Kehidupan sempurna bak putri kerjaan yang Inez rasakan mendadak berubah total ketika Rara menjalankan misi balas dendamnya. Rasa sakit hati kehilangan Papanya membuat Rara ingin membuat Inez merasakan apa yang Ia rasakan.
Tanpa Inez sadari, Rara selalu memakai topeng. Baik di depan dan busuk di belakang. Satu persatu kebahagiaan yang Inez miliki perlahan hilang, termasuk kesuciannya. Apa lagi yang akan Rara renggut lagi dari Inez?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan Antar Mantan
"Udah.... Udah.... Jangan berantem lagi! Capek aku." akhirnya Inez yang mengalah.
"Aku juga capek. Kamu juga sih, aku minta tolong malah kita jadi berantem kayak gini." keluh Andrew.
"Ya kamu minta tolongnya kayak gitu. Aku juga belum kasih ijin eh udah seenaknya kenalin sama orang tua kamu!" gerutu Inez dengan sebalnya.
"Bukannya kamu memang mau kenal sama orang tua aku ya?" tanya balik Andrew.
"Itu kan dulu saat kita masih pacaran. Sekarang mah buat apa?"
"Maksud kamu enggak ada gunanya gitu kenal sama orang tua aku?" tanya Andrew dengan nada sinis.
"Ini masalah sikon, Ndrew. Situasi dan kondisi kita beda sekarang. Aku sama kamu udah putus. Dan kamu yang mutusin aku, lupa?" sindir Inez.
"Aku enggak lupa. Aku sadar kok dengan apa yang aku lakukan." jawab Andrew dengan santainya.
"Terus kenapa bawa-bawa aku lagi? Kamu belum bisa move on gitu dari aku?" tanya Inez.
"Memangnya kamu bisa?" tanya balik Andrew.
"Bisa kok." bohong Inez.
"Lantas kenapa kamu kemarin masih perhatian sama aku terus pake segala misahin udang dari makan siang aku?"
"Itu.... Itu namanya kebiasaan. Enggak ada hubungannya sama move on atau tidak." jawab Inez. Jawaban yang masuk akal sih tapi Andrew tidak segampang itu menyerah.
"Lalu tadi pagi ngeliatin aku sampai mau netes liurnya itu apa? Lalu di mobil ngeliatin aku ngobrol sama yang lain sampai terpesona gitu apa?"
Skak matt. Andrew ternyata melihat semua yang Inez lihat.
"Kenapa Andrew bisa tau?" tanya Inez dalam hati.
"Eng...Enggak kok. Enggak kayak gitu." elak Inez sambil terbata-bata.
"Udahlah Nez. Aku tau siapa kamu. Enggak usah bohong. Aku enggak mau mempermasalahkan itu. Aku mau minta bantuan sama kamu. Tolong bantu aku hadepin keluargaku. Mereka mengancam kalau aku tidak membawa pacarku ke hadapan mereka, maka mereka akan menjodohkanku sesuka hati mereka. Kamu mau kan bantuin aku?" pinta Andrew dengan serius.
Inez memikirkan permintaan Andrew. Sepertinya ini masalah yang tidak bisa Andrew hadapi sendirian. Tapi kenapa harus dirinya? Memangnya selama mereka putus Andrew tidak pernah pacaran sama sekali?
Inez memicingkan matanya. Menatap Andrew dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menyelidiki apakah Andrew memiliki maksud jahat apa tidak.
"Kenapa liat-liat? Daripada liatin aku lebih baik kamu tutupin tuh belahan dada kamu yang keliatan dari tadi!" celetuk Andrew.
Inez spontan langsung merapatkan handuk mandinya. Bisa-bisanya Ia lengah di depan Andrew. "Dasar Inez bodoh!" rutuk Inez dalam hati.
"Udah sana ganti baju dulu! Aku akan keluar. Nanti kita bicara lagi." Andrew pun keluar dari kamar Inez.
****
Tok...tok...tok....
Rara mengetuk pintu kamar Rio. Ia tidak peduli kalau sekarang masih jam 6 sore dan mereka ada makan malam bersama jam 7 malam nanti. Toh Andrew tidak mewajibkan semuanya untuk makan malam. Melewati makan malam bukan hal yang salah dong?
Rio membuka pintu kamarnya dan mendapati Rara sedang berdiri di depan kamarnya sambil membawa sebotol anggur. Rio hendak menutup kembali pintu kamar namun kaki Rara sudah mengganjal pintunya agar tidak dapat tertutup.
"Aww... Sakit!" pekik Rara. Sandiwaranya benar-benar mulus, bahkan Rio pun terkecoh.
Rio akhirnya mengurungkan niatnya untuk menutup pintu. Rio menghela nafas berat. "Ada apa?"
"Kangen." kata Rara dengan suara manjanya.
"Terus?"
"Mau bobo sama kamu. Nih aku bawa anggur. Aku sampai nitip sama karyawan Villa ini loh buat beli anggur ini. Kamu nggak akan ngecewain aku kan?" kata Rara masih dengan suaranya yang menggoda.
"Udahlah, Ra. Kembali aja ke kamar kamu!" usir Rio dengan halus.
"Enggak mau!"
"Ra, please."
"Kalau kamu nggak mau ngajak aku masuk ke dalam, aku bakalan nangis yang kenceng nih!" ancam Rara.
Rio bingung harus melakukan apa pada Rara. Kalau Pak Paul dengar bisa mengadu Dia pada Papinya. Urusan bisa panjang nih.
"Masuklah! Jangan berisik!"
Rara pun masuk ke dalam kamar Rio. Bertepatan dengan Andrew yang baru keluar dari kamar Inez.
Andrew melihat Rara masuk ke dalam kamar Rio dan Rio menutup pintu kamarnya. "Mau ngapain Rara di kamar Rio? Dan kenapa Rio ngijinin Rara masuk?" gumam Andrew dalam hati.
Andrew menunggu kira-kira 5 menit, waktu yang cukup bagi Inez untuk berganti pakaian. Andrew kembali mengetuk pintu kamar Inez.
Tok...tok...tok....
Tak lama Inez membukakan pintu kamarnya. "Kenapa lagi sih? Katanya nanti bicaranya. Ini baru 5 menit udah ngetok kamar aku lagi! Untung aja aku udah ganti baju." gerutu Inez panjang lebar.
Andrew langsung mendorong Inez masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu diam disitu aja ya jangan bergerak!" perintah Andrew.
Inez hendak melawan tapi Andrew malah pergi mendekati ke arah jendela kamarnya. Ia mengintip dari balik gorden.
"Ada apa sih?" tanya Inez penasaran. Andrew seperti terkejut melihat sesuatu.
Inez pun berjalan mendekat dan melihat apa yang Andrew intip.
Inez melihat Rio dan.... Rara.... Berciuman?
Kamar Inez memang berseberangan dengan kamar Rio. Kamar mereka dibatasi oleh teras yang dapat melihat pemandangan dari lantai 2.
"Itu... Beneran?" tanya Inez pada Andrew.
"Ya seperti yang kamu lihat. Aku rasa mereka akan melakukan yang lebih dari itu. Udahlah nggak usah dilihat lagi. Bikin sakit mata aja." Andrew menarik Inez berjalan menjauh.
Inez yang masih terpaku tanpa disadari sudah meneteskan air mata.
"Kamu kenapa?" tanya Andrew. "Jealous?"
Inez diam. Ia menghapus air mata di pipinya. Inez bahkan tidak menjawab pertanyaan Andrew.
"Tadi pas aku keluar dari kamar kamu, aku lihat Rara masuk ke dalam kamar Rio. Dan percaya tidak percaya Rio yang membukakan pintu untuknya. Karena penasaran aku masuk ke dalam kamar kamu untuk melihat apa yang terjadi, kalau aku lihat dari teras bisa ketahuan nanti." Andrew menatap Inez yang terlihat amat terkejut dan tentunya amat sedih tersebut.
"Hubungan Inez dan Rio memang sudah sangat dekat. Wajar kalau Inez merasa sedih. Apa Inez memang menyimpan perasaan pada Rio?" tanya Andrew dalam hati.
"Kamu butuh pelukan aku?" Andrew merentangkan tangannya bersiap menerima pelukan hangat dari Inez dan mungkin sedikit tangisan air mata.
Andrew menunggu beberapa detik namun Inez tak kunjung memeluknya. Andrew memutuskan untuk menurunkan kembali tanganya.
"Kirain butuh pelukan." gerutu Andrew pelan namun dapat Inez dengar.
"Tujuan kamu kasih lihat itu ke aku buat apa?" Inez mulai introgasi Andrew.
Andrew menggelengkan kepalanya. "Enggak ada... Enggak ada tujuan apa-apa. Kamu kan deket sama mereka berdua. Ya... walau Rara bilang kalau dia nggak deket sih sama kamu di depan Pak Paul. Tapi tetep aja, kamu deket sama Rio. Aku nggak mau aja kamu nanti berharap sama Rio ternyata Rio-nya masih cinta sama Rara."
Kata-kata yang Andrew ucapkan memang menusuk hati tapi itu benar adanya kok. Inez mengakui itu. Mungkin memang lebih baik Ia mengetahuinya sekarang sebelum semuanya terlambat.
Inez seharusnya berterima kasih sama Andrew. Ia jadi tahu bagaimana perasaan Rio yang sebenarnya terhadap Rara. Selama ini Ia berpikir kalau Rio hanya akan berpihak pada dirinya. Ternyata, hati Rio memang hanya untuk Rara seorang.
"Terima kasih." kata Inez dengan suara pelan.
"Hah? Apa ? Kamu ngomong apa sih? ngomongnya pelan banget!" kata Andrew berpura-pura tidak mendengar apa yang Inez ucapkan. Padahal Ia mendengar dengan jelas Inez mengucapkan terima kasih. Ia hanya ingin sedikit meledek saja.
"Terima kasih" kata Inez dengan suara yang lebih kencang dibanding sebelumnya.
"Nah gitu dong. Kita jalan-jalan aja yuk! Daripada kamu disini cuma ngeliatin orang yang lagi bermesraan aja. Mau nggak?" ajak Andrew.
Lagi-lagi yang Andrew bilang benar adanya. Daripada Inez merasa kesal sendirian lebih baik Ia mencari udara segar.
"Baiklah. Aku ambil jaket dan dompet dulu." jawab Inez.
"Aku tunggu di bawah ya." Andrew pun keluar dari kamar Inez dan mengambil kunci mobil dari lemari. Di villa ini memang tersedia mobil pribadi milik papanya.
Andrew berpesan kepada penjaga Villa kalau Ia tidak akan ikut makan malam. Penjaga Villa hanya bisa mematuhi perintah Andrew.
"Bapak mau ke mana?" tanya Jenny yang kebetulan habis ambil air minum di bawah.
"Saya mau keluar dulu." jawab Andrew tanpa memberitahu lebih rinci kemana Ia akan pergi.
Baru saja Jenny hendak bertanya lagi dengan siapa Andrew akan pergi, sudah ada Inez yang sedang turun dari tangga atas dengan mengenakan jaketnya. Jika tebakan Jenny tidak salah, Andrew akan pergi dengan Inez.
"Udah siap?" tanya Andrew tentunya kepada Inez bukan kepada Jenny.
"Udah." jawab Inez yang berpapasan dengan Ibu Jenny dan hanya mengangguk sopan lalu Ia pun berjalan mengikuti Andrew yang sudah berjalan duluan keluar dari villa menuju mobilnya.
Tangan Jenny terkepal kuat menahan rasa kesal dan cemburu didalam dadanya. "Sejak kapan mereka menjadi begitu dekat?" tanya Ibu Jenny di dalam hatinya.
"Lihat apaan Bu? Sampai kesel kayak gitu!" tanya Rara yang baru saja menuruni tangga. Terlihat rambutnya agak sedikit berantakan dan mulutnya berbau alkohol.
"Oh... ada Bu Rara. Saya habis melihat Pak Andrew pergi sama Ibu Inez, Bu." cerita Ibu Jenny.
"Loh, memangnya sejak kapan mereka jadi sedeket itu?" tanya Rara memancing Ibu Jenny. Rara bisa melihat kalau Ibu Jenny merasa cemburu dan kalah dari Inez karena Inez lebih dipilih oleh Pak Andrew dibanding dirinya.
"Saya juga kurang tahu Bu. Mungkin mereka mau wisata kuliner di dekat sini." kata Ibu Jenny berusaha menghibur hatinya sendiri.
"Bisa jadi sih. Apa mungkin mereka sebenarnya saling suka?" pancing Rara lagi. Rasanya kurang puas kalau melihat orang tuh hanya terluka sedikit. Kalau perlu Ia mengucurkan jeruk pipis di atas luka seseorang, biar bertambah perih berkali-kali lipat.
"Saya kurang tahu Bu. Saya permisi dulu ya Bu mau ke atas." Bu Jenny pun pamit meninggalkan Rara dan menuju ke kamarnya. Rasanya Ia tidak sanggup mendengar lebih banyak lagi kisah percintaan antara Inez dan Andrew. Ia harus cut sekarang, sebelum rasa cinta itu itu berubah menjadi terlalu egois.
Rara tidak tinggal diam. Ini kesempatan untuknya. "Bu Jenny suka sama Pak Andrew?"
Jenny yang baru dua langkah menapaki anak tangga pun berhenti. Ia terpengaruh dengan perkataan Rara.
"Maksud Bu Rara apa ya? Saya suka Pak Andrew sebagai atasan yang baik." jawab Bu Jenny.
"Tapi saya lihat Ibu menyukai Pak Andrew dengan pandangan yang berbeda. Bukan pandangan menyukai Bos yang baik, melainkan pandangan suka antara perempuan dengan laki-laki dewasa. Apa saya salah?" pancing Rara.
Ibu Jenny mulai gelagapan. Bagaimana mungkin Ibu Rara yang baru kenal beberapa hari dengannya sudah bisa mengetahui apa isi hatinya? Lalu kalau Bu Rara saja tahu apakah Andrew juga tahu?
"Diem aja, Bu. Tenang aja saya enggak akan bilang siapa-siapa kalau saya tau. Ibu bisa percaya sama saya. Disini saya bukanlah masalahnya." Rara berbalik badan dan menatap Ibu Jenny yang terdiam di tempat sambil memunggunginya.
"Ibu mau Pak Andrew direbut oleh Ibu Inez?" pancing Rara.
Jenny lalu berbalik badan. "Maksud Ibu Rara apa?"
"Cinta tuh harus diperjuangkan, Bu. Jujur saja Rio adalah mantan pacar saya dan kini amat dekat dengan Inez. Bisa Ibu lihat kan betapa mudahnya Inez memikat para laki-laki? Rio pun mengacuhkan saya dan lebih memilih Inez. Namun saya tidak akan semudah itu menyerah pada cinta saya. Saya akan perjuangkan! Bagaimana dengan Bu Jenny? Apakah Ibu akan perjuangkan cinta Ibu juga?" kata Rara memanas-manasi Ibu Jenny.
Ibu Jenny pun mulai terpancing dengan kata-kata Rara. "Apakah Ibu berhasil mendapatkan kembali Bapak Rio?" tanya Ibu Jenny penasaran.
Rara lalu mendekati Ibu Jenny dan menunjukkan dadanya yang penuh bekas kissmark yang Rio lakukan. "Bukti ini sudah cukup belum? Kalau belum Ibu bisa lihat Rio sedang tidur di kamarnya. Kelelahan karena permainan kami yang luar biasa."
Ibu Jenny membuka mulutnya karena tidak percaya. Buru-buru Ia menutup kembali mulutnya. Gila. Apa yang Rara dan Rio lakukan benar-benar gila!
"Ibu yakin Pak Andrew dan Inez tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang saya dan Rio lakukan?" pancing Rara lagi. Ya, bara api sudah Rara buat. Api kemarahan dalam diri Jenny sudah mulai membakarnya.
Jenny langsung berlari ke kamarnya. Meninggalkan Rara yang tersenyum karena keberhasilannya.
"Lumayan menghibur. Tapi masih belum setimpal dengan kekesalan gue! Berani-beraninya Rio menolak gue? Pasti ini karena Inez! Semua karena Inez sial itu!" rutuk Rara dalam hati.
Rio mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Hampir saja Ia tergoda dengan Rara. Hampir!
Rara langsung menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi saat Ia persilahkan untuk masuk ke dalam kamarnya. Rara bahkan menyudutkannya ke jendela kamar dan menciumnya makin penuh nafsu lagi.
Rara menarik tangan Rio dan mengarahkan tangan itu untuk menyusuri tiap lekuk tubuhnya yang sexy tersebut. Rio mulai terpancing. Ia pun mulai membalas ciuman Rara.
Sejenak Ia melupakan akal sehatnya. Ia benar-benar terbuai dalam ciuman Rara yang memabukkan itu. Ia bahkan sudah membuat kissmark di dada Rara.
Namun saat Rara ingin membuka celananya, Rio tersadar. Ia pun menolak ajakan Rara. Pertama kalinya dalam hidup Rio, Ia menolak Rara.
****
Jangan lupa like dan vote ya kak 😘😘
terima kasih ya kak 😍😍😍😍