Dhanil anak yatim piatu yang mencoba untuk menggapai cita cita, selesai SMA bersama dengan beberapa teman akrabnya, Dhanil juga meneruskan studinya di salahsatu perguruan tinggi swasta di Ibukota Sumatera Utara. Dhanil punya pacar bernama Yani, yang sudah memiliki hubungan spesial sejak dari SMA, akan tetapi hubungan mereka ditantang oleh orang tua Yani, karena Dhanil dipandang bukan orang yang tepat karena alasan harta dan kedudukan, akan tetapi keduanya dengan segala konsekuensinya tetap menikah setelah meraih gelar Sarjana, dan memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, Kota Sibolga.
Hubungan yang baru sebentar dirasakan manisnya akhirnya bubar, mereka kalah oleh trik yang dilakukan Ibu Yani. Disinilah kisah Dhanil bergulir dan mengalir berubah ubah, mulai dari keputusannya meninggalkan kota tempat dia dibesarkan menuju tanah peninggalan almarhum ayahnya, kehidupan berliku membuat Dhanil menemukan saudara kandung ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah lama terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Impian Yang Terlanjur Sirna
Dhanil buang nafas berat. Ada rasa sedih yang tiba tiba menghujam jantungnya, ingin rasanya membelai rambut Yani seperti yang ia lakukan dulu. Tapi Dhanil sama sekali tak berani melakukannya.
Dada Dhanil yang terus menerus bergemuruh panjang, berdebar debar tak karuan. Tapi Dhanil tak punya kalimat untuk komentari apa yang disampaikan Yani.
“Istri abang dimana ?”.
Dhanil memandang kearah Yani membuat mereka saling pandang, cukup lama, diakhiri dengan saling membalas senyum, walau tampak sangat tipis sekali, terutama Dhanil.
“Abang baru sekali menikah Yan”.
Yani terkejut juga dan tampak sedikit tertegun. Ada banyak rasa yang malah menusuk nusuk jantungnya, ada rasa sedih, ada haru, tapi juga ada rasa gembira, mendapati Dhanil yang ternyata memilih sendiri membuat Yani menerawang jauh, mencoba mencari alasan kenapa Dhanil begitu.
“Abang … belum …”.
Dhanil anggukkan kepala. “Tidak ada”.
Yani tampak menghela nafas panjang. “Jadi Abang sendiri terus ?”.
Dhanil kembali mengangguk, faktanya memang bahkan tak ada niat Dhanil bahkan untuk berpikirpun soal sebuah pernikahan setelah hubungannya dengan Yani hancur lebur, sudah banyak yang menanyakannya, tapi Dhanil hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Mata keduanya langsung beralih pada Lisa yang melompat terkejut, menjerit kecil dan kemudian tertawa riang saat ikan yang ada di ember Dhanil berlompatan keluar dari embernya, Dhanil berdiri, memasukkan kembali ikannya yang membuat Dhanil harus jongkok tentunya.
Desir dada Dhanil bertambah kuat saat tangan kecil Yani menyentuh pundaknya, debaran dadanya kian membuncah saat anak kecil itu berdiri dekat bahkan menempel ke tubuhnya, senyum Lisa yang terus merekah membongkar habis isi dada Dhanil.
Dhanil kembali ke tempat duduknya semula, kembali saling tatap dengan Yani dan ditutup dengan saling tukar senyum, sesaat kemudian mata keduanya kembali mengarah tepat ke Lisa yang terus asyik mengganggu ikan hasil tangkapan Dhanil, Lisa tampak sangat gembira, berbanding terbalik dengan kedua orang tuanya.
Dhanil kembali melirik Yani, ia tak tahu apakah Yani mengerti betapa Dhanil hancur akibat kehilangan Yani yang tiba tiba. Dhanil tidak juga tahu, apa yang dirasakan Yani setelah itu, Dhanil hanya paham jika ia kehilangan gairah untuk urusan yang bertajuk cinta, selama ini Dhanil sama sekali tak memikirkannya sama sekali.
Yani membuang pandangan lumayan jauh ketengah danau, entah apa yang Yani cari disana, tapi pada nyata yang sesungguhnya sejak dari pertemuan awal tadi hingga detik ini jantungya belum sama sekali tenang, degubannya masih sangat kencang.
Sejujurnya, Yani merasa bahagia dan enjoy saat Anggi menceraikannya, Yani merasa bagai bebas dari belenggu yang mengganggunya, karena sesungguhnya Yani masih tak bisa melupakan apa yang berlaku pada Dhanil, intinya Yani masih sangat menyanyangi Dhanilsepenuhnya.
Perasaan yang Yani punya belum berubah dari pertama mereka mengaku cinta dulu saat masih SMA, hingga kini perasaan itu masih ada, bahkan penyesalan terbesar Yani selama ini adalah mengapa dia begitu lemah dan menyerah dengan perlakuan keluarganya, terutama ibunya.
Dhanil yang belum menikah setelah ia tinggalkan membuat Yani merasa punya harapan baru yang selama ini amat ia pendam, Yani berharap Dhanil punya harapan yang sama dengan harapan yang ia punya.
“Kenapa Abang tidak menikah ?”.
Dhanil menggeleng. “Abang nggak punya niat Yan”.
“Kenapa Bang ?”.
Dhanil kembali menggeleng. “Entahlah, tapi abang memang nggak merasa perlu menggantikan kamu”.
Jawaban Dhanil yang singkat ternyata mampu membuat Yani berdebar debar. Ingin sekali Yani mengatakan agar Dhanil kembali padanya, ingin sekali Yani mengatakan kalau dia juga masih sangat mengharapkan Dhanil kembali kedalam hidupnya, tapi Yani tak berani mengatakan apa yang dirasakannya, sipat seorang wanita mungkin, tak mampu lebih terbuka.
Setelah berbincang sekian lama dengan jarak duduk yang lumayan jauh, akhirnya Yani dan Lisa memlih beranjak juga dari hadapan Dhanilkarena mendapat panggilan dari rekan rekannya untuk kembali pulang ke kotanya.
“Kita pulang Lis, cepat … wawak sudah nunggu”.
Lisa menatap mamanya, tapi tangannya masih berada di ember ikan hasil pancingan Dhanil. “Ini ma …”.
“Apa ?”.
“Ikan cantiknya Lisa bawa ya ?”.
Yani melirik Dhanil yang langsung berdiri, mengambil kantongan pelastik dari jok sepeda motornya, mengambil ikan mas hasil pancingannya, memasukkan kedalam kantongan pelastik dan menyerahkannya pada Lisa.
“Maksaih Om ….”. Lisa tampak sangat girang dibuatnya.
Dhanil hanya bisa senyum, sebenarnya ada yang menghangat di sudut matanya, Dhanil tidak menyangka jika ia sudah punya gadis kecil yang cantik, pintar dan lucu, walau sayangnya si gadis kecil tak tahu jika ikan yang kini terus berontak di kantong pelastik yang ada ditangannya adalah hasil pancingan ayahnya.
Kembali Dhanil dan Yani saling pandang untuk waktu yang cukup lama, di tutup dengan senyuman Yani menggandeng tangan anaknya Yani dan beranjak pergi meninggalkan Dhanil yang masih mematung tak bergerak, dulu mereka punya impian, tapi impian itu tak bertahan lama, semuanya terlanjur sirna.
Dhanil hanya bisa menatap Yani yang beberapa kali masih melirik kebelakang sebelum benar benar hilang. Entah kenapa, setelah Yani dan Lisa pergi kini Dhanil senyum senyum sendiri, seperti punya rasa gembira baru, yang sebenarnya Dhanil juga kurang tahu apa yang membuatnya demikian.
Dhanil berulang kali kembali melempar pancingnya, tapi tak ada lagi keseriusan yang mendapingi Dhanil, hingga tak lama rasa tertariknya untuk melanjutkan memancingnya pun pupus habis.
Tak ada pilihan lain, akhirnya Dhanil juga beresi pancingnya dan angkat ember hitam pulang kembali kerumahnya, bahkan Dhanil tidak singgah lagi dirumah pamannya seperti biasa.
Dhanil memilih tancap gas langsung menuju rumahnya, diatas sepeda motor Dhanil memandangi ikan pancingannya yang tinggal satu, ada rasa bahagia yang tidak tergambarkan, tadi ikan itu ada dua, tapi yang satunya lagi tadi dibawa oleh Lisa, anaknya.
... BERSAMBUNG …
kebaikab selalu menemukan jalan untuk meraih bahagia.. syukurlah Anggi akhirnya terbuka hatinya