"Kau istriku, Laura!"
Sabiel membopong tubuh telanjang Laura. Dan membanting pelan tubuh itu di tempat tidur. Laura berteriak histeris ketika Sabiel mulai mencumbuinya kembali. Air mata sudah tak bisa ia tahan, Sabiel benar-benar membuatnya merasa ketakutan.
"Kau mungkin bisa menyentuh tubuhku Sabiel, tapi kau tidak akan bisa menyentuh hatiku." ucap Laura disela tangisnya yang semakin terdengar pilu.
Gadis itu memejamkan matanya rapat, ketika Sabiel mulai menciumi tubuhnya dengan buas.
Update setiap hari kecuali minggu.
Jangan lupa like, vote dan komen! 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Hai semuanya! 👐😉
Selamat hari senin, semoga hari kalian menyenangkan ya 😍😍
Sesuai permintaan kemarin dari kalian, hari ini Author akan RILIS DUA BAB untuk kalian.
Semoga kalian suka 🤲
HAPPY READING GUYS!! 📚
Selamat bersenang-senang 😉😍
...****************...
Di pagi yang masih malu-malu, Sabiel mengerjapkan matanya. Ia terbangun dengan setengah badan berada di atas Laura, matanya langsung berhadapan dengan p*ting payudara Laura yang coklat kemerahan. Ia tidak tahu bagaimana bisa ia tidur dengan kepala berada tepat di dada istrinya.
Sabiel menegakkan tubuhnya, menatap Laura yang masih tertidur pulas tanpa merasa keberatan dengan setengah badan Sabiel yang menimpanya. Laura pasti kelelahan karena ulah Sabiel semalaman kemarin.
Dalam kondisi tidur, Laura terlihat begitu lembut. Begitu cantik tak tercela. Sabiel menyeringai sembari menyugar rambutnya, ketika ia menyadari bahwa Laura begitu membuatnya menggila semalam. Wangi segar khas tubuh Laura terasa masih membekas disekujur tubuhnya.
Sabiel teringat sesuatu. Ia menyibak sedikit selimbut yang membalut rapat tubuh b*gil mereka berdua. Melihat dengan teliti bercak darah segar yang mengering di area sel*ngkangan Laura.
Tanpa berlama-lama ia bangkit dari tempat tidur, menyambar jubah tidurnya dilantai dan berjalan santai menuju kamar mandi. Sabiel berjalan sembari meregangkan otot-ototnya.
Dibawah guyuran shower, benak Sabiel memutar kembali pertarungan sengitnya semalam dengan Laura. Dia melirik bekas gigitan kuat Laura yang mulai legam. Gadis itu, sekuat apapun tenaganya, tak kan pernah sebanding dengan tenaga lelaki.
Sabiel telah berhasil membuahinya. Benihnya berhasil bersarang dengan baik di dalam pusat Laura yang memabukkan. Tak ada lagi yang paling membuatnya melayang selain mengetahui fakta bahwa kini Laura adalah satu kesatuan dengannya. Dirinya telah menyatu dalam gairah yang tak pernah padam bersama Laura.
Dengan handuk kecil di pundak, Sabiel keluar dari kamar mandi sembari menggosok rambutnya yang basah. Matanya tertegun, ketika melihat Laura sedang duduk bersandar di tempat tidur dengan tangan yang sibuk mengusap sebelah matanya, sementara tangan yang lain memegang erat selimbut didadanya agar tidak merosot. Penampilan Laura saat itu membius Sabiel. Laura tampak berantakan, polos, dan cantik.
Mata coklat itu berubah waspada ketika matanya semakin jelas melihat Sabiel berdiri dekat dengan pintu kamar mandi. Laura beringsut seiring langkah Sabiel yang mendekatinya. Wajahnya tetiba meringis ketika merasakan ngilu di pangkal pahanya. Rasa nyeri yang menggigit hingga ia tak sanggup lagi untuk bergerak.
"Apa sakit sekali?" suara berat penuh rasa khawatir keluar dari bibir Sabiel. Lelaki itu duduk di tepian tempat tidur, menatap Laura dengan penuh penyesalan.
Laura diam. Enggan menjawab pertanyaan bodoh yang dilontarkan lelaki di hadapannya. Gadis itu memalingkan muka. Memutus tatapan Sabiel pada dirinya. Sabiel cukup sadar akan letupan emosi yang masih dimiliki Laura padanya. Lelaki itu menyentuh dagu Laura, memaksa istri mudanya untuk menghadap padanya dan langsung mencium dahi Laura, lalu mencium juga ujung hidungnya.
"Aku akan siapkan air hangat untukmu." ucapnya seraya beranjak menuju kamar mandi.
🍁🍁🍁
Tidak ada lagi yang tersisa dalam diri Laura selain kesedihan dan air mata. Matanya berkabut kembali ketika Sabiel meninggalkannya di dalam bathtub air hangat yang tadi lelaki itu sediakan.
Perasaan jijik, muak, benci, serta sedih bercampur menjadi satu dalam hati Laura. Jiwanya merasa terkoyak sama seperti tubuhnya. Sabiel sudah mengambil kesuciannya. Sabiel memperkosanya!
Laura menggosokan tangannya kasar pada seluruh tubuhnya, berusaha menghilangkan jejak Sabiel yang masih sangat terasa disana. Dia merasa sedih dan kecewa. Rasanya begitu sakit dan perih. Laura ingin sekali menjerit, tapi bahkan suaranya tak mampu lagi untuk keluar. Tenggorokkannya terasa perih akibat luapan emosi semalam.
Dengan derai air mata duka, bayangan Bimasakti membuatnya merasakan pilu. Kenangan manisnya berubah menjadi kegetiran dalam sekejap waktu. Kini tak ada lagi yang bisa ia perbuat, hatinya sesak harus menerima semua yang terjadi dengan terpaksa.
Laura membasuh wajah sedihnya dengan air yang menenggelamkan sebagian tubuhnya ketika pintu kamar mandi terbuka, menampilkan lelaki matang dengan pakaian casual-nya yang datang menghampirinya. Lelaki itu berjongkok di depan mata Laura, dia melihat kesedihan itu pada bola mata coklat indah istrinya. Tangannya mengusap lembut pipi Laura, melirik pada noda-noda merah yang berserakan di bagian leher dan dadanya.
"Apa kau masih marah?" tanyanya sendu.
Laura terlalu muak dengan semua pertanyaan lelaki dihadapannya. Dia merapatkan mulutnya. Enggan menjawab pertanyaan Sabiel. Tatapannya yang tajam mendelik penuh cemooh pada lelaki itu.
"Baiklah. Semarah apapun dirimu, tidak ada yang bisa kau perbuat lagi sekarang. Kau milikku. Kau harus mulai menerima itu." ucap Sabiel sembari menggosok pelan seluruh tubuh Laura dengan spons busa.
Hanya bunyi air yang pada akhirnya mengisi keheningan di antara dua manusia itu. Sabiel dengan telaten memandikan tubuh Laura. Tangannya menggosok beberapa bagian tubuh Laura, kecuali area sensitifnya. Laura merampas spons berbusa dari tangan Sabiel, ketika lelaki itu menatap area sensitif Laura yang tertutupi genangan busa dalam bathtub.
Selesai dengan membersihkan diri, Sabiel langsung mengangkat Laura. Lengannya yang kokoh menopang seluruh tubuh istri mudanya itu dan berjalan keluar kamar mandi. Laura masih tampak membisu, rasa sakit di pangkal pahanya membuatnya mau tidak mau menerima bantuan Sabiel untuk membersihkan diri. Tatapan matanya seolah tak peduli memandang Sabiel yang mulai memakaikan gaun santai di tubuhnya.
Setelah selesai berpakaian, Sabiel membawa kembali Laura untuk duduk di sofa.
Sepiring scrambled egg dengan irisan sayuran tersaji di meja sofa, disisi lain terdapat dua tangkup avocado toast serta semangkuk buah segar. Sabiel duduk di sebelah Laura, menuangkan jus jeruk hangat sebagai pembuka acara sarapan.
"Aku bisa sendiri!" Laura menolak suapan yang hendak Sabiel berikan.
"Baiklah." Sabiel memberikan sendok yang ia pegang.
"Bisakah kau pergi dari sini?!" tatapan Laura sinis. "Aku tidak bisa menelan makananku jika ada dirimu."
Sabiel menaikkan alisnya, memandang jengah pada sikap Laura.
"Sayang...."
"Berhenti memanggilku seperti itu!" Laura meninggikan suaranya menghentikan ucapan Sabiel. Sabiel mendelik Laura yang sedang dikuasai emosi.
"Laura, aku bukan lelaki yang penyabar. Kemarin-kemarin aku bisa menerima sikap pembangkangmu. Tapi tidak hari ini dan seterusnya." ucap Sabiel penuh penekanan. "Lihat aku!!" Sabiel memegang dagu Laura kasar ketika Laura memalingkan muka darinya.
"Kau lupa foto-foto itu? Kau lupa ayahmu? Apa perlu sekarang juga aku kirim foto itu pada keluargamu?! Kau mau seperti itu?!" Sabiel menyeringai menatap wajah pias Laura.
Laura tak mampu berkata apapun. Gadis itu hanya bisa menggenggam erat sendok makan dan mencoba mengalihkan emosinya dengan melahap makanannya. Meskipun rasanya sudah berubah hambar bagi Laura.
Dia sadar, melawan Sabiel hanya akan membahayakan kondisi ayahnya. Lelaki itu tega memaksakan keinginannya pada Laura. Berbuat nekat hingga sejauh ini. Jadi sudah pasti, jika Laura bersikap gegabah, bukan tidak mungkin Sabiel melakukan hal yang lebih nekat. Termasuk, mengirim foto-foto vulgar itu pada ayahnya.
Ekor mata Laura melirik Sabiel yang tengah menyantap sarapannya. Gadis itu membayangkan kemungkinan terburuk jika ia masih bersikap memberontak pada Sabiel.
Tidak! Jangan sampai lelaki itu berbuat lebih nekat dari apa yang ia lakukan saat ini. Laura harus berhati-hati. Dia tidak boleh memancing kemarahan Sabiel menjadi lebih besar.
"Sabiel." ucap Laura hati-hati. Lelaki di sebelahnya tak menjawab, namun tatapannya mengarah tajam pada Laura.
"Sampai kapan aku tidak masuk kuliah?" tanyanya berusaha mencairkan suasana.
"Sampai kau sadar posisimu sebagai istriku." ucapan Sabiel tegas membuat Laura tak berkutik.
🍁🍁🍁
Ucapan Sabiel terngiang di benak Laura. Sepagian tadi, setelah sarapan Laura masih betah mengurung diri di kamar, sementara Sabiel sibuk mengurung diri di ruang kerjanya. Laura terdiam memandang senja yang mulai berbayang di pucuk-pucuk pohon pinus. Burung-burung hutan bercicit merdu saling bersahutan. Seolah mengejek pikiran Laura yang masih kacau. Tatapan tegas Sabiel telah mengabadikan kekalahannya. Telak.
Hati Laura begitu berat untuk menerima kondisinya kini. Menjadi istri dari orang yang tidak kita cintai, laksana menceburkan diri dalam palung samudra. Sesak dan tersekat akan selalu menjadi teman setia hati yang berduka. Tak ada satu pun orang yang akan mengerti kesedihannya, yang harus merelakan diri terikat pada sebuah hubungan sakral yang tidak ia inginkan. Tanpa bisa melakukan perlawanan.
Laura termenung dalam waktu yang lama. Dia teringat kembali pada kekasihnya. Bagaimana kabarnya kini? Setelah kejadian di hotel, Laura tidak bisa menghubunginya kembali. Karena sejak terakhir membalas pesan Bimasakti, Sabiel dengan seenaknya merampas ponsel itu dari Laura.
Setelah lama termenung, Laura sampai pada satu keputusan besar yang harus ia ambil. Melihat sikap Sabiel tadi, membuat Laura memutuskan untuk berdamai dengan hatinya. Laura akan menerima takdirnya sebagai istri siri dari seorang dosen muda.
Laura berpikir itulah satu-satunya jalan yang bisa membuat Sabiel mengeluarkan Laura dari tempat ini. Menghirup kembali aroma perkotaan dengan segala kebisingan dan aktivitasnya yang melelahkan.
Laura mencoba berjalan mesti rasa sakit dan ngilu tak bisa ia hindari. Gadis itu keluar dari kamarnya, melangkah menuruni tangga dengan perlahan. Dia menengok ke arah perapian, ternyata Sabiel sedang duduk disana dengan sebuah notebook ditangannya. Wajahnya tampak serius melihat notebook itu, hingga ia tak menyadari Laura berdiri memandanginya dengan rasa gelisah.
Laura mengalihkan pandangannya ke arah dapur. Disana Mbok Yayu dan Mbok Suti tengah sibuk membuat sesuatu. Laura memutuskan menghampiri kedua orang itu.
"Mbok." ucap Laura.
Suara Laura terdengar oleh Sabiel, lelaki itu langsung menengok kearah sumber suara. Memperhatikan Laura dari jarak beberapa meter.
"Sedang buat apa?" tanyanya canggung. Sejak pertama kali Laura tinggal di pondok kenanga itu, ia belum pernah sekalipun berbicara santai dengan yang lain, termasuk kedua orang yang berada di hadapannya.
"Sedang menyiapkan kudapan sore, Nyonya" suara Mbok Suti yang keluar lebih dulu. Ia tersenyum ramah menatap majikannya.
"Ooohh. Untuk Tuan?" Laura setengah berbisik. Dan langsung mendapat anggukan dari Mbok Yayu dan Mbok Suti. "Boleh aku membantu?" tanya Laura ragu.
Kedua orang yang ditanya saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya mengangguk sembari tersenyum mempersilahkan Laura bergabung membuat kudapan.
Dari arah perapian, Sabiel tersenyum senang melihat kehadiran Laura disana.
🍁🍁🍁
Langkahnya tertatih menghampiri Sabiel di perapian sembari membawa nampan berisi kudapan sore yang tadi ia buat bersama Mbok Yayu dan Mbok Suti.
"Ehem!" Laura berdehem. Sabiel pura-pura terkejut dengan kehadiran Laura.
"Kenapa membawa ini sendiri, sayang?" Sabiel melihat kearah dua pembantu yang berdiri kaku sembari meremas jemarinya. Lelaki itu mengambil alih nampan dan meletakkannya di meja.
"Aku yang memang ingin membawa ini sendiri untukmu." ucap Laura canggung.
Sabiel tersenyum lembut, tangannya menarik tangan Laura untuk ikut duduk bersama dengannya. Lelaki itu langsung mendekap erat tubuh Laura.
"Aku hanya ingin melakukan kewajibanku sebagai istri. Kau jangan berpikir bahwa hatiku telah menerimamu." ucap Laura setelah melepaskan diri dari pelukan Sabiel.
"Tak apa, aku sudah merasa puas dengan itu. Terima kasih." Sabiel tak bisa berhenti menatap lembut wajah cantik istrinya. "Kau membuat ini sendiri?" tanya Sabiel seraya mengambil kudapan itu dan memakannya.
"Aku hanya membantu Mbok." ujar Laura.
Sabiel menyodorkan setengah kudapan yang telah ia makan di depan mulut Laura. Semula Laura tampak ragu, namun akhirnya ia membuka mulutnya dan memakan setengah kudapan sisa gigitan Sabiel. Sabiel tersenyum puas, ia melabuhkan kecupan di dahi Laura.
Sore hari itu, menjadi penutup hari yang indah bagi Sabiel. Dengan wajah sumringah, lelaki itu terus memakan setengah kudapan dan menyuapi setengahnya lagi untuk Laura. Perasaan senang membuncah dalam hatinya. Sikap manis Laura sore ini, membuat Sabiel yakin akan satu hal. Bahwa meskipun saat ini sikap manis Laura dilakukan dengan terpaksa, namun Sabiel yakin suatu saat nanti keterpaksaan itu akan berubah menjadi kerelaan. Seiring berjalannya waktu, hati Laura pasti akan menerima Sabiel sebagai suaminya.
Sabiel merasa tak sabar untuk segera sampai di pada saat itu. Dia akan menjadi lelaki paling bahagia di dunia, impian akan keluarga idamannya akan terwujud bersama Laura.
Diam-diam Sabiel melirik perut Laura yang rata. Sudah ada benihnya disana. Dia berharap ada salah satu dari jutaan benih itu, yang berhasil sampai di induk telur Laura. Bersemayam hangat disana, dan berubah menjadi janin.
🍁🍁🍁