Kisah tentang Natasya Faradila yang mencoba hidup kembali. Tasya, yang merubah nama panggilannya menjadi Dila, adalah seorang wanita yang dijadikan budak seks oleh para mafia yang kejam. Ia digauli oleh banyak lelaki bejad yang tak tahu diri.
Hingga akhirnya ia terbebas, dan ia memutuskan untuk merantau ke Bali, menata kembali hidupnya agar lebih baik lagi. Hal buruk menimpanya, ketika ia dinyatakan hamil, dan ia harus membiayai putrinya. Dila memutuskan untuk kerja serabutan dan kuliah jurusan administrasi perkantoran, agar ia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.
Beberapa tahun kemudian, Dila diterima bekerja menjadi sekretaris di Jackson grup. Menjadi sekretaris sang Presdir Kaisar Gavindra. Karena seringnya mereka berinteraksi, munculah perasaan yang berbeda untuk Dila.
Kaisar yang telah dijodohkan oleh keluarganya menolak keras perjodohan itu, karena ia mulai mencintai Dila. Namun, bagaimana kalau Kaisar tahu mengenai kisah kelam masa lalu Dila? Akankah Kaisar bisa menerima semua itu?
Nantikan kelanjutannya ya guys...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku munafik
Malam ini, setelah selesai makan bersama dan bermain dengan Clais, Dila segera merebahkan tubuhnya di kasur. Ia tetap tidur sendiri, karena Clais selalu ingin tidur bersama Mbok Marni. Walau sudah tinggal bersama, tapi Clais tetap dekat dengan Mbok Marni. Karena kapasitas Dila yang tengah sibuk bekerja, membuat Clais kurang dekat dengannya.
Tiba-tiba, ponsel Dila berdering. Ia pun segera mengambil ponselnya dan melihat nama di layar ponselnya. Dila bangun dari tidurnya ketika melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya. Belva, memanggilnya. Belva adalah sosok wanita yang dulu pernah menabrak Clais.
Dila ingat betul pada Belva, karena saat itu pun Dila ingin meminta bantuan pada Belva, untuk pergi pulang ke Jakarta lagi. Sayangnya, Kaisar menahan kepergian Dila, hingga Dila tak jadi pergi ke Jakarta bersama Belva. Dila pun segera mengangkat telepon dari Belva. Dila penasaran, apa yang akan Belva katakan padanya.
"Halo, Mbak Belva ... selamat malam," sapa Dila lewat ponselnya.
"Hai, Mbak Dila ... lama tak bersua, apa kabar? Belva ganggu Mbak Dila gak nih malam-malam gini?" tanya Belva.
"Enggak, kok. Saya belum tidur, Mbak. Baik, alhamdulillah baik. Mbak sendiri gimana?"
"Baik Mbak Dila. Ya ampun, Belva kangen banget lho sama Mbak Dila ... udah lama kita gak ketemu ya."
"Iya, Mbak Belva. Udah lama kita gak ketemu. Mbak Belva gimana? Baik-baik aja kan kariernya?" tanya Dila.
"Baik, Mbak. Oh iya, sebenarnya ... tujuan Belva menelepon Mbak Dila itu karena ada sesuatu yang ingin Belva katakan pada Mbak Dila," ucap Belva penuh semangat.
"Oh ya? Apa itu, Mbak?"
"Pekan depan, Belva sama tunangan Belva mau ke Bali, Mbak. Sesuai janji Belva, jika nanti Belva akan kembali lagi ke Bali untuk liburan. Belva juga ada hadiah kecil-kecilan untuk Clais. Apa Mbak tak keberatan jika nanti kita bertemu?" tanya Belva.
"Waah, Mbak Belva mau ke Bali ya, saya turut senang dengarnya, Mbak ... tentu saja, kita bisa bertemu. Tapi, Mbak gak usah ribet-ribet bawain apa-apa untuk Clais. Ketemu Mbak Belva lagi juga kita sudah senang." Jawab Dila.
"Gak apa-apa, Mbak. Belva sama tunangan Belva sudah pesan hotel di daerah Denpasar, nanti Mbak Dila juga ikut ke hotel ya. Biar nanti Belva pesankan untuk kalian. Kita liburan bersama-sama saja. Mbak gak usah sungkan, Belva sudah anggap kalian sebagai saudara. Ya Mbak, ya? Jangan nolak, please ... Belva mohon," Belva terus memohon lewat ponselnya.
"Iya, iya ... gimana nanti saja Mbak. Gampang kalau soal itu. Saya juga harus minta cuti dulu sama Bos, biar bosa menemani Mbak Belva seharian. Karena kadang di hari libur pun saya selalu bekerja." Ucap Dila.
"Baik, Mbak ... nanti Belva hubungi Mbak Dila lagi ya, pokoknya nanti kita harus bertemu,"
"Iya, iya ... sampai bertemu nanti pekan depan ya," jawab Dila.
"Baik, Mbak ... kalau gitu, sudah dulu ya ... ini sudah malam, maaf Belva mengganggu waktu Mbak Dila. Belva cuma mau kasih tahu kabar ini saja sebenarnya,"
"Gak ganggu kok. Justru saya senang, Mbak Belva masih ingat saya dan juga Clais. Terima kasih karena tidak melupakan kami," Dila tersenyum senang.
"Iya, Mbak ... tentu saja Belva gak akan lupakan kalian. Belva berdoa besar pada Clais. Bisa melihat Clais sehat kembali pun sudah merupakan satu kebahagiaan bagi Belva. Terima kasih, karena Mbak Dila orang yang begitu baik dan tulus. Terima kasih ya, Mbak ... kalau begitu, sudah dulu ya, nanti Belva hubungi lagi. Selamat malam, Mbak Dila. Terima kasih atas waktunya ..."
"Iya, Mbak Belva ... sama-sama, selamat malam."
Telepon pun tertutup. Dila merasa bahagia, karena Belva orang yang begitu baik dan tulus. Ia bernafas lega, karena masih ada orang baik yang tulus didalam hidupnya seperti Belva. Belva tak menjauhinya, ia tetap ingin menjalin hubungan silaturahmi dengan Dila, dan itu membuat Dila merasa dihargai oleh Belva.
Aku harus meminta izin cuti pada Pak Kaisar. Aku takut, kalau hari libur nanti dia malah mempekerjakan aku. Eh ... tapi, eh tapi ... bukankah sekarang ada Anara? Apa mungkin Pak Kaisar memintaku bekerja di hari libur sementara Anara ada di sisinya? Ah, mungkin saja Anara yang akan disuruh oleh Pak Kaisar. Karena mereka kan dekat. Tapi, kalau aku tak meneleponnya sekarang, besok ada Anara. Apa aku telepon saja Pak Kaisar sekarang? Batin Dila.
...❤❤❤❤❤❤❤❤...
Sebenarnya, bagaimana perasaanku pada Dila? Kenapa hatiku ini begitu tak menentu? Aku selalu merindukannya ... tapi, seakan-akan mulutku berkata jangan karena rasa gengsi ini. Semua karena kabar mencengangkan bahwa Dila telah memiliki anak. Aku tak munafik, aku benar-benar kecewa padanya. Apa aku bisa membencinya? Sementara hatiku terus saja mengingat dia. Batin Kaisar.
Kaisar terus bergelut dengan hati dan perasaannya. Tak mudah baginya untuk melupakan fakta tentang Dila yang membuatnya shock. Bahkan, sampai saat ini pun perasaan kecewa dan terluka masih hinggap di hati Kaisar. Walau Kaisar tetap mencoba melupakan semuanya, namun bayangan kekecewaan tetap tak bisa Kaisar lupakan.
Bayangan Dila terus menghantuinya. Kaisar mencoba melupakan semuanya dengan kehadiran Anara, agar Kaisar tak terus bergantung pada Dila. Tetapi ... tetap saja yang selalu ada dalam pikiran Kaisar adalah Dila, Dila, dan Dila saja. Kaisar mungkin jatuh cinta pada Dila. Tapi, karena gengsi nya Kaisar mencoba untuk tetap diam. Sifat Dila juga yang terlalu menutup hatinya, membuat Kaisar begitu kesulitan dan tetap menjaga gengsinya bahkan sampai saat ini.
Tiba-tiba ....
Dila my secretary is calling ....
Kaisar begitu kaget melihat Dila memanggilnya. Seakan Dila tahu isi hati Kaisar yang sedang memikirkannya. Dengan tangan sedikit bergetar, Kaisar mencoba mengangkat telepon Dila dengan perasaan senang dan hangat.
Ya Tuhan ... kenapa dia meneleponku? Apa dia tahu, bahwa aku sedang memikirkannya? Dila, apakah aku memang orang yang munafik? Maafkan aku, karena ketidakberdayaan ini. Batin Kaisar.
"Ha-halo, Dil. Ada apa?" jawab Kaisar sedikit gugup.
"P-Pak, maaf ... apa saya mengganggu?"
"Enggak, kok. Saya belum tidur. Ada apa?" jawab Kaisar.
"Saya mau minta izin cuti Pak untuk pekan ini. Apa boleh?"
DEG. Kaisar seakan tak rela.
"Kamu mau ke mana?" jawab Kaisar sedikit sensitif.
"Wanita yang menabrak Clais dulu, akan datang ke sini bersama kekasihnya. Mereka akan berlibur di Denpasar, dan mengajak Clais beserta saya untuk turut liburan bersama mereka. Jadi, saya minta izin cuti, takutnya ada pekerjaan mendadak," ucap Dila begitu hati-hati.
"Kau tak malu?"
"Malu? Malu kenapa, Pak?" Dila heran.
"Wanita itu bersama kekasihnya. Kau akan bersama siapa? Apa Ayah anakmu akan datang dan kalian liburan bersama?" Kaisar cemburu.
DEG. Dila begitu kaget tak menyangka dengan ucapan Kaisar yang menyinggung Ayah Clais. Jantungnya bergemuruh hebat, kenapa tiba-tiba kata itu muncul dari mulut Kaisar?
"Jangan singgung Ayah dari anakku. Karena Clais tak punya Ayah, dan aku hanya berdua bersama anakku untuk bertemu dengan Mbak Belva. Maaf, Pak ... saya rasa tak perlu panjang lebar menjelaskan pada Pak Kai, perihal tujuan cuti saya. Yang saya ingin, apa Bapak mengizinkan saya cuti untuk pekan nanti?" Dila sakit hati, tapi ia mencoba tegar dan mengalihkan pada fokus pembicaraan.
Benar dugaanku. Ada rahasia yang tak aku tahu pada kehidupan Dila. Ingin rasanya aku mengorek semuanya. Tapi ... akankah aku sanggup menerimanya? Batin Kaisar.
"Baiklah, aku mengizinkanmu untuk cuti. Tapi, dengan satu syarat," ucap Kaisar.
Dila menghela napas, terasa suara hembusan napasnya di ponsel Kaisar, "A-apa? Syarat apa, Pak?"
"Aku ikut cuti denganmu, dan menemanimu liburan bersama mereka."
"A-apa?" Dila teramat kaget.
Jika kau sendiri, aku yang akan menemanimu, Dil. Kau tak boleh kesepian. Ada aku, untukmu ... walau aku bukan siapa-siapa bagimu, walau aku tak tahu kisahmu, tapi hatiku selalu ingin melindungimu.
*Bersambung*
tapi sudah tamat
koq belum up juga.
Ayo donk kk. Semangaaaaaat...
Tunjukkan karya terbaikmu...
Aq setia menanti up nya