Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.
Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.
Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.
Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu (?)
Maaf baru update
Sibuk bikin kue buat hari raya
Selamat membaca jangan lupa Vote, Komen dan Jempolnya (👍)
***
"Bang bisa ngebut gak sih?"
Hana sedikit kesal. Bukan salah Bang Ojol, yang salah Hana karena telat bangun. Azata, Ayahnya berniat mengantar tapi Hana menolak. Naik Ojek lebih efektif dan singkat. Tahulah kalau Jakarta selalu padat dengan kendaraan alias macet. Hana memang lebih suka memakai Ojol sebagai kendaraan selain itu dia bisa melihat pemandangan sekitar jalan agar tidak membuatnya bosan dalam perjalanan. Tepat di lampu merah Hana berdecak kesal karena harus menunggu selama beberapa menit.
"Sabar dong, Mbak. Lampu merah nih." Cela Bang Ojol tidak suka akan penumpang yang terdengar bawel.
"Serobot aja, Bang." Hana asal. Ia takut telat di tambah hari ini ada jadwal keliling dengan Bosnya. Shit, Hana pasti dapat omelan dari Bosnya.
Bang Ojol menggelang. "Yang ada saya di tilang sama Polisi." Tukasnya.
Ia hanya menghela nafas gusar. Tidak menjawab dia memang salah memaksa orang.
Lampu merah artinya pun berubah menjadi hijau. Kendaraan mulai bergerak.
"Ayo, Bang, maju!" Seru Hana semangat 45.
"Iyalah maju, masa, maju, mundur cantik." Ujar Bang Ojol yang Hana pastikan kesal ke ubun-ubun.
Ngegas banget si Bang Ojol. Itu Inces, woi.
"Gas terus Bang, salip, noh motor di depan." Hana kembali berseru seraya tangan kanannya di acungkan ke atas dan tangan kirinya di labuhkan di pundak Bang Ojol, begitu bersemangat.
Bang Ojol hanya menggeleng kepala nya antara pusing akan tingkah Hana atau pusing karena migrain.
"Baru kali ini saya dapet penumpang bawel banget. Berasa saya jadi pembalap motor, macam Pedrosa. Kayak games. Di atur dan di perintah terus-terus." Balas Bang Ojol terus melajukan motornya dengan kecepatan maksimal.
Motornya terus menyalip kendaraan di depannya dengan lihai. Namun masih di batas kewajaran.
"Ya, maaf… "
Hana hanya terkikik geli, rasanya ingin ketawa sendiri akan kelakuan abstraknya sekarang. Di mana dia malah mengatur Bang Ojol untuk mengikuti perintahnya. Untung suasa jalan sudah tidak padat hingga jalan lancar mulus tidak ada yang menghalangi perjalanan.
Sesampainya di depan gedung kantornya, ia segera membayar ojolnya dan berlari memasuki gedung. Hingga menghiraukan teriakan Bang Ojol sejak tadi.
Dia takut terlambat dan mendapatkan ceramah panjang lebar dari Bosnya yang memang hobi sekali memarahinya apalagi sekarang mereka sering berdebat.
Dalam gedung Hana berdiri di depan lift dan mendapatkan para karyawan menertawakannya. Memangnya ada yang lucu, hah? Perasaan sebelum berangkat dia sudah mengecek semua penampilannya.
Malah dia memakai capri slim pant bahan berwarna hitam dan di padukan dengan blazer in wool treed dan blouse sutra sebagai dalaman. Membuat penampilan lebih modis.
Audy sahabatnya datang dan berdiri di sisinya dengan bibirnya seperti menahan rasa tawanya. Ini membuat Hana mendengus kesal.
"Kenapa sih?" Hana keheranan.
"Pegang kepala kamu, Na."
Hana menyentuh kepalanya, ternyata ini penyebabnya. Ia terus merutuki kebodohannya.
Bunda, Hana malu… Runtuknya dalam hati.
Bagaimana bisa dia lupa melepaskan helm milik Abang-Abang Ojol. Hana mengiris malu kemudian melepaskan helm yang ada di kepalanya. Dan saat menoleh ke belakang mendapati Bang Ojol dengan nafas terengah-engah menghampirinya.
"Mbak, jangan di bawa dong helm saya. Gimana mau ngojek lagi kalau helmnya gak ada."
Hana malu, sudah jelas. Mendapatkan tatapan dari karyawan yang memandang ke arahnya. Sungguh hari paling sial dalam hidupnya. Boleh tidak Hana menceburkan diri ke ember agar rasa malunya itu berkurang.
Ia menyerahkan helmnya. "Maaf Bang."
"Sue banget saya dapet penumpang macam Mbak, sudah bawel bawa kabur helm saya lagi."
Sialan, aku kasih bintang satu baru nyaho, Hana mengumpat dalam hatinya.
Kepergian Bang Ojol, Hana dan Audy lekas memasuki lift yang sudah terbuka.
"Sumpah ya, kamu kok bisa lupa lepas helm sih?"
"Aku buru-buru. Bodo ah yang penting aku harus cepat ada di duduk di depan meja, sebelum Bos Galak datang."
Audy menepuk bahu Hana. Ia sedikit mengernyit. Menatap sahabatnya penuh pertanyaan. "BTW, Bos Galak kamu sudah sampai lima belas menit yang lalu."
Mati aku!
****
Hana mengatur irama nafasnya. Memegang dadanya masih berdetak kencang. Setelah sampai di ruangannya dia masuk dan mengetuk ruangan Bosnya sekedar menyapa. Ia berniat memunculkan wajahnya saja sekedar absen kalau Sekretaris kece nya sudah hadir. Dia masuk saat seseorang mengizinkan untuk masuk. Bosnya sedang duduk di kursi besarnya, lalu pandangannya beralih dengan kehadiran Hana di depannya.
Bisa bayangkan wajah tampannya menatapnya tajam setajam pedang Kim Shin dalam drama korea Goblin.
Berdiri berhadapan dengan Bosnya adalah penyiksaan hati dan jiwanya. Wanita mana yang sanggup bertatapan dengan pria tampan bak malaikat turun dari langit. Yang ada mereka hanya bisa diam dan menikmati salah satu ciptaan-Nya yang begitu indah.
"Kamu terlambat?" Kata pertama yang di cetuskan Bima, dan masih menatap Hana menunduk bersalah meremas ujung blazernya.
"Maaf, Pak."
"Saya gak butuh maaf kamu. Kenapa kamu terlambat? Saya kan sudah bilang. Kalau saya datang kamu harus sudah stay. Beberapa hari ini kamu sering terlambat." Bima tegas menegur Sekretarisnya. "Jangan menunduk saja. Kalau seseorang sedang bicara tatap lawan bicara kamu." Tambahnya.
Gimana mau jawab kalau situ nyerocos wae!
Bima hanya sekedar menegur saja, karena dia tidak suka akan karyawan yang tidak menaati peraturan. Dia tahu Hana pasti mempunyai alasan kenapa terlambat.
Hana sedikit mendongkak wajahnya. Rasanya ingin menangis. Namun dia menahannya agar air matanya tidak keluar. Boleh tidak durhaka pada Bosnya. Tapi tidak mengurangi rasa suka pada Bosnya. Malah bertambah levelnya.
"Sekali lagi saya minta maaf. Semalam saya hanya tidur tiga jam." Jedanya sebelum dia melanjutkan kembali ucapannya dan menelan salivanya kasar. "Karena... Tya, keponakan saya sakit. Saya harus terjaga selama dia tidur,一"
Hana tidak bohong kalau Tyana memang sedang sakit, badan keponakannya panas. Saking cemasnya Hana semalaman pun tidur dengan Tyana tanpa meninggalkannya sendirian. Hana tidak tega melihat Tyana lemah. Biasanya gadis kecil itu selalu ceria setiap saat hingga mampu mengeluarkan hujatan tajam pada Hana. Tapi, karena demam, tidak ada lagi hujatan yang sering di lontarkannya. Beberapa hari ini masih dalam mode pending.
"Tya sakit? Apa sudah ke rumah sakit? Dia sakit apa? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Hana melongo mendengar deretan pertanyaan bertubi-tubi Bosnya. Kenapa Bima begitu khawatir?
Lah, boleh tidak Hana cemburu dengan Tyana. Gadis kecil itu mendapatkan kecemasan dari Bosnya? Pikiran negatif Hana meronta, jangan bilang Bosnya suka Tyana? Apa Bosnya itu semacam pendofil? Hana menggeleng membuyarkan pikiran yang tidak unfaedah. Kemudian fokus akan pertanyaan Bima yang masih menunggu jawabanya.
"Tya demam. Tapi sekarang kondisinya sudah lebih baik dari semalam. Bunda saya akan membawa Tya ke rumah sakit siang ini."
Bima lega.
"Syukurlah, semoga dia lekas sembuh." Gunamnya.
Sebenarnya Hana ingin bertanya kenapa Bosnya begitu cemas dengan keponakannya namun di uringi. Bukan urusan Hana, Bosnya begitu. Dia hanya penasaran.
"Terima kasih sudah mencemaskan Tya, pak." Kata Hana.
Pria itu fokus ke layar komputernya. "Hm… "
Hana hanya tersenyum. Tidak ada lagi yang di bicarakan Hana keluar. Ia mempersiapkan jadwal berikutnya bersama dengan Bosnya. Mereka akan keliling kantor untuk sekedar observe ke beberapa divisi.
***
Selesai dengan observe di kantor. Hana melenggang menuju lobby kantor. Karena sudah jam istirahat. Dia sudah janjian dengan Audy makan bersama di restoran biasa. Tanpa ada Bagus dan Silla lebih memilih makan siang di kantin. Kalau Audy tidak memaksa makan di luar Hana sebenarnya malas. Lebih baik makan siang tenang di kantin perusahaannya yang memang banyak kerjaan menunya.
Di sinilah Hana berada di restoran. Mereka sudah memesan makanan berupa Steak dan Ice lemon sebagai minum. Sambil menunggu pesanan datang keduanya mengobrol dan suasana restoran cukup ramai karena sudah memasuki jam makan siang tepatnya.
"Na, betah sama Pak Bima?" tanya Audy melihat Hana sibuk dengan ponselnya.
Wanita itu mendongkak. "Gitu deh... "
"Gitu gimana?" Audy mengernyit.
"Aku heran sama dia, kadang baik, kadang galak, kadang cuek dan kadang peduli. Labil gak sih? Atau mungkin dia punya kepribadian ganda?" Pekiknya.
"Ngatain Bos, dosa loh. Mau jadi karyawan durhaka?" kata Audy sarkas.
Hana menggelang cepat.
"Namanya juga manusia, selalu berubah-ubah."
"Lagian siapa yang bilang dia setan. Ya kali Pak Bima power ranger bisa berubah-ubah."
Audy menyentil kening sahabatnya itu gemas. Bicara dengan Hana tidak ada benarnya. Kalau benar paling hanya 20% dari 99% kesananya lebih banyak ngawurnya.
"Aw… " Ringis Hana mendelik kesal seraya menyentuh kening yang terkena sentilan Audy. "Sakit, Audy. Kamu kira keningku ini macam kolaci main sentil-sentil."
Wanita tanpa dosa itu pun terbahak.
"Lah, malah ketawa." Hana bingung. Memangnya ucapannya ada yang lucu? Perasaan tidak ada.
"Kelereng Hana kelereng."
Oh, soal itu Hana kira apakah. "Sama wae, Dy. Kolaci basa sunda. Kelereng bahasa Indonesia. Aku cuma melestarikan, Biar gak punah."
"Serah kamulah."
Pelayan datang dengan makanan yang berada dalam nampan dan di letakkan di atas meja. Tidak butuh lama setelah sudah di sajikan pelayan meninggalkan meja. Mereka langsung saja memakan Steak dan mengirisnya. Hana dan Audy memang sedang tidak ingin makan nasi. Mereka sedang bosan dengan makanan itu. Setelah selesai makan mereka tidak dulu beranjak mereka menikmati Ice lemon.
"Hana."
Hana berbalik di kursinya saat seseorang memanggil, begitu pula dengan Audy. Keduanya tersenyum sumringah dengan keberadaan seorang pria sudah duduk bergabung dengannya.
"Bang Izal. Kok bisa ada di sini sih?" tanya Hana introgasi.
"Janjian sama teman. Eh, malah lihat kalian berdua di sini." Jelas Izal memandang keduanya.
"Teman apa teman, Bang?" Goda Hana. Izal hanya terkekeh. Sedangkan Audy setia melihat interaksi keduanya secara diam.
"Teman, Na. Cemburu ya?"
"Dih, pede banget sih, Bang. Hana kan cuma nanya doang. Harusnya bangga dong di perhatiin sama adik nan kece ini."
Izal mencubit kedua pipi Hana gemas. Wanita itu kesal dan mengembungkan pipinya setelah Izal melepas cubitannya di pipi Hana.
"Kamu ya kalau ngomong ketinggian, ngaku-ngaku kece. Dasar kecebong, kece bohong."
"Iyain aja sih. Senengin adik sendiri." Hana mendengus kesal seraya melipat tangannya di depan dada.
Suara deheman memecahkan keduanya. Siapa lagi kalau bukan Audy.
"Seakan dunia milik berdua. Aku tersisihkan kayak remeh." Desis Audy, keberadaan tidak di anggap.
Jangan salah Hana maupun Izal, karena memang kalau kedua manusia ini bertemu dan kalau sudah mengobrol akan lupa dengan orang di sekitarnya. Meskipun obrolan mereka berdua unfaedah. Hanya Izal yang bisa membuat Hana melupakan masalahnya. Ia sosok kakaknya yang tiada celah akan kebaikan dan kepeduliannya yang begitu besar.
"Duh, sorry my baby Dy." Sesal Hana. Kemudian memeluk Audy dengan manja.
"Yayaya, di maafkeun." Audy seraya meminta Hana melepas pelukannya. Bukan tidak mau. Tapi Hana membuatnya malu karena banyak pengunjung memandang ke arah mereka.
Ketiga benar-benar mengobrol asyik, tertawa seakan tidak ada hari esok.
Tanpa mereka sadari sadari ada seseorang yang melihat ke arah mereka dengan tatapan sengit. Saat melihat Hana begitu dekat dengan pria di sebelahnya apalagi saat pria itu tidak hentinya mengacak rambut Hana berkali-kali. Suasana menjadi panas. Pria yang sejak tadi diam-diam menatap ketiga kemudian melenggang keluar dari restoran dengan perasaan yang susah di artikan.
***
"Hana?" Panggil Bima memandang lekat Sekretarisnya, saat ia tidak sengaja bertemu dengan Hana sedang duduk dengan seorang pria di restoran. Apalagi mereka terlihat akrab dan di tambah Hana tidak pernah berhenti tersenyum dengan pria itu.
"Iya, pak?" Balas Hana bingung.
"Siapa pria itu?" Pertanyaan tersebut membuat Hana tambah bingung.
Apa maksud Bima?
Hana mendelik menatap wajah Bima masih datar. Hana tidak mengerti maksud Bosnya. Di tambah dia menanyakan tentang seorang pria. Pria siapa?
"Maksud, Pak Bima apa sih, saya gak ngerti?" Hana malah balik tanya maksud ucapan Bosnya yang memang membuat Hana kebingungan.
Pria itu melipat kedua tangannya di dada. "Pria yang bersama kamu di restoran?"
Restoran? Oh Hana baru menyadarinya. Tapi bagaimana Bima tahu kalau dia bersama seseorang di restoran? Apa Bosnya berada di sana juga?
Wait, kenapa Bosnya bertanya tentang Kakaknya, Izal. Hana bertemu dengan Izal memang tidak sengaja.
Hana tersenyum canggung. "Dia kakak saya, pak." Jelas Hana.
"Kakak? Bukannya kakak kamu sudah meninggal?" Beo Bima ketahui karena setahunya kakak Hana adalah Ibu dari Tyana yang pernah di ceritakannya di taman waktu itu.
"Itu benar. Dia kakak kelas angkat saya."
"Oh. Kakak angkat. Pantas saja." Bima bisa melihat bagaimana pria itu begitu perhatian pada Hana. Bukan perhatian, Bima bisa lihat kalau pria itu bukan melihat Hana dalam segi adik tapi seorang wanita. Itu terlihat dari pancaran mata. Apalagi saat memandang Hana begitu intim. Bima tidak suka akan tatapan pria itu pada Hana…tunggu, tidak suka? Lalu Bima membuyarkan pikirannya. Kenapa akhir-akhir ini, Hana selalu memikirkan dan peduli padanya? Ingatkan Bima kalau dia bersikap khalayak sesama manusia.
"Maksud, anda?"
"Kamu gak tahu, kalau pria itu seperti menyukaimu. Apalagi dia tidak ada ikatan darah denganmu."
"Kenapa anda berpikir seperti itu?" Hana terus mengajukan pertanyaan yang membuatnya penasaran akan sikap Bosnya yang kalau di lihat seperti orang yang…lupakan saja mungkin pikirnya salah.
"Saya seorang pria. Jadi tahu sikap seorang pria yang─" ucapan Bima terpotong oleh Hana yang langsung merambat bagaikan rumput.
"Apa urusanya sama anda?" ungkap Hana berani. Padahal di dalam hatinya dia berkomat-kamit dan berdoa kalau Bosnya tidak akan tersinggung.
Bima diam tidak menjawab. Ia menyadari akan sikapnya yang malah ikut campur.
Ada apa denganku?
"Meski dia bukan kakak kandung, tapi dia sudah saya anggap sebagai kakak kandung saya. Dan hubungan kami tidak hanya sekedar adik-kakak. Tidak ada hubungan ke arah asmara atau apapun."
Sebenarnya Hana tidak harus menjelaskan apapun pada Bima, tapi entah mengapa Hana harus menjelaskan semuanya agar Bosnya tidak salah paham. Lucu bukan? Seperti seorang pacar yang menjelaskan kesalahpahaman.
"Saya gak peduli kamu punya hubungan sama pria itu." Tutur Bima memandang ke arah lain.
BILANG AJA CEMBURU.
Hana berdecak. "Sama aja. Lagian Pak Bima kepo sama urusan saya." Hardiknya kesal.
Memangnya hanya Bosnya yang boleh marah dan kesal, Hana juga bisa. Zaman sekarang jangan mau ditindas Bos sendiri.
"Kok kamu marah sih?" Bima tidak terima.
Hana merengut membuang muka. "Siapa juga yang marah¿"
"Dari nada bicara kamu, seakan kamu itu tidak terima dengan ucapan saya."
"Siapa yang duluan mancing saya?" Kata Hana tidak kalah sengit.
"Saya kan cuma tanya, tinggal jawab aja kok susah."
Akhir-akhir ini Hana maupun Bima sudah tidak canggung lagi dalam pekerjaan. Malah sekarang mereka sering saling ribut akan sesuatu yang tidak jelas.
"Saya kan sudah jawab!"
"Ya, sudah!"
"Jadi cowok jangan galak-galak, pak. Nanti cewek pada kabur sebelum deketin."
"Kamu ngatain saya?"
"Cuma ingetin."
"Kamu aja kasar. Mana ada yang mau sama kamu."
"Ck. Pak Bima aja sampai sekarang masih Jomblo. Sesama Jomblo gak usah saling menghina."
"Sana keluar! Ngapain juga kamu masih di sini. Bikin saya darah tinggi saja."
"Saya juga gak mau lama-lama di sini bikin Emoji." Sarkas Hana.
"Apa itu Emoji?" Bima balik tanya karena tidak paham akan ucapan Sekretarisnya yang kadang absurd. Hana menghela nafas. "EMOSI JIWA."
Hana melenggang keluar setelah mengucapkannya, tidak ingin melihat ke arah belakang. Hana pastikan wajah Bosnya pasti sudah berubah menjadi Angry bird.
***
Adegan Hana sama Bang Ojol, ojek online, itu real kejadian Author dulu. Ada yang pernah merasakan hal itu? Kadang kejadian nyata Author masukin cerita saking buntu.
Terima kasih sudah membaca.