SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 LORONG
Di tengah suasana yang begitu menenangkan itu, langkah mungil Gretta tiba-tiba terhenti. Ia mematung di pertengahan jalan, tepat setelah mereka baru saja keluar dari ruangan laboratorium yang berada di ujung koridor.
Gretta tidak langsung masuk ke kelas karena ia baru saja menyadari satu hal yang membuatnya merasa sangat canggung. Kemeja seragamnya basah. Ia memutar sedikit tubuhnya, mencoba melihat bagian belakang kemejanya. Benar saja, ada noda basah yang cukup lebar di sana. Ia baru teringat insiden dirinya yang tidak sengaja terpleset dan menarik Gian ikut bersamanya, akibat air yang di ember tidak sengaja tersenggol oleh kakinya.
Meskipun kemeja seragam yang dikenakannya berwarna hitam gelap sehingga noda air itu tidak terlalu mencolok dari kejauhan, sensasi dingin dan lembab yang menempel langsung pada kulit punggungnya benar-benar terasa sangat tidak nyaman. Kain yang basah itu menempel canggung, membuat setiap pergerakannya terasa dibatasi oleh rasa risih. Gretta menunduk, menggigit bibir bawahnya sambil terus memegangi bagian belakang kemejanya, bingung harus berbuat apa. Ia terlalu malu untuk masuk ke kelas dengan kondisi baju yang lembab seperti ini.
Perhatian Dingin di Balik Sikap Cuek
Di depan sana, Gian yang tadinya berjalan dengan langkah tegap, tiba-tiba menyadari hilangnya suara langkah kaki kecil yang sedari tadi mengekorinya. Laki-laki bertubuh tinggi dengan rahang tegas itu menoleh ke belakang. Alisnya yang tebal, menciptakan ekspresi bingung yang justru membuatnya terlihat semakin tampan di bawah bias cahaya matahari koridor. Ia melihat Gretta berdiri mematung di kejauhan, tampak gelisah sambil terus-menerus menarik-narik bagian belakang kemejanya dengan wajah yang ditekuk.
Tanpa banyak berpikir, Gian memutar balik tubuhnya dan melangkah menghampiri gadis itu. Suara langkah sepatunya yang menggema di lorong sepi membuat Gretta sedikit tersentak.
"Ada apa?" ujar Gian dengan nada suaranya yang berat dan khas, berdiri tepat di hadapan Gretta. Tatapan matanya yang tajam mengamati wajah Gretta yang terlihat panik.
Gretta langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rona merah menjalar cepat di kedua pipinya yang putih. Ia merasa sangat malu dengan kejadian konyol barusan dan tidak ingin Gian menertawakannya. "Ti... tidak ada apa-apa," cicit Gretta pelan, suaranya hampir tidak terdengar, masih berusaha menyembunyikan bagian belakang tubuhnya.
Gian bukanlah laki-laki yang mudah dibohongi. Mata elangnya dengan cepat menangkap ketidaknyamanan Gretta, dan ia segera menyadari apa yang terjadi. Tanpa basa-basi, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun yang tidak perlu, Gian mulai membuka kancing kemeja seragam luarnya satu per satu. Ia melepaskan kemeja hitam itu dengan gerakan yang begitu maskulin, menyisakan kaus oblong berwarna putih bersih yang melekat pas di tubuhnya.
Dengan gerakan santai namun tegas, Gian menyodorkan kemeja miliknya yang masih menyisakan kehangatan tubuhnya itu tepat ke hadapan Gretta.
"Pakailah, dan kembali ke kelas," pekik Gian dengan nada yang dingin dan datar, seolah apa yang dilakukannya adalah hal yang paling biasa di dunia.
Gretta mendongak, matanya membulat sempurna dengan mulut sedikit terbuka. "A... apa maksudnya?" tanya Gretta kebingungan, menatap kemeja berukuran besar di tangan Gian, lalu beralih menatap wajah laki-laki itu secara bergantian.
Gian menghela napas pendek. "Kemejamu basah, kan? Jadi pakai lah," ujar Gian datar sambil meletakkan kemejanya secara paksa ke atas kedua tangan Gretta yang mungil. Setelah memastikan kemejanya diterima, Gian langsung memutar tubuhnya, bersiap untuk pergi dari sana.
"Tapiii..." pekik Gretta tertahan, perasaannya diliputi rasa tidak enak. Kemeja itu adalah milik Gian, dan meminjamnya membuat jantung Gretta berdebar dengan ritme yang tidak karuan.
Langkah Gian terhenti. Ia membalikkan badannya sebentar, menatap Gretta dengan sorot mata yang sedikit melembut meskipun wajahnya tetap terlihat kaku. "Sudahlah, pakai saja," ucap Gian, lalu ia benar-benar kembali berjalan dengan santai meninggalkan Gretta yang masih berdiri mematung di lorong itu.
Gretta menatap punggung lebar Gian yang semakin menjauh dengan perasaan campur aduk. Emmm... ternyata laki-laki sedingin es batu itu bisa cukup pengertian juga, batin Gretta sambil tersenyum sangat tipis.
Kemeja Kebesaran dan Aroma Mint yang Menenangkan
Karena kebetulan ia juga merasa sedikit kebelet buang air kecil akibat udara dingin dari bajunya yang basah, Gretta memutuskan untuk pergi ke toilet perempuan terlebih dahulu. Di dalam bilik toilet yang bersih dan wangi, ia melepaskan kemejanya yang basah dan menggantinya dengan kemeja milik Gian.
Begitu kemeja itu melekat di tubuhnya, aroma wangi yang sangat khas langsung menyeruak masuk ke indra penciumannya. Wangi peppermint yang segar bercampur dengan aroma musk yang maskulin dan citrus yang menenangkan. Itu adalah wangi tubuh Gian. Wajah Gretta kembali memanas menyadari hal tersebut.
"Ya ampun Gree, apa yang kmu pikirkan," batin Gretta lalu keluar dari bilik toilet.
Gretta melangkah keluar dari bilik dan berdiri di depan cermin wastafel. Ia melihat ke arah pantulan dirinya dan mulai memutar-mutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Ia tidak bisa menahan senyum gelinya. Ternyata kemeja Gian sangat kebesaran di tubuhnya! Bagian bawah kemeja itu bahkan hampir menutupi separuh rok seragamnya, dan bagian bahunya jatuh jauh ke bawah lengannya, membuatnya terlihat seperti anak kecil yang sedang mencoba pakaian ayahnya.
Ya ampun, bajunya benar-benar seperti karung di badanku, batin Gretta setengah tertawa. Namun anehnya, ada perasaan hangat dan aman yang menyelimuti hatinya.
"Tapi yaudahlah, aku harus segera masuk sebelum jam pelajaran habis," ujar Gretta pada dirinya sendiri. Dengan telaten, ia mulai menggulung bagian lengan kemeja Gian yang kepanjangan itu hingga sebatas siku. Lipatan itu terlihat sedikit berantakan, namun justru memberikan kesan oversized yang sangat imut pada tubuh mungilnya. Setelah memastikan penampilannya cukup rapi, ia bergegas keluar dari toilet dan berjalan menuju kelas 2C.
Suasana Kelas 2C dan Tatapan Tajam Gian
Sesampainya di depan pintu kelas 2C, Gretta menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan detak jantungnya. Tangannya terangkat dan mengetuk pintu dengan pelan.
Tok... Tok... Tok...
Gretta membuka pintu perlahan. "Permisi, Bu..." ucapnya dengan suara lembut.
Di depan kelas, Bu Karin yang sedang menulis materi di papan tulis menghentikan aktivitasnya. Guru perempuan berkacamata itu menoleh dan menatap Gretta dari atas ke bawah. "Gretta, kenapa kamu telat masuk kelas? Teman-temanmu sudah dari tadi kembali dari laboratorium," tegur Bu Karin dengan nada yang tegas namun tidak terlalu galak.
Gretta menundukkan wajahnya, memainkan jari-jarinya yang tertutup ujung kemeja. "Maaf, Bu... tadi saya mampir ke toilet dulu karena ada sedikit masalah dengan seragam saya," ujar Gretta pelan, beralasan tanpa berbohong sepenuhnya.
Bu Karin menghela napas panjang, merapikan letak kacamatanya. "Yasudah, lain kali jangan diulangi. Sekarang kamu sana, cepat duduk di bangku," pekik Bu Karin memberi instruksi.
"Iya, Bu. Terima kasih banyak," jawab Gretta lega.
Ia pun melangkah menyusuri sela-sela meja menuju ke arah bangkunya yang berada di barisan belakang depan bangku Gian. Saat berjalan, matanya tak sengaja melirik sedikit ke arah Gian yang duduk di barisan paling belakang tepat di belakang bangkunya. Laki-laki itu tampak sangat serius menatap buku catatannya, sama sekali tidak menoleh. Namun, jika dilihat lebih teliti, ada sudut bibir Gian yang sedikit terangkat, menyembunyikan senyum tipis melihat betapa lucunya Gretta tenggelam di dalam kemeja.
Begitu Gretta mendaratkan tubuhnya di kursi, teman didepanya yang sangat energi dan penuh rasa ingin tahu, Ruby, langsung mencondongkan tubuhnya.
"Hehe... Gree..." panggil Ruby dengan nada berbisik yang menggoda, matanya memancarkan sinyal-sinyal kejahilan.
Gretta menoleh. "Kenapa, Ruby?" sahut Gretta berusaha bersikap senormal mungkin.
"Tadi..." Ruby menggantung kalimatnya. Matanya dengan cepat memindai kemeja kebesaran yang dipakai Gretta, lalu mencium aroma samar yang sangat ia kenal dari Gian. "Hehehe..." Ruby kembali tertawa kecil sambil melirik ke arah punggung Gian yang berada tepat dibelakang Gretta.
Namun, tawa Ruby tidak bertahan lama. Gian tiba-tiba menolehkan kepalanya sedikit ke arah depan dan memberikan tatapan tajam yang sangat mematikan tepat ke arah mata Ruby. Tatapan elang itu seakan-akan berkata dengan jelas: 'Satu kata keluar dari mulutmu, kau habis.'
Ruby menelan ludahnya dengan susah payah. Bulu kuduknya merinding. Tawanya seketika terhenti seolah ada yang menekan tombol mute. Ia langsung memutar kepalanya menghadap lurus ke depan papan tulis.
"Tidak ada, Gree... sungguh tidak ada apa-apa. Hari ini cuaca cerah sekali." ucap Ruby dengan suara bergetar, pura-pura fokus pada tulisan Bu Karin dan menolak untuk menatap Gretta apalagi Gian.
Gretta mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh sahabatnya itu. "Aneh sekali anak ini," pekik Gretta dalam hati, menggelengkan kepalanya pelan sambil mulai membuka buku catatannya.