NovelToon NovelToon
Ibu Pengganti

Ibu Pengganti

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:953.5k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Jangan lupa tekan jempol dan tulis apa pun di kolom komentar. Itu semua sangat membantu penulis untuk terus update dengan semangat. Terimakasih sudah membaca. Lanjutan dari novel Abang Penjual Sate, Imamku.

********

Ayra, balita berusia lima tahun yang kehilangan ibunya saat baru beberapa Minggu dilahirkan. Mengenal sosok ibu dari cerita semua orang di keluarganya.

Suatu hari, ia meminta pada ayahnya untuk tidak pernah menggantikan ibunya yang pergi. Karena menurutnya, Aisyah tidak akan pernah bisa tergantikan.

Namun, berbeda cerita saat ia bertemu dengan seorang wanita sederhana dari masa lalu sang ayah. Beberapa Minggu bersamanya, Ayra sadar bahwa ia sangat membutuhkan sosok ibu.

Dia meminta pada ayahnya untuk menjadikan wanita itu sebagai ibunya.

Ikuti kisahnya di sini!

Cover: PicsArt

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan II

Hingga setelah Ashar, mereka masih berkumpul di ruangan Razka. Berbincang ringan melupakan ketegangan yang baru saja terjadi. Itulah Razka, persahabatan dan persaudaraan adalah prioritas utama dari pada keegoisan.

Hingga pintu ruangan itu terbuka, menghadirkan sosok penyemangat yang tersenyum ceria seperti biasanya.

Kepalanya hanya terlihat sedikit mengintip dari balik pintu ruangan Razka. Mereka bertiga terkekeh melihat tingkah Ayra yang malu-malu untuk masuk ke dalam.

Ia mulai melangkah, kaki berayun dengan senyum mengembang manis. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, seiring langkah yang terus melaju, raut wajahnya berubah. Senyumnya perlahan hilang, dan digantikan raut sedih yang secara tiba-tiba menelusup ke dalam relung hatinya.

Ketiga pria yang duduk di sofa menanti kedatangannya, mengerutkan kening kompak. Bingung ada apa dengan gadis kecil itu?

Ayra duduk di pangkuan Razka, ia menilik wajah ayahnya yang terlihat sendu di matanya. Ada jejak air mata di sana. Kedua bola mata Ayra, menelisik dengan teliti kedua mata Razka yang masih sedikit memerah. Ia dapat merasakan kesedihan yang kini dirasakan Razka.

Tangan mungilnya mengusap pipi Razka dengan lembut. Mencium kedua mata pria itu dengan bibirnya, hingga meninggalkan jejak basah di kelopak mata Razka.

"Apa Ayah menangis? Apa yang Ayah tangisi? Apakah Ibu?" cecarnya dengan pertanyaan beruntun. Sam dan Rendy melengos halus. Mereka bahkan, tidak mengira Ayra akan tahu jika ayahnya baru saja menangisi ibunya.

"Ayah tidak menangis!" jawab Razka dengan senyum terulas lembut di bibirnya. Ia mengusap rambut gadis kecilnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

"Ayah tidak bisa membohongiku! Di sini, merasakan kesedihan yang datang dari Ayah," sanggahnya menunjuk bagian dadanya sendiri dengan jari telunjuk. Razka mengatupkan bibirnya, tak dapat berkata apa pun lagi.

Peka sekali perasaan Putrinya itu. Ia tidak pernah mengira Ayra akan sepeka ini, hingga dapat merasakan perasaan Razka yang beberapa saat lalu ia tumpahkan.

Rendy dan Sam hanya menatap keduanya dengan situasi yang sudah berbeda menurut mereka. Ayra datang seperti seorang cenayang. Yang mampu melihat masa lalu dan masa depan.

"Ayah hanya merindukan Ibumu," tukasnya lagi. Ayra menggeleng, menolak ucapan Razka.

"Sesuatu lebih menyedihkan dari itu!" katanya yang langsung membuat detak jantung Razka tak beraturan. Berlompatan kian ke mari tak tentu arah. Bagaimana tebakan gadis kecilnya itu begitu tepat.

Rendy dan Sam menatap takjub pada gadis kecil itu. Dia memang istimewa. Ada sesuatu yang lain dalam diri Ayra.

"Ayah, masih belum bisa menerima kepergian Ibu sepenuhnya." Ayra beranjak, ia merengkuh leher Razka dan membenamkan wajahnya di pundak kokoh sang Ayah.

"Kau benar, sayang," jawabnya bergetar. Ayra melepas rangkulan tangannya di leher Razka, memberikan sebuah kecupan basah di dahi pria rapuh itu. Gadis kecil itu tersenyum, lugu dan menggemaskan.

"Ibu tidak meminta untuk dilupakan, tapi juga tidak ingin ditangisi terus-menerus. Kepergian Ibu akan membawa takdir lain dalam hidup kita, Ayah. Jadi, jangan pernah bersedih lagi," katanya bijak.

Razka terenyuh, bukan hanya dirinya. Sam dan Rendy pun mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan Ayra. Razka ikut mengangguk saat tatapannya beradu dengan manik hangat milik gadis kecil itu.

"Terimakasih, sayang!" ucapnya mengukir senyum bangga di bibirnya. Ayra mengangguk. Ia menoleh pada Rendy dan Sam yang hanya terdiam mendengarkan.

Ayra memberengut, saat kedua pria itu hanya memandanginya dalam diam, "Kenapa kalian memandangiku seperti itu!" ketusnya tak suka.

Rendy dan Sam berubah salah tingkah, mereka berdua memalingkan wajah dari Ayra sembari mengusap tengkuk mereka.

"Bagaimana perasaanmu, Paman? Apa kau sudah memutuskan akan melakukan apa?" tanyanya pada Sam. Yang ditanya justru hanya terdiam membisu. Ayra mendesah.

"Percintaan, Paman? tentu saja. Apa lagi?" tanyanya jengah. Sam mengerjap tak percaya. Memangnya dia mengerti apa tentang percintaan. Ayra mendengus saat Sam hanya menggeleng tanpa suara.

"Dengan siapa kau datang?" tanya Razka yang berhasil membuat Ayra berpaling dari dua laki-laki yang membisu itu.

"Kak Zia. Aku ikut Omah ke butik, tapi Opah menjemputnya untuk menemani bertemu dengan klient. Aku yang meminta Kak Zia untuk mengantar ke restauran Ayah," jawabnya jujur.

"Lalu, di mana dia sekarang?" tanya Razka lagi. "Kakak di bawah, mengobrol dengan seseorang. Paman Roy yang mengantarku di ruangan Ayah," tukasnya lagi. Razka mengangguk.

Tak berapa lama, suara ketukan di pintu terdengar diringi suara manis seorang gadis, "Boleh Zia masuk?" ucap suara Zia dari luar ruangan.

"Masuklah!" timpal Razka mengizinkan. Zia masuk membawa beberapa makanan dan minuman di tangannya. Ia sedikit terkejut karena ternyata di ruangan itu tak hanya ada Razka. Tapi, juga Rendy dan Sam.

Ia berjalan menunduk, saat Sam yang terus mengawasinya dari pintu hingga kini berdiri di dekat meja. Matanya tak lepas dari memandang gadis manis berkerudung coklat itu.

Zia meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya ke atas meja. Ia duduk di kursi lain dengan wajah yang masih menunduk.

"Jangan melihatnya seperti itu! Dia bukan wanita ular sepertinya, yang tak tahu malu. Dia adikku!" sindir Razka dingin.

Sam kembali salah tingkah, ia membuang pandangannya dari Zia yang masih menunduk.

"Maaf, Kak. Tapi, Zia harus kembali ke butik. Belum melakukan rekap harian," pamit Zia dengan sopan. Razka mengangguk.

"Kakak pergi dulu ya!" ucapnya pada Ayra. Gadis kecil itu pun mengangguk. Zia beranjak berdiri dan mulai mengayunkan langkahnya meninggalkan ruangan Razka.

"Tunggu!" sergah Razka yang membuat langkah kaki Zia ikut terhenti. Ia berbalik dengan dahinya yang mengerut.

"Siapa yang mengantarmu?" tanya Razka. Ia melirik Sam yang diam-diam mencuri pandang pada Zia.

"Aku pergi dengan taksi, Kak," jawabnya jujur. Razka melihat ke arah Sam secara terang-terangan.

"Kau antar adikku ke butiknya!" titah Razka yang membuat Sam mengangkat wajahnya tak percaya.

"Tidak usah, Kak. Biar aku naik taksi saja," tolak Zia merasa tak enak harus merepotkan orang lain.

"Tidak apa Zia, Sam sedang menganggur di kota ini," sindir Razka lagi yang membuat Sam mendengus kesal.

"Baiklah, biar aku yang mengantarmu," ucapnya seraya beranjak dari duduknya dan melangkah mendahului Zia yang masih bediri di ruangan itu.

Gadis itu pun memutar tubuhnya dengan wajah yang bersemu merah. Ia mengikuti langkah lebar Sam yang berjalan tak jauh darinya.

"Terimakasih, Kak. Maaf merepotkan, Kakak," ucap Zia di dalam perjalanan mereka menuju parkiran. Sam mengibaskan tangannya tak acuh, "Aku tidak merasa direpotkan sama sekali," tukasnya melirik Zia dengan senyum mematikan miliknya.

Zia kembali tersipu, ia berjalan menunduk tak berani bertatapan dengan Sam. Ia gadis yang pemalu.

"Silahkan!" katanya mempersilahkan Zia masuk ke dalam mobil setelah ia membukakan pintu untuknya.

"Terimakasih," ucap Zia karena ia tidak tahu, harus mengucapakan apa lagi selain terimakasih.

Sam menutup pelan pintu mobilnya, ia berjalan memutar ke arah kemudi dan duduk di balik kemudi. Di sepanjang perjalanan, Sam mencoba mengakrabkan diri. Meski Zia adalah gadis yang pemalu, tapi dia orang yang asik diajak bicara.

Berbincang dengannya, Sam tidak merasa bosan sama sekali. Waktu berlalu begitu cepat, hingga akhirnya mereka tiba di butik Mamah. Sam dan Zia pun bertemu untuk kedua kalinya dan mereka berpisah untuk bertemu lagi.

1
🌹🪴eiv🪴🌹
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
🌹🪴eiv🪴🌹
si Aul, hadeh bikin repot malahan nanti
菲菲 Dwi L Arema: Terlalu banyak drama dia
total 1 replies
🌹🪴eiv🪴🌹
kanapa Ibrahim jadi batu

bayi dong
🌹🪴eiv🪴🌹
hiks.....mewek saiya
🌹🪴eiv🪴🌹
tenda - tenda
🌹🪴eiv🪴🌹
apakah kita akan menghabiskan tisu juga disini 🤭
Aisy Hilyah: sepertinya
total 1 replies
Ummu Ayyas
MasyaaAllah nangis jadinya teringat ibu yg telah tiada
Ummu Ayyas: oke shiaap 💖💖💖
total 2 replies
susi 2020
🥰🥰🥰
susi 2020
😘😘
susi 2020
😍😍
susi 2020
🥰🥰
susi 2020
😍😍😍😘
susi 2020
😘😘
susi 2020
x🥰🥰
susi 2020
😘😘
Faris Setyawan Fais
Novel bagus betul, cuman aku gak sanggup baca sampai habis, selalu ingat Aisyah jadi nyesek
Rosmawati/jnr
Bagus banget
Sativa Kyu
👍👍👍
Maura
visual Ayra dan yang lainnya dong thor biar tambah semangat membaca🙏
Aisy Hilyah: ada ga ya, aku lupa. hehe
total 1 replies
Maura
visual jangan lupa thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!