NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Hamil

Dibuang Saat Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Single Mom
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tinggal aku

“Hai, jagoan.”

Niel langsung mengambil Reyhan dari gendongan Diana. Ia langsung mencium wajah bayi yang berusia satu bulan itu.

“Niel, kamu nggak ke kantor?” tanya Diana.

Niel menggeleng.

“Hari ini aku libur. Aku ingin menghabiskan waktu dengan jagoanku.”

Diana terkekeh kecil.

“Jangan bilang kamu kabur dari kantor lagi dan meninggalkan semua pekerjaan untuk Kak Dion?”

Niel mengangguk santai.

“Kamu tuh selalu ngerjain Kak Dion. Dia baru pulang liburan, eh langsung dikasih kerjaan numpuk,” lanjut Diana sambil tertawa kecil.

“Itu sudah risikonya,” ucap Niel santai.

Diana menggeleng pelan. Ia menatap Niel dalam-dalam.

Setelah Niel mengungkapkan perasaannya, pria itu tidak sedingin dulu lagi padanya. Niel selalu ada untuk dirinya dan Reyhan. Diana begitu bersyukur dan berharap keputusannya membuka hati untuk Niel bukanlah hal yang salah.

“Kamu sudah sarapan?” tanya Diana.

Niel menggeleng pelan.

“Ayo kita sarapan. Tadi aku buat nasi goreng,” ajak Diana.

“Serius?”

Diana mengangguk.

Niel tersenyum lebar, senyum yang selalu membuat Diana terpesona.

“Ayo, aku sangat ingin mencoba masakanmu,” ucap Niel antusias.

Diana mengajaknya ke meja makan. Di atas meja, nasi goreng dan telur dadar sudah tersaji.

Diana langsung mengambil piring lalu menyiapkan nasi goreng untuk Niel.

Niel melihatnya sambil tersenyum tipis.

“Semoga kamu suka,” ucap Diana sambil menyedorkan sepiring nasi goreng pada Niel.

“Pasti aku suka.”

“Kamu ini, belum coba juga,” ucap Diana terkekeh. “Sini Reyhan aku yang gendong, kamu makan saja.”

Niel langsung menggeleng.

“Nggak usah.”

“Terus cara kamu makan bagaimana?”

“Kamu suapin aku.”

Diana langsung melebarkan matanya.

“Niel...”

“Ayolah, simulasi jadi istri.”

Pipi Diana langsung berubah merah.

Ia akhirnya mengalah dan mulai menyuapi Niel.

“Enak banget,” puji Niel.

“Tapi lebih enak masakan restoran bintang lima,” ucap Diana.

“Ini lebih nikmat, apalagi kamu yang nyuapin aku.”

Diana terkekeh mendengarnya. Ia benar-benar sangat bersyukur.

Setelah selesai makan, Diana langsung membereskan meja. Sementara itu, Niel masih menggendong Reyhan sambil mengajaknya berbicara.

“Na, Reyhan sudah tidur,” ucap Niel pelan.

Diana menuntunnya ke kamar untuk menidurkan Reyhan.

“Mimpi indah ya, Nak. Bunda sayang kamu,” ucap Diana sambil mengecup kening Reyhan.

“Reyhan tidur?”

Kartini tiba-tiba muncul di pintu.

Diana mengangguk.

“Iya, Bu.”

Kartini langsung cemberut.

“Padahal Ibu mau ngajak dia keliling kompleks,” ucapnya sambil menghampiri Reyhan.

“Mau gimana lagi, Bu.”

“Ya udah deh, Ibu tidur sama Reyhan saja.”

Kartini langsung naik ke ranjang lalu berbaring di samping Reyhan.

“Kalian ngobrol saja di luar,” ucapnya sambil menatap Diana dan Niel.

“Ibu memang paling pengertian,” puji Niel.

Niel langsung mengajak Diana keluar ke halaman rumah, sementara Diana hanya mengikutinya.

“Na, kamu beneran mau kerja?” ucap Niel sambil menggenggam tangan Diana.

Diana mengangguk.

“Iya, tabunganku sudah menipis,” jawabnya sambil terkekeh kecil.

Niel langsung merogoh dompetnya, lalu mengambil sebuah kartu dan memberikannya pada Diana.

“Ini untukmu.”

Diana mengerutkan kening.

“Untuk apa?”

“Uang kamu kan sudah menipis. Ini kartu untuk kamu. Kamu bisa belanja sepuasnya, PIN-nya hari ulang tahun Reyhan.”

Diana langsung menggeleng.

“Tidak perlu, Niel.”

Diana menggeleng lebih kuat.

“Niel, aku serius nggak butuh.”

“Kamu butuh.”

“Aku masih punya uang.”

“Menipis, katamu.”

Diana langsung terdiam.

Niel menatapnya lekat.

“Diana, kamu sekarang punya Reyhan. Pengeluaranmu bukan cuma untuk dirimu sendiri lagi.”

Diana menunduk pelan.

“Aku tahu… tapi aku nggak mau bergantung sama kamu.”

Niel terdiam beberapa detik.

“Kenapa?”

Diana menggigit bibir bawahnya pelan.

“Karena aku takut terbiasa.”

Niel mengernyit tipis.

“Terbiasa apa?”

Diana menatapnya dengan mata yang perlahan berkaca-kaca.

“Terbiasa kamu selalu ada… diperhatikan kamu… dibantu kamu.”

Ia tertawa hambar.

“Kalau suatu hari kamu berubah pikiran dan pergi… aku takut bakal sakit lagi.”

Tatapan Niel langsung melembut.

“Aku bukan Samuel.”

Diana terdiam.

“Aku nggak akan pergi setelah membuatmu terbiasa bergantung padaku.”

Air mata Diana perlahan jatuh.

“Niel…”

Diana menghela napas pelan sebelum kembali berbicara.

“Tapi aku tetap ingin masuk kerja,” ucapnya pelan. “Bu Rosa sudah sangat baik padaku. Aku nggak mungkin keluar begitu saja.”

Niel mengangguk pelan.

“Tidak apa-apa,” jawabnya tenang. “Kalau itu memang keputusanmu.”

Lalu tatapannya beralih ke dalam rumah.

“Reyhan bagaimana?”

Diana tersenyum kecil.

“Sebenarnya aku sempat ingin mencari babysitter.”

“Tapi?”

“Ibu Tika dan Ibu Tini menolak.”

Niel mengernyit tipis.

“Menolak?”

Diana tertawa kecil.

“Mereka bilang ingin menjaga Reyhan sendiri.”

Dari dalam rumah tiba-tiba terdengar suara Kartini berteriak—

“Benar!”

Diana dan Niel langsung menoleh kaget.

Kartini muncul di depan pintu sambil menggendong Reyhan yang masih tertidur pulas.

“Ngapain cari babysitter kalau ada dua oma cantik dan berpengalaman di rumah ini?”

Kartika ikut muncul dari belakang sambil mengangguk bangga.

“Betul. Reyhan cucu kami sekarang.”

Diana langsung tertawa geli.

“Ibu…”

Kartini mendekati mereka sambil menatap Niel curiga.

“Lagipula kalau Diana kerja…” matanya menyipit.

“Artinya kamu harus sering datang bantu kami.”

Niel menjawab santai.

“Dengan senang hati.”

Kartini langsung tersenyum lebar.

“Nah gitu dong calon menantu favorit!”

“IBU!” wajah Diana langsung merah padam.

°°••°°

“Hai, guys.”

Citra menyapa teman-temannya sambil cipika-cipiki.

Hari ini, Citra dan sahabat-sahabatnya memang sudah berjanji bertemu di restoran mahal langganan mereka.

Citra langsung duduk di kursinya sambil meletakkan tas branded miliknya di samping.

“Tumben telat, Cit?” ucap Keysa sambil menaikkan alisnya.

“Biasa, macet,” jawab Citra santai, lalu mulai melihat menu makanan di hadapannya.

“Oh iya, guys, aku ada kabar bahagia, loh,” ucap Mawar dengan wajah berbinar.

“Aku juga punya kabar bahagia,” sambung Keysa dengan nada tak kalah antusias.

Citra mengernyit bingung menatap kedua sahabatnya.

“Tumben kompak banget bilang ada kabar bahagia,” ucap Citra sambil tertawa kecil.

Mawar langsung tersenyum lebar sambil memegang perutnya yang masih datar.

“Aku hamil.”

Deg.

Senyum di wajah Citra perlahan membeku.

“Hah? Serius?” tanyanya, berusaha tetap terlihat antusias.

Mawar mengangguk cepat dengan wajah berbinar.

“Iya! Baru dua bulan. Kemarin aku cek ke dokter.”

“Ya ampun, selamat!” Keysa langsung memeluk Mawar antusias.

Setelah itu Keysa ikut tersenyum malu-malu.

“Kalau aku… juga mau kasih kabar.”

Mawar membelalak.

“Jangan bilang—”

Keysa mengangguk sambil tertawa kecil.

“Aku juga hamil. Masih satu bulan.”

Deg!

Jantung Citra seperti berhenti sesaat.

Matanya membulat tak percaya menatap kedua sahabatnya secara bergantian.

“Serius kalian berdua hamil?” suaranya terdengar pelan.

“Iya dong!” jawab Mawar bahagia. “Kayaknya tahun ini bakal jadi geng mama muda.”

Keysa tertawa. “Tinggal kamu nih, Cit,” goda Keysa.

Kalimat itu membuat wajah Citra menegang seketika.

“Tinggal aku...” gumamnya pelan.

Mawar yang menyadari perubahan ekspresi Citra langsung bertanya hati-hati.

“Cit… kamu belum isi juga?”

Citra tersenyum kaku.

“Belum.”

“Loh, kalian kan udah nikah lebih lama dari kita?” tanya Keysa polos.

Citra memainkan sendoknya gelisah.

“Iya…”

“Kamu harus periksa, Cit, bareng suamimu. Minta konsultasi ke dokter,” ucap Mawar.

“Iya... nanti aku periksa.”

1
Ifana
pls kk jgn sampe Samuel tau kalo Diana gk jd di aborsi
tia
lanjut thor
Prafti Handayani
OTW bahagia selamanya...
Dan buat Samuel,slmt menikmati kesengsaraan...
Nona Jmn: /Sob/
total 1 replies
Adriana Bora
sangat2 bagus
Prafti Handayani
Lanjut thor..Gass tross....
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
Thor di tunggu lanjutannya...
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
FIX istrimu Pelacur Samm...
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Prafti Handayani
Calon suami dan Daddy buat Diana dan Debay.Mudah"an pria ini lebih berkuasa dri kel Samuel dan Citra.Biar Diana bs bls dendam.Dan calin Daddy bs melindungi Diana dan Debay slmnya.Niar debay nti gag bs diambil alih sm samuel dan keluarganya saat nti tau sam dan citra gag bs punya anak.
Mpusss...
Lia Rahmawati
katanya si Diana pergi jauh,tapi ko toko rotinya Deket sama toko rotinya yang punya si jahat?
Nona Jmn
Hai, kak. Akhirnya mampir di novel baruku😋😍
tia
jahat banget iren ,,makany toko u sepi
tia
semoga karma menghampir u Samuel sekuritas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!