itu. Apalagi setelah ia mengutarakan niatnya untuk melamar Ellana secara langsung besok malam, membuat Arsyad maupun Arumi merasakan bahagia yang tiada terkira.

"Sama-sama Om, Tante. Kalau begitu saya pamit dulu ya. Inshaallah besok selepas sholat Isya', saya dan seluruh keluarga besar saya akan berkunjung kemari."

Arsyad mengulum senyumnya. "Baik Nak, kami tunggu kedatanganmu dan keluarga besarmu."

Rama mengangguk. Ia tautkan pandangannya ke arah Ellana yang berdiri di samping Arumi. "El, aku pamit dulu ya. Maaf jika tadi aku terlalu memaksamu untuk pulang bersamaku."

Pipi Ellana memerah. Sebelumnya ia memang merasa kesal karena Rama memaksa pulang bersamanya namun pada kenyataannya hanya menyisakan perasaan bahagia yang begitu membuncah. Wanita itu benar-benar bahagia bisa menghabiskan waktunya bersama dengan sang calon suami.

Ellana menunduk malu. "Tidak apa-apa Ram. Aku justru merasa senang bisa pulang bersamamu. Dengan seperti itu, aku bisa menghabiskan waktu bersamamu."

Rama terkekeh. "Inshaallah sebentar lagi kita akan selalu menghabiskan waktu bersama-sama El. Setiap hari, dari pagi hingga petang dan inshaallah sepanjang usia kita."

Ellana tertegun. Ucapan Rama sukses membuatnya kembali diserang oleh degup jantung yang tiada beraturan dan membuatnya pipinya kembali memerah. Selalu saja, ucapan pemuda ini bisa membuatnya dipenuhi oleh bunga-bunga cinta yang bermekaran di dalam dada. Terlebih lagi Rama mengucapkan kata-kata itu di hadapan papa dan mamanya yang membuatnya semakin tertunduk malu.

Arumi terkekeh. "Hey mengapa wajah kamu berubah seperti kepiting rebus Sayang?"

Ellana terkesiap. Ia hanya bisa memeluk tubuh sang mama dengan erat dan membenamkan wajahnya di dada Arumi untuk menyembunyikan rona merah jambunya. "Mama ... El malu Ma!"

Arsyad ikut tertawa renyah. "Sayang, perkataan nak Rama ini hampir mirip dengan apa yang selalu Papa ucapan kepada mama. Yang selalu sukses membuat mama tersipu malu. Dari sini Papa semakin percaya jika nak Rama bisa selalu membahagiakanmu Sayang." Arsyad menautkan pandangannya ke arah Rama. "Bukan begitu Nak?"

Rama menganggukkan kepalanya. "Inshaallah Om. Semampu saya, akan selalu saya upayakan untuk kebahagiaan Ellana."

Masih dalam dekapan sang Mama, Ellana melirik wajah Rama. Dan dibalas dengan tatapan teduh pula dari kedua netra Rama. Netra keduanya saling bertemu dan mengunci. Rama pun hanya bisa melukiskan seutas senyum dari bibirnya. Sebuah senyum yang mengisyaratkan bahwa ia sudah sangat yakin untuk menjalani kehidupan berumah tangga bersama Ellana. Dan senyum yang semakin menegaskan bahwa hanya Ellana lah yang bisa membuatnya bahagia.

.

.

. bersambung...

Intermezo sebelum lamaran ya Kak... hehehe 🤗 Maaf kemarin tidak bisa membalas komentar kakak-kakak semua satu persatu dikarenakan sedang ada kesibukan di dunia nyata 🙏🙏

Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Bingkai Surga ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik bunga atau yang lainnya. jika punya tiket vote boleh juga jika ingin disumbangin ke author, hihiihii. dan jika menurut kakak-kakak cerita ini menginspirasi, boleh juga jika di share kepada teman-teman kakak semua..🤗🤗

Happy reading kakak..

Salam love, love, love❤️❤️❤️

🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca🌹

1
Heryta Herman
mantap nian ucapan Rama..langsung mengena di hati El,bahkan kita para pembaca kisahmu thor..
lanjut thor...
Heryta Herman
aku mampir lagi mba,ini novel ke 2 mu yg aku baca mba author...
Heryta Herman
Rama itu jodohmu yg sebenarnya El...bersabarlah...dan semangatlah meniti hari dpn mu...yg akan indah pada waktunya...
ika
cantik bgd...
Renesme
Bagus. Mengandung hikmah 👍👍👍
Muhammad Alfan
Alhamdulillah bahagianya yg mau punya baby ..bagus mba othor ceritanya amazing banget suka sekali..semangatt tp maaf ya mba othor itu yang sujud syukur bagusnya kan dirumah punya wudhu dulu terus ada niatnya jg ya mba othor bukan disembarang tempat ..bukan begitu kan mba othor sujud syukur itu kan tandanya kita bersyukur atas anugrah yg diberikan oleh Allah ..maaf ya mba othor ini mah cuma kasih masukan aja semoga ada msnfaatnya ya ...sehat selalu buat mba othor ..dari pertama baca part 1 jg aku sudah suka banget ..
Muhammad Alfan: ya mbak thor ga apa kita saling koreksi aja..maaf ya mbak othor
total 2 replies
Riska Wulandari
ketemu jodoh nih..
Lina Suwanti
🤣🤣🤣
Lina Suwanti
bikin ngiler doank🤤🤤🤤😁
Ka'Unna
semangat kak😍jangan lupa mampir y kak
Sriza Juniarti
lanjutkan rama💕
Diana Budhiarti
ha ha lucu m gemes deh
Diana Budhiarti
duhhh jangan lama lama El..
Diana Budhiarti
Allah pasti mengampuni semua dosa dan kekhilafan hambanya
Diana Budhiarti
mhmm...idaman banget ganteng n Sholeh ya si Rama
Sriza Juniarti
semngat kk,selalu berkarya...bagusss..aku suka💕🥰
Ainuria Maulida Pw
ceritanya bagus bgt 💖
Agus Niati
keren
Anonim
S😢
Renjana
Kerenlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!