Sesuatu yang buruk menurutmu, bisa jadi itu yang terbaik untukmu. sebuah kisah yang berawal dari candaan, berahir dengan sumpah yang harus ditelan selama hidupnya.
Winda, seorang mahasiswi Fakultas hukum. yang terkesan lembut, pendiam, sederhana dimata teman-temannya, ternyata memiliki ketegasan tersendiri.
Sigit, teman sekelas Winda yang banyak humor kelewat batas, Namun dia adalah sosok yang sangat dingin dan cuek dimata papa Winata. Sigit harus menjalani kehidupan bersama dengan wanita yang sudah hampir 4 tahun ia kenal sebagai gadis unik semasa kuliah. mereka dipertemukan dengan cara yang unik pula.
Nah... penasarankan bagaimana kisah mereka ???
ayo baca disini...!!😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifiq mimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Winda dan Sigit sudah chek out dari hotel Mutiara, mereka baru saja keluar dari parkiran mengendarai mobil sport milik Sigit.
"Bang, kita jadi kan kepantai Clara sebentar?" kata Winda senang dengan senyum cerah tersungging dibibirnya, kedua bola matanya berbinar tertuju pada wajah suaminya.
Sigit melirik jam tangannya begitu mendengar perkataan Winda.
"Hm, tapi ingat. Cuma sebentar jangan lama-lama. Abang harus sudah sampai dikantor pak Tirta jam sepuluh tepat." jawab Sigit.
"Sipp boss."
"Enak aja. Saat ini aku jadi driver Win bukan bos."
"He he he iya iya..." Winda tersenyum mendengar omelan suaminya.
Sigit menambah kecepatan laju mobilnya agar cepat sampai tujuannya kepantai Clara, menuruti keinginan istrinya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menempuh jarak kesana, hanya lima belas menit mereka sudah sampai dipinggir pantai Clara.
Winda segera turun dari mobil begitu Sigit menghentikan mobilnya, dia segera berlari menaiki dermaga pantai Clara.
Winda mengenakan kaca mata hitam untuk menghindari silaunya sinar matahari pagi sambil menikmati hembusan sepoi angin pantai menerpa jilbab hijaunya.
Winda membalikkan tubuhnya memanggil Sigit yang bersedekap dada memperhatikannya dari jauh dengan kaca mata hitam yang sudah bertengger dihidungnya.
Sigit mengagumi kecantikan istrinya, dia benar-benar baru menyadari betapa anggunnya Winda dengan berpakaian tertutup seperti itu, dia menertawakan kebodohan dirinya dulu yang selalu membuat ulah mencari cara agar dirinya puas mengolok-olok Winda saat mereka masih semester awal sampai semester lima, namun dia merasa bersyukur sekarang telah mendapatkan Winda, bahkan hanya Windalah menurutnya seorang wanita yang sempurna dimatanya.
"Benar-benar wanita hebat kamu Win, hanya kamulah satu-satunya wanita yang mampu membuatku seperti ini, hanya dalam hitungan minggu saja kamu sudah membuatku benar-benar jatuh cinta dengan sikapmu dan kelembutan perangaimu." kata hati Sigit dengan tersenyum kearah Winda yang masih girang seperti bocah usia dini menikmati sejuknya udara pantai.
Setelah dirasa cukup menikmati pemandangan laut dari dermaga, Winda berjalan menuruni tangga dermaga mendekati Sigit, dia tersenyum bahagia.
"Masih ingat ketika penelitian kita disini Git?" ucap Winda begitu berdiri disamping Sigit.
"Hm. kenapa?" ucap Sigit.
"Ketika kamu dimintai tolong sama kelompok cewek-cewek yang kesusahan..."
"Sudah tidak perlu diingat, memang dasar, cewek kurang kerjaan."
Sigit menyahut perkataan Winda sebelum panjang lebar, dia enggan menanggapi masa lalu yang tidak berarti baginya.
"Enak kali ya dikasih nafas buatan dari cowok idaman." ucap Winda dengan melirik kearah Sigit yang terdiam.
"Tapi sayang... ketahuan bohongnya jadi gatot, gagal total deh, ha ha ha ha" Winda terbahak-bahak menertawakan Sigit, mengingat Sigit yang hanya dikerjain para cewek seksi peserta study banding ketika penelitian dipantai Clara waktu itu.
"Bisa diam gak?! bisa jadi bibir tipis ini yang abang kasih nafas buatan." Sigit gemas menatap tajam bola mata Winda yang berada didepannya, tangannya mendekap tubuh Winda, bibirnya sudah saling berdekatan.
Winda membelalakkan matanya tercengang dengan gerakan cepat Sigit dengan tubuhnya yang sudah berada didekapan suaminya.
"Cupp. makanya jangan coba-coba mengusik semut yang sedang diam, kalau tidak siap untuk digigit." ucap Sigit melepaskan dekapannya setelah memberikan kecupan dibibir Winda.
"Apaan sih Git. Ini ditempat umum."
Winda mendorong tubuh suaminya.
"Iiiiih dasar!!!" Winda kesal dengan tingkah suaminya, dia usap bibirnya yang sudah kena kecupan suaminya, Sigit tersenyum puas telah berhasil mengerjai istrinya.
Sigit memperhatikan jam putih yang melingkar ditangannya, jarum jam menunjuk pada angka delapan dan tujuh, itu berarti sudah jam setengah sembilan lebih lima menit, sudah tiga puluh menit mereka berada dipantai.
Sigit segera mengajak Winda memasuki mobil dan meninggalkan pantai Clara.
❄❄❄
Sigit sudah sampai didepan kantor pak Tirta pengacara kondang setelah mengantarkan Winda dari kantor cabang.
Tok tok tok
"Masuk." suara dari dalam mempersilahkan dirinya masuk.
"Selamat pagi pak." kata Sigit menyapa pak Tirta begitu memasuki ruangan.
"Pagi Git." jawab pak Tirta.
"Sudah siap menangani kasus ini lagi?" tanya pak Tirta
"Sudah pak, berkas kasusnya sudah saya pelajari kemaren sore sampai tadi malam pak."
"Bener-bener tidak salah pilih saya menunjuk kamu menangani kasus ini."
"Mudah-mudahan bisa dimenangkan lagi pak."
"Ya sudah sepuluh menit lagi sidang segera dimulai, ayo keruang sidang sekarang. Semoga sukses." ucap pak Tirta berdiri dari kursinya, tangannya menepuk bahu Sigit memberikan motivasi.
"Terimakasih pak." ucap Sigit.
Mereka berjalan memasuki ruang sidang, begitu sampai didalam ruangan Sigit melihat sudah banyak orang yang hadir untuk ikut menyaksikan persidangan.
Persidanganpun dimulai, Majlis hakim membuka persidangan.
Semua hadirin mendengarkan keterangan dari jajaran pengacara si terdakwa sampai selesai, hingga sampailah kesempatan Sigit untuk menanya dan berargumen kepada terdakwa.
Terdakwa menunduk terdiam diatas kursinya menghadap kursi panas para hakim mendengarkan bantahan-bantahan Sigit.
Untuk terahir kali Sigit melakukan tugasnya dalam persidangan, dia mengeluarkan beberapa bukti yang sangat memberatkan terdakwa, dia menjelaskan dengan berdiri dari meja panasnya yang bersandingan dengan beberapa rekannya.
Hingga pada ahir pembacaan sidang keputusan suasana menjadi tegang ketika hakim ketua menjatuhkan putusannya.
Tepat pukul 13.00 Sigit segera keluar dari gedung pengadilan setelah selesai persidangan menuju parkiran dan mengemudikan mobilnya, dia melajukan mobilnya menuju kantor pusat WP dengan kencang.
Drrrrrtt drrrrrtt drrrrrrttt
Sigit merasakan getaran dari balik jasnya, dia segera mengambil dan melihat layar yang terdapat tulisan Willy.
Sigit mengurangi kecepatan mobilnya memasuki parkiran kantor pusat lalu berhenti diparkiran hususnya.
"Hello bro." kata Sigit setelah memencet tombol hijau menerima panggilan geng boynya dengan dirinya masih dibelakang kemudi ddalam mobilnya.
"Hello man, denger-dengar berhasil lagi nih nanganin kasus."
"Ah biasa aja, udah gak usah dibahas. Ada apa lu hubungi gue?"
"Dasar ya lu Git hahaha, Gue ada acara, dan lu harus dateng tidak boleh nolak."
"Acara apaan? dimana?"
"Acaranya surprise ntar malam di villa Bougenville man, jadi lu harus berangkat dari jakarta nanti sore."
"Gila lu Will, itu jauh sekali, villanya papi lu kan?"
"Iya, papi yang nganjurin, gue tinggal ngikutin aja man."
"Benar-benar gila lu, tiga jam perjalanan itu bro."
"Pokoknya lu harus dateng."
"Gue usahain deh, tapi gak janji ya."
"Terserah, lu jangan nyesel kalau sampai tidak dateng, yang penting gue udah ngundang lu, gue harap lu bisa dateng. By."
"By." Sigit mengahiri panggilannya, lalu membuka pintu, keluar dari mobil bergegas memasuki gedung WP berjalan menuju lift.
Ting.
Suara chat masuk.
Sigit membaca nama-nama chat yang baru masuk, ternyata ada lima chat yang masuk dari istrinya.
Winda
Abang.
Aku izin pergi nginep sama Tania dan Silvi, untuk beberapa hari, kemungkinan hari senin baru pulang.
Sekarang kami sudah dalam perjalanan bersama Tania.
Aku tadi sudah telpon berkali-kali ke nomer abang, tapi abang sibuk terus dari tadi, jadi aku langsung diculik Tania. Sorry ya bang, Winda minta maaf.
Abang tidak usah jemput Winda di kantor cabang.
Sigit langsung menghubungi Winda setelah selesai membaca chat dari Winda.
Tuuut tuuuut tuuuuutt
"Assalamualaikum." suara Winda terdengar dari sebrang.
"Waalaikumsalam, sekarang kamu dimana?! dan mau kemana bersama geng girl?!"
"Sekarang sudah melewati jalan tol jakarta cikampek layang dan jalan tol cipularang. Tapi gak tau mau kemana, coba aku tanya dulu sama Tania, Tan, Tania kita mau kemana tadi? %#@*#@&%##@##**jjkkgvblln...." suara Winda menjawab Sigit sambil bertanya sama Tania dengan menjawab yang tidak jelas.
"Ehem, kata Tania itu... kita mau ke Villa Bougenville."
.
.
.
.
.
Bersambung.
Terimakasih atas dukungannya dengan like, koment n votenya, selalu ditunggu ya dukungannya...💖💖💖
love you all.
semangat ya thor
💖💖💖💖💖
semangat d lanjut ceritanya thor