NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 — Ark yang Bangkit

“Mungkin baru permulaan.”

Kalimat Dokter Han menggantung di udara seperti pertanda buruk.

Tak ada yang langsung menjawab.

Karena setelah semua yang mereka lalui—

pengejaran.

Eksperimen.

Pengkhianatan.

Kematian.

Penculikan.

Mereka sudah mengira telah melihat bagian terburuk dari semuanya.

Ternyata tidak.

Masih ada sesuatu yang lebih besar.

Sesuatu yang selama ini tersembunyi.

Ark.

Arsen memecah keheningan lebih dulu.

“Oke.”

Ia menutup laptop pelan.

“Kalau aku boleh jujur…”

Tatapannya menyapu semua orang.

“…aku benci setiap kata yang baru saja keluar dari mulut dokter.”

“Perasaan itu mutual.”

jawab Reina.

“Bagus. Aku merasa didukung.”

Namun tak ada yang benar-benar tertawa.

Karena suasana terlalu berat.

“Jelaskan.”

Suara Zavian terdengar dingin.

“Sekarang.”

Dokter Han mengangguk pelan.

Ia terlihat ragu.

Namun akhirnya mulai bicara.

“Dulu…”

Tatapannya kosong.

“Founder percaya satu hal.”

“Bahwa manusia tidak seharusnya punya batas.”

Deg.

“Dia percaya rasa sakit bisa dihapus.”

“Penyakit bisa dihapus.”

“Penuaan bisa dihapus.”

“Dan untuk mencapai itu…”

Ia menarik napas.

“…manusia harus diubah.”

Nayra langsung merasakan bulu kuduknya berdiri.

Karena kalimat itu terdengar terlalu familiar.

Semua monster selalu memulai dengan niat baik.

Selalu begitu.

“Ark adalah pusat mimpi gilanya.”

lanjut Dokter Han.

“Seluruh penelitian terpenting dilakukan di sana.”

“Jadi itu semacam laboratorium rahasia?”

tanya Arsen.

“Lebih dari itu.”

Deg.

“Ark adalah kota kecil yang berjalan.”

Sunyi.

“Apa?”

“Kota?”

“Berjalan?”

Dokter Han mengangguk.

“Dibangun di atas platform raksasa.”

“Bisa berpindah lokasi.”

“Bisa menghilang dari radar.”

“Dan dirancang untuk beroperasi tanpa bantuan dunia luar selama bertahun-tahun.”

Arsen menatap kosong.

“Aku mulai merasa hidupku kurang normal.”

“Baru sadar?”

tanya Reina.

“Fair.”

Namun Nayra tidak ikut mendengar candaan mereka.

Karena pikirannya masih terjebak pada satu hal.

Aurora.

Perempuan di kapsul itu.

Matanya.

Suaranya.

Dan cara ia memanggil nama Nayra.

Deg.

Ada sesuatu yang salah.

Sesuatu yang belum mereka ketahui.

“Nayra?”

Suara Zavian membuatnya kembali sadar.

“Kamu pucat.”

“Aku nggak apa-apa.”

bohongnya.

Zavian langsung menyipitkan mata.

Jelas tidak percaya.

Namun sebelum ia sempat membahasnya—

alarm lain berbunyi dari laptop Arsen.

BIP.

Semua langsung menoleh.

“Ada apa lagi?”

tanya Reina.

Arsen menatap layar.

Lalu ekspresinya berubah.

“Hmm.”

“Jangan bilang hmm.”

kata Nayra.

“Itu nggak pernah jadi pertanda baik.”

“Setuju.”

sahut Reina.

Arsen menghela napas.

“Ark berhenti bergerak.”

Deg.

“Di mana?”

tanya Zavian.

Cowok itu memperbesar peta.

Dan semua langsung membeku.

Karena titik merah itu berhenti tepat di tengah kawasan pegunungan terpencil.

Tidak jauh dari mereka.

Sangat tidak jauh.

“Berapa lama perjalanan?”

tanya Nayra.

“Dua jam kalau jalanan bersahabat.”

“Dan kalau tidak?”

“Empat jam.”

“Oke.”

Nayra mengusap wajah.

“Aku benci pegunungan.”

“Kamu belum pernah ke sana.”

kata Arsen.

“Aku membencinya dari jauh.”

Namun di balik candaan itu—

mereka semua tahu.

Keputusan sudah dibuat.

Mereka akan pergi.

Karena Hyren ada di sana.

Dan sekarang Aurora juga.

Satu jam kemudian.

Malam semakin larut.

Hujan sudah berhenti.

Namun kabut mulai turun.

Membuat jalan pegunungan terlihat seperti dunia lain.

Mobil tua mereka terus melaju.

Lampu depan menembus gelap.

Dan suasana di dalam kendaraan terasa lebih sunyi dari biasanya.

Nayra duduk di dekat jendela.

Memandangi pohon-pohon yang berlalu.

Pikirannya kacau.

Terlalu banyak pertanyaan.

Siapa Aurora sebenarnya?

Kenapa wajah mereka sama?

Kenapa ia bisa muncul dalam mimpi Nayra?

Dan yang paling penting—

apa yang sebenarnya mereka lakukan padanya saat kecil?

“Nggak usah dipikirin terus.”

Suara Zavian muncul dari samping.

“Kamu bisa baca pikiran sekarang?”

tanya Nayra.

“Enggak.”

“Terus?”

“Kamu selalu menggigit bibir kalau lagi overthinking.”

Deg.

Nayra langsung melepaskan bibirnya.

“Serius?”

“Serius.”

“Memalukan.”

“Sedikit.”

Nayra langsung memukul lengan cowok itu.

Pelan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

senyum kecil muncul di wajah Zavian.

Hanya sebentar.

Namun cukup membuat dada Nayra terasa hangat.

Sayangnya—

momen itu tidak bertahan lama.

Karena mobil mendadak berhenti.

BRAK.

Semua langsung siaga.

“Ada apa?”

tanya Reina.

Arsen melihat ke depan.

Lalu mengumpat.

“Masalah.”

“Spesifik sekali.”

“Lihat sendiri.”

Semua menoleh.

Dan langsung mengerti.

Jalan di depan mereka terputus.

Sebagian tebing longsor.

Menutupi akses utama.

Deg.

“Tentu saja.”

gumam Nayra.

“Alam semesta benci kita.”

“Mulai terlihat jelas.”

jawab Arsen.

Mereka turun dari mobil.

Udara pegunungan langsung menyambut.

Dingin.

Menusuk.

Kabut tebal membuat jarak pandang terbatas.

Dan suasana terasa tidak nyaman.

“Sisa berapa jauh?”

tanya Zavian.

Arsen memeriksa GPS.

“Sekitar lima kilometer.”

Sunyi.

“Jalan kaki?”

tanya Nayra.

“Jalan kaki.”

jawab Arsen.

“Aku membenci semuanya.”

Mereka akhirnya berjalan.

Menyusuri jalur sempit di tengah hutan.

Kabut semakin tebal.

Pohon-pohon menjulang tinggi.

Membuat suasana terasa seperti labirin.

Dan semakin jauh mereka berjalan—

semakin aneh rasanya.

Seolah ada sesuatu yang mengawasi.

Nayra merasakan itu juga.

Bulu kuduknya terus berdiri.

Dan entah kenapa—

jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

“Kalian ngerasa nggak?”

bisiknya.

“Ya.”

jawab Reina.

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Karena kalau cuma aku yang ngerasa berarti aku mulai gila.”

“Belum.”

kata Arsen.

“Masih terlalu cepat.”

“Terima kasih atas dukungannya.”

Mereka terus berjalan.

Lalu—

Nayra mendadak berhenti.

Deg.

“Ada apa?”

tanya Zavian.

Namun gadis itu tidak menjawab.

Karena ia mendengar sesuatu.

Suara.

Sangat pelan.

Seolah seseorang memanggilnya dari kejauhan.

“Nayra…”

Deg.

Tubuhnya langsung membeku.

Suara itu lagi.

Suara Aurora.

“Nayra…”

“Dengar itu?”

bisiknya.

“Dengar apa?”

tanya Reina.

Sunyi.

Hanya suara angin.

Tidak ada yang lain.

Deg.

Nayra langsung merasa tidak enak.

Karena jelas.

Ia satu-satunya yang mendengar.

“Nggak ada apa-apa.”

bohongnya.

Namun tepat saat mereka hendak melanjutkan langkah—

tanah di bawah kaki mereka bergetar.

GGRRRR—

Semua langsung membeku.

“Apa itu?”

tanya Arsen.

Lalu—

kabut di depan perlahan terbuka.

Dan untuk pertama kalinya—

mereka melihatnya.

Ark.

Deg.

Tak ada satu pun yang siap dengan pemandangan itu.

Karena benda itu jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.

Sebuah struktur raksasa berdiri di tengah pegunungan.

Terbuat dari baja hitam.

Penuh lampu merah.

Dan menjulang seperti benteng dari masa depan.

Sebagian tubuhnya bahkan tertanam ke dalam gunung.

“Astaga…”

bisik Nayra.

“Ya.”

gumam Arsen.

“Kalau aku penjahat super…”

Tatapannya tetap terpaku ke bangunan itu.

“…aku juga bakal tinggal di sana.”

Namun sebelum siapa pun sempat berkata lagi—

lampu merah di seluruh permukaan Ark mendadak menyala bersamaan.

WUUUSHHH—

Deg.

Lalu sebuah suara perempuan terdengar dari pengeras suara raksasa.

Suara yang sangat familiar.

Terlalu familiar.

“Selamat datang, Nayra.”

Jantung Nayra langsung berhenti sesaat.

Karena ia mengenali suara itu.

Aurora.

Dan saat pintu utama Ark perlahan terbuka—

suara itu kembali terdengar.

“Aku sudah menunggumu sangat lama.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!